Kisah ini adalah kisah yang melegenda di tempat asal saya bahkan jauh lebih dulu ada sebelum kisah cinta Romeo dan Juliet dijadikan film. Kisah ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling mencintai bahkan membuat janji sehidup semati, dilain sisi ada juga seseorang yang tidak menginginkan hubungan mereka karena rasa cintanya pada sang gadis.
Cerita Asal TORAJA
🗺️Desa Bua Kayu,kecamatan Bonggakaradeng pada ratusan tahun yang lalu.
Di kisah kan pada zaman dahulu kala di sebuah desa kecil di Toraja yang bernama desa Bua Kayu. Di desa tersebut hiduplah seorang gadis cantik, berkulit putih, dengan rambut yang terurai indah dan hidung yang mancung. Karena kecantikannya yang rupawan membuat gadis ini menjadi gadis tercantik di desa bahkan di seluruh penjuru Toraja, ialah Lebonna.
Karena kecantikannya inilah banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya, namun Lebonna selalu menolak. Hingga pada suatu hari pertemuan merekapun terjadi, Lebonna bertemu dengan seorang pemuda yang berhasil mencuri hatinya. parasnya yang tampan, pemberani dan juga merupakan seorang kesatria pada masa itu.
Massudilalong Paerengan, itulah nama pemuda yang berhasil mencuri hari Lebonna. Perkenalan mereka yang semakin dekat dan tumbuhnya perasaan diantara keduanya membuat mereka saling berjanji akan sehidup semati dan bila mati kelak dikuburkan bersama-sama.
Mengetahui hubungan keduanya membuat banyak pria menjadi iri pada Paerengan, begitu pula para wanita yang iri pada Lebonna. Hari demi hari pun berlalu keduanya pun merencanakan untuk menjalin hubungan lebih lanjut. Paerengan berencana untuk menikahi Lebonna, akan tetapi sebuah kabar buruk datang.
Desa tetangga memiliki rencana untuk menyerang desa mereka. Paerengan yang mengetahui hal itu, sebagai seorang pemuda yang berjiwa kesatria dan dikenal sakti dikirim oleh kepala adat untuk memimpin pasukan di desanya untuk menghalau serangan dari kampung tetangga.
Karena tugas tersebut Paerengan membatalkan rencananya untuk mempersunting Lebonna. Sebelum Paerengan berangkat ke medan perang, ia berjanji pada Lebonna, bahwa jika ia pulang nanti ia akan langsung melamar Lebonna.
Lebonna yang yang paham pun mengikuti perkataan Paerengan. Tibalah keesokan harinya dimana Paerengan beserta pasukannya akan berangkat ke perbatasan untuk menghalau pasukan dari desa seberang.
Tanpa diketahui oleh Paerengan, seorang prajurit diam-diam berlari menjauhi medan perang dan berlari kearah rumah Lebonna. Setibanya prajurit itu disana ia mengatakan pada Lebonna bahwa Paerengan telah gugur di medan perang, mendengar hal itu sontak membaut Lebonna kaget dan tidak sanggup menahan kesedihannya.
Prajurit tersebut berbohong pada Lebonna karena ia ingin merebut Lebonna dari Paerengan. Lebonna tidak bisa mempercayai kabar ini mengingat janji yang di katakan oleh Paerengan sehari sebelum mereka berangkat, terutama janji sehidup semati mereka. namun prajurit itu tidak kenal lelah untuk mencoba meyakinkan Lebonna atas kebohongan yang ia buat.
Setelah mendengar kabar tersebut hari demi hari Lebonna habiskan dengan bersedih. Ia sampai mengurung diri dalam rumah dan tidak makan sama sekali, Sementara itu usaha prajurit itu untuk merebut hati Lebonna tidak membuahkan hasil. Lebonna tetap bertahan atas perasaannya pada Paerengan. Meskipun setiap harinya prajurit tersebut selalu datang untuk merebut hati Lebonna.
Karena rasa cintanya yang besar ada Paerengan, akhirnya Lebonna memilih untuk menepati janji mereka. Janji sehidup dan semati yang sudah mereka ucapkan, dengan cara mengakhiri dirinya sendiri. Lebonna mengambil seutas tali tepat di belakang rumahnya, untuk memenuhi janji sehidup semati mereka.
