"Putri!" Merasa dipanggil Putri menoleh. Ternyata Naya, tetangga sekaligus teman mainnya.
Umurnya sama dengan Putri,sama-sama kelas 2 SMP. Hanya beda sekolah, Putri sekolah di SMP Cendekia, Naya sekolah di SMP Merdeka.
"Eh Naya!"Sapa Putri.
Naya mengangguk sambil tersenyum. Rambutnya masih berantakan,seperti baru bangun tidur.
Naya berjongkok diatas balai-balai bambu di halaman rumahnya,di bawah pohon mangga.
"Rajin amat!" Kata Naya sambil mengucek matanya.
"Ya iyalah, kamu pasti belum sikat gigi" tebak Putri sambil melanjutkan menyapu,tinggal sedikit lagi selesai.
"Iya belum" Naya berjalan mendekati pagar.
Rumah Putri dan rumah Naya hanya di pisahkan oleh pagar kayu, jadi masih bisa ngobrol dari rumah masing-masing.
"Kemarin habis jalan-jalan kemana?" Tanya Naya sambil bersandar pada pagar.
Putri tidak langsung menjawab, tangannya sibuk menyapu dedaunan ke dalam pengki lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Kenapa?" tanya Putri sambil berjalan mendekat. Diletakkannya sapu lidi dan pengki di samping pagar.
"Abis jalan-jalan kemana kemaren?" ulang Naya.
"Oh...," Putri menanggapinya dengan ogah-ogahan. "Makan."
"Makan dimana?"
"Pizza Hut."
"Waaaaaaahhh, makan apa saja?" Tanya Naya antusias.
"Hmm? mau tau? Makan macem-macem! Namanya aneh-aneh! Nggak tau deh apa"
"Terus? kamu ditraktir lagi?"
"Iya!" Jawab Putri lagi. Kakinya sibuk menggaruk tanah.
"Enak dong!" kata Naya.
"Enak gimana? Malu tau!" Jawab Putri dengan nada kesal.
"Kok malu?" Naya merasa heran.
"Ya malulah. Masak tiap jalan-jalan aku di traktir terus?"
"Ya biarin aja! Temanmu kan kaya!"
"Terus kenapa kalau kaya? Bisa dimanfaatin? Gitu? Di suruh traktir terus? Ya malu dong!" Kata Putri kesal. "Udah gitu kamu tau? Kalau aku jalan-jalan bertiga ke mall, bajuku paling jelek. Baju temanku bagus-bagus. Terus kalau mereka mau beli pernik-pernik, beli majalah, beli baju, tinggal pilih aja, tinggal bayar. Lah aku? Tinggal gigit jari. Kamu pikir enak apa jalan-jalan sama mereka? Kamu pikir enak punya teman orang kaya? Nggak lagi!"
"Kamu suka diejek nggak sama mereka?" tanya Naya.
"Untungnya nggak. Mereka kan sahabatku. Coba kalau nggak ada mereka, mendingan aku nggak usah sekolah aja sekalian. Malu!"
"Naya garuk-garuk kepala. "Padahal aku suka iri sama kamu, enak yah jadi Putri. Punya teman orang kaya, sering di ajak jalan-jalan, sering ditraktir makan enak."
"Malah aku suka iri sama kamu, enak yah jadi Naya. Temannya banyak, sering main ke rumah. Bercanda-bercanda, main bekel, main kartu, cerita-cerita, teriak-teriak, datangnya rame-rame naik angkot. Nggak ada yang bawa mobil, semuanya sederajat. Nggak ada yang kaya banget, nggak ada yang miskin banget."
Naya melongo. "Gitu yah?"
"Iya!" tukas Putri. "Udah ah aku mau mandi!" Putri meraih sapu lidi dan pengki untuk di simpan di tempatnya. Meninggalkan Naya yang masih melongo di samping pagar.
*****
Putri sudah selesai mandi.
Putri mematut dirinya di depan cermin. Berlenggak-lenggok, memainkan roknya yang bergambar bunga-bunga kecil.
"Cermin-cermin ajaib, siapakah yang paling cantik di kelasku?" kata Putri menirukan sang Ratu di cerita Putri Salju.
"Tentu saja Sarah, Putri!" kata Putri berpura-pura menjadi suara cermin itu.
Hmmh!
Putri menghela nafas panjang. Tangannya bersedekap di depan dada.
