Nama ku Hasan.
Aku hidup di tanah perantauan ya... dulu aku anak badung. Ngak mau sekolah bahkan suka membuat ibu ku marah.
Saat aku berusia 17 tahun aku memutuskan untuk merantau pergi jauh dari kehidupan keluargaku.
Ku tatap wajah wanita yang kini tidur terlelap di sampingku.
Ia wanita yang telah menemani ku hidup bersama dengan berbagai permasalahan dan badai rumah tangga yang pernah menerjang kehidupan keluarga kami.
Semakin hari semakin aku merasa ia wanita yang istimewa untuk kehidupanku. Aku selalu bisa di buatnya jatuh cinta lagi dan lagi padanya.
Perjalanan cinta dan rumah tangga ku tak semanis dan seindah kisah mereka yang penuh kemesraan dan kebahagiaan.
Aku akan bercerita awal mula aku jatuh cinta padanya....
Dia wanitaku, cintaku bidadari duniaku dan aku berharap hanya ia yang akan bersama sama mengapai Syurga Nya.
Aku tidak tau harus memulai dari mana cerita yang ingin ku suguhkan pada kalian.
Pertama kali aku melihatnya.
Ia wanita kecil... hmm seperti anak sekolah dasar.
Dulu aku pun mengira ia masih SD.
Namun sekarang baru ku ketahui saat itu usianya sudah 16 tahun.
Kalian tidak akan percaya ya... tapi itulah kenyataannya.
😄😄😄😄😄
Saat itu aku baru menyelesaikan tugasku.
Saat makan siang...
Pak Burhan menghampiriku.
"San...kamu mau nikah tidak....?"
"Duh...pak siapa yang mau nikah sama saya... saya ini loh SD saja ngak tamat, hanya seorang buruh mana mungkin ada yang mau sama saya." Jawabku sambil berkelekar.
Pak Burhan diam.
Setelah selesai Shalat isya' seperti biasa teman temanku ke rumah makan didepan masjid,aku masih tetap seperti biasa diam di dalam Masjid.
Karena aku memang tinggal di koperasi Masjid.
Pak Imam menghampiriku.
"San kamu mau nikah tidak....?"
ini kok ditawari nikah lagi sih..
bathinku.
"Sinten seng puron nikah kalian kulo pak...." jawabku singkat.
Pak Imam diam.
Beberapa hari kemudian.
Aku ditawari hal yang sama oleh pak Burhan, akupun memberi jawaban yang sama.
Karena memang aku berpikir siapa sih yang mau nikah sama aku.
Entahlah rasa percaya diriku hilang begitu saja saat Nena mengembalikan cincin pertunangan kami.
Padahal dulu ia yang mendesakku untuk segera melamarnya ,nyatanya aku tercampakan ia memilih menikah dengan orang yang lebih berpendidikan tinggi lagi kaya.
Aku tersenyum miris, membayangkan kehidupanku, kisah cintaku yang berakhir tragis.
Apa lagi sekarang aku baru dalam tahap hijrah... apa yang bisa ku banggakan didepan wanita itu.
"Bagaimana San....?" tanya Pak Burhan lagi.
"Maaf pak saya merasa belum siap dan belum punya apa2 untuk menikah dalam waktu dekat...." jawabku singkat.
"Yang aku tanyakan kamu mau nikah tidak...? kok malah bahas biaya pernikahan sih....?" Pak Burhan terkekeh.
Aku hanya tersenyum meski sebenarnya aku malu.
Saat pulang ke masjid sama aku ditawari nikah oleh pak Imam lagi.
Selepas Isya' , Mas Anwar menghampiriku dan menanyakan hal yang sama.
Aku jadi tidak enak hati ditanya terus.
Aku pun akhirnya mengangguk.
"Kamu bisa melihat adikku , dia kerja di cafe S. Kamu datang aja... gampang kok untuk mengenali adikku. Karena di antara pelayan di cafe itu hanya adik ku yang berhijab...." kata Mas Anwar.
Aku kaget dan merasa heran... adiknya mas Anwar yang ditawarkan ke aku dari kemarin....?
Antara percaya dan tidak, aku hanya mengangguk.
