"Aduh gawat" pekik Nilam yang urung menyentil kelerengnya.
"Kenapa Lam?" tanya Arsyad teman sepermainan Nilam.
"Tidak apa-apa, aku harus pulang dulu" ucap Nilam seraya berlari pergi ke tepi tanah lapang tempat mereka bermain.
"Nimas ayok pulang" panggil Nilam terengah-engah sembari mengalap keringat dipelipisnya.
"Sebentar lagi nanggung" jawab Nimas, saudara kembar Nilam.
"Ayok cepat, ini sudah hampir asyhar kita harus pergi ke hutan mencari kayu bakar" peringat Nilam yang gemas melihat Nimas masih asyik bermain boneka berbie dengan Liza. Meski mereka berasal dari rahim yang sama, namun kepribadian mereka berdua sangatlah berbeda.
Nilam lahir sepuluh menit lebih dulu dari Nimas. Entah karena predikat kakak melekat padanya sehingga sifatnya lebih tegas atau memang dia terlahir sebagai wanita galak yang jelas dia tak suka dibantah.
Nimas tak bergeming ditempatnya, membuat Nilam naik pitam.
"Ayok cepat" Nilam menyeret paksa Nimas menuju hutan. Ia tak ingin Ibu nya marah karena dirinya lalai mencari kayu bakar untuk persediaan besok.
"Aduh, kau bisa sabar tidak" gerutu Nimas yang kewalahan menyeimbangkan langkah kakinya dengan Nilam. Ia juga merasa nyeri dipergelangan tangannya.
"Tidak" jawab Nilam jujur tanpa mengurangi kecepatan langkah kakinya.
"Baiklah. lepaskan dulu pegangan tangan mu aku lebih baik berlari dari pada harus diseret seperti kambing dungu" protes Nimas mencebikan bibirnya.
"Bagus, kenapa tidak dari tadi saja hah?" omel Nilam melepaskan genggamannya.
"Kau tidak memberikan aku pilahan pun"😐 ujar Nimas membela diri.
"Ya sudah cepat jalan, hari sudah mulai gelap"
Keduanya pun mempercepat langkah kakinya, sehingga dengan hitungan jam keduanya sudha sampai di tengah hutan.
"Ayok cepat kumpulkan ranting-ranting itu" perintah Nimas yang kini telah sibuk bekerja.
"Iya aku sudah tahu, kau tak perlu menyuruh ku" balas Nimas seraya melakukan hal yang sama dengan Nilam. Ia duduk jongkok untuk mmegambil ranting yang berserakan diatas tanah.
Setelah hampir satu jam bekerja...
"Apa segini masih kurang?" tanya Nimas ragu. Nilam menyorot tajam Nimas. Nilam menunduk takut, nyalinya menciut hendak membantah meski tangannya tangannya terasa pegal.
"Hahha kau lucu sekali" seru Nilam tertawa lebar.
"Aissh kau ini, jangan menatap ku seperti itu. Aku takut tahu"
"Aku hanya becanda. Sudah ayok pulang, kurasa ini sudah cukup" Nilam menggendong tumpukan kayu dipunggungnya, mengikat erat dengan selendang yang dibawanya dari rumah.
Nimas bersorak riang, hari semakin gelap. Bulu kuduknya sudah berdiri sejak tadi.
Brukkk
Sebuah suara benda jatuh terdengar nyaring ditengah kesunyian hutan. Nimas merapatkan tubuhnya pada Nilam, pikirannya travelling kemana-mana. Nila mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, namun semuanya masih sama. Tidak ada tanaman yang bergoyang akibat timpaan benda jatuh.
"Itu tadi suara apa" Nimas berdecit pelan.
Nilam mengedikkan bahunya " Mungkin ranting jatuh" jawab Nilam asal tak mau ambil pusing.
"Sudah lupakan ayo jalan". Nimas mengangguk, Ia berjalan berdempetan dengan Nilam.
"Kau minggir lah" Nilam mendorong tubuh Nimas beberapa senti ke samping. Ia kesulitan berjalan dengan ruang gerak yang dibatasi oleh tubuh Nimas.
"Aku takut" lirih Nimas.
