Oriana bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk mencari mangsa buruannya di pedalaman hutan tanpa merasa bosan sedikitpun, akan tetapi tidak berlaku ketika dia hanya diam seperti putri anggun ala kerajaan dan menatap semua orang yang terpesona ke satu arah, ke perempuan yang tubuhnya dibalut gaun sederhana berwarna...
Dari penglihatan Oriana gaunnya berwarna pudar dan lusuh seperti terlalu banyak dicuci, lupakan saja warna gaunnya. Oriana buta warna.
Oh, omong-omong perempuan yang jadi pusat perhatian oleh semua orang yang berada di ruangan perjamuan makan malam ini adalah Ophelia, si anak yang dibangga-banggakan. Dua tahun lebih tua dari Oriana.
Memuakkan!
Ophelia tetap saja tersenyum dalam permainan pianonya meskipun tangannya yang lentik sedang fokus menekan not not nada, membuat decak kagum dari satu dua orang yang terhanyut akan permainannya, dasar anak itu! rajanya pencari perhatian. Raja Oman yang duduk di kursi utama termasuk semua orang di ruangan ini sangat lama memberikan tepuk tangan ketika permainan piano Ophelia berakhir.
"Mengesankan! Lihatlah putriku," katanya sambil bertepuk tangan. "Dia benar-benar malaikat yang berhati malaikat," teriaknya membahana lalu diakhiri tawa keras. Ayahnya memang konyol apanya yang malaikat?
Untuk kesekian kali Oriana menghembuskan napas lelah. Badannya terasa remuk dibalik gaun ketat yang di desain bibi Holly untuknya, Oriana berencana untuk tidak menegur bibi Holly selama seminggu perkara gaun ini. Ketika acara perjamuan makan malam dengan tabib dan rombongan dari kerajaan seberang selesai, Oriana masih belum bisa kembali ke kamarnya.
Dia tidak tahu pasti apa alasannya. Yang jelas dia dipaksa untuk mendengarkan lansung pujian dari Raja dan Permaisuri yang begitu mengagungkan Putri pertama mereka, Ophelia.
Oriana tidak membenci Ophelia karena Ophelia lebih cantik, anggun, dan feminin darinya.
Tapi karena Kakak perempuannya itu sangat baik terhadapnya. Oriana membenci itu, dia menganggap Ophelia hanya kasihan karena kedua orangtuanya lebih melihat kelebihan-kelebihan Ophelia dibanding dirinya.
"Ayah aku sangat lelah seharian ini, tidak bisakah kita tidur saja? Celotehan ayah membuatku pusing."
"Tidak Lia, kau lihat wajah adikmu itu ketika di nasehati! dia benar-benar kurangajar akhir-akhir ini. Siapa yang dia contoh? Coba lihat dia bahkan tidak berterima kasih penyakit gilanya sudah di sembuhkan Tabib Archer. Dasar! Aku akan mengurungnya di kandang keledai biar dia bisa bertemu kembarannya."
"Suamiku, Lia benar kita harus beristirahat ini sudah menjelang malam." Permaisuri Olivia membantu Suaminya berdiri dari duduknya. "Kau pasti mabuk karena anggur sialan itu," katanya ketika mereka mencapai ambang pintu yang telah dibuka beberapa pelayan yang berjaga diluar.
"Siapa yang kau bilang sialan?" Sayup-sayup suara mereka terdengar.
"Astaga, tiba-tiba jadi panas sekali. Padahal kukira badai tidak juga berhenti sampai pagi." Ophelia memecah keheningan.
"Kau juga seharusnya beristirahat, beritahu aku kalau suara aneh dan sakit kepalamu berulah." Ophelia berkata lembut seraya bangkit dari duduknya, aroma tubuhnya begitu menenangkan sehingga Oriana mengiyakan saja perkataannya.
Mereka berjalan beriringan keluar ruangan, Ophelia mengatakan sesuatu yang ada di benaknya. "Kau yakin merasa sehat ketika diobati Tabib Archer?"
