Happy Reading ya guyss ♥️
~
Jum'at, 8 Januari
Di sudut ruangan yang gelap terlihat seorang gadis cantik berusia sekitar 16 tahun yang sedang berusaha untuk membuka pintu keluar dari ruangan yang tiba-tiba saja terkunci. Nama gadis itu adalah Nana, dia adalah seorang remaja yang memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan orang lain. Saat itu dia tengah berekreasi bersama keluarganya. Namun tidak sekarang, karena ia sedang terjebak di sebuah ruangan yang tidak dikenalnya. Hal itu terjadi sebab rasa ingin tahu dan kecerobohan yang dimilikinya. Sekarang ia berada di ruangan masuk sebuah villa tua besar yang tampaknya tidak lagi ditinggali lagi oleh orang.
Banyak tumpukan kardus besar, noda darah yang telah kering dan beberapa bagian tulang belulang manusia yang berserakan di lantai ruangan ini, mengakibatkan lantainya yang masih bagus itu terlihat kotor. Sehingga membuat mereka yang melihatnya saja menjadi ketakutan.
Berkali-kali gadis itu mencoba melakukan segala cara yang ia bisa, hingga ia mencoba mendobrak pintu itu, namun ia tak mendapatkan hasil sedikitpun. Dengan lemas dia hanya dapat meringkuk sambil bersender di pintu dan menangis sekeras-kerasnya.
"Andai aku menuruti apa kata mamah, aku pasti sekarang gak akan terjebak di rumah aneh ini... Mereka pasti sedang panik mencari ku sekarang" gumamnya pada diri sendiri.
Setelah beberapa jam dia terlarut dalam penyesalan dan terus menangis, akhirnya dia mulai bangkit dan berfikir bahwa ia harus segera mencari jalan keluar yang lainnya dari villa tua itu. Kemudian dia pun segera melangkah kaki menuju ke lain ruangan dan melihat isi ruangan lain tersebut satu persatu.
Terdapat banyak sekali ruangan di dalam villa itu dan juga kondisi sebagian ruangan masih rapi dan bersih tidak seperti ruangan masuk tadi. Tetapi semuanya terlihat mencekam di mata gadis itu.
Nana menghela nafas berat karena tidak menemukan apapun sebagai jalan keluar, bahkan jendela dan pintu pun terlihat terkunci rapat.
Ia pun mendudukkan bokongnya itu pada sebuah kursi di salah satu kamar villa tersebut. Nana memutarkan pandangan kearah semua sudut ruangan untuk memastikan bahwa ruangan itu aman.
Sedetik kemudian Nana dibuat kaget karena ia melihat seorang laki-laki tengah tidur di kasur. Posisinya berlainan arah dengannya. Ia akhirnya memutuskan untuk melihat nya dan ingin sekedar bertanya padanya.
Namun sebelum Nana menyentuh tubuh lelaki itu. Ada perasaan takut menyelimuti dirinya. Ia mulai merasa takut kalau misalnya laki-laki di hadapan nya itu adalah hantu yang memiliki muka menyeramkan dan merupakan korban pembunuhan di villa itu.
Kemudian Nana terjatuh ke lantai sambil memegangi dadanya yang bergemuruh tanpa aba-aba. Dia lalu segera beranjak untuk keluar dari ruangan itu, namun lagi-lagi pintunya terkunci. Lampu ruangan kamar itu mulai berkedip-kedip dan bergoyang dengan sendirinya membuat keadaan makin kacau dan mencekam.
"Tidak... Jangan bangun.. kumohon..." Lirih Nana sambil bersender lemas ke daun pintu. Dia mulai terisak dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan agar tidak melihat pemandangan apapun yang menyeramkan baginya.
Dap Dap Dap...
Terdengar pelan suara langkah kaki semakin mendekati dirinya, sehingga membuat tubuhnya semakin bergetar.
"Jangan kesini.." ucap Nana berkali-kali.
Namun sepertinya ucapannya itu percuma saja, karena yang ditakutinya itu sudah berdiri di hadapannya saat ini.
Nana tersentak karena merasa dirinya kini dipeluk oleh seseorang. Ia pun mulai membuka matanya dan ternyata benar saja, seseorang kini memeluk tubuhnya yang tengah bergetar ketakutan.
"Jangan takut, aku akan menyelamatkan mu.." bisik laki-laki itu kemudian beralih menatap Nana. Nana hanya mengangguk sambil menatap kosong kearah laki-laki itu.
"Ka kamu siapa ?" Tanya Nana.
"Aku Zero... Aku anak pemilik villa ini" ucap Zero sambil tersenyum kecil.
' Dia sangat tampan... Tapi sayang bibir nya pucat dan tangannya dingin ' batin Nana sambil menyentuh tangan Zero.
