Sore itu matahari bersinar dari balik kabut, diiringi angin lembah yang berembus pelan seakan menyambut kedatangan tiga pemuda yang hendak mendaki Gunung Sumbing.
Dialah Jyan, Niko dan Awan yang tengah mendaftarkan diri kepada pihak pengelola jalur pendakian.
“Jadi semuanya berapa mas?” tanya Jyan kepada petugas pengelola.
“Untuk tiga orang, tiga puluh ribu rupiah om,” jawab petugas pengelola sembari menyerahkan tiket registrasi, asuransi dan peta jalur pendakian yang di jadikan satu.
“Terima kasih mas, kita jalan dulu,” ucap Jyan sembari melipat peta itu dan menyimpan dalam saku celananya.
“Siap om, hati-hati ya,” jawab petugas itu.
Setelah memeriksa semua perbekalan dan berdoa, mereka bertiga memulai pendakiannya. Untuk menuju pos satu, di awali dengan jalan tatanan batu dengan kanan kiri perkebunan penduduk yang di tanami aneka sayuran. Sesekali terlihat burung kutilang bertengger pada ranting pohon cemara.
Dua jam berlalu, mereka bertiga telah sampai di pos yang pertama. Ada bangunan permanen di pos ini yang berfungsi sebagai tempat istirahat para pendaki.
Selain untuk tempat istirahat, tempat ini juga digunakan untuk pos ojek bagi pendaki yang ingin merasakan sensasi ojek Gunung Sumbing.
Mereka beristirahat sembari meneguk air putih untuk sekadar membasahi tenggorokan.
“Kira-kira sampai pos dua jam berapa ya,” ucap Awan memecah keheningan.
“Udah nikmati aja, nanti juga sampai,” sahut Jyan seraya mengembuskan asap rokok dari mulutnya.
Kembali mereka melanjutkan perjalanan menuju pos dua. Jalur semakin menanjak dengan di dominasi tanah dan bebatuan sebesar kepala orang dewasa.
Pemandangan di kanan dan kiri berupa pohon cemara yang sengaja di tanami oleh pihak Perhutani sebagai upaya penghijauan setelah terjadi kebakaran beberapa bulan yang lalu.
Jyan berjalan paling depan, diikuti Awan di tengah dan Niko melangkah paling belakang. Perlahan tapi pasti, mereka menapakkan kaki satu demi satu hingga sampai di pos yang kedua.
Di pos ini juga terdapat bangunan permanen di sebelah kanan jalur pendakian yang berfungsi sebagai tempat istirahat para pendaki.
“Udah mau magrib nih, siapin senter dulu dan taruh di tempat paling luar ransel kalian. Biar nggak kesulitan nanti mengambilnya,” pinta Jyan kepada kedua rekannya.
Setelah istirahat cukup, mereka melanjutkan perjalanan untuk menuju pos yang ketiga. Jalur semakin menanjak, dengan tanah sedikit berdebu karena mereka mendaki di awal musim kemarau.
Tanpa terasa, hari berganti senja, pemandangan matahari terbenam menjadi obat penawar di kala tubuh merasa lelah.
Gelap pun mulai menghampiri saat hari berganti malam. Jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, mereka bertiga mengeluarkan lampu senter untuk penerang perjalanan.
Karena baru saja di cas, cahaya senter masih cukup terang untuk menyinari jalur pendakian.
“Wah, senter baru ya Nik?" selidik Awan kepada Niko.
“Hehehe iya nih Wan, baru seminggu kemarin beli,” sahut Niko tersenyum.
“Kalo si Niko mendaki, pasti ada aja alat yang baru buat di pakai,” sela Jyan kepada dua temannya.
Jalan semakin menanjak yang membuat mereka kesulitan untuk melewatinya. Jalur itu dikenal dengan nama Engkol-engkolan, tanjakan dengan kemiringan hampir delapan puluh derajat yang mengharuskan pendaki merayap atau memakai bantuan tali bila ingin melewatinya.
Jyan masih saja berjalan paling depan, diikuti Awan di belakangnya, dan Niko berjalan paling belakang.
Niko sempat tertinggal sepuluh meter di belakang Awan. Karena suasana yang gelap, Awan tak terlihat dari pandangan Niko, seperti terhalang satu punggungan kecil di depannya.
Dimulai dari sini, tengkuk leher bagian belakang Niko terasa dingin, bulu kuduknya berdiri.
