31 Desember 2014
Seperti tahun kemarin aku selalu membawa handphone di setiap aku pergi. Karena ini malam dimana akan ada pergantian tahun biasanya teman-temanku akan memenuhi Berandaku dengan kata-kata “Happy New Year,” dan lainnya. Ya tak lama setelah aku membantu Ibuku menggoreng pisang buat nanti malam. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Ku lihat layar handphoneku dan tertera nama Fanani di situ. Iya. Dia adalah salah satu cowok yang selama ini aku kagumi, entah apa yang membuatku kagum, yang ku tahu perasaan ini tumbuh seiring berjalannya waktu. Segera ku buka pesan darinya.
“Selamat Tahun Baru Iva,”
Aku tersenyum sendiri ketika membaca pesan darinya.
“Hei ini itu masih jam 9, tahun baru masih 3 jam lagi,” balasku cepat.
“Hehe iya kan gak apa-apa toh aku ngucapinnya awalan,”
“Gak boleh,” jawabku bercanda.
“Ihh dasar bawel,”
“Biarin,”
Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan dengan kata-kata yang biasa tiap hari kami lakukan di sms, seperti, “Lagi apa?” kata itu yang sering muncul duluan ketika kita sekedar ingin basa-basi, dan mungkin tidak kami saja, remaja lain pun pasti pernah menanyakan itu kepada pasangannya.
“Lagi nyantai sama Ayah di teras rumah,” Kataku tanpa berbohong
“Ohh,”
“Kenapa?”
“Gak apa-apa nanya aja,”
“Oalah tak kirain mau main ke sini,” kataku bercanda.
“Hahaha gak apa-apa ta?”
“Hehe bercanda tadi, nanti aku dimarahi orangtuaku,”
“Hehe aku juga bercanda kok,”
“Hmm lagi apa kamu?” tanyaku.
“Lagi main gitar di teras rumah juga,”
“Emm bisa main gitar ta?” tanyaku bercanda
“Ya bisalah, mau tah aku nyanyiin? Mau request lagu apa?” tawarnya sungguh-sungguh.
“Emm gak usah deh makasih, besok aja waktu ada PERSAMI di Sekolah,” candaku.
“Malulah aku sama anak-anak.. hehe,”
“Loh kenapa harus malu. Anak Pramuka kan biasanya gak punya malu,” timpalku.
“Tapi ya gak malu-maluin juga kan Va,”
“Hehe iya juga sih,”
Gak kerasa kami sms-an hampir 3 jam. Dari yang pertama nanyain kabar sampai ngomongin hal yang mungkin menurut orang lain itu gak penting. Hingga tiba saat dimana acara TV menayangkan suasana gemuruh di bundaran HI, dan warga Jakarta bersorak mengucapkan “Happy New Year,” atau “Selamat Tahun Baru 2015,” aku yang sedari tadi udah masuk ke dalam rumah berlari menuju halaman depan rumah. Tujuanku cuma satu, “Melihat indahnya langit di Malam Tahun Baru ini,”
Di sini tak kalah heboh dan menarik seperti yang aku lihat di tayangan TV tadi, iya, meskipun desaku ini kecil tapi warganya tak takut mengeluarkan uang banyak untuk meramaikan Tahun Baru di tahun ini. Saking asyiknya aku melihat langit aku sampai lupa kalau aku belum membalas pesan dari Fanani. Ku ambil handphoneku dari saku celanaku. Ku lihat ada 1 pesan dan 3 panggilan tak terjawab. Sesuai dengan dugaanku itu semua dari Fanani.
Isi Pesan.
“Iva aku mau ngomong sama kamu tolong angkat teleponku ya!”
Tak lama setelah ku baca isi pesan itu dia meneleponku lagi. Cepat-cepat aku angkat telepon darinya.
“Assalammualaikum, ada apa?” sapaku.
“Waalaikumsalam, gimana udah lihat kembang apinya?”
“Hehe udah, kenapa?” suaraku sedikit tertawa.
“Hehe gak apa-apa,”
Lama kami saling diam, entah apa yang ia pikirkan waktu itu.
“Ada apa? Kok tumben nelepon aku?” tanyaku penasaran.
“Emm begini Va.. emm anu.. emm apa ya? Suaranya membuatku tertawa.
“Hahaha kamu kenapa sih, gak kayak biasanya?”
“Emm begini Va .. aku suka kamu,”
Kata-kata itu.. iya kata-kata itu sontak membuatku tercengang. Tiba-tiba saja jantungku berdetak tak beraturan. Dan angin di malam tahun baru ini entah mengapa membuatku merinding. Aku mencoba menata kosakataku.
“Kamu ngomong apa sih? Udah ah jangan bercanda mulu. Gak lucu tahu,” Kataku setelah menghilangkan rasa gugupku.
“Aku gak bercanda Va, aku beneran suka sama kamu,” Kata Fanani mencoba meyakinkanku.
Ya Allah apa ini? Apa benar dia mencintaiku? Tapi mengapa? aku hanya bisa terdiam menikmati desiran angin yang terasa lembut.
“Aku gak menuntut jawaban dari kamu Va, aku cuma ingin ngungkapin perasaanku ini aja sama kamu, udah lama aku memendamnya. Aku ingin mengungkapkannya tapi aku takut kamu akan menjauh dariku dan tak lagi membalas sms dariku,” Jelasnya panjang lebar.
“Iya aku ngerti, aku juga sayang sama kamu tapi tidak sekarang, kamu mau kan nunggu aku 5 sampai 6 tahun lagi,”
“Iya Va, aku pasti nunggu kamu, aku janji kita akan selalu bersama dan menjadi keluarga yang bahagia 6 tahun kelak,” katanya bersungguh-sungguh.
“Udah ah aku kan masih SMP kelas 3 kamu juga masih kelas 1 SMA, masa udah ngomongin rumah tangga sih,”
“Hehehe bercanda Nona manis,”
“Ohh ya gak tidur ta? Udah jam 2 loh,” Suaranya seolah menyuruhku untuk segera tidur.
“Iya ini udah mau tidur,”
“Ya udah ndang tidur, selamat malam Tuan Putri, semoga mimpiin aku ya..,” godanya.
“Ehh. Iya deh selamat malam juga,”
“Assalammualaikum,” tambahku tak pernah telat.
“Waalaikumsalam,” Setelah ia menutup teleponnya aku pun langsung pergi ke tempat tidurku.
Apa benar dia mencintaiku? Atau aku ini hanya seperti taman bermain untuknya. Keindahanku bisa dilihat namun kalau sudah bosan ditinggalkan begitu saja.
“Hufft.. Ya Allah kenapa aku jadi Nething begini?” keluhku dengan napas berat.
Malam Tahun Baru ini adalah malam istimewa buatku. Dimana cintaku dibalas olehnya. Rasa yang telah lama aku pendam akhirnya bisa terobati oleh pengakuannya barusan. Malam ini aku gak tahu harus senang atau bimbang, tapi setelah kejadian tadi tidurku malam ini nyenyak seperti tanpa beban yang menyelimutiku. Selamat Malam dan Selamat Merayakan Tahun Baru 2015.
~End~