Aku selalu mencoba memahaminya namun sampai saat ini harapanku hanya tinggal kesia-siaan.
Aku lupa bahwa yang lebih pahit dari hidup adalah berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
.
.
.
Beberapa bulan yang lalu setelah lulus MA atau SMA, aku meminang seorang wanita yang seangkatan dengan ku, yang masyaallah cantik, sopan, baik dan yang terpenting dia adalah keturunan orang baik-baik.
Namun sayangnya ia menolak pinangan itu. Maka aku memutuskan melanjutkan studi ku ke LIPIA Jakarta, aku memilih merantau ke pulau sebrang agar setidaknya bisa mengobati kekecewaan ku.
.
.
.
Beberapa tahun kemudian, aku menyelesaikan pendidikan sarjana ku diusia 23 tahun dengan gelar Lc. Ada Lc belakang namaku,
Muhammad Andra Ramadhan, Lc.
Dan Alhamdulillah aku sudah mempunyai pekerjaan tetap saat ini, yaitu sebagai salah satu tenaga pengajar bahasa Arab dan Fiqh di beberapa pondok pesantren di daerah tempat tinggal ku dan di Bogor.
Dan ternyata perjuangan ku selama hampir 4 tahun ini belum membawakan hasil, aku masih berharap pada si dia, dia yang pernah ku pinang tapi ditolak,
Amalia Kinanda Ardani. Namanya masih ada walaupun aku sudah menggunakan berbagai metode untuk melupakannya entah itu metode ala netizen sampai dari Syaikh yang mengajar, sayangnya kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa.
Aku memutuskan untuk kembali meminangnya karna aku tahu ia juga sudah menyelesaikan pendidikan sarjana nya. Kali ini aku mendapat kan dukungan dari keluarga besar.
Kali ini ia meminta aku menunggu ia istiharoh dan setelah seminggu, jawabannya masih sama seperti sebelumnya. Aku diminta untuk bersabar dan kali ini bukan cuma aku yang kecewa tapi juga keluarga besar ku.
Beberapa minggu kemudian aku mendapati isu dari grup angkatan yang mengatakan bahwa ia menunggu pinangan dari orang lain maka dari itu ia menolak beberapa pinangan sebelum-sebelumnya.
Jadi setelah beberapa pertimbangan panjang aku memutuskan untuk segera melanjutkan pendidikan masterku ke Madinah dan memperbaiki suasana hati kedua orangtuaku yang terlanjur kecewa.
.
.
.
Tiga tahun kemudian aku pulang setelah menyelesaikan pendidikan masterku, orangtuaku menyambut kepulanganku dengan sukacita. Namun aku masih mengharapkan nya, karna sesuai informasi terpercaya yang kudapatkan seseorang yang ditunggu nya dulu sudah meminang orang lain bahkan saat ini sudah dikaruniai seorang anak.
Setelah mendapatkan pekerjaan tetap aku memutuskan untuk meminang Amalia kembali...
"Ummi... Andra mau izin..." sehabis pulang berjamaah shalat ashar aku memantapkan hati meminta izin
"Izin apa nak?" Ummi menjawab lembut saat ini aku dan keluargaku sedang duduk santai diruang keluarga, ummi menatap abah dengan isyarat mata seolah bertanya dan Abah hanya tersenyum menggelengkan kepala
"Andra mau meminang Amalia lagi..." aku yang saat ini baru saja pulang dari rantauan ke negri orang dan aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki
"Gak ada yang lain apa Ndra... kamu ini udah master lo, punya usaha sendiri dan sekarang baru jadi dosen di universitas disini, mapan lah... apa gak ada wanita lain?" Mas Arham kakak tertua ku angkat bicara, istrinya yang memangku anak ke-3 nya mencoba menenangkan nya
"Abah tetap memberikan kalian keluasan memutuskan segala sesuatunya tapi Andra alangkah baiknya kamu istiharoh dahulu tanya sama Gusti Allah SWT apakah dia memang jodoh kamu apa bukan, Abah bukannya melarang tapi kalo kamu mau denger pendapat Abah itu yang tadi Abah bilang istiharoh dulu..." setelah mengatakan hal tersebut Abah bangun
"Abah ada jadwal pengajian ba'da magrib, mau langsung ke tempat pengajiannya... Assalamu'alaikum..." Abah keluar dari pintu utama di depan rumah sudah ada sopir yang menunggunya
"Wa'alaikumsalam..." kami yang ada disana menjawab kompak
"Inget pesen Abah Ndra... kalo Ummi maunya kamu cari yang lain aja atau kalo mau nanti ummi carikan yang lebih ayu dan sholihah insyaallah..." Ummi pun bangun segera pergi kearah belakang rumah, biasanya ummi akan sibuk dengan kebun bunga dan sayurnya jika sore begini
"Aku sih setuju sama pendapat Bang Arham Ndra... Cari yang lain ya gak dek?" Mas Arkan kakak ke-3 ku meminta dukungan istrinya dan diangguki dengan senyuman
"Takutnya nanti kamu nyesel Ndra... kan kalo ada wanita yang tidak menerima pinangan dari orang Sholeh itu ada aja masalahnya besok... kalo menurut mbak Ndra... tipe si Amalia ini cari calon suami yang dia liat dari rupa dan harta. Bukan maksud mbak bilang kamu jelek, kamu ganteng sama kayak masmu yang lain dan ndak kalah mapan kalo soal harta tapi selama ini kamu coba bercermin kan di ajarkan sama Abah selalu sederhana mungkin si Amalia ini kiranya nanti akan hidup susah kalo menikah sama kamu, maklum kan dia anak orang kaya Ndra..." Mbak Kinanti istri mas Arham menambahkan.