“Duh kenapa nih kok bulu kudukku berdiri, seperti merinding!" ucap Niko berbicara sendiri sembari mengusap lehernya dengan tangan kiri dan memberanikan diri menoleh ke belakang.
Dan betapa terkejutnya Niko, pemuda itu melihat seseorang berpakaian serba putih. Tubuhnya pun juga putih dengan berewok panjang sampai menyentuh tanah, sosok itu seperti tembus pandang.
Padahal tidak ada pendaki lain di belakangnya. Niko mengarahkan senter ke sosok putih itu. Namun, senter yang masih baru seakan tak mau menyinari sosok itu dan malah terlihat redup.
Niko mempercepat langkahnya untuk menyusul dua temannya di atas. Baru dapat lima langkah, Niko kembali menoleh ke belakang. Sosok putih itu seperti mengikutinya dengan jarak sekitar sepuluh meter. Kembali dia menyorotkan lampu senter ke arah sosok putih itu dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan.
Senter itu kembali meredup seakan tak mau untuk menyorot sosok putih itu. Meski telah di putar-putar settingan zoom senter miliknya, tetapi tetap saja masih redup, bahkan semakin redup.
“Wan, tunggu Wan,” teriaknya memanggil Awan.
Namun tak ada jawaban dari Awan, malah suasana terasa semakin sepi. Kembali Niko mempercepat langkahnya dengan napas terengah-engah, sesekali menoleh ke belakang. Namun sosok putih itu tetap saja mengikutinya.
Sementara itu, Jyan dan Awan yang menyadari temannya tertinggal, mereka berdua duduk pada batu besar sembari menunggu Niko dan menyalakan rokok.
"Nik, Niko, kalau mau istirahat nanti aja," teriak Awan.
"Sebentar lagi pos tiga, ayo buruan," teriak Jyan menambahi.
Menyadari tak ada jawaban dari Niko, Awan mencoba menengok ke arah bawah. Dia melihat sorot senter Niko, pertanda Niko tengah baik-baik saja. Padahal tak seperti apa yang Awan lihat.
Sementara itu, dalam ketakutannya, Niko menambah kecepatan langkah kakinya, bulu kuduknya masih saja berdiri, dengan merinding di sekujur tubuhnya. Kembali pemuda itu memberanikan diri menoleh ke belakang sembari menyorotkan lampu senternya. Sosok putih itu akhirnya menghilang, dia merasa sedikit lega.
Namun saat Niko berbalik ke depan untuk melanjutkan langkahnya, tiba-tiba sosok putih itu berada di depannya dengan jarak satu meter. Niko kaget dan jatuh terperosok ke bawah sejauh sepuluh meter.
Beruntung Niko berpegangan pada akar pepohonan yang menyembul keluar dari tanah, jika tidak, sudah pasti pemuda itu terperosok lebih jauh ke bawah.
Niko menghela napas pelan seraya menyorotkan senter ke arah sosok putih itu. Akhirnya, sosok putih itu telah menghilang dari tempat sebelum Niko terjatuh.
"Syukurlah!" batin Niko dalam hati.
Niko pun melanjutkan perjalannya ke atas hingga dia melihat sorot lampu senter di depannya yang ternyata itu adalah Awan dan Jyan, Niko merasa sedikit lega.
“Kenapa Nik sampai ngos-ngosan gitu? Loh senter kamu kok redup,” ucap Awan kepada Niko.
“Udah nanti aja aku ceritain,” jawab Niko.
“Sekarang istirahat dulu deh, itu di depan udah pos tiga,” ujar Jyan kepada dua temannya.
Singkat cerita, keesokan harinya mereka bertiga telah sampai puncak Gunung Sumbing dan menuruni gunung sore harinya.
Hingga pulang ke rumah sekitar pukul empat sore, Niko menceritakan semuanya setelah sampai rumah. Jika dia ceritakan melihat sosok putih itu waktu di gunung, nanti dua temannya juga ikut ketakutan. Jadi lebih baik, diceritakan setelah turun dari gunung.
Ternyata Niko ceroboh, sewaktu kedua temannya berdoa sebelum pendakian, dia malah mematikan ponselnya tanpa berdoa terlebih dahulu. Niko asyik menyimpan ponsel dalam saku celananya.
Jadi, pastikan berdoa terlebih dahulu sebelum memasuki tempat yang asing bagi kita. Kita bertamu, jangan sampai mengusik kenyamanan tuan rumah.
Sekian.