"Lalu cermin ajaib, siapakah yang paling kaya di kelasku?" tanya Putri lagi.
"Tentu saja Raina. Eh, nggak! kayaknya sih Bima lebih kaya. Tapi, Mila juga. Terus, Sarah juga punya mobil. Tapi rumahnya nggak ada kolam renangnya kayak rumah Raina. Hmm...,mobilnya Gilang ada dua, mama nya juga cantik dandannya kayak artis. Terus kalau Nabila orangtuanya punya minimarket, rumahnya di kawasan elit. Jadi siapa dong yang paling kaya di kelasku?"
Putri berpikir keras. Telunjuk kirinya menunjuk bibir, matanya melihat ke langit-langit, kedua alisnya berkerut. Siapa yah yang paling kaya?
Akhirnya, Putri menyerah. Sepertinya semua temannya kaya. Hanya Putri yang tidak. Putri menjadi sedih.
"Cermin-cermin ajaib. Bisakah kamu mengabulkan permintaanku? Dari dulu aku berharap agar aku menjadi orang kaya. Agar aku tidak malu lagi kalau berjalan-jalan dengan Raina dan Sarah. Agar aku bisa gantian mentraktir mereka. Agar aku bisa beli HP. Agar aku bisa beli tas yamg banyak, jadi tiap hari bisa pakai tas yang beda kayak Fina. Bisakah kamu mengabulkan pengharapanku?"
"Huh! Percuma minta sama cermin. Cermin kan cuma benda mati, kalau begitu aku mau minta sama Tuhan saja."
Putri menengadah dengan mata terpejam. Kedua tangannya bertaut di depan dadanya.
"Ya Tuhan, jadikan aku orang kaya."
"Meskipun nggak pintar?"
"Iya."
"Meskipun sakit-sakitan?"
"Nggak papa. Kalau duitnya banyak kan ntar bisa berobat."
"Meskipun nggak punya teman?"
"Nggak papa. Kalo nggak punya teman, ntar jalan-jalan sendiri ke luar negeri." Kata Putri memohon. Eh? Siapa yang ngomong ya?
Putri membuka mata, lalu menatap ke cermin. Ternyata Ibu sudah ada di belakang Putri menatapnya sambil tersenyum bijak.
"Kenapa?" tanya Ibu.
"Putri pengen kayak teman-teman Putri, Bu!"
"Putri harus bisa bersyukur dengan keadaan Putri. Putri kan harusnya bangga. Bisa sekolah di sekolah yang bagus nggak usah bayar.
Putri cemberut. "Iya, Bu. Tapi kan Putri malu,soalnya sepatunya jelek, kesekolah naik angkot, tasnya sudah bolong."
"Nanti kalau ada rezeki, Ibu belikan tas yang baru, ya."
"Atau Putri pindah sekolah aja,deh!" kata Putri merajuk. "Pindah ke sekolah Naya aja! Enak di situ, temannya banyak. Udah gitu nggak ada kaya-kaya banget. Jadi nggak perlu minder."
"Pindah ke sekolah Naya? Nggak nyesel nanti? Sekolah Putri kan jauuh lebih bagus daripada sekolah Naya?" Tanya Ibunya.
Ibu mendesah. "Putri, Ibu minta maaf yah. Tapi Ibu belum bisa menuruti Putri. Kalau Putri pindah sekolah ke sekolah Naya, Putri kan harus bayar sekolahnya. Soalnya nggak ada beasiswa. Putri sabar dulu yah?"
"Ah Ibu nggak asyik!" Kata Putri menghambur keluar. Tidak menghiraukan panggilan Ibunya. Putri tau seharusnya sebagai anak yang baik, Putri tidak boleh bersikap seperti itu terhadap Ibu. Tapi Putri kesal!
Putri memanjat pohon kersen yang ada di halaman rumahnya.
Di atas pohon Putri menangis tersedu. Menatap langit di sela dedaunan. Menatap awan tipis yang berarak menjauh. Putri berdoa.
Tuhan, tolong Putri. Putri ingin jadi orang kaya. Putri nggak ingin hidup susah. Putri ingin seperti teman-teman Putri.
Tuhan, kenapa Engkau memanggil ayah Putri begitu cepat?
Aku bosan menjadi orang miskin! Aku mau kaya seperti Raina. Aku juga mau cantik seperti Sarah. Aku nggak mau jadi Putri yang biasa aja! Kabulkanlah doa Putri ya, Tuhan. Amin.