"Kenapa memangnya." Oriana menjawab lesu, "Aku punya perasaan tidak enak ketika menatap Tabib itu. Seperti bukan apa yang diceritakan orang-orang tentangnya, menurut cerita orang aura Tabib Archer sangat bersinar, dia seperti punya magnet sendiri untuk membuat orang tersenyum ketika melihatnya. Tapi aku tidak merasakan itu ketika dia ada disini."
Mereka menaiki tangga yang berputar, sekeliling tampak remang juga sepi.
"Yah kau seperti Ayah, pecinta gosip."
"Aku serius! Pokoknya berteriaklah ketika kau merasa aneh dengan tubuhmu, aku akan datang." Mereka berpisah, kamar Ophelia berada paling atas lagi, sehingga harus menaiki tangga.
***
Di kamarnya, Oriana menatap langit-langit kamar. Menunggu waktu dimana sakit kepala juga suara yang berada di kepalanya kambuh pada jam-jam tertentu, Oriana hapal waktunya dia akan menghadapi sendiri ketika tubuhnya tidak terkontrol, sakit dan kepanikan yang dirasakannya luar biasa.
Puncaknya adalah minggu kemarin, ketika suara dalam kepalanya terus memerintah dengan kata-kata seperti "Lenyapkan Ayahmu! Dia tidak pantas hidup." Atau, "Kau tidak akan menda-patkan pujian apapun dari orangtuamu selama Ophelia hidup, maka dari itu bunuh saja dia!"
"Yah betul! bunuh mereka! Bunuh! Bunuh!" Suara itu tidak mau hilang, bersamaan dengan sakit kepalanya yang tidak tertahankan, malam itu Oriana mendapati bahwa hanya Ophelia yang benar-benar mengkhawatirkannya sampai menangis.
Dan itulah yang membuat Tabib Archer diundang kembali untuk dijamu makanan lezat dan berpesta, sebagai ungkapan terima kasih karena menyembuhkan penyakit Oriana yang parah.
Tapi Oriana tidak yakin apakah dia benar-benar sembuh, sesuatu tentang Tabib Archer mengusik pikirannya. Saat Tabib itu mengobatinya, Oriana kehilangan kesadaran, dia terbangun setelah tiga hari tidak sadarkan diri dan melewatkan malam-malam tanpa takut kedatangan sakit kepala dan suara aneh itu lagi.
Apa juga maksud dari suara itu? Dan kenapa kepalanya sakit sekali kalau dia menentang dengan keras perintah dari suara itu?
Suara jendela yang tidak terkunci dengan benar terhempas keras karena angin kencang yang tiba-tiba berembus juga hujan deras yang turun.
Angin kencang dan hujan ini... Mirip sekali dengan cuaca saat Tabib Archer datang ke kastil waktu itu, juga pagi tadi ketika dia dan rombongannya yang bermuka massam diundang oleh Ayahnya untuk dijamu.
Tidak! kalau benar itu salah satu tanda kedatangannya berarti... Dia ada disini? Belum kembali? Bagaimana bisa?
Belum sempat Oriana memikirkan teori itu lebih lanjut, dia dikagetkan oleh napas panas yang terasa di tengkuknya, seperti ada seseorang yang terlalu dekat dengannya hingga napas itu terasa di kulitnya. Oriana membalikkan tubuhnya cepat, diberi nafas lega ketika memang tidak ada siapapun di kamarnya ini, dia lalu mengambil pisau tajam khusus pemotong buah apel diatas nakas, berjaga-jaga.
Tiba-tiba suara berat terdengar. "Matamu indah gadis kecil, aku ingin memilikinya sekarang juga, tapi tidak seru kalau kita tidak bermain dulu."
Dimana pemilik suara brengsek itu?
