Matahari siang membangunkan gadis kecil yang sedang terlelap di kasurnnya gadis itu membuka matannya perlahan dan mulai menuruni kasurnnya.
"Ayah, Bunda?" teriak gadis kecil itu memanggil orangtuannya.
"Ayah ada di depan nak" Sahut seorang dengan suara berat mengatakan bahwa dia ayah gadis kecil itu.
Gadis kecil itupun berjalan mendekati sumber suara yang mengatakan tempat keberadaan Ayahnnya.
"Ayah aku ingin mendengar cerita tentang desa kita, aku ada tugas dari guruku untuk mengetahui asal usul desaku" ucap gadis kecil itu yang mungkin usiannya sudah menginjak 10 thn.
"Hemm.. desa kita?" ucap Ayahnnya lagi dengan berkerut kening dan di angguki oleh sang gadis.
"Baiklah akan Ayah ceritakan, tapi Ayah ceritakan di dalam saja ya.. ayo" ucal Ayannya dan menggandeng gadis kecil itu masuk kedalam rumah.
"Baiklah sekarang akan Ayah ceritakan, ini sedikit mistis tapi Ayah mengalaminnya langsung saat pertamakali datang ke desa ini" ucap Ayahnnya sambil mendudukkan gadis kecil itu di sofa dan Ayahnya ikut duduk di samping gadis kecil itu.
# JALMO MORO JALMO MATI
Ini sebuah kisah Zaman dulu dimana pertama kali desaku di bangun, dulunnya desa itu adalah rawa dan banyak pepohonan berdempetan satu sama lain pohon itu menjulang tinggi dan rindang,
Krreekkk..
Setiap malam pohon² itu akan bergesekan satu sama lain karna tertiup angin dan menghasilkan bunyi yang mengerikan.
"Bos kenapa kita kesini" tanya Anto kepada Bosnnya yang bernama Totok.
"Aku ingin mencari burung, katannya di sini banyak burung langka karna jarang orang yang masuk kesini" ucap Totok.
"Apa bos tidak takut dengan mitos di hutan ini?" tanya Anto dengan menggaruk lehernnya yang mulai merasa kan suseatu yang tidak nyaman.
"Mitos apa? tidak ada mitos seperti itu" ucap Totok menyepelekan perkataan Anto.
"Katannya di hutan ini di sebut JALMO MORO JALMO MATI bos artinnya.." ucap Anto memggantung.
"Apa artinnya? aku pernah mendengar mitosnnya tapi tidak tau apa arti julukan itu" ucap Totok dengan tetap berjalan memasuki hutan tersebut.
"Jalmo moro jalmo mati artinnya Sopi seng moro mesti mati" ucap Anto sambil menggigil karna merasakan di ngin di lehernnya sehingga bulu kuduk yang ada di tengkuknnya berdiri.
"Jangan percaya hal seperti itu, itu hanya mitos kepercayaan orang² terdahulu suuuttt.. tuh lihat ada burung" ucap Totok menunjuk atas pohon yang terdapat burung yang cukup besar warnannya putih bersih dengan paruh melengkung hampir mirip burung kakak tua tapi ini berbeda karna ada warna kuning di mahkota burung itu, Pak totok yang melihat burung itu langsung menembaknnya dan
Doooorrr...
Satu tembakan melesat tepat di burung itu dan mengakhibatkan burung itu terjatuh seketika tiba² saja angin berhembus sangat dingin mengakibatkan semua bulu tubuh dari bawah sampai atas merinding total.
"Ayo cepat kita cari burung itu, sepertinnya jatuh di sebelah sana" ucap pak Titok sambil berlari menuju arah suara jatuhnnya burung yang di tembaknnya karna jalannya becek dengan genangan Air membuat mereka sedikit susah untuk berjalan.
"Bos saya takut bos" ucap pak Anto kepada Bosnya karna firasatnnya tidak enak apa lagi tadi bosnnya sudah melukai burung di dalam hutan itu.