"Kamu pasti dapat menyadari nya kan? Aku bukanlah manusia lagi, aku adalah hantu sekarang" ucapnya dengan nada yang terdengar putus asa.
Sedangkan Nana menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tidak mungkin ada hantu tampan seperti ini, lagian aku dengan mudah dapat menyentuh mu" elakknya yang merasa tak setuju terhadap ucapan Zero.
Zero tertawa kecil kemudian dia menaruh jari telunjuk nya ke bibir Nana, agar dia tidak mengeluarkan suara lagi.
"Itu hanya perasaan mu" bisiknya pelan di telinga Nana.
' Mana mungkin!... Lagian apa yang sedang dilakukannya sekarang? Dia ingin aku sembunyi dari siapa? ' tanyanya dalam hati.
Setelah beberapa saat Zero menarik tangan nya dan kembali berbicara. "Pokoknya kalau kamu bertemu seorang wanita yang sedang membawa senjata ataupun tidak, kamu harus lari.. aku akan menunjukkan jalan keluar untuk mu" ucap Zero serius.
Nana hanya mengangguk dan terdiam, setelah itu kemudian mereka berdiri. Zero membuka daun pintu itu pelan hingga tak mengeluarkan sedikitpun suara. Kemudian mereka terus berjalan kearah belakang villa.
"Kamu lurus saja kesana, kemudian setelah itu belok ke kiri, disitu terdapat pintu yang agak rusak, dobrak pelan saja kamu pasti bisa dengan mudah keluar.. setelah itu langsung lari, dan jangan berhenti meskipun sebentar, apalagi sampai menghadap ke belakang" ucap Zero.
"Kamu tidak ikut bersama ku?" Tanya Nana.
"Sudah ku bilang kan kalau aku_"
Nana tidak percaya, dan ingin sekali membawa laki-laki itu pergi bersamanya. Nana tidak memiliki maksud apa-apa, hanya saja melihat seseorang seperti dia berdiam diri di villa itu akan membuatnya kesepian, sehingga ia ingin menyelamatkan dari tempat itu. Ia pun langsung mencoba merangkul Zero. Tapi kemudian tubuh Nana malah melewati tubuh zero sehingga membuatnya terjatuh karena menginjak bagian lantai yang lebih rendah.
"BRUUKK!"Suara gadis itu yang terjatuh terdengar cukup keras. Sejurus kemudian muncul seseorang misterius yang kini berjalan mendekat kearahnya.
"Ahh ketemu kau disini rupanya" ucap seorang wanita cantik berpakaian seperti dokter dengan bercak merah menghiasi pakaian nya. Dia sudah berada di hadapan Nana sambil membawa sebuah pisau bedah. wanita aneh itu muncul dari ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Crash!
Wanita itu melempar pisaunya ke kaki Nana sehingga membuat kaki nya itu memuncratkan banyak cairan merah. Zero yang mencoba melindungi nya dengan menghalangi menggunakan tubuhnya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhhhh!
Pekik Nana saat mencabut pisau itu dan kemudian ia segera berlari ke arah belakang. Namun kakinya terasa begitu sakit hingga menghalangi gerakan nya. Ia terus berusaha berlari dan hampir menuju pintu keluar yang sudah terbuka lebar itu.
"Larilah terus!! Jangan berhenti!!" Teriak Zero padanya.
.
.
"Bebaskan kami! Tolong kami akhhh... Kakak tolong... Jangan tinggalkan kami..."
Suara seperti itu terus menggema di telinga Nana dan bayangan singkat tentang kejadian sadis yang dilakukan wanita itu terlintas di benaknya hingga membuat dia menghentikan langkahnya sesaat, kemudian menghadap ke arah wanita itu dengan tatapan amarah yang membara di netranya.
"Kau! Kau sudah membunuh banyak orang! Termasuk anakmu sendiri dasar wanita gila!"
Setelah mengucapkannya ia merasakan sesuatu yang masuk dan melukai daging serta organ didalamnya.
"Kena kau" ucap wanita itu sambil menikam perut Nana.
Uhuk..uhuk ... Darah pun mengalir begitu saja dari mulutnya juga tempat luka yang barusaja tercipta karena tikaman pisau tersebut.
"Hehe tenang saja kamu pasti akan kuobati.. kalau kamu menurut untuk menjadi bahan percobaan ku"
"Jauhkan tanganmu darinya!" Teriak Zero pada wanita yang merupakan ibunya itu.
Wanita itu menoleh kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia pun mencabut pisau dari perut Nana dengan kasar dan melemparkannya ke arah Zero. Namun pisau itu terjatuh begitu saja di lantai.
"Ahh benar! ternyata kau sudah mati yaaa.. anakku tercinta" Ucapnya sambil tersenyum sinis.
Sedangkan Nana sudah terjatuh sambil memegangi perutnya yang terasa amat sakit. Ia mencoba menghentikan darah yang mengalir deras dengan kedua tangan nya.