Oriana mencari-cari di setiap sudut tapi nihil, dia frustasi. "Kau tidak bisa melihatku, tapi sebaliknya aku bisa melihatmu memakai celana dalam motif pedang itu, lucu sekali," katanya terkekeh. Oriana buru-buru mengambil selimut tipis di ranjang dan melindungi bagian tubuh bawahnya. Emosinya benar-benar naik. "Dasar pengecut! Siapa kau?!"
"Aku?... Em, bisa dibilang kita sama. Aku terlahir menjadi anak yang tidak diakui, dianggap aneh karena kekuatan ini, dan pemakan manusia." Oriana dibuat gemetar karena perkataan yang terakhir, yang benar saja? Kalau pemilik suara itu berniat memakannya dia akan mati konyol, tidak sempat merasakan sup daging buatan bibi Holly.
"Tapi aku tidak senaas dirimu, aku punya kekuatan, aku tampan, aku disukai wanita-wanita bangsawan. Sedangkan kau? Oh tuhan memegang pisau kecil saja kau gemetar, dasar tidak bergu-"
"-Brengsek! Apa maumu?!" Suara Oriana meninggi, tiba-tiba kepalanya sakit luar biasa dia tidak mau di intimidasi oleh suara itu tapi berakhir dengan sakit kepala yang berdenyut tak tertahankan, sangat bedebah Oriana membenci dirinya sendiri saat di situasi ini.
Hening beberapa saat, angin dan hujan juga tiba-tiba berhenti, seperti sebelumnya tidak ada hujan dan angin kencang itu tadinya. Tetapi tidak berlansung lama petir menyambar dekat sekali dengan bagian kamar Oriana, dia sampai terlonjak kaget.
Suara berat itu kembali terdengar, kali ini dia tertawa geli sebelum berkata. Menyebalkan!
"Tidak habis pikir, perempuan yang pandai berburu sepertimu takut dengan petir?"
Oriana berencana mengabaikan suara itu, karena kepalanya yang sakit terasa ringan sekarang, mungkin suara itu akan hilang ketika dia tidur nanti. Yah ide yang bagus tapi tidak semudah itu.
Ketika Oriana melangkahkan kaki menuju ranjangnya yang tidak terlalu besar, ranjang yang terlihat diapit oleh nakas di kedua sisinya, tiba-tiba sebuah sentuhan tangan yang tidak terlihat menyentuh bibirnya lembut.
Oriana tidak gila, itu benar-benar sentuhan tangan!
"Kita belum selesai, aku ingin kau menuliskan surat kepergianmu dan ikut bersamaku, ada yang harus kutunjukkan."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Oh tidak mau yah..." Suara itu terdengar menimbang-nimbang keputusannya, yang Oriana yakini bukanlah hal yang baik. "Bagaimana kalau kita mulai dari tangan Kakak Ophelia-mu yang cantik aku patahkan?" Benar kan dugaan Oriana.
"Dasar sinting."
"Ckck, cerewet sekali lima belas menit dari sekarang, aku ingin kau berdandan yang cantik. Astaga rambutmu tidak pernah kau sisir yah? Itu terlihat sangat kusut. Kau akan memper-malukanku di kastil megahku nanti."
"Apa yang kau maksud dengan kastil megah? Kau ingin membawaku kemana?"
Terdengar suara itu berdehem, "Tidak sayang tenang saja, cepatlah bersiap-siap satu setengah menit telah terlewati. Atau kau siap dengan patahnya tangan Ophelia kesayanganmu?"
"Aku tidak menyayanginya berengsek, pergi sana!"
"Oh, ayolah aku bisa saja membawamu paksa tapi karena kau spesial aku ingin membawamu secara baik-baik." Suara itu terdengar frustasi.
Aku sudah gila yah? Atau Tabib itu meminumkan sesuatu yang efeknya muncul sekarang?
"Yang kau bilang Tabib itu sudah meninggal Oriana, yang menghadiri perjamuan makan malam barusan adalah penyamaranku."
"Kau bahkan bisa membaca pikiranku?! Bedebah."