Karna aku dan saudara-saudaraku diajarkan oleh Abah untuk selalu berpenampilan sederhana sebelum menikah katanya untuk mencari istri yang tak memandang harta dan tahta. Gaya hidup keluarga ku juga sederhana walaupun sebenarnya sangat mampu untuk hidup mewah dan glamor.
"Tapi bagaimanapun keputusan akhir kamu kami hanya bisa berdo'a dan mendukung kebahagiaan kamu" mbak Aliya istri mas Ashraf tersenyum menenangkan.
Dialog sore itu berakhir... aku menjalankan hari-hari ku seperti biasa, dan saat ini mulai sibuk dengan jadwal mengajar di universitas dan masalah usaha distro dan cafe ku.
Aku sudah melakukan istiharoh sesuai saran Abah tapi setahun kemudian aku kembali meminta izin untuk meminang Amalia dan Abah, Ummi, maupun semua saudara-saudaraku dan ipar-iparku mengiyakan tapi dengan syarat mereka tidak membantu apapun proses pernikahannya, walaupun aku tahu itu adalah bentuk protes mereka tapi aku tidak menyerah dan tetap kukuh untuk meminang Amalia.
Dari hantaran, akad sampai resepsi aku siapkan sendiri, cari WO sendiri, beli perlengkapan hantaran dan packing sendiri, ke KUA sendiri ke RT sendiri, dan semuanya sendiri. Mereka (keluarga ku) terima beres semuanya tapi aku sadar ini keinginanku dan inilah resikonya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Amalia Kinanda Ardani binti Muhammad Ardan Saputra dengan maskawin seperangkat alat sholat dan 20 gram emas dibayar tunai..." aku melafazkan ijab Kabul dengan satu tarikan nafas tampa salah sedikit pun, dan saat itu pula Amalia resmi ku persunting.
.
.
.
Kami menjalankan bulan madu di sebuah villa yang sudah di sewa sepupuku sebagai hadiah pernikahan selama 7 hari 7 malam, tapi sayangnya beberapa keluarga dari pihak istriku malah ikut kesana jadi aku memutuskan untuk pindah dari villa ke hotel tapi masih tetap diikuti mereka. Semua biaya aku yang tanggung ini bukan sekedar masalah uang tapi kenyamanan aku kurang nyaman dengan kehadiran mereka apalagi ini aku sedang bulan madu.
Jadi setelah bulan madu yang gagal tersebut akau membawa Amalia untuk tinggal di rumah kedua orangtuaku, walaupun sebenarnya aku sudah membeli tanah untuk rumah kami yang rencananya akan aku hadiahkan untuknya di ulangtahun pernikahan pertama kami nanti.
Dirumah orangtua ku ia bagaikan tuan putri, karna aku sangat memperhatikan semua kenyamanan dan kebutuhannya semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh pembantu yang kupekerjakan setelah aku menikahinya yang awalnya pembantu hanya 2 menjadi 3 saat ini di rumah orangtuaku, walaupun dalam seminggu ada dua hari kami akan menginap dirumah orangtuanya dan aku tidak masalah akan hal tersebut.
Waktu dengan cepat berlalu pernikahan kami sudah berlangsung selama 7 bulan dan aku sudah memulai pembangunan rumah kami seminggu yang lalu. Namun sampai saat ini ia belum mengizinkan aku memberikannya nafkah batin walaupun aku sudah memberikan nafkah lahir tak tanggung-tanggung ATM yang menerima transfer gaji mengajarku ada padanya juga selalu membawanya shopping sebulan sekali entah itu hanya pakaian sampai perhiasan.
Empat bulan kemudian pembangunan rumah itu rampung tinggal proses pengecatan, pemasangan lampu dan pengisian perabotan. Tapi... Amalia tiba-tiba meminta satu hal yang sangat menakjubkan...
