Namaku Ningsih lestari. tahun ini usiaku menginjak angka 15.
Sejak kecil Emak selalu melarangku bermain di belakang rumah di dekat rumpun bambu, emak selalu mewanti-wanti jika aku keluar dari rumah.
"Ingat!! Jangan bermain di dekat rumpun Bambu itu! Telingamu di ciptakan untuk mendengar, jika tidak kamu akan menyesal."
Begitulah kata-kata emak yang selalu mengingatkanku,sampai-sampai Aku sudah hapal betul suara itu,kadang sampai terbawa mimpi.
Sebenarnya apa yang ada di rumpun bambu itu,jika tidak boleh main di dekat situ,kenapa tidak di tebas saja semuanya.begitu la pikiranku.
Sampai suatu hari,dengan kayakinan yang kuat aku memberanikan diri untuk memeriksa sekitar rumpun bambu di belakang rumahku. jika terjadi sesuatu aku tinggal teriak memanggil Emak,pasti akan terdengar. Karna jarak rumpun bambu dengan pintu dapur rumahku hanya beberapa meter saja.
Perlahan aku berjalan menapak menuju rumpun bambu,setiap langkah demi langkah aku terus menatap ke arah tempat larangan itu. mungkin di rumpun bambu itu hidup seekor ular piton yang besar, sehingga Emak takut kalau aku main di dekat area itu.
Semakin dekat dengan rumpun bambu itu,terasa angin berhembus ke arahku.
Ningsih!!,,, Ibu memanggil dengan suara keras, lebih terdengar seperti jeritan.
Aku menoleh ke pintu rumahku, namun tidak ada Ibu di sana. seketika aku ragu untuk melanjutkan mendekati rumpun bambu.
Ku tarik kembali langkah menjauh dari perkarangan di belakang rumah. ya, rumpun bambu itu berada di dalam perkarangan rumah keluargaku.
Cepat aku masuk ke dalam rumah sebelum Ibu tau apa yang aku rencanakan tadi.
Lama aku duduk diam memikirkan,jika bukan Ibu lantas itu suara siapa. sedangkan dia sudah hapal betul suara Ibunya.
"Ning,! kenapa melamun?" sama seperti suara tadi yang berteriak.
Aku menoleh dan benar adanya,Ibu sudah berdiri di dekatku dengan keranjang yang masih di jinjingnya.
"Ah,nggak kok Bu. elakku."
"Ibu dari mana?" aku mengalihkan topik.
"Eh,ini Ibu dari pasar. kan tadi Ibu sudah bilang akan kepasar,ucapnya heran."
Benar,tadi Ibu mengatakan akan ke pasar. makanya dia berniat melihat apa yang ada di dalam rumpun bambu itu.
"Eh,iya. maaf Bu,Ning lupa." aku jadi salah tingkah dan Ibu memperhatikan sedari tadi.
" Kamu nggak berbuat hal nekad kan?" tanya Ibu yang mulai menaruh curiga dengan tingkahku.
"Ah,apa sih Bu. emang hal nekad apa yang akan Ning lakukan." elak ku lagi.
"Siapa tau aja kamu nekad ke rumpun bambu di belakang." ucap ibu lantang.
Deg!
Kenapa ibu bisa tau apa yang kurencanakan. dan kecurigaannya tepat sasaran.
"Ya,Nggak la Bu.ngapain juga main ke tempat itu." jawabku lagi.
"Bagus. kamukan sudah besar,jadi sudah sewajarnya kamu bisa menuruti kata-kata orang tua."
"Ya sudah Ibu mau kedapur dulu," sembari melangkah masuk kedapur.
Aku semakin penasaran,harusnya Ibu beri tau saja alasan kenapa tempat itu tidak boleh di dekati.
kenapa hanya melarang namun tidak ada kejelasannya.
Semakin hari rasa penasaran ku semakin kuat. sudah ku niatkan akan kembali melihat rumpun bambu itu saat Ibu tidak ada di rumah.
Hari ini aku sekolah seperti hari-hari biasa,di dalam kelas aku tak sedikitpun mendengar apa yang sedang di ajarkan guru di depan kelas.
"Ning,," Jumi teman sebangku ku menyenggol kakiku. Sambil berbisik takut di dengar guru.
"Hem.." Aku menoleh pelan ke arah Jumi.
"Mikirin rumpun bambu lagi,"bisiknya lagi.
Aku mengangguk. Aku sering menceritakan kalau rumpun bambu di halaman belakang rumah itu. namun, Jumi selalu menasehati agar aku percaya kalau setiap Ibu melarang pasti tempat itu mempunyai dampak yang tidak baik.
"Sebaiknya jangan kamu pikirkan lagi tentang rumpun bambu itu. percayalah Ibumu pasti melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya." Jumi kembali menasehati dengan bisikan.
Aku ingin sekali percaya dan membuang jauh-jauh rasa penasaran itu.namun, semakin kuat aku mencoba semakin kuat pula rasa itu memaksa.
***
Seminggu berlalu, setiap malam aku selalu bermimpi aneh.
Dalam mimpi itu Aku tengah berada di dalam sebuah ruangan yang hanya di temani lilin sebagai penerang.
Aku duduk dengan tangan dan kaki menggigil, namun ruangan itu sama sekali tidak ada angin atau pendingin.
Dan setiap kali aku ingin membuka suara aku selalu terjaga dari tidurku. dan aku selalu terbangun di jam yang sama. jam 12 tengah malam.