"Apa yang kamu takutkan semua hutan memang seperti ini, jangan takut setelah ini kita pulang aku yakin burung itu akan terjual mahal" ucap Pak totok gembira, semakin lama mereka berjalan semakin masuk juga mereka ke dalam hutan.
"Aku yakin menembaknnya dan burunngnya jatuh di sekitar sini, tapi kenapa tidak ada?" tanya Pak titok heran sambil menyapu sekitarnnya dengan pandangannya Pak Antopun ikut mencari burung yang di tembak oleh Pak totok.
"Apa mungkin di makan hewan lain yang tinggal di sini ya bos" ucap Pak anton menebak².
"Tidak mungkin, kalau pun ada pasti burung itu meninggalkan jejak darah di sini tapi jangankan darah bekas jatuhnnya burung itu saja tidak ada" ucap Pak totok heran.
"Bos ini mulai tidak beres dan hari juga mulai gelap lebih baik kita segera keluar dari hutan ini bis" ucap Pak Anton yang semakin menggigil karna bulu kuduknnya kembali menegang.
"Tidak sebelum aku pulang membawa burung itu, pasti burung itu masih ada di sekitar sini" ucap Pak totok yang yakin bahwa dirinnya benar² menembak burung itu.
"Tapi matahari mulai terbenam bos" ucap Pak anton dengan gemetar merasakan kakinnya yang mulai berat untuk berjalan lagi.
"Aku bawa senter, ini pakai" ucao Pak totok menyerahkan senter kepada Pak Anton.
Lalu mereka kembali berjalan semakin memasuki hutan itu kini bukan lagi perasaan berat di kaki melainkan udara yang semakin sedikit di situ mengakibatkan susah bernafas bagi Pak anton.
"Bos saya uhuk.. uhuk.. merasa uhukk.. sesak bos uhuk.. uhukk.." ucap Pak anton namun entah kenapa sepertinnya Pak totok tidak mendengar perkataan Pak anton dan tetap berjalan Pak anton yang melihat bosnya menjauh hanya bisa pasrah.
Bbrruuukkk..
Kini Pak anton sudah terbujur lemas di tanah dengan sesak di dadannya Pak anton melihat bosnnya yang masih berjalan semakin menjauh darinya.
"B.. b.. booss.." ucap Pak Anton dan kini dirinnya sudah tak sadarkan diri dengan rasa lemas dan sesak di dadannya dia hanya bisa memejamkan matannya dan berdo'a semoga dirinnya terlindung dari hal² yang tidak di inginkan.
Hari semakin larut kini malampun tiba dan Pak totok berjalan sambil mengamati sekitar mencari burung yang iya tembak tadi sentersudah terpasang sedari Pak totok memberikan senter pada Pak Anto.
"Huuff.. sepertinnya burung itu hilang lebih baik aku cari burung lain, tidak mungkin kan di hutan yang sebesar ini tidak ada burung lain" Pak totok masih tetap berjalan tanpa menyadari bahwa Pak anton tidak ada di belakangnya.
Pak totok semakin masuk dalam hutan itu kini hutan itu sudah gelap gulita bah kan menunjukkan keberadaan mahluk hidup saja tidak hanya ada suara nyaring jangkrik dan kodok yang mengiringi langkah kaki Pak totok.
"Kenapa tidak ada burung bahkan hewan lain selain burung juga tidak ada, huuff.. aku sangat lelah apa lebih baik aku pulang? tapi aku belum mendapatkan buruan" ucap Pak totok frustasi karna merasa sial hari ini.
"Sekarang masih jam 7 measih belum terlalu malam lebih baik aku mencari dulu, sia² saja aku datang kemari kalau tidak mendapat buruan" ucap Pak totok yang kembali berjalan semakin memasuki hutan.
Kini waktu menunjukkan jam 11 malam tetapi Pak totok masih belum juga menemukan buruan, langkahnnya semakin berat dan rasa sesak semakin membuatnnya kewalahna untuk berjalan lagi tanpa menyadari seseorang di belakangnnya memghilang Pak totok tetap berjalan semakin memasuki hutan itu tapi Pak totok di kejutkan dengan pohon yang sama dengan pohon yang di laluinnya pertama kali.
"Kenapa pohon ini lagi? aku yakin aku sudah melawitnya tadi tali kenapa sekarang pohon ini ada di depanku?" tanya Pak totok dengan heran akhirnnya pun Pak totok memberikan tanda pada pohon itu agar pak totok tau apa benar dia hanya berputar² saja dari tadi dan benar saja setelah beberapa menit kemudian Pak totok kembali menemukan pohon yang di tandainnya tadi kini perasaan Pak totok mulai tidak enak serasa di buat bingung oleh hutan itu.
Kini malam semakin larut waktu menunjukkan jam 00:01 malam namun Pak totok masih tetap di posisinya awal meski sudah ber belok berkali² dia tetap menemukan pohon yang di tandainnya tadi dan akhirnya pun Pak totok berhenti depan pohon itu dan beristirahat di bawah pohon itu.
"Apa aku pulang saja? itu lebih baik dari pada aku di sini" ucap Pak totok lalu berdiri dan berbalik arah untuk pulang namun saat Pak totok berjalan pulang Pak totok kembali menemukan pohon yang di tandainnya tadi seketika mata Pak totok terbelak melihat pohon itu, bulu kuduk Pak totok kini berdiri suasana hati tak menentu terombang ambing seperti orang yang mengalami trauma akan suatuhal.
"Ke.. kenapa aku kembali ke tempat ku semula?" tanya Pak totok dengan gemetar dan mulai merinding.
Krreekkk..
Suara pohon² bergesekan membuat suasana di hutan itu semakin menegang dan hanya menyisakan ketakutan dalam hati.
"Bagaimana ini, Anto" ucap Pak totok baru menyadari kalu karyawannya tidak bersamannya kini Pak totok melihat kiri dan kanan mencari Pak anton tapi apa lah daya meski pun sudah berjalan memutar tetap saja Pak totok tidak menemukan Pak anton dengan sisa² tenaga Pak totok berjalan meski nantinnya dia kembali lagi ke pohon yang di tandainnya tadi tapi Pak totok yakin bisa menemukan jalan Pulang hingga di saat dirinnya sudah mulai lelah dan pandangannya sayu ada seorang nenek melambai padannya dan Pak totok pun ambruk tak sadarkan diri di bawah pohon yang di tandainnya tadi.
Serasa di bangunkan oleh panasnnya matahari Pak anton terbangun dari tidurnnya kini waktu menunjukkan jam 7 pagi diaman matahari yang menyilaukan memasuki hutan itu Pak anto yang sudah sadar dirinnya di mana langsung berdiri dan melangkah keluar dari hutan semakin Pak anton berjalan semakin pula perasaan mencekam menyelimuti langkahnnya tapi Pak anton tak gentar melewati perasaan itu iya tetap berjalan menembus ketakuyannya hingga terlihatlah jalan raya yang lumayan sepi tapi masih ada sesekali mobil berjalam melintas Pak anton yang berhasil keluar dari hutan itu, kini Pak anton mengendarai mobil yang kemaren di tumpanginya dan Bosnnya lalu melejit pulang ke rumah bosnnya untuk mengabari istri bosnnya.
Di rumah Bosnnya banyak sekali warga dan juga polisi Pak anton yang melihat itu bingung dan menjalankan mobil yang di kendarainnya masuk pekarangan rumah Pak totok.
"Assalamualaikum" ucap Pak anton daei ambang pintu semua orang yang ada di dalam rumah itu terkejut dan sontak istri Pak totok langsung mendekati Pak anton.
"Anton di mana suamiku? ini sudah 1 minggu kalian pergi kemana saja dan kenapa kau tak pulang bersama suamiku di mana dia apa dia di mobil?" begitu banyak pertannyaan yang di lontarkan oleh Istri Pak totok dan yang di cerna hannya kata 1 minggu mereka tidak pulang padahal mereka hannya pergi 1 malam.
Pak anton yang mendengar itu langsung pingsan karna syok dengan perktaan Istri Pak totok, semua orang terkejut melihat Pak anton yang sedang tergeletak di lantai dan beberapa orang membantu mengangkat Pak anton ke sofa.
Sekitar 15 menit kemudian Pak anton pun tersadar dan semua orang yang ada di sana membantunnya duduk dan memberinnya minuman Istri Pak totok yang melihat Pak anton sadar langsung mendekati Pak anton untuk menannyakan di mana suaminnya.
"Di mana suamiku Anto cepat katakan hikss.." ucap Istri Pak totok dengan sesenggukan.
"Bu saya akan menceritakan dari awal jadi.." ucap Anto memberikan penjelasan sampai di saat Anto pingsan di hutan dan terbangun dari pingsannya lalu pulang semua orang yang mendengar penjelasan Anton pun terkejut dan kini polisi sudah menuju hutan itu bersama dengan Pak anton pencarian di lakukan hanya sampai siang karna mereka tidak berani jika sampai malam hari.
Waktu berjalan hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan Pak totok masih belum di temukan hingga genap 1 bulan polisi menutup kasus Pak totok dan di alihkan kepada ahli spiritual (dukun).
Pak anton berjalan ke rumah dukun yang di yakini bisa membawa Pak totok kembali bersama dengan Istiri Pak totok.
"Permisi mbah.." ucap Pak anton meminta izin untuk masuk dan di angguki oleh Dukun itu.
"Aku tau maksut kedatanganmu apa, dan maaf sepertinya aku tidak bisa membantumu" ucap Mbah dukun.
"Berapapun yang mbah minta pasti saya kasih mbah tolong bantu kami menemukan suami saya mbah hikss.." ucap Istri Pak totok dengan tangisnnya.
"Bukan masalah harga, tapi ini menyangkut nyawa" ucap Mbah dukun kepada Pak anton dan Istri Pak totok.
"Tolong mbah bantu kami" ucap Pak anton memohon.
"Aku hanya bisa membantu kalian dengan mengambil jasat suamimu tapi tidak bisa mengembalikan arwahnnya yang sudah di bawa oleh penghuni hutan itu" ucap Mbah dukun itu.
"Tapi apa tidak ada cara agar arwah suami saya bisa kembali mbah hiks.." ucap Istri Pak totok.
"Tidak bisa bu karna suami ibuk sudah mengganggu mereka dengan membunuh anak mereka" ucap Mbah dukun itu seketika Pak anton teringanmt dengan Burung yang berwarna putih bersih dan satu larik bulu kunung di kepalannya.
Kini mayat Pak totok sudah di temukan dan di semayamkan dengan layak meski membuat pilu setidaknnya mayat Pak totok masih di temukan.
"Ayah apa hutan itu masih ada?" tanya gadis kecil itu yang sekarang berada di pangkuan Ayahnnya.
"Sekarang? hutan itu berada di pinggir jalan dan seiring berjalannya jaman banyak pabrik yang di bangun di sebelahnya dan lama kelamaan desa pun di bangun kini sudah tidak ada lagi" ucap Ayahnnya.
"Ohhh.. jadi begitu, ayah apa karyawan yang bersam bosnnya memasuki hutan itu masih ada" tanya gadis kecil itu.
"Ya dia masih ada dan sekarang beliau sudah melanjutkan hidubnnya dengan baik" ucap Ayahnya.
"Assalamualaikum" ucap seorang laki² paruh baya dengan rambut yang hampir semuannya berwarna putih.
"Kakekk.." teriak gadis kecil itu yang berlari mendatangi kakeknya.
"Kakek Ayah barusaja meneritakan tentang desa kita apa kakek tau cerita tentang desa kita Kakek anton" ucap gadis kecil itu menyebut nama kakeknnya.