Meski hatiku bertanya tanya mungkin kah adiknya mau denganku....?
Mas Anwar adalah salah satu PKM masjid yang di segani.
Ia berpendidikan tinggi dan pandai serta memiliki karisma kepemimpinan yang kuat.
Akhirnya aku berjalan ke cafe S demi melihat adik nya mas Anwar.
Saat aku sampai aku di buat bingung yang mana adiknya mas Anwar... ?
"Gila...bagaimana aku tau....?" Seruku dalam hati.
Yang ada di depan meja kasir ada dua orang mengunakan kerudung besar semua.
lalu yang sekarang menghampiri ku juga mengunakan kerudung besar... tak ada yang mirip dengan Mas Anwar bagaimana aku tau yang mana adik Mas Anwar.
"Busyeeet...ketiganya cantik semua" bathinku.
Mana yang adiknya mas Anwar...? Bingung aku jadinya.
Saat pulang dari cafe aku termenung sepanjang jalan... apa mungkin ia mau denganku....?
Ku lihat dari wajah wajah itu, mereka terpelajar... siapa lah aku ini yang hanya lelaki biasa dan tidak punya apa apa...
Hati kecilku mulai meragu.
Nena yang hanya gadis kampung sudah mengenal ku bertahun tahun dan juga tidak lulus SD saja memutuskan pertunangan kami.
Ada rasa nyeri diulu hati saat ingat bagaimana dulu aku kerja mati matian demi sebuah cincin yang pada akhirnya di kembali kan.
Aku pergi kerja di kota pun awalnya demi biaya pernikahanku dengan Nena. Nyatanya hanya luka yang ia torehkan.
Aku kembali tersadar setelah sampai di halaman masjid... mengapa aku kehilangan rasa percaya diriku saat melihatnya meski aku tidak tau yang mana adik nya Mas Anwar.
Dia wanita yang mana belum ku ketahui pasti, namun aku sadar diri bahwa aku terlalu jauh di bawah nya, aku takut jatuh untuk yang kesekian kalinya.
Waktu bergulir... saat aku pulang kerja, Mas Anwar mendekati ku dan berkata
"Nanti malam datang lah ke rumah sebentar. Adik ku biar liat kamu... kamu sendirian saja datangnya...."
"In syaa Allah mas...." jawabku ragu.
Entah apa yang kurasakan.
Aku sendiri gugup dan gelisah, untuk menghilangkan rasa gugupku aku mengajak Sutris untuk menemaniku.
Setelah kurang lebih lima belas menit aku duduk bersama Mas Anwar.
Datang seorang wanita yang berparas ayu menyungguhkan minuman.
Deg
Deg
Ada desiran aneh merambat di hati ku.
Aneh gadis itu sama sekali tak melirik ke arah ku atau pun ke Sutris.
Ia langsung masuk ke dalam kamar lagi.
Aku terhempas begitu saja, ada sedikit rasa nyilu di ulu hati ku yang terdalam.
Setengah jam di sana serasa se tahun.
Aku di hempaskan oleh kenyataan mungkin gadis itu tak mau dengan ku.
Mungkinkah aku memiliki harapan, sedangkan kenyataan nya ia tidak mau menatapku meski hanya sekedar melirik ke arahku ....?
Acch... benturkan saja aku kedinding agar aku sadar siapa lah diri ini.
Astaqfirullah... sadar Hasan, sadarlah jangan terlalu tingii bermimpi kalau jatuh akan sakit bahkan mungkin kamu bisa mati.
Aaachhh... siapalah aku ini.
Aku hanya lah pria yang mungkin terlalu bermimpi terlalu tinggi.
Mana ada gadis terpelajar sepertinya mau hidup bersamaku...
"Mimpi kamu Hasan..." seru hatiku.
Aku kembali ke masjid dengan langkah gontai.
Sepanjang perjalanan pulang ke masjid Sutris malah mengodaku.
"Kamu beruntung mas, se tau ku dulu banyak teman teman di masjid yang suka padanya. Tapi tidak ada yang berani mendekatinya, kamu malah ditawari nikah dengannya...."
"Dia belum tentu mau denganku Tris...." jawabku.
