Di sebuah sudut Galaksi Bimasakti yang tidak terdaftar dalam peta astronomi manapun, terdapat sebuah institusi bernama Universitas Nebula Utama. Di sini, hukum fisika hanyalah saran, dan gravitasi seringkali mengambil cuti sakit pada hari Selasa. Di universitas ini, setiap makhluk hidup diatur oleh satu sistem absolut: The Singularity Prayer. Setiap entitas hanya boleh memiliki satu doa yang akan menjadi hukum alam bagi dirinya.
Sirius, sang primadona kampus, berjalan menyusuri koridor yang terbuat dari kristal cahaya yang membeku. Sirius bukan sekadar bintang; ia adalah definisi dari kecemerlangan. Kulitnya memancarkan spektrum ultraviolet yang membuat siapa pun yang menatapnya tanpa pelindung mata akan mengalami kebutaan sementara selama tiga tahun cahaya.
"Sirius! Jadilah pusat gravitasiku!" teriak serombongan lelaki yang mengerumuninya. Mereka bukan sekadar mahasiswa; mereka adalah sisa-sisa ledakan supernova yang mencoba mencari bentuk.
Ada yang menyodorkan cincin yang terbuat dari partikel lubang hitam, ada yang membawa buket bunga yang mekar setiap kali ada bintang yang mati, bahkan ada yang menawarkan kepemilikan atas tiga sistem planet subur.
Sirius menatap mereka dengan tatapan biru keputihan yang membekukan atmosfer di sekitarnya. "Kenapa kalian menginginkanku?"
"Karena luminositasmu mencapai 25 kali lipat matahari!" seru salah satu dari mereka.
"Karena radiusmu begitu sempurna, bagaikan bola plasma yang dipahat Tuhan!"
"Karena setiap kali kau berkedip, frekuensi radio di seluruh galaksi berguncang!"
Sirius mendesah. Napasnya adalah kabut hidrogen yang dingin. "Kalian hanya mencintai angka-angkaku. Kalian hanya mencintai penampakan visualku yang terekam teleskop. No, thanks."
Sekali ucap, rombongan laki-laki itu seketika mengerut menjadi kata-kata tak bermakna dan terisap ke dalam tempat sampah dimensi kelima. Sirius melanjutkan langkahnya, menggerutu. Ia adalah korban dari doa orang tuanya: "Semoga setiap mata yang menatapmu, akan terjatuh dalam orbit cintamu." Bagi orang lain, itu anugerah. Bagi Sirius, itu adalah sampah angkasa.
Ia berhenti di pinggir sebuah genangan merkuri cair. Ia menatap pantulannya. Wajahnya datar. Ia merasa seperti sebuah lampu neon di tengah kegelapan tak berujung. "Aku hanya ingin cinta yang tidak peduli pada cahayaku. Aku ingin seseorang yang bisa melindungiku dari kehampaan abadi," gumamnya pelan.
Tanpa ia sadari, frekuensi suaranya bergetar tepat pada nada kosmik yang mengaktifkan The Singularity Prayer. Langit di atas kampus seketika retak, menampakkan jahitan-jahitan realitas yang kasar. Sebuah kaleng minuman kosong yang ia tendang melambung tinggi, menembus awan gas, lalu jatuh dengan kecepatan terminal tepat di kepala seorang pria yang sedang memetik gitar dari senar-senar gravitasi.
"Aduh! Siapa yang melempar sampah antariksa ini?!" seru pria itu.
Sirius tersentak. Ia berlari mendekat. Pria itu adalah Rigel.
Rigel adalah bintang biru raksasa dari jurusan musik kuantum. Ia tampan, tapi dalam cara yang sangat mengganggu. Rambutnya adalah jilatan api perak yang tidak pernah padam, dan matanya adalah dua buah pulsar yang berdenyut tidak sinkron. Sirius sudah lama memperhatikannya dari jauh, terpesona oleh cara Rigel mengabaikan segala hal yang bersinar.
"Maaf! Aku tidak sengaja!" Sirius membungkuk.
Rigel menoleh. Ia menatap Sirius. Biasanya, setiap laki-laki yang menatap Sirius akan langsung berlutut dan membacakan puisi tentang fusi nuklir. Tapi Rigel? Ia hanya mengernyit. "Luminositasmu terlalu tinggi, Nona. Kau merusak komposisi frekuensi kesunyianku. Cepat menyingkir."
Sirius membeku. Jantungnya—yang sebenarnya adalah inti besi yang padat—berdegup kencang. "Kau... kau menyuruhku pergi?"
"Jika sudah tahu aku sedang sibuk, kenapa masih berdiri di situ seperti nebula kebingungan? No, thanks!" usir Rigel dingin.
Bukannya pergi, Sirius justru merasa ada tarikan gravitasi yang tak terelakkan. Ia duduk di sebelah Rigel di bangku yang terbuat dari awan padat. "Namaku Sirius. Aku ingin memberikanmu bekal nasi goreng yang ku masak dengan panas inti bintangku sendiri. Mau?"
Rigel melirik kotak bekal itu. Nasi gorengnya berkilau karena mengandung serpihan debu intan. "No, thanks. Aku sedang diet foton."
"Mau berkolaborasi membuat lagu? Aku punya lirik tentang kesepian di pusat galaksi."
"No, thanks. Musikku hanya untuk telinga yang bisa mendengar suara kehampaan."
Dari balik bayangan pohon kuantum, seekor makhluk aneh bernama Antares mengamati mereka. Antares adalah makhluk berbentuk rubah dengan ekor yang terdiri dari gas merah membara. Ia adalah sang penjaga doa, yang bertugas memastikan setiap kata yang terlontar menjadi takdir yang bengis.
Berhari-hari Sirius mengejar Rigel. Ia memberikan puisi, ia memberikan energi panas, ia bahkan menawarkan untuk meledakkan satu planet kecil hanya untuk kembang api ulang tahun Rigel. Jawaban Rigel selalu sama: "No, thanks."
Sampai akhirnya, Sirius meledak dalam tangis. Air matanya adalah butiran merkuri yang membolongi tanah. "Kenapa?! Kenapa kau menolakku saat semua orang di galaksi ini memujaku?!"
Rigel menghentikan petikan gitarnya. Ia menatap Sirius dengan mata pulsarnya yang berdenyut merah. "Karena aku bisa melihat garis waktu, Sirius. Aku adalah bintang yang diprogram untuk melihat akhir dari segalanya. Doaku adalah: 'Berikan aku penglihatan tentang kehancuran, agar aku tak perlu merasa kehilangan.'"
Sirius terdiam. Suara tangisnya mereda. "Lalu, apa yang kau lihat tentang kita?"
Rigel tertawa hambar. Suaranya seperti gesekan lempeng tektonik. "Aku melihat kita di hari pernikahan kita. Di saat kita saling mengucapkan janji, Galaksi Bimasakti akan bertabrakan dengan Andromeda. Semua fusi akan berhenti. Kita akan menjadi debu yang tidak pernah saling menyentuh. Itulah sebabnya aku menolakmu. Aku tidak ingin mencintaimu hanya untuk melihatmu hancur menjadi lubang hitam."
Sirius bangkit. Ia menarik kerah baju Rigel. Aura biru keputihannya memancar begitu kuat hingga bangku awan di bawah mereka menguap. "Lalu kenapa?! Jika kita akan hancur, bukankah lebih baik kita hancur dalam pelukan masing-masing daripada hancur dalam kesendirian?"
Rigel tertegun. Logika Sirius melampaui perhitungan kuantumnya. "Kau ingin menikmati kehancuran bersama?"
"Aku ingin kita menjadi ledakan paling indah yang pernah disaksikan oleh alam semesta, Rigel. Biarkan maut berkata 'No, thanks' pada kita, atau biarkan kita yang berkata 'No, thanks' pada rasa takut kita sendiri!"
Tiba-tiba, Antares sang rubah merah muncul di antara mereka. Ia membawa sebuah buku besar yang terbuat dari kulit bintang yang sudah mati. "Menarik. Sebuah anomali dalam sistem doa. Kalian ingin membatalkan takdir dengan takdir yang lain?"
Antares menyeringai. "Aku akan memberikan kalian satu kesempatan. Aku akan memutar waktu, menghentikan jam pasir kosmik tepat di detik kalian bersatu. Tapi harganya adalah... kalian akan dilupakan oleh seluruh sejarah galaksi. Kalian akan ada, tapi tak pernah tercatat."
Rigel menatap Sirius. Sirius menatap Rigel.
"No, thanks untuk sejarah," ucap Rigel mantap.
"No, thanks untuk ingatan dunia," tambah Sirius.
Seketika, Antares mengibaskan ekor merahnya yang membara. Seluruh Universitas Nebula Utama lenyap. Bimasakti bergetar. Cahaya Sirius dan Rigel menyatu, menciptakan sebuah ledakan fusi yang begitu dahsyat namun sunyi.
Mereka menikah di sebuah dimensi kantong yang tidak memiliki waktu. Di sana, tidak ada hari esok, sehingga tidak ada kehancuran. Mereka hidup dalam satu detik yang abadi.
Di dunia luar, para astronom bingung. Dua bintang paling terang di langit, Sirius dan Rigel, tiba-tiba menghilang dari teleskop. Tidak ada bekas ledakan, tidak ada lubang hitam. Mereka hanya... tidak ada.
Seseorang bertanya pada Antares yang sedang duduk di tepi galaksi sambil menjilat kakinya yang berapi, "Ke mana perginya Sirius dan Rigel?"
Antares menatap kosong ke arah kegelapan. "Mereka sedang sibuk berkata 'No, thanks' pada maut."
Dan di dalam dimensi yang tak terlihat itu, Sirius bersandar di bahu Rigel. Ia tidak lagi bersinar terang untuk orang lain, hanya untuk pria yang mencintainya tanpa angka.
"Breeze... eh, maksudku Rigel," bisik Sirius. "Apakah kau bahagia?"
Rigel memetik gitar gravitasinya, menciptakan nada yang paling tenang di alam semesta. "No, thanks untuk pertanyaan itu. Kau tahu jawabannya adalah selamanya."
Pria rubah Antares dari kejauhan bergumam, "Andai aku bisa menghentikan waktu untuk diriku sendiri juga." Namun ia tahu, tugasnya hanya menjaga mereka yang cukup berani untuk menolak takdir dengan dua kata sederhana.
Selesai sudah kisah tentang bintang yang berhenti mengorbit demi sebuah cinta yang absurd.
Sirius, kini tak lagi peduli pada Diandra (sang Bintang Betelgeuse yang sombong) atau teman-teman sekelasnya yang berakhir menjadi kerdil putih yang redup karena pergaulan bebas lintas galaksi. Ia hidup dalam keabadian yang mapan dan tampan bersama Rigel.
Faktanya bicara: Yang rajin belajar tentang hakikat cinta, akan mendapatkan jodoh yang melampaui ruang dan waktu. Tanpa perlu menceramahi siapa pun, alam semesta sudah menunjukkan bahwa yang menjaga cahayanya, akan bersinar paling lama.