"Karena kau sudah mati, maka kau tidak bisa menghalangi tindakan ku" katanya sambil mengambil pisau yang dipegangnya tadi dan berjalan ke arah Nana.
Nana yang terkejut reflek mencoba bangkit dan berlari ke arah ruangan terdekat bukannya malah ke pintu luar yang ditujunya tadi. Dia menutup pintu itu dan menahannya dengan tubuhnya.
.
.
Gadis itu terus membekap mulut dan hidungnya sendiri karena menahan bau tak sedap yang hendak masuk ke Indra penciuman nya. Dia melihat potongan tubuh manusia yang lainnya dan beberapa alat-alat kedokteran juga benda-benda tajam begitu banyak berserakan di tempat itu.
Ketakutan terus tertanam di dirinya hingga membuat nya semakin lemas dan tak berdaya. Sedangkan wanita yang dihindari oleh nya itu kini telah berada di hadapannya sambil menyunggingkan senyum kemenangan nya.
"Kemarilah akan kuobati luka mu supaya tidak merasa sakit..." Wanita itu memegang dagu Nana dan membelai rambut nya pelan. Sedangkan Nana terus menggeleng sambil menangis tersedu-sedu. Tangannya berkali-kali mencoba menepis tangan yang hendak menyentuh wajahnya itu.
"Ahh rupanya kau tidak bisa menurut apa kataku... Maka kau akan bernasib sama seperti mereka" Ucapnya melirik ke arah beberapa mayat yang sudah tidak utuh lagi.
"Tidakkk! Jangan! tolonggg! Ahkkkkhh!!" Teriak Nana sambil berontak.
"Pertama-tama mari kita pisahkan tangan yang menyusahkan ini terlebih dahulu" ucapnya sambil menekan keras pisau di tangan Nana kemudian dilanjutkan nya lagi hingga ke bagian tubuh yang lainnya.
Beberapa saat kemudian gadis dihadapannya itu sudah hancur menjadi potongan daging dan tulang. Wanita itu hanya tersenyum sambil menggigit sesuatu yang dipegangnya. Noda merah pun kini memenuhi mulutnya. Kemudian ia tersenyum singkat.
"Seandainya jika kau mau menuruti apa kataku, kau akan ku obati, meski hasilnya tidak senormal sebelumnya...atau kalau kau berhasil keluar satu langkah saja dari rumah ini aku pasti tidak akan mengusikmu." Ucapnya sambil tertawa keji kemudian beranjak dari ruangan itu.
.
.
Zero menatap hampa potongan tubuh itu. Dia mencolek lantai yang kini sudah menjadi sungai berwarna merah itu dan mengambil sepotong daging yang masih baru ditemukannya kemudian menggenggamnya erat. Tampak air mata mengalir deras dari kedua sisi matanya.
"Bodohhh bodohh... Kau malah tidak menuruti apa kataku! Hampir saja aku berhasil menyelamatkan mu" gumamnya pelan.
Zero mengukir nama wanita yang kini sudah tiada itu dilantai rumahnya dengan tinta merah itu. Ia mengetahui namanya dari kalung yang dikenakannya sebelum ia pergi. Dia menyesal karena hanya bisa diam saja saat kejadian tadi dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia jadi kesal pada dirinya sendiri yang seperti itu.
.
.
Tidak lama setelah itu sebuah cahaya muncul disisinya."Terimakasih sudah mau menyelamatkan ku, padahal kau tidak mengenaliku..." Ucap Nana yang tiba-tiba sudah berada di hadapan laki-laki itu.
Zero mengalihkan pandangannya lama pada roh yang baru tercipta itu, tanpa mengedipkan matanya. Sedangkan Nana yang dilihatnya hanya dapat tersenyum miris. Ia merasa semua kejadian tragis yang dialaminya memang murni karena kesalahannya.
"Ak- aku masih ada urusan yang belum ku selesaikan" ucap Nana mengalihkan pembicaraan karena merasa malu ditatap terus oleh Zero.
"Aku juga... Kalau begitu mari kita bekerjasama menyelesaikan nya" ajak Zero sambil beranjak menghampiri tempat dimana roh Nana berdiri. Nana tersenyum sedih, kemudian mengangguk. Ia lalu mengusap pelan air mata Zero menggunakan jarinya.
.
.
"Bolehkah aku menciummu?" Tanya Zero tiba-tiba.
"Ehhhhhhhhh?!!". Nana hanya bisa terkejut karena perkataan Zero. Ia juga tidak mampu menolak saat sentuhan lembut itu mendarat di bibirnya secara tiba-tiba. Air matanya pun juga ikut mengalir karena ia seolah-olah merasakan perihnya penderitaan yang dirasakan oleh pria dihadapannya itu selama hidupnya.
*
*
*
END.....