"Setau ku adiknya Mas Anwar taat kok ma kakaknya, ngak mungkin nolak...."
"Kamu bisa aja, aku ngak banyak berharap kok Tris...." ucapku berlalu meninggalkan Sutris.
Aku lelah dan capek...ingin cepat cepat tidur melepaskan rasa lelah dan letih meski aku ragu bisa tidur.
Ke esokan harinya.
Mas Anwar menemuiku.
"San... kamu itu bagaimana sih. Ku suruh datang sendiri agar kamu bisa bicara sama adik ku kok malah bawa teman."
"Hmmm... maaf mas."
"Jadinya adik ku saat ku tanya tidak tau yang mana. Saat ku katakan yang suaranya paling kecil pun jawabannya sama tidak tau. Karena ngak memperhatikan yang mana yang suara nya kecil...."
"Sudah nanti malam kamu ke cafe lagi atau jika kamu sudah ada waktu. Kalau adik ku sudah menyetujui nya maka hari ahad kita ke rumah orang tuaku untuk melakukan lamaran resmi." Kata Mas Anwar.
Mas Anwar yang tadinya ceria berubah mendung.
"Aku berharap banyak padamu San... "
Aku bingung ngak tau apa yang harus aku lakukan.
"Dia pernah di kecewakan, entah kenapa dulu ia mau menerima pinangan pria seperti itu. Aku cuma ingin ia tidak larut dalam kekecewaan. Usianya sekarang 21 tahun. Seharusnya lebaran haji tahun ini ia menikah jika pria itu tidak mengkhianatinya. Ku harap kamu bisa menjadi pengobat luka di hatinya. Karna sekarang aku lihat tubuhnya semakin hari semakin kurus... selain dia ibu kami lebih tersiksa karena gunjingan orang orang tak bertanggung jawab."
Aku terdiam mendengar cerita mas Anwar tidak menanggapi ucapannya.
Apa aku harus ke cafe lagi....? Tanya bathinku ragu
Ia pernah terluka aku pun sama.
Ia pernah bertunangan akupun demikian...mungkinkah kami bisa saling mengobati luka dihati kami...? Ya Allah aku tidak mau kembali terhempas jika ia ternyata menolak ku.
Aku juga tidak ingin kembali terhempas dan terjatuh kembali setelah di beri harapan palsu.
Aku mulai ragu untuk kembali menemui nya di cafe.
Hari berlalu namun aku belum juga beranjak untuk menemuinya.
Entah mengapa aku merasa begitu tidak pantas untuk wanita seperti dia.
"San... kamu belum ke cafe lagi ya....?" Tanya Mas Anwar tiba tiba mengejutkanku.
"Belum sempat Mas , aku belum gajian... " jawabku lirih.
"Baiklah namun jangan lupa ya temui adik ku agar dia bisa melihatmu sebelum kamu menikahinya...."
Deg
Ada rasa yang tak bisa terlukiskan saat Mas Anwar mengatakan hal tersebut.
Ada harapan di sana padahal aku tidak boleh mengharap pada Makhluk.
"Aku berharap kamu tidak mengecewakan ku kali ini San...." ucap Mas Anwar menepuk pundak ku sebelum berlalu.
Sutris dan Lutfi mulai mengodaku.
Aku berlalu dari mereka....
Namun belum jauh langkahku terhenti saat mendengar ucapan Lutfi.
"Aku berharap kamu bisa membahagiakannya San... seandainya aku bisa membatalkan pernikahanku dengan Putri....?"
Deg
Aku menoleh ke arah Lutfi....
"Maksudmu apa Lut...?" Tanyaku.
"Aku sudah jatuh cinta padanya dari awal pertemuan kami... namun sepertinya aku tidak ditakdirkan bersamanya... mungkin dia memang di takdirkan menjadi jodohmu...." ucap Lutfi getir.
Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya melanjutkan langkahku...
"Kamu ngak usah khawatir... dia tidak pernah tau kalau dia pernah di cintai oleh hampir semua pemuda yang tinggal di sini." Teriak Lutfi yang masih terdengar olehku.
Aku tak habis pikir mengapa Mas Anwar memilihku dari pada Lutfi dia seorang Sarjana yang masa depannya mungkin lebih terjamin dari pada aku yang hanya seorang buruh harian.
Atau Mas Anwar sudah lupa ingatan hingga tidak tau siapa yang lebih baik pendidikannya?.
Aaaacchhh... bodo amat sih aku.
Apa yang perlu aku takutkan untuk menemuinya....
Malam menjelang aku pun pergi ke cafe bersama Sutris.
Aku tersenyum saat melihatnya menghampiriku....
"Mau pesan apa mas....?"
"Soto,Nasi dan Es Teh satu " jawabku.
Ia nampak bingung. Karena aku datang berdua namun cuma pesan satu pesanan saja.
Aku tersenyum melihat nya yang kebingungan.
"Hmmm... baik mas" katanya sambil berlalu.
"Tunggu... aku bisa minta waktumu sebentar....?" tanyaku.
"Aku ke sini di suruh Mas Anwar" lanjutku
Ku lihat ia terkejut... ia menatapku sesaat sebelum akhirnya ia menunduk dan mengangguk.
"Aku izin Bos dulu ya mas....?"
Aku mengangguk.
Lama ia tak keluar keluar entah apa yang ia pikirkan.
Bahkan yang membawa pesananku orang lain.
Akhirnya ku beranikan diri menghampiri kasir.
"Maaf pak saya ada perlu sama Nilam... apakah boleh minta izin waktunya sebentar....?"
"Kamu siapa dan ada keperluan apa....?"
"Saya calon suaminya pak...." jawabku.
"Mbak Nilam...."
"Saya bos...."
"Ngapain saja kamu di dapur...di tunggu calon suami mu kok malah ngumpet...."
Kata Bos perempuannya terkekeh.
Aku tertawa dalam hati. Ternyata bos nya ramah dan baik. Kenapa ia seperti ketakutan.
"Maaf ya mas... Nilam itu memang begitu, pemalu anaknya." Kata Pak bos
"Berapa kali ada yang nanyain dia tapi anaknya yang ngak mau, ngak tau yang dicari yang kayak apa...." lanjutnya.
Deg
Ada seperti jarum tajam menusuk ke ulu hatiku. Ada apa denganku....?
"Bos ini ada ada saja." Kata Nilam pelan.
Aku tersenyum menanggapi ucapan Bos nya Nilam.
Kami berjalan duduk dibawah pohon jambu air. Disini di letakkan neja dari potongan kayu begitu pula dengan kursi kursinya.
Potongan2 pohon masih utuh bulat sepertinya memang sengaja.
Ia menjaga jarak denganku dan pandangannya menunduk.
Aku tersenyum meski hatiku berdetak tidak karuan.
Melihatnya dari jarak dekat.
"Kamu mau ke pasar malam....?"
tanyaku.
"Maaf,aku ngak suka tempat begituan. terlalu banyak orang lagi pula dulu pernah diajak Mas Anwar , mau masuk susah berdesak desakan begitu juga saat keluar. Dan berakhir jalan kaki ke rumah karena tidak dapat taksi. Di jalan juga padat merayap... males jika harus jalan lagi dari tempat Pameran sampai Cafe pasti capek..." ucapnya panjang lebar.
Aku tersenyum mendengarnya, ada perasaan membuncah dihatiku.
"Kamu beneran mau nikah sama aku....?" tanyaku.
Dia terdiam dan semakin menunduk. Aku tak tau apa yang dia pikirkan.
Ku pandangi wanita yang duduk di sampingku hingga deheman Sutris membuatku salah tingkah.
Pantas banyak yang menyukai dan jatuh cinta padanya.
Ku lirik Sutris yang di sampingku.
Kulihat Sutris tersenyum mengejek.
Tenggelamkan saja aku ke mana aku malu kepergok menatap wanita yang belum halal untuk ku pandang.
Aku menghela nafas saat tak mendengar jawabannya.
"Bagaimana....?"
Dia tetap diam. lama ku tunggu jawabannya namun ia tetap diam.
Meski aku tau diamnya itu adalah pertanda setuju namun sungguh aku ingin mendengar jawabannya langsung.
"Nilam....?"
