Aku akan selalu melindungimu. Tak peduli meski nyawaku taruhannya.
❤❤❤
Sinar mentari pagi menembus jendela dan menyilaukan mataku. Suara ayam berkokok terdengar saling bersaut-sautan. Namun, bukannya bangun, aku malah menelungkupkan wajahku di bantal dan menutup diriku dengan selimut.
Entah kenapa aku merasa sangat berat untuk bangun dan berdiri. Haahh... Rasa malas ini telah menguasai diriku. Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamarku dibuka oleh seseorang.
“Hei! Airi, bangun! Ini sudah pagi!" Suara seorang laki-laki yang sangat familiar bagiku, terdengar sedang berusaha membangunkanku.
Akan tetapi, aku tidak menggubrisnya. Aku sudah muak dengan suaranya yang selalu mengganggu tidurku. Isshh... Memang laki-laki yang menyebalkan.
“Hei Airi! Cepat bangun!" Laki-laki itu menggoyang-goyangkan badanku perlahan, masih terus berusaha untuk membangunkanku.
Sebenarnya aku ingin mengabaikan dia. Tapi lama-kelamaan, ternyara aku malah merasa kesal. Aku membuka selimut yang menutupi tubuhku dan mengubah posisiku menjadi duduk.
”Ishh... Bawel banget, sih. Diem kek, ganggu orang tidur aja!" cetusku kepada laki-laki menyebalkan itu.
“Ah maaf, kakak mengganggumu, ya?" Laki-laki itu tidak marah, dia malah menanggapiku dengan ramah.
“Ya jelas lah!" bentakku lagi.
“Iya deh, Kakak minta maaf. Oh ya, kakak udah buatin sarapan. Ayo makan bersama!" ajaknya dengan lembut.
Dialah Fuga, laki-laki paling menyebalkan di dunia. Dia adalah kakakku yang juga merupakan satu-satunya keluargaku. Meski begitu, dia sama sekali tidak bisa diandalkan. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Itulah yang membuatku sangat membencinya.
Aku langsung pergi ke meja makan tanpa mempedulikannya. Fuga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum ramah.
Sesampainya di ruang makan, aku melihat makanan yang sudah tertata rapi di meja makan. Saat selesai melihat sekilas, aku langsung menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Fuga yang sedang berdiri di sampingku pun menjadi kaget.
“A-ada apa, Airi?" tanyanya seolah-olah tidak tau apa-apa.
“Hah?! Jangan pura-pura gak tau," ujarku dengan penuh emosi. “Kenapa sarapanku harus telur lagi?! Aku udah bosan!" lanjutku.
“Ah maaf, ya. Tapi, uang kakak hanya cukup untuk membeli telur. Kalau kamu mau makanan enak, nanti kapan-kapan kakak akan belikan. Untuk saat ini, kita makan telur dulu, ya!" jelas Fuga yang bermaksud untuk meredakan emosiku.
Akhirnya, aku menuruti permintaannya. Namun, itu semua bukan karena aku menyukainya, tetapi karena aku malas berdebat. Aku dan Fuga makan telur bersama.
Setelah selesai sarapan, aku bersiap untuk pergi ke sekolah. Saat sudah siap, aku segera berangkat ke sekolah. Aku rasa, tidak perlu mencium tangannya juga tidak papa.
“Aku berangkat!" teriakku.
“Iya!" sahutnya.
Aku berlari berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah, aku pun melakukan kegiatan belajar seperti biasanya. Singkat cerita, hari sudah mulai petang.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar, begitu juga aku. Saat sedang di jalan pulang, tiba-tiba saja aku dicegat oleh segerombol pria bertubuh kekar.
“Hei, Nona! Wajahmu sangat cantik, ya." Pria itu memegang daguku dengan tatapan penuh nafsu.
“Lepasin! A-apa yang ingin kalian lakukan padaku?!" tanyaku dengan nada membentak.
Pria kekar yang memegang daguku tadi, tiba-tiba saja melakukan gerakan semacam menjentikkan jari.
“Bawa gadis ini! Hari ini, kita akan bermain dengannya," perintah pria kekar yang tadi menjentikkan jari.
Kemudian, para pria bertubuh kekar lainnya datang menghampiriku. Mereka mencengkram tanganku dengan sangat kuat.
“Lepasin!" Aku berusaha memberontak, akan tetapi mungkin itu adalah tindakan yang sia-sia.
Mereka bertubuh kekar dan berjumlah banyak. Sementara aku hanyalah seorang gadis mungil. Jelas saja, meski aku berusaha memberontak, aku pasti akan gagal. Aku hanya pasrah dibawa oleh mereka entah kemana.
Namun, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki orang yang berlari dari belakang. Aku dan beberapa pria kekar itu pun menengok ke belakang. Tampak seorang laki-laki sedang melesat maju ke arah kami.
“Lepaskan Airi!" Laki-laki itu menerjang salah satu pria hingga terpelanting ke belakang.