Perasaannya sedikit lega setelah Putri mengeluarkan kesedihan melalui tangis dan doa.
*****
Keesokannya!
Di Kelas
Di lajur dua. Putri duduk sendirian di bangku paling belakang, sementara Raina dan Sarah duduk sebangku di depan Putri.
"Good morning, class!"
"Good morning, miss Dita!" kata anak-anak serempak.
"I have a good news for you," kata Miss Dita pelan-pelan agar bisa dicerna dengan baik.
"Stella! You may come in. Please!"
Miss Dita memandang ke arah pintu. Begitu juga seisi kelas. Mereka ingin tahu, seperti apa teman baru mereka.
Tak lama seorang anak perempuan memasuki kelas.
"Stella, please introduce yourself." kata Miss Dita yang di sambut anggukan Stella.
"Hi everybody."
"Hi Stella!" kata anak-anak serempak.
"My name is Stella. I come from Bandung. I hope we can study together here. Thank you."
Miss Dita mengangguk. "Enough. You can sit with..." Miss Dita mengedarkan pandangan ke seantero kelas. Masih ada tiga bangku kosong. "Putri."
Stella berjalan ke arah bangku yang di tunjuk Miss Dita, kemudian duduk di sebelah Putri.
"Hai! Aku Stella." kata Stella pada Putri.
Putri menyambut uluran tangan Stella sambil tersenyum. "Namaku Putri.
*****
Namanya Stella. Kulit putih khas orang Sunda. Pipinya tembem, rambut lurus sebahu. Mata agak sipit, sedikit gemuk. Giginya pakai kawat gigi dengan karet warna biru muda.
Perbedaan mencolok antara Putri dan Stella adalah lagi lagi masalah penampilan. Semua barang-barang Stella bermerek terkenal. Mulai dari tas, sepatu, kaos kaki, jaket, semua bermerek.
Karena duduknya berdekatan dengan Putri,mau tak mau Putri harus menjadi teman dekat Stella. Yang berarti, mau tak mau Sarah dan Raina juga harus menjadi teman dekat Stella.
"Kamu kenapa pindah ke sini Stella?" tanya Raina.
Mereka mengobrol di bawah pohon sambil menunggu jemputan. Sebetulnya Putri tidak perlu menunggu jemputan karena dia naik angkot. Raina juga sudah dijemput Pak Usman. Tapi mereka tidak pulang dulu karena Sarah belum dijemput kakaknya, dan Stella belum dijemput tantenya.
"Aku pindah kesini soalnya Papaku dipindahtugaskan ke luar negeri." jawab Stella.
"Emang Papa mu kerja dimana sih?" tanya Sarah. "Kok kamu nggak ikut ke luar negeri saja? Kan asyik tuh! Emang luar negeri nya dimana?"
"Papaku kerja di perusahaan minyak. Dan di tugas kan di Qatar". Jawab Stella.
"Qatar? Dimana ya?" tanya Raina lagi.
"Kalau nggak salah sih deket-deket Arab sana. Daerah Timur Tengah, "kata Sarah.
"Kok kamu nggak ikut kesana?" tanya Putri. "Luar negeri, Raina sering ke luar negeri, Sarah juga. Kalau aku ke Timor-Timur aja belum pernah!"
"Hahahaha!" Sarah, Raina, dan Stella tertawa mendengar celotehan Putri yang lucu.
"Kalau kalian memang sudah dari awal bersahabat?" gantian Stella yang bertanya.
"Sejak awal aku sama Sarah teman dari SD kalau Putri baru gabung di sini." Kata Raina.
"Iya. Aku sekolah disini karena dapat beasiswa." kata Putri.
"Beasiswa?" tanya Stella.
"Iya," sahut Raina. "Putri itu anaknya Pak Herman. Pak Herman itu guru IPA favorit kami."
"Dulu?" ulang Stella tanda tanya.
"Sudah meninggal." sahut Putri. "Ayahku dulu guru di sini. Baru tiga bulan yang lalu meninggal dunia. Sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih aku boleh sekolah di sini gratis." Putri menjelaskan.
"Pak Herman itu ngajarnya enak. Diselingi bercanda. Jadi, kita gampang nangkepnya". kata Sarah.
Tin!
Mereka berempat menoleh. Tampak kakaknya Sarah melambai dari dalam mobil. Sarah berlari menuju mobil Honda Jazz warna merah. Sarah tampak bercakap dengan kakaknya, menyodorkan tas, lalu berlari balik ke tempat semula. Sementara itu, kakaknya Sarah menjalankan mobil lalu parkir di depan pagar sekolah.
"Kok nggak pulang?" tanya Stella.
"Ntar. Kamu kan belum dijemput!" sahut Sarah sambil duduk lagi.
Itulah yang disukai Putri dari kedua sahabatnya. Setia kawan! Putri bersyukur karena mempunyai teman yang baik hati. Semoga Stella juga baik seperti mereka.
"Eh itu Tanteku!" kata Stella sambil menunjuk ke arah mobil sedan hitam yang berjalan perlahan. "kalau gitu kita sudah bisa pulang, dong!"
"Hayyu!" Kata Raina sambil berdiri.
"Putri mau bareng aku?" tanya Stella.
"Putri mana mau dianterin!" kata Raina.
"Iya, Stella. Nggak usah! Terima kasih! Ntar jadi muter-muter. Kita kan nggak se arah." kata Putri.
Lalu Putri beranjak pergi dan melambaikan tangan nya kepada teman-temannya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah angkot yang sudah menanti.
*****
Acara jalan-jalan, makan, nonton, sekarang dilakukan berempat.
Putri senang pada Stella. Hanya satu yang kurang disukainya. Selera Stella tinggi sekali! Tingginya melebihi selera Raina.
Kalau biasanya Putri bertiga dengan Sarah dan Raina makan di foodcourt atau McD atau Hoka-Hoka Bento, Stella minta nongkrong di kafe!
Terus ngajak makan steak di Java Mocha! Atau kalau beli roti yang paling mahal biasanya Bread Talk, sekarang di Bakerz in. Atau es krim yang paling mahal biasanya beli di Monchery atau Zangrandhi, sekarang ngajakin ke Sogo beli Haagendasz! Es krimnya mahal sekali.
Putri jadi tambah nggak pede. Bawaannya nolak terus kalau diajakin jalan. Memang Raina sama Stella berbaik hati mau bayarin. Tapi justru itu Putri nggak mau utang budi. Takut nggak bisa balasnya.
Sebetulnya Putri kangen jalan sama mereka seperti dulu, tapi rasanya Putri sudah tak sanggup mengikuti gaya mereka. Terlalu lebay alias berlebihan.
Putri hanya bisa berkeluh kesah kepada Naya. Seperti sekarang, dihalaman rumah, di bawah pohon.
"Emang yang namanya Stella itu gimana sih?"
"Ya gitu, deh! Baik sih, kaya." Jawab Putri.
"Cantik nggak?"
"Biasa aja. Giginya pake behel, lucu!"
"Emang dia kaya banget ya? Teman mu Raina kalah kaya?" tanya Naya lagi
Putri mengangguk. "Kata Stella, rumahnya besar banget. Ada kolam renangnya. Terus punya mobil tiga, Mercy, BMW, sama Alphard. Terus katanya punya Vila! Pokoknya kaya banget deh. Makanya dia seleranya tinggi banget maunya yang mahal-mahal."
"Padahal kamu tinggal bawa diri aja. Segalanya dibayarin sama mereka." Kata Naya.
"Nggak ah!"
"Pantesan akhir-akhir ini aku jarang liat kamu jalan. Nggak pernah liat teman-teman mu yang kaya itu anterin pulang. Ternyata begitu ceritanya." Kata Naya lagi.
"Untungnya bulan depan mau ada Olimpiade IPA sama Matematika. Aku disuruh ngikut yang IPA. Jadi ada alasan buat nolak mereka jalan. Tapi sedih juga sih kalau nggak sama mereka." Jawab Putri tertunduk.
"Nggak papa lah Put. Sekali-kali jalan sama mereka."
"Ngggak! Mereka semua anak kaya dan punya stylish. Aku kan nggak bisa bergaya kayak mereka!" Putri tertunduk matanya berkaca-kaca.
*****
Olimpiade IPA dan Matematika semakin dekat. Putri belajar mati-matian agar siap bertanding nantinya. Olimpiade ini tingkat provinsi.
Pada Olimpiade nanti Putri bertanding berkelompok. Satu kelompok ada tiga orang. Untuk kelas 7 diwakili oleh Gina, untuk kelas 8 diwakili oleh Putri dan untuk kelas 9 di wakili oleh kak Reyhan.
Untