"Nong,kuel rambute, aja reriaban bae, pamali(Nak' ikat rambutnya jangan di gerai aja, pamali)." Ucap setiap para sesepuh dan orang tua di desa kami setelah menjelang maghrib.
Menurut mitos di desa kami di renged Banten jawa barat, setiap menjelang maghrib semua perempuan, dari balita sampai dewasa bahkan yang sudah berumah tangga pun harus mengikat rambut nya walaupun rambutnya tidak panjang sekalipun.
Karena menurut Mitosnya jika ada yang meriap rambutnya kala menjelang maghrib atau petang dan mendekati malam, Dia akan di hampiri sosok ghaib yang di sebut Wewe Rupa, Wewe Rupa adalah mahkluk tak kasat mata yang akan menggantikan seorang wanita yang melanggar mitos itu.
Wanita yang melanggar, raganya akan di culik dan di bawa ke alamnya bahkan kecil kemungkinan raganya bisa kembali lagi, dan raga itu akan di gantikan dengan makhluk yang di sebut Wewe Rupa.
Suatu ketika seorang gadis desa yang terkenal sangat cantik namun tidak sama sekali percaya dengan semua mitos di Desa nya, melanggar sebuah mitos yang sudah tertuliskan dari semenjak leluhurnya.
Pada sore hari tepatnya jam lima sore, gadis yang bernama Fatma itu pergi ke sungai untuk mandi, ya karena Desa kami semua penduduknya mandi dan mencuci pakaian nya di sungai dekat kaki gunung.
Entah Ia lupa atau sengaja, tapi memang Fatma tidak pernah mau percaya dengan pituah itu.
Fatma mandi dan meng keramasi rambut panjangnya, setelah selesai mandi dengan sengajanya Ia tak mengikat lagi rambut panjangnya dan di biarkan terurai dengan keadaan basah.
Perjalanan dari sungai ke rumahnya lumayan jauh yang memerlukan waktu sekitar Dua Puluh menit dengan berjalan kaki, di pertengahan jalan, Fatwa merasa ada seseorang yang terus mengikutinya tapi beberapa kali Fatwa menoleh ke belakang tidak satu orang pun ada di sana.
Rasa takut mulai ada tapi Ia tak pernah menganggap itu adalah makhluk yang sedang mengintainya, dengan berusaha menghilangkan rasa takutnya, Fatma bersenandung kecil mirip dengan senandung nembang.
Rasa takut mulai lenyap kala Fatma melihat ada seseorang yang sedang memetik buah melinjo di pohon pinggir jalan, "Aku tidak sendirian," pikirnya.
Jaraknya semakin dekat dengan seseorang itu, Fatma ingin menyapa nya, memang selain Fatma terkenal gadis yang sangat cantik Ia juga terkenal gadis ramah di desanya.
"Maghrib-maghrib metik kecimpring gona apa, Teh?(Maghrib-Maghrib memetik melinjo buat apa, teh?)" ucap Fatma dengan ramah, namun seseorang itu hanya diam dan terus memetik buah melinjo itu.
Tidak ada rasa curiga di hati Fatma, Fatma yang berpikir bahwa orang itu tidak mendengar ucapannya, Ia pun melangkah lebih dekat lagi dan saat Ia sudah berada di dekat orang itu, Fatma memegang Bahu orang itu dan bertanya lagi.
Tidak ada jawaban, tangan orang itu berhenti memetik melinjo tapi tidak ada niatan untuk menoleh ke arah Fatma, Fatma semakin penasaran dan Ia menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah orang itu.
Seketika tubuhnya kaku dengan mata yang terbelalak. Wajah tanpa rupa atau di sebut rata tak ada mata, hidung maupun mulutnya, Tiba-tiba Ia taak sadarkan diri.
Semua keluarganya panik bukan main, yang mereka tau Fatma pergi ke sungai hanya untuk mandi namun sampai tengah malam Fatma tidak kembali, sebagian beranggapan Fatma telah tenggelam terbawa arus sungai tapi sebagian orang lagi yakin bahwa Fatma sedang bermalam di rumah saudaranya yang letaknya di dekat sungai tersebut.
Orang tua Fatma mendatangi rumah saudaranya yang berada di dekat sungai itu, namun rumahnya keadaan tergembok yang menandakan tidak ada orang di dalam sana, Pikiran mereka mulai kacau, dan sang Ayah yang panik langsung berlari untuk mendatangi
Kepala Desa di sana untuk membuat laporan serta meminta tolong.
Kepala Desa dengan tanggap segera mengumpulkan para penduduk Desa untuk ikut mencari Fatma, beberapa benda seperti nampan wajan bakul di gunakan untuk membuat bunyi-bunyian, yang bertujuan jika Fatma di umpeti makhluk akan segera di lepaskan.
Sebagian orang-orang mencari Fatma dengan Menyusuri Sungai namun sampai menjelang pagi tidak ada tanda-tanda keberadaan Fatma.
Dan pada akhirnya salahsatu warga melihat tubuh yang sedang terbaring di atas rerumputan di dekat pohon melojo dan ternyata Ia adalah orang yang sedang di cari-cari.
Dengan segera para warga membawa Fatma ke rumah orang tuanya dengan keadaan Fatma yang masih tidak sadarkan diri.
.
.
Dua Hari Fatma tidak membuka matanya, orang tuanya tidak pantang menyerah segala apapun Ia lakukan dari mengadakan pengajian sampai pengobatan terapi tapi tidak ada tanda-tanda Fatma akan membuka matanya.
Dan pada hari ke 7 Fatma akhirnya membuka matanya, orang tuanya bersyukur dan pastinya senang karena anak kesayangannya telah kembali membuka mata nya.
Hari demi hari berlalu namun perilaku Fatma terkadang Aneh, dari meminta makan dengan ayam cemani tanpa sedikit pun garam, kadang meminta sebuah hati burung gagak yang hanya di kukus.
Tapi orang tua Fatma selalu mengabulkan permintaan fatma tanpa rasa curiga.
Dan pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat untuk mempersunting Fatma, tanoa penolakan, Fatma langsung menerima orang itu.
Pernikahan nya berjalan dengan semestinya, namun saat malam pertama sang Pemuda melihat keanehan di diri Fatma karena wajah Fatma tidak sama dengan yang di cermin, pantulan wajah Fatma yamg di cermin tengah memejamkan matanya sedangkan yang di lihatnya Ia tengah tersenyum ke arahnya.
Pria itu tidak menggubrsnya karena Ia beranggapan kalau dirinya hanya kelelahan sampai bisa melihat hal yang aneh.
Pernikahan mereka sudah memasuki ke Tiga bulan Fatma pun sudah mengandung, ngidam yang aneh pun tidak lepas dari perhatian orang tua serta suami Fatma.
Dari yang meminta bunga kantil sebagai lauk makannya, sampai setiap malan meminta sekuteng sebagai minuman wajibnya, tiba waktunya Fatma akan melahirkan.
Melahirkan di Desa kami masih menggunakan dukun beranak saat itu, saat kepala si bayi sudah mulai keluar dari jalan lahir, si Dukun itu tidak melihat ada bentuk wajah disana, yang dia lihatnya hanyalah wajah yang rata tanpa ada mata hidung serta mulutnya.
Sang Dukun itu sudah sangat menebaknya kalau yang di tanganinya bukanlah raga manusia melainkan raga makhluk wanita yang di sebut Wewe Rupa.
Si dukun memberi tahu apa yang Ia tahu dengan keluarga Fatma, mereka pun sepakat akan mengadakan ritual memanggil raga Fatma kembali.
Sehari semalam Fatma di ikat di ranjangnya karena Ia terus meronta bahkan mengamuk karena tidak ingin du adakan ritual semacamnya.
Akhirnya saat menginjakan ke hari kedua, akhirnya raga Fatma kembali tapi dengan keadaan fatma yang depresi tanpa mengenal siapapun keluarga nya.
Pada batas itu, semua orang mematuhi pituah utu tanpa ada yang bsrniat untuk melanggarnya, bahkan sampai saat ini mitos itu berlaku.