Lebonna yang tergantung di pohon memanggil keluarganya, bermaksud untuk menyelamatkan nyawanya namun sayang semuanya sudah terlambat. Lebonna sudah tidak bisa tertolong lagi. Keluarga Lebonna yang bersedih, mereka tidak menyangka bahwa Lebonna akan melakukan hal tersebut demi Paerengan.
Beberapa hari setelah kematian Lebonna, sebelum penguburan jasad Lebonna di upacara kan lebih dulu sesuai dengan upacara kematian suku Toraja (Rambu Solo'). Setelah upacara selesai, Lebonna pun dikuburkan di Liang Batu keluarganya.
Keterangan:
Liang batu : Batu besar yang di lubangi dengan di pahat untuk memasukkan Jenasah.
Namun ketik pintu liang kubur Lebonna sudah di tutup, terjadi sesuatu yang aneh. Perlahan Rambut Lebonna terurai keluar dari dalam pintu liang Lebonna, Masyarakat yang hadir saat itu berpendapat bahwa Lebonna masih tidak ingin masuk kedalam Liang tersebut karena sepertinya masih ada hal atau janji yang belum ia dapatkan.
Disisi lain, ternyata Paerengan dan pasukannya sudah berhasil memenangkan pertarungan, dengan penuh sukacita mereka kembali ke desa dan mendapatkan sambutan sukacita dari kepala desa, khususnya untuk Paerengan sendiri.
Karena kerinduannya pada sang kekasih, Paerengan langsung berlari menuju ke rumah Lebonna. setibanya disana, betapa terkejutnya dia karena melihat pernak-pernik yang sering di gunakan dalam upacara kematian (rambu Solo') masih belum sepenuhnya di lepaskan.
Jantungnya mulai berdetak semakin cepat, Paerengan berlari masuk kedalam rumah Lebonna dan langsung baik ke lantai atas. Betapa kagetnya Paerengan ketika mengetahui tentang kematian Lebonna,Keluarga Lebonna juga menceritakan segalanya pada Paerengan.
Setelah mendengar semuanya, Paerengan dengan penuh kesedihan berlari menuju rumahnya, mengunci dirinya dari dunia luar, tidak berinteraksi dengan siapapun, dan bahkan tidak pernah makan sesuap nasi pun. Paerengan melakukan seperti apa yang di lakukan oleh Lebonna.
Sementara itu, Dodeng, yang merupakan sahabat Paerengan. Ia memiliki pohon induk (Enau) yang letaknya berdekatan dengan makan Lebonna. Pada waktu yang kebetulan, Seseorang yang ia suru untuk mengambil Tuak (Sari pohon enau yang di jadikan minuman) sedang berhalangan, jadi Dodeng sendiri yang pergi mengambilnya sendiri.
Hari itu tepat di sore hari, Dodeng memanjat pohon dan mengambil Tuak yang sudah di siapkan seperti biasa, ketika Dodeng memukul-mukul batang enau ia mendengar suara rintihan dari makam Lebonna. Suara rintihan dari arwah Lebonna yang penuh dengan kesedihan.
Keesokan harinya Dodeng kembali lagi untuk mengambil Tuak (Arak) yang sudah ia siapkan kemarin, lagi-lagi ia mendengar suara rintihan Lebonna. karena saking takutnya, Dodeng tidak sadar kalau dia sudah berlari ke arah rumah Paerengan sambil berteriak.
Mendengar teriakan Dodeng, Paerengan akhirnya keluar dari rumahnya dan melihat Dodeng Ketakutan. Melihat Dodeng seperti itu Paerengan akhirnya bertanya dan Dodeng pun menceritakan segalanya. Meskipun Paerengan merasa tidak yakin dengan yang dikatakan Dodeng, keesokan harinya ia memilih untuk ikut bersama Dodeng dan membuktikannya sendiri.
Setibanya mereka disana, Paerengan meminta Dodeng untuk memanjat pohon dan melakukan pekerjaannya seperti biasa, sedangkan Paerengan sendiri memilih untuk bersembunyi. Tidak lama, terdengar lagi suara rintihan Lebonna, setelah mendengarnya sendiri Paerengan berlari kembali kerumahnya, mengunci pintunya dan menangis penuh enyesalan karena sudah lalai dari janjinya.
Di pagi hari, Paerengan mengumpulkan semua prajurit dan keluarganya dan menyuruh mereka untuk berkumpul di tengah lapangan dengan membawa tombak dengan alasan kalau ia akan melaksanakan upacara Merok (Upacara mentahbiskan rumah adat Toraja (Tongkonan)) dengan menombak kerbau di lapangan terbuka.
Keesokan harinya setelah semuanya berkumpul, Paerengan memerintahkan untuk menghadapkan mata tombak keatas, mengikuti instruksi tersebut, Paerengan naik keatas pendopo yang ada di lapangan. Awalnya mereka yang hadir mengira Paerengan akan menyampaikan sesuatu lebih dulu sebelum upacara di lakukan, namun ternyata mereka salah.
Paerengan justru melompat kebawah sehingga ratusan mata tombak mengenai tubuh Paerengan. Keluarga Paerengan berteriak histeris mengira bahwa Paerengan akan melakukan hal seperti ini. Jasad Paerengan tidak dikuburkan bersama dengan Lebonna, hal itu membuat arwah Paerengan selalu bergentayangan di rumah keluarganya selama 3 hari.
Dodeng yang mendengar hal tersebut pun datang ke rumah keluarga Paerengan dan menceritakan segala hal yang sudah ia alami. Setelah mendengar hal tersebut, keluarga Paerengan keesokan harinya pergi ke liang Paerengan dan memindahkan jasad Paerengan ke liang kubur Lebonna.
Setelah pemindahan jasad Paerengan selesai, arwah Paerengan berhenti bergentayangan dan juga suara rintihan Lebonna pun menghilang, karena mereka sudah bersatu kembali sama seperti janji sehidup semati yang pernah mereka ucapkan.
SELESAI
keterangan:
Rintihan kesedihan Lebonna dalam bahasa Toraja disebut dengan Londe yang sekarang sudah di buat menjadi lirik lagu dibawah ini:
”Dodeng mangrambi ma’dedek”
Dodeng yang sedang memukul-mukul
”Dodeng ma’pa’tuang tuak”
Dodeng yang sedang memindahkan tuak/arak
”Rampanan pi pededekmu”
Tinggalkanlah dulu alat pukulmu(pekerjaan)
”Anna pi te kamaliku”
Simpan duku rasa rinduku
”Ammu perangina mati”
Lalu dengarkanlah aku
”Ammu tandi talinga’na
Pasanglah telingamu
”Parampoanna kadangku”
Sampaikanlah perkataanku
”Pepasan mase-maseku”
Pesan penderitaanku
”Lako to’ Masudilalong”
Kepada Masudilalong
”Muane sangkalama’ku”
Lelaki pujaanku
”Muku duka”
Engkau berkata
”Lasang mateki eh so’ e”
Kita akan sehidup semati wahai kekasihku
”Paerengan..oh rendengku”
Paerengan oh kekasih sejetiku
”Angku dolo angku mate”
Aku pertama yang mati
”Tae sia lamate na la sisarak sungana”
Kenapa dia tidak mati
”Ulli-ulli sola duka borro sito’doan duka”
Ulat-ulat bersama juga saling memberi
”Oh rendengku”
Oh kekasih sejatiku
Singkatnya arti dari rintihan Lebonna ini adalah perasaan Lebonna yang bersedih karena ia telah mati demi menepati janjinya meskipun dia dibohongi karena nyatanya saat itu Paerengan masih hidup. Ia kecewa kepada Paerengan yang tak bisa menepati janjinya karena setelah kematiannya Paerengan masih hidup.
Terima kasih sudah mau membaca #ceritalokal #legendadari daerah saya. sebenarnya kisah keduanya ada beberapa versi.
Versi lain yang pernah saya dengar, dikatakan bahwa mereka berdua tidak berada di liang batu yang sama sehingga ulat/belatung dari Lebonna dan Paerengan keluar dari Liang Kubur mereka dan tidak pernah bertemu, tapi ada juga yang mengatakan bahwa keduanya bertemu.
Jika ada pertanyaan kalian boleh tanya apa aja kok. terima kasih sudah membaca cerita ini.