"In syaa Allah" jawabnya singkat.
Sekira aku tidak sadar dimana aku berada ingin aku berteriak karna kebahagiaan yang tak pernah ku dapatkan padahal aku baru berbicara padanya dua kali ini.
"Ini beneran ngak mau ku ajak ke pemeran....?" Tanyaku untuk mengalihkan rasa gugup ku dan jujur saja aku masih ingin bersama dengannya.
Ooohhhh tidak hempaskan saja aku ke lubang yang paling dalam agar aku bisa berpikir waras....
Ia mengangguk.
Tak bolehkan aku kecewa... dia menolak ajakanku.
"Baiklah aku akan pulang. Jangan lupa istirahat yang cukup...." kataku. Meski hatiku berat meninggalkan nya.
Bolehkah aku bungkus dan ku bawa pulang malam ini.
Dia tersenyum lalu mengangguk.
Meski pandangan masih tetap sama nunduk.
Aaah aku bahkan lupa jika aku telah melampaui batas memandangi nya berapa kali. Bahkan ia belum halal untuk ku pandangi.
Aku tak ingin semakin lama semakin sering memandanginya....
Makanya aku segera pamit pulang. Meski berat kaki ini melangkah namun terpaksa aku tetap melangkah... dia belum boleh ku pandangi apa lagi ku bawa pulang.
Tidak....! Sepertinya otakku bermasalahan dan sudah error tingkat tinggi hingga perlu di refress sesegera mungkin. Jika tidak bisa bebahaya.
Beberapa hari kemudian aku diajak silahturahmi ke orang tuanya.
Meski dia tidak ikut serta.
Dan mataku membulat saat tau rumahnya.
Bukankah dulu aku pernah ingin tinggal disini untuk menanam tanaman saat melintas melihat tanaman sayur sayuran yang sangat lebat dan banyak.
Kini aku menginjak kaki disini...melamar putri pemilik kebun...Allahu Akbar.
Lagi lagi aku dibuat terpana saat melihat bagaimana keluarganya menyambut kedatanganku dan rombongan.
Aku dikejutkan oleh nya yang ternyata sudah berada disini.
Aku sepertinya sudah benar benar jatuh cinta padanya.
Dan entah berapa kali aku di buatnya jatuh sejatuh jatuhnya oleh wanita yang bahkan menatapku pun tidak pernah bertahan 5 menit.
Aku sudah benar benar gila mungkin... bagaimana aku bisa jatuh cinta pada wanita yang bahkan baru empat kali ketemu... secara langsung.
Otakku sudah error sekarang.
Namun aku tak pernah menyesali jatuh cinta padanya.
Bahkan jika harus jatuh cinta padanya lagi dan lagi... jika busa setiap hari akan ku lakukan setiap hari...
Ya... dan hari ini aku kembali merasakan hal yang sama yaitu jatuh cinta padanya lagi dan lagi....
Ku tatap wajahnya yang pucat lalu ku kecup keningnya.
"Terima kasih sayang... telah berjuang."
Air mataku kembali menerobos tanpa malu saat ku dengar tangisan bayi mungil yang kini diserahkan kepadaku untuk di adzani.
Dengan tangan gemetar ku terima tubuh mungil nan merah.
Lagi lagi air mataku menerobos keluar saat ku lantun kan Adzan untuk anak kedua kami.
Jika dulu saat anak pertama aku tidak bisa mendampinginya namun kali ini aku melihat secara langsung bagaimana ia berjuang melahirkan anak kami...
Aku benar benar telah jatuh sejatuh jatuhnya padanya.
Dia wanita yang tak pernah selintas pun aku bayangkan mau menikah denganku.
"Alhamdulillah... ya Allah kau anugrahkan kepadaku istri yang shalehah " ucapku dalam hati.
Aku terkejut saat ku lihat ia mengeliat dari tidurnya... saat suara bayi mungil di sebelahnya terjaga.
Ku lirik Nilam yang mengucek matanya.
Kadang aku masih salah tingkah saat ia memandangiku.
Ternyata jatuh cinta padanya kadang membuatku bersikap seperti anak anak... namun aku bersyukur karena tau ia juga mencintaiku.