"Mas Andra... Amalia mau ngomong sesuatu..." Saat ini kami ada di sebuah lestoran di sebuah mall sedang menunggu pesanan kami setelah lelah shopping bulanan
"Silahkan dek... mau ngomong apa serius sekali..." saat ia mengatakan hal tersebut aku merasakan firasat buruk tapi masih mencoba untuk tenang
"Mas... Amalia mau kita pisah..." Amalia terlihat Tampa beban mengucapkan hal tersebut
"Pisah...? kamu lagi bercanda kan?" aku masih mencoba tenang
"Gak mas... Aku serius mau pisah..." obrolan kami terhenti karna pesanan kamu sudah datang
"Makan dulu... nanti dilanjutin waktu sampai rumah" kami makan dengan hidmat tapi di pikiranku sudah banyak spekulasi tentang alasan Amalia minta pisah, aku tidak mau over tingking tapi ini diluar ekspektasi ku
Sesampainya dirumah... aku memberikan oleh-oleh ke kak Aliya yang kebetulan berkunjung, memintanya untuk menyajikannya untuk keponakan-keponakan ku maupun orangtuaku yang sedang bersantai. Lalu dengan setengah berlari masuk ke kamar kami, Amalia sudah duduk manis di sofa kamar setelah berganti baju dengan baju santai. Kuakui dua bulan belakangan ini ia lebih sering tinggal dirumah kedua orangtuanya daripada denganku disini. Aku melangkah pelan kerlarah sofa lalu duduk di sofa singel nya
"Jadi... apa alasannya?" aku mencoba untuk tetap tenang, segala sesuatu harus dibicarakan semua masalah harus di hadapi dengan kepala dingin
"Aku gak cinta sama mas Andra !" alasan yang sangat klise
"Toh lagipula gak ada anak di antara kita jadi proses perceraiannya akan lebih mudah" seringan itu ia membicarakan perceraian
"Astaghfirullah alzim... istighfar dek... itu ..." aku kehilangan kata-kata dengan jawaban dan sikapnya
"Apa hanya karna itu kamu minta pisah?"
"Mas... sadar gak sadar aku terpaksa menjalani pernikahan ini, ini adalah keinginan keluarga besar ku bukan keinginan ku..."
Aku kembali istighfar dalam hati... terus seperti itu
"Apa yang aku gak kasi buat kamu... semuanya aku kasi..."
"Maaf mas... tapi aku gak cinta sama mas... aku udah coba untuk mencintai mas tapi gak bisa, aku tersiksa batin mas..."
Aku masih melantunkan istighfar
"Kita break aja dulu ya... mau istiharoh dulu... kamu mau istirahat dimana selama break, kau biayain sekalian kamu liburan ya?"
"Gak usah mas... aku gak butuh break, aku butuh kita pisah, aku maunya kita urus semuanya ke pengadilan..."
Aku masih istighfar kali ini aku mulai merasakan sakit... sakitnya mengharap kan sesuatu yang ternyata tak bisa tercapai, sakitnya berharap pada manusia...
"Kamu gak butuh istiharoh tapi saya butuh..." walaupun hari sudah malam, aku tetap pergi dari rumah, aku pergi ke rumah Mas Arham
.
.
.
"Assalamu'alaikum..." aku mengetuk pintu beberapa kali
"Wa'alaikumsalam... masyaallah Andra kami ngapain malem-malem kesini..." Mas Arham membukakanku pintu dengan pakaian tidurnya
Aku masuk kami duduk diruang tamu, dan disajikan teh dan beberapa kudapan oleh istrinya lalu ditinggalkan untuk berbicara berdua
"Ada apa malam-malam kesini... ini jauh Lo dari rumah, ini juga udah tengah malem, kenapa kamu ada masalah? cerita sama kakak ada apa?"
Akhirnya aku menceritakan semuanya, itu adalah aib rumah tangga ku tapi saat ini aku butuh saran.
Malam itu aku di berikan banyak saran oleh mas Arham, berbagai ayat dan hadits dihadirkan. Dan selesai pukul 3 pagi, aku dan mas Arham memutuskan untuk sholat tahajjud lanjut mengaji menunggu subuh. Setelah shalat subuh aku di paksa istirahat terlebih dahulu sebelum pulang takutnya mengantuk di perjalanan.
.
.
.
Sesampainya di rumah aku tidak mendapati Amalia dan setelah mencari dan bertanya aku tahu bahwa ia pulang ke rumah orangtuanya.
Satu bulan aku habiskan untuk membujuk Amalia agar menarik surat gugatan cerai nya di pengadilan namun usahaku tak membuahkan hasil. Akhirnya surat panggilan sidang datang, padahal rumah yang akan kuhadiahkan sudah rampung dan perabotannya sudah lengkap. Sidang pertama saksi dihadirkan yaitu sahabat Amalia sendiri, dan ia menolak mediasi. Di sidang ke-3 kami resmi bercerai talak 1 secara hukum maupun agama.
Jadi resmi sudah statusku menduda...
Tapi aku ikhlas karna aku lupa bahwa kita tidak boleh berharap pada manusia karna pasti akan kecewa, ummi menawarkanku banyak wanita baik-baik untuk dipinang tapi untuk saat ini aku lebih memilih menduda...
Memperbaiki hati dan menata kehidupanku kembali untuk terus berharap kepada-Nya...
Karna jodoh itu bukan siapa cepat dia dapat tapi siapa jodoh pasti dapat dan aku kembali diberikan pembelajaran bahwa Ridho Allah SWT terletak pada ridho orangtua...
.
.
.
Jangan lupa like dan komen... 🙏🙏🙏