Sontak hal itu membuat para pria bertubuh kekar terkejut. Mereka kompak melirik laki-laki itu.
“Hei, siapa kamu?!" tanya salah satu dari puluhan pria bertubuh kekar dengan nada membentak.
Laki-laki itu hanya menunduk sambil tersenyum miring. Lalu, dia menegakkan kepalanya.
“Satu-satunya orang yang tidak ingin Airi terluka, aku kakaknya!" ujar Laki-laki tersebut.
“Kak Fuga?!"
Fuga tersenyum kepadaku, seolah memberitahuku untuk tidak khawatir.
“Laki-laki sialan! Cepat, habisi dia!" Sang ketua memberi perintah untuk menyerang Fuga.
Puluhan pria bertubuh kekar pun maju dan menyerang Fuga. Berbagai macam serangan diluncurkan oleh mereka. Fuga berusaha bertahan menggunakan tangannya, akan tetapi pada akhirnya, dia tetap kalah. Fuga tergeletak tak berdaya di tanah.
Tubuh Fuga babak belur. Di wajahnya terpampang jelas bekas jejak sepatu. Di pipinya terdapat luka lebam. Dan kaki serta tangannya dipenuhi oleh luka lecet.
“Ukh...," rintihan kesakitan Fuga terdengar jelas di telingaku.
“Cih, pengecut. Biarkan saja dia, kita pulang saja, jangan lupa bawa gadis ini!" Para pria bertubuh kekar hendak berjalan pulang sambil membawaku.
Namun, tiba-tiba seseorang memegang kaki salah satu dari mereka.
“Apa ini?!" Pria kekar yang dipegang kakinya pun reflek melihat ke bawah.
Ternyata, itu adalah tangan Fuga. Dia memegang kaki pria tersebut.
“Le-pas-kan Airi!" Dengan suara terbata-bata, Fuga masih mencoba untuk menghentikan upaya bejat yang akan dilakukan oleh para pria kekar. Ternyata, dalam keadaannya yang sudah separuh mati pun, Fuga masih berusaha untuk melindungiku. Fuga berusaha untuk bangkit.
Kemudian, Fuga mengumpulkan sisa kekuatannya dan memusatkannya di tangan kanannya. Fuga meluncurkan sebuah pukulan ke arah wajah pria kekar. Akan tetapi, pukulan itu sama sekali tidak berarti untuk pria kekar tersebut.
“Cih, kau masih ingin melawan, ya. Baiklah kalau begitu, rasakan ini!" Sebuah pukulan keras menghujam perut Fuga.
“Ukhh...." Fuga merintih kesakitan sembari memegangi perutnya.
Namun, hal itu tidak bisa membuat Fuga berhenti. Fuga masih berdiri tegak dengan nafas terengah-engah.
“Lepaskan Airi! Atau kau akan menyesal," ancam Fuga seraya menunjuk pria yang mencengkram tanganku.
“Hahaha... Nyalimu boleh juga. Kalau begitu tidak ada pilihan lain. Aku harus menghabisimu dengan cara lain," ucap pria itu sambil memamerkan pisau dengan lumuran darah di ujungnya.
Kemudian, Pria itu maju dan menikam Fuga berkali-kali.
“Kak Fuga!!!!" Aku berteriak karena aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, Fuga sedang ditikam berkali-kali.
Fuga tergeletak bermandikan darah. Sekarang aku bingung harus berbuat apa. Beruntungnya, ada beberapa orang warga tengah berjalan dan tidak sengaja melihat kami.
Mendadak, para pria kekar menjadi ciut.
“Kabur wey kabur!!!" Sang ketua mengajak seluruh anggotanya untuk kabur dan melepaskanku.
“Weey jangan kabur!!" Para warga mengejar para pria kekar.
Sementara itu, aku menghampiri Fuga.
“Kak, kenapa kakak menyelamatkanku? Bukankah aku selalu membentak dan menyusahkan kakak?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
Fuga hanya tersenyum ramah seperti biasanya. “Tak peduli seperti apapun sifatmu. Kamu tetaplah adikku. Aku akan selalu melindungimu meski nyawaku taruhannya."
Setelah mendengar ucapan Fuga, perlahan bulir-bulir air mata mulai keluar dari sudut mataku. Aku tidak bisa membendung tangisku lagi.
“Hei, Airi! Jangan menangis! Kakak tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Tersenyumlah, kakak baik-baik saja." Fuga berusaha untuk menenangkanku.
Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba saja Fuga merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Pandangan Fuga mulai kabur.
“Selamat tinggal, Airi!" kata Fuga dengan suara lirih. Fuga menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
“Kak. Bangun, Kak!" Aku menepuk pipi Fuga.
Aku tak kuasa menahan tangis, aku tak percaya ternyata orang yang begitu menyebalkan ternyata dia adalah orang yang sangat pengertian. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Semua sudah terlambat, aku telah kehilangan Laki-laki paling berharga dalam hidupku.
••••
IG : mikunakano41 [Jika berkenan, follow ya! Thanks😂]