"Tidak ada apa-apa percayalah" bujuk Nilam.
"Awww" Nilam meringis kesakitan saat lututnya mencium bonggol kayu didepannya. Ia jatuh tersungkur karena dorongan keras dari belakangnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Nimas panik melihat Nilam yang jatuh mendadak. Nilam perlahan bangkit berdiri dibantu Nimas.
"Kau tidak lihat ada darah dilutut ku?" ucap Nilam sarkas.
"Ya ampun sudah terluka masih saja marah-marah" sebal Nimas. Nilam mengehela nafas tak memyahuti Nilam. Ia menolehkan pandangannya ke belekangan, mencari biang keladi atas musibah yang menimpanya.
"Kenapa ada kelapa disini?" gumam Nila menatap heran sebuah kelapa tua di dekat kakinya. Ia menatap sekitar, mencari asal pohon buah itu berada. Nilam memberanikan diri mengambil kelapa tua itu memperhatikan dengan seksama. Tidak ada yang aneh kelapa itu tampak normal seperti pada umumnya.
"Kak kok serem yah" tutur Nimas yang ikut memperhatikan.
"Aaah biasa aja kok.Yuk balik" ajak Nilam santai.
"Lho kelapanya kenapa dibawa kak?" tanya Nimas merasa cemas.
"Buat oleh-oleh" jawab Nilam sembari melangkah gontai meneruskan perjalanan.
"Tapii.. kata ibu tidak baik mengambil kelapa jatuh saat hampir sandi kala" jelas Nimas.
"Lebih tidak baik lagi jika kita masih disini sampai malam tiba" cerca Nilam.
"Astaga Kak Nilam, lebih baik kau kembalikan kelapa itu ke tempat semula"
"Kenapa? toh kelapa ini biasa saja tidak ada yang aneh"
"Sesuatu yang terlihat biasa saja oleh mata kita belum tentu oleh mata lainnya"
"Sudah diam lah. Aku akan membuatkan mu bubur spesil dengan santan kelapa ini nanti"
Nimas diam tak berkutik, bukan karena sogokan yang diberikan Nilam namun Ia tau watak kakaknya yang keras kepala.
Sesampainya dibelakang rumah, Nilam meletakan kayu hasil keringatnya beserta kelapa yang ditemukannya.
"Ibu aku sudah pulang" teriak Nilam memasuki rumahnya lewat pintu belakang.
"Iya Nimas sudah lebih dulu memberitahu"
Nilam nyengir kuda, " Nilam mandi dulu bu"
"Kau makan saja dulu, Nimas sedang memakai kamar mandinya"
"Baiklah" Nilam menurut, Ia mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk.
"Ibu sudah makan?" tanya Nilam basa basi.
"Belum, ibu menunggu Nimas. Kau makan sendiri yah"
"Ibu aku lapar" sahut Nimas yang muncul tiba-tiba.
"Ambillah, tidak ada yang melarang kau untuk makan" cibir Nilam.
Nimas memanyunkan bibirnya. Ia mengambil sendiri jatah makan malamnya.
"Ibu aku sudah kenyang, aku langsung mandi saja yah"
"Iya, jangan lupa ambil air wudhu sekalian untuk sholat magrib"
Nilam mengangguk kecil, segera berlalu dari hadapan ibunya.
Sehabisnya membersihkan diri, Nilam menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Rasa penat disekujur tubuhnya membuat Ia lupa nasihat ibunya. Perlahan Ia memejamkan matanya, terbuai masuk ke alam mimpi.
"Emmm" Nilam memggeliat diatas ranjangnya, tubuhnya terasa berat seperti ada yang menindihnya. Deru nafasnya tertahan, Ia merasakan sesak didadanya. Nilam membuka matanya, rasa sesak kian menjadi, seolah ada sesuatu yang ingin masuk ke dalam raganya.
"Hihihi" tawa seorang wanita muda nyaring terdengar, membuat Rika (Ibu Nilam) segera berlari menuju bilik kamar Nilam.
"Nilam kamu kenapa Nak?" tanya Rika khawatir melihat tubuh putrinya yang kejang-kejang.