Rasa haus di tenggorokan membuat aku melangkah keluar dari kamar,dan tentu semua penghuni rumah sudah terlelap. aku berjalan ke dapur dengan langkah pelan,saat tengah malam suara langkahku begitu jelas terdengar. setiba di dapur aku mengambil gelas dan menuang air dari keran galon.
Gluk..gluk..gluk..
Suara udara di dalam galom kala air keluar pun begitu jelas menggema di are dapur. aku berdiri menghadap jendela yang tepat di luarnya rumpun bambu berada.
Sambil meneguk air di dalam gelas,mataku terus melihat ke arah jendela. kuat sekali dorongan untuk membuka jendela dan melihat ke rumpun bambu itu. sedikitpun tidak ada rasa takut atau apapun itu. mengingat jam sudah larut malam dan aku yakin Ibu pasti sudah tidur.
Perlahan aku menarik pengait yang lengket di tengah-tengah pintu jendela,dan membuka pelan sedikit jendela. gelap menyelimuti halaman belakang rumah itu. aku memperhatikan ke arah rumpun bambu,tidak ada yang aneh dengan rumpun itu.
Masih berdiri menghadap jendela,sesaat Aku melihat samar-samar ada pergerakan di dekat rumpun bambu itu. Aku menajamkan penglihatanku, memfokuskan apa kiranya yang bergerak itu.
Seseorang...
Ya,,seseorang..
Perempuan..
Terlihat dari bentuk tubuhnya,walau samar.
Dan..
Ibu..
Apa yang sedang Ibu lakukan di rumpun bambu itu?
Bukankah dia sendiri yang melarang, agar aku tidak mendekati tempat itu.
Lalu,,mengapa sekarang malah Ibu yang sedang berada disitu.
Apa mataku yang salah melihat. Pelan aku masuk kedalam dan membuka pintu kamar Ibu.
Cklek!!..
Tidak di kunci,biasanya Ibu akan mengunci kamar saat malam. pelan ku buka pintu kamar itu untuk memastikan apa benar Ibu sedang tidur atau tidak.
Kosong,,,
Tidak ada Ibu.
Pikiran ku kembali ke sosok yang aku lihat barusan. Pikiran ku mulai tak tenang.cepat aku masuk ke dalam kamar saat terdengar suara langkah kaki.
Dari balik pintu aku dengar langkah kaki itu semakin dekat dan masuk ke kamar Ibu.
Kamarku berseberangan dengan kamar Ibu.jadi aku bisa melihat punggung ibu yang masuk ke dalam kamarnya lewat lubang kunci.
Ada rahasia yang sedang Ibu sembunyikan..
***
Suatu hari aku pasti tau apa yang sedang Ibu rahasiakan.
Setelah mengerjakan tugas Aku memutuskan untuk tidur,dan semoga mimpi itu tidak datang lagi.
Tepat tengah malam,kembali aku terjaga.seperti ada yang mengguncang tubuhku untuk bangun.
Aku keluar dari kamar dan menuju kamar Ibu,sekedar mengecek saja.
Nihil ..
Cepat Aku melangkah ke dapur dan membuka sedikit jendela,lampu dapur yang sengaja tak ku hidupkan.agar tidak nampak sinarnya.
Kembali sosok Ibu ku lihat tengah berdiri di dekat rumpun bambu.
Aku membuka pelan pintu dapur dan berjalan pelan menuju rumpun bambu tampa alas kaki.
Semakin dekat semakin jelas apa yang ku lihat.tubuhku bergetar hebat melihat sosok yang sedang berdiri di depan Ibu.
Aku mundur perlahan menjauhi tempat itu,sebelum mereka sadar kalau ada orang lain di situ.
Di dalam kamar aku duduk dengan ketakutan yang luar biasa. gigi sampai bergelatukan sangking takutnya.
***
Siang hari..
Aku bersyukur tidak demam akibat ketakutan.
Apa itu hantu??..
Arwah !??
Apa pun namanya, yang jelas Ibunya sudah bersekutu dengan hal itu.
Mungkin itu lah penyebab setiap hari ada saja yang datang ke rumahnya. Memberikan sembako atau santunan.selama ini dia mengira sembako atau santunan yang di berikan karna status Ibunya seorang janda.
Tak ku sangka Ibu bisa berbuat seperti itu..
Menarik hati..
Memikat yang melihat..
Atau menaruh iba saat bertatap..
Terkuaklah semua misteri yang selama ini Ibu rahasiakan..
Aku tidak pernah bertanya,karena setiap orang yang datang akan mengatakan kalau sudah sepatutnya hidup saling tolong menolong.
Sejak kapan Ibu berbuat seperti itu, yang ku tau pasti sudah lama sekali,karna seingatku di mengingatkan jangan mendekati pohon bambu itu sejak aku kecil.
Mungkin sejak ayah meninggal pastinya, karna sejak itu Ibu tidak pernah bekerja. Namun,seluruh kebutuhan kami selalu terpenuhi,bahkan berlebih.
Ternyata inilah yang Ibu lakukan.bersekutu meminta kepada selain tuhan, dan tidak ingin berusaha dengan cara baik.
Sungguh itu dosa yang tidak terampuni..
Rahasia rumpun bambu adalah rahasia Ibu yang tidak ingin aku mengetahuinya.
Tamat..