"Sudah dua menit terlewati, dan kau tidak berhentinya mengoceh. Tampaknya kau rela seluruh keluargamu cacat."
Tidak ada pilihan lain, Oriana berkutat dengan kesibukan menyisir rambutnya yang kusut, juga memilih baju yang elegan. Apapun itu, terdengar dari suara sialan yang meremehkannya, dia ingin Oriana tampil cantik, Oriana dengan gilanya mengikuti perintah itu dia berpikir pemilik suara itu membutuhkannya beberapa hari dan akan memulangkannya ketika selesai berurusan dengannya.
Tapi Oriana sangat salah kali ini intuisinya kurang tepat, Oriana selesai dalam setengah jam lebih, waktunya terkuras dalam mengahamburkan isi lemari juga berdebat tentang Oriana yang tidak ingin dilihat ketika berganti pakaian.
Selesai dengan drama berganti pakaian, juga surat kepergian yang ditujukan hanya untuk Ophelia saja. Membuat Oriana paham, bahwa dia benar-benar menyayangi Kakaknya itu.
Mereka bepergian menaiki kuda, Oriana duduk di depan dengan mata yang dibungkus kain, pemilik suara itu memiliki aroma sejuk yang maskulin, memabukkan penciumannya. Oriana sempat jatuh tertidur beberapa kali dalam kungkungan tangan yang terasa hangat juga dada lebar yang keras, Hujan menemani perjalanan mereka.
"Kenapa kedatanganmu selalu disertai hujan?" Mereka hampir sampai, dapat Oriana rasakan laju kuda yang melambat. "Begitulah, semesta membenciku, di satu wilayah yang aku datangi akan selalu turun hujan."
"Darimana kau tahu kalau semesta membencimu? Apakah kau juga bisa membaca pikiran semesta?"
"Kau begitu polos, aku jadi tidak sabar menghangatkanmu," kekehnya geli, sejenak Oriana terlena oleh suara tawa yang menyenangkan itu.
"Kita sudah sampai, kau boleh membuka penutup mata itu ketika kuperintah."
Dari balik penutup mata, Oriana dapat merasakan cahaya yang begitu terang, suara seperti gerbang yang dibuka juga suara sekerumunan orang ramai yang tiba-tiba terdiam. Lalu ketika Oriana dibantu turun dari kuda dan dituntun berjalan ke suatu tempat Oriana dikejutkan oleh suara tegas tapi terdengar takut. "Ampun yang mulia, persiapan pernikahan dalam tahap terakhir, pengantin akan didandani oleh sepuluh pelayan pilihan anda."
Apa katanya? Pernikahan? Pengantin? Benar-benar tidak beres, dia mengajakku hanya untuk melihat pernikahan? Bedebah sialan itu! batin Oriana.
"Antar calon Ratumu, aku akan bersiap-siap."
"Baik yang mulia." Tidak, Ini buruk! Oriana mulai panik, dia paham saat dia tidak bisa kabur lagi.
Yang dimaksud pengantin dan calon ratu adalah dirinya? pernikahan itu adalah dirinya dengan Raja sialan itu? kurangajar! Oriana meronta dengan hasil percuma, tubuhnya dibawa tidak peduli dia menolak mentah-mentah dan suaranya serak karena berteriak.
***
"Sekarang pengantin boleh berciuman."
Kakek sialan! terlebih lagi manusia menyebalkan di depannya ini lebih sialan.
Tidak akan Oriana maafkan perbuatan Arthur terhadapnya, andai saja matanya terbuka ketika di perjalanan tadi, Oriana memilih tersesat dan diserang binatang buas ketika dia kabur. Daripada berada ditengah-tengah pesta pernikahan, wajah ceria yang memberi selamat kepada mereka berdua, siulan-siulan menggoda ketika bibirnya dan manusia yang baru ia ketahui namanya adalah Arthur itu mendekat dan mengecup bersamaan, lebih tepatnya Oriana terpaksa.
Oh tuhan! bagaimana ini? apa reaksi kedua orangtuanya? tidak bukan itu yang penting. Bagaimana keadaan Kakaknya ketika membaca surat yang Oriana tulis terburu-buru itu?
Apakah dia terluka? histeriskah? apakah kerajaan disana akan baik-baik saja tanpa dirinya? bagaimana dengan bibi Holly?
"Kau terlalu banyak pikiran, haruskah kau kubawa ke kamar kita berdua? meninggalkan rakyatku berpesta?"
"Kau bedebah sialan!" Oriana berteriak, membuat orang yang berada di lantai dansa terhenti, dan yang sibuk mengunyah makanan lezat terpaku diam. Pelayan-pelayan kerajaan termangu, melupakan tugasnya.
Belum ada satupun yang berani menatap lansung raja baru mereka setelah kematian Raja lama Asthar, Ayah Arthur yang dibunuh dengan keji oleh tangan Arthur sendiri. Tapi mereka benar-benar menyaksikan dengan mata mereka sendiri bahwa perempuan yang diumumkan jauh-jauh hari akan menjadi permaisuri raja itu tanpa disangka berteriak menantang di depan wajah Arthur Sungguh luar biasa pertunjukan itu.
***
Oriana benar-benar kaget ketika tubuhnya ditarik dengan kasar oleh Arthur menuju tangga yang berkilau menuju lantai atas, dia tidak tahu perasaan apa yang lebih mendominasi, tapi yang jelas dia benar-benar takut akan kemarahan Arthur, laki-laki itu terlihat santai ketika berada di kamar pada kastil kerajaannya. Tapi siapa yang tahu ledakan kemarahannya separah apa?
Kamar yang mereka masuki tiga kali lebih besar dari kamarnya di kastil, ranjangnya cukup untuk ditiduri tiga orang dewasa dan dua anak kecil, fokus Oriana adalah keharuman kamar itu yang menyenangkan, seperti ada Arthur dimana-mana. Aroma maskulin yang berasal dari tubuh Arthur, sejenak Oriana melupakan ketakutannya.
"Aku ingin meminta bagianku."
"..."
"ORIANA LIHAT AKU!" Oriana terlonjak kaget akan suara Arthur yang naik oktaf.
"Dimulai dari bajumu." Suara Arthur melembut.
"Apanya?"
"Kita sedang membicarakan malam pertama yang dilakukan pengantin baru, jadi mulai dengan buka bajumu atau akan kurobek paksa." Arthur mulai mendekat seraya melepaskan pakaiannya satu persatu, Oriana terpojokkan.
"Kau sudah gila? Aku tidak tahu kalau keberadaanku disini adalah menikah denganmu! keluargaku tidak tahu perkara ini, dan ini sama saja pemerkosaan!"
"Siapa bilang? Aku sudah menanamkan pikiran ke keluargamu bahwa kau tidak pernah ada, mereka mengira hanya Ophelia satu-satunya anak mereka. Jangan panik seperti itu sayang, sebaiknya kau berterimakasih kepadaku kau telah bebas saat ini."
Arthur mendekat, Oriana gemetaran. Arthur mencoba membuka gaun oriana dan melepaskan sisanya, Oriana menangis. Dia terlihat panik ketika tubuhnya di banting ke ranjang empuk dengan Arthur yang berada diatas tubuhnya, kali ini Oriana tidak bisa melawan. Tubuhnya tiba-tiba susah digerakkan.
"Ini akibatnya kalau kau melawan." Arthur mengintimadasi Oriana lewat tatapannya, tubuh atasnya yang dipenuhi urat dan otot cukup membuat Oriana membeku. Aura Arthur benar-
benar menakutkan.
"Oriana, jangan mengecawakanku kumohon, aku rela menjebak dan membunuh Ayahku sendiri agar aku dapat tahta warisan itu sehingga aku bisa menikahimu tanpa syarat-syarat yang rumit."
"Kau iblis, bedebah sialan," umpat Oriana.
"Yah, sebut apapun yang kau suka, tapi jangan menolakku Oriana, demi tuhan aku sudah menantikan ini." Suara Arthur yang terdengar semakin berat mengejutkan Oriana sekaligus membuatnya was-was.
Oriana terkurung oleh kedua tangan Arthur yang menghimpitnya di kedua sisi tubuh, aroma Arthur sekali lagi memabukkan, membuat Oriana sulit bernapas normal.
"Kau gugup yah?" Arthur benar-benar jatuh cinta dengan kenaifan Oriana juga wajahnya yang bertambah cantik jika dilihat dari dekat.
Oriana masih diambang setengah sadarnya ketika Arthur menanyakan itu. "Kumohon."
"Apa? Bicara yang jelas?" Arthur membuat Oriana berjengit geli karna meniupkan nafas ke daun telinganya.
"Ar... Arthur." Mata Arthur yang berkilau keemasan terlihat bersemangat karena Oriana memanggilnya dengan suara pelan seperti kehabisan tenaga, Arthur berniat menyudahi kegiatan mereka dan menekan hasratnya untuk memiliki Oriana kali ini. Dia berencana menekan psikis Oriana menggunakan kekuatannya yang dapat mengelabui Oriana di dalam mimpinya nanti.
"Yah, sebut namaku. Aku akan datang kepadamu."
***
"Siapa yang kau maksud dengan Arthur Oriana? Dasar anak cabul! Kau sedang bermimpi yang jorok-jorok yah? Bangun sekarang anak nakal!"
Suara membahana khas Ayahnya juga celotehan nyaringnya berhasil membuat Oriana keluar dari kegelapan yang pekat. Namun kini matanya sangat lengket sehingga susah terbuka.
"Beritahu aku kalau dia sudah sadar sepenuhnya Lia, aku ingin mendengar alasan logisnya kenapa dia masih sempatnya pergi berburu dan mengandung entah anak dari siapa."
Raja Oman dan Permaisuri Olivia keluar ruangan dengan wajah yang sama-sama menyiratkan tanda kecewa.
Perkataan ibunya itu dicerna Oriana sebentar lalu tiba-tiba tubuhnya terlonjak kaget dan terduduk dari baringnya yang damai.
Hamil? Dia tidak salah dengar? tunggu sebentar Oriana bisa menjelaskan itu, dia mencari Arthur yang tidak tampak dimanapun dan menyadari bahwa sekarang dia berada di kamar aslinya.
Kamar Yang berada di kerajaan Ayahnya sendiri dan bukan milik Arthur yang bertabur kemewahan juga wangi maskulin pria itu. Oriana sudah ingin mengeluarkan air matanya karena banyak kegilaan yang ia temui hari ini membuat dadanya sakit.
"Tabib Archer akan datang sebentar lagi untuk memeriksa keadaanmu, kuharap kau jujur dengan perkataanmu Oriana, nama baik kerajaan kita ternodai oleh kelakuan cerobohmu itu." Suara Ophelia terdengar dingin.
Tabib Archer masih hidup? Jadi yang mana yang harus ia percayai? Perkataan Kakaknya ini atau si Arthur sialan?
"Tolong katakan ini mimpi." Oriana merengek, jejak Arthur masih ada di tubuhnya berupa bayi mungil yang terus bertumbuh, Oriana dapat merasakan rahimnya yang mengeras juga hangat yang tak biasa di perut bawahnya. Bedebah sialan itu! Dimana dia sekarang saat Oriana membutuhkan bantuannya?
Pintu ruangan kamarnya terbuka lebar, dan tampak sosok Tabib di iringi pelayan yang membantunya memasuki ruangan dengan tenang, ada Ayah dan ibunya ikut serta masuk ke ruangan.
Aura sang Tabib sendiri berbeda dari sebelumnya. Kali ini tampak bersahabat dan hangat. Oriana merasa muak dan memilih melampiaskan kekesa-
lannya pada Tabib yang tidah tahu menahu itu.
"Kau Arthur kan? kau menyamar menjadi tabib yang telah kau bunuh sebelumnya, kau menjebakku kan? KATAKAN YANG SEBENARNYA SIALAN KAU SUDAH MENGHAMILIKU!"
"ORIANA." Kali ini Ophelia yang dibuat emosi akan tingkahnya.
"Dengarkan aku, Tabib ini hanya wujud dari penyamaran seorang pria brengsek bernama Arthur, dia membawaku ke kerajaannya dan menghamili-."
"Apa yang sedang kau bicarakan?" Wajah Raja Oman berubah pias.
"Tidak, kumohon aku belum selesai, nasibnya sama sepertiku dan... dan mungkin itu sebabnya dia tertarik dan menjadikanku permaisuri lalu menghamiliku. Kumohon seorang saja yang percaya."
"Tidak masuk akal, Tabib obati dia sekarang," perintah Ayahnya.
"Maaf kurasa aku tidak bisa, dia punya kelainan jiwa sedangkan aku berfokus pada luka fisik."
"Kalau begitu bawa aku kembali padanya, aku tahu apa yang harus kulakukan," kata Oriana mengakhiri.
***
"Hai, selamat pagi," sapa Arthur riang pada Oriana yang telah terbangun dari tidurnya.
"Biar kutebak, kau sangat senang bertemu kembali dengan keluargamu?"
"Apa itu tadi? mimpi?" Oriana menyambar pertanyaan.
"Em, lebih tepatnya kau sedang kupermainkan gadis kecil," akunya riang tanpa rasa bersalah. "Kau benar-benar polos dan mudah terpengaruhi, pantas saja kau tidak bisa memanah burung elang tiga tahun belakangan ini."
"Apa itu menyenangkan?"
"Apa?"
"Kau memberikanku mimpi yang seolah nyata? sehingga aku terintimidasi? sebegitu takutnya kah kau dengan fakta aku tidak menyukaimu balik? kau menggunakan kekuatanmu itu untuk mempermainkan perasaanku?"
Arthur tidak menjawab, dia memilih mendekatkan bibirnya ke kening Oriana dan menempelkan bibirnya lama disana, "Sejak kapan kekasihku jadi melankolis begini?"
Oriana bangkit, dia berusaha tidak berfikir agar tidak dapat dibaca oleh manusia sialan di depannya ini, tampaknya dia tidak pantas diakui sebagai manusia karena kelakuan bejatnya.
Oriana memeriksa sekali lagi perutnya, merasakan perasaan biasa saja ketika tangannya menyentuh perut ratanya itu, hal itu membuatnya lega. Yang dia takutkan ketika dia membulatkan tekadnya untuk melakukan itu, dia sedang tidak mengandung.
"Kau ingin ke kamar man-, oh kau ingin apel? berikan kepadaku, biar aku kupaskan untukmu."
Arthur mengernyit ketika dilihatnya Oriana lebih berminat kepada pisau tajam yang di letakkan pada piring berisikan apel itu, dan ketika firasatnya merasakan hal buruk, sudah terlalu terlambat untuk mencegah Oriana yang memilih menusukkan pisau itu ke dada kirinya sendiri lalu berakhir dengan tubuhnya yang ambruk ke lantai bersimbah darah.
✨The End✨
Haii, maaf karena tidak memenuhi ekspetasi kalian tentang cerita ini, maaf kalau kalian kecewa dengan isinya. Aku berjanji akan terus belajar untuk menyenangkan kalian.
Aku sangat menghargai kalian yang mau repot-repot singgah di cerita berantakan ini. Yang tidak lelah dengan narasi yang membosankan. Yang ikut tertawa karena kekonyolan Oriana (mungkin) yang sudah mengklik like bahkan berkomentar untuk cerita ini. Sungguh berterima kasih saja tidak cukup PELUK ONLINE SEMUA❤️