"Nimas" teriak Rika kalap. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Nilam.
"Iya Bu" sahut Nilam menyudahi aktivitas menggaji Al Qur'an nya. Ia berlari menuju kamar Nilam.
"Cepat panggil pak haji samad kesini" seru ibunya disela tangis dan bacaan ayat kursi yang dilantunkan.
"Baik bu" Nimas dengan kilat menuju rumah pak haji samad yang seorang ustadz sekaligus indigo di kmapungnya.
Hanya dengan sekali ketukan pintu kayu jati itu telah terbuka, tanpa penjelasan yang lebih detail pak haji samad sudah bisa menebak apa yang terjadi. Nimas segera kembali ke rumahnya ditemani pak haji.
"Astagfirullah" pekik pak haji kaget melihat sosok yang merasuki Nilam, Ia melihat sosok wanita tanpa kepala. Menurut penerawangannya, wanita itu dulu mati terbunuh. Ada seseorang yang tega memenggal kepalanya sehingga Ia harus bergentayangan dengan menenteng kepalanya sendiri.
"Jangan ikut campur" seru Wanita itu galak.
"Apa kau tak salah bicara? harusnya kau yang jangan ikut campur urusan dunia kami" gertak pak haji tak kalah garang. Ia pun segera membacakan ayat-ayat suci.
"Aww panas. Hentikan"
"Tidak akan" pak haji samad semakin khusyuk membaca doa.
"Aaa tidak" wanita itu menjerit kepanasan namun masih keke menempati raga Nilam.
"Tolong ambilkan segelas air putih"
Nisa spontan berlari ke dapur.
"Pergi kau"
"Tidak akan sebelum aku bisa mengambil alih raga ini"
"Kau sudah mati, terima saja takdir mu. Jangan ganggu kami"
"Aku ingin hidup kembali" ungkap wanita itu sembari menangis kencang.
"Itu tidak mungkin" timpal pak haji.
"Bocah ini telah membawa ku kemari jadi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan"
"Ini pak haji" Nimas memberikan segelas air putih.
Pak haji menerimanya lantas membacakan doa khusus.
"Enyahlah kau dari sini" ucap pak haji seraya memmercikan air diwajah Nilam.
"Aaa sakit" wanita itu mengerang, tubuhnya seolah terbakar.
Pak haji membasuh wajah Nilam, membuat wanita itu tak tahan dan ingin keluar. Mata Nilam terpejam, raganya sedang melakukan transisi dari dihuni wanita jahat menjadi sukmanya sendiri. Ada jeda beberapa menit agar kembali normal. Nilam mengerjapkan matanya, mulai sadar..
"Ibu" seru Nilam memeluk erat Rika, ketakutan menyelimuti dirinya.
"Syukurlah kamu sudah sadar" Rika mengecup kening Nilam, tanpa sadar air matanya menetes. Ia hampir saja kehilangan nyawa putrinya.
"Alhamdulillah" ucap Pak haji tersenyum lega.
"Lain kali jangan mengambil sembarangan sesuatu dari hutan. Bisa jadi sesuatu itu sendiri memiliki pemilik atau wujud asli"
Nilam memgangguk, Ia telah mengetahui kesalahannya saat sukmanya dibawa pegi oleh wanita jahat itu melewati dimensi lain. Sukmanya seolah ditarik mundur pada masa lampau.
"Besok kau kembalikan kelapa itu dihutan. Jangan berkeliaran di luar rumah menjelang magrib. Pada waktu itu energi negatif sedang kuat, sehingga bisa bersentuhan dengan dunia manusia meski nampak dengan wujud lain. seperti kelapa itu misalnya, dilihat dari mata secara fisik itu mungkin kelapa biasa namun pada nyatanya itu adalah kepala wanita iblis"
Nb ceritanya ini berkembang di daerah kebumen. Yang mana tidak boleh mengambil kelapa yang jatuh pada waktu senja atau malam hari karena diyakini sebagai jelmaan hantu kepala manusia. Barang siapa yang mengambilnya maka dia akan digangu bahkan dibuat sampai meningal untuk mengambil alih raganya supya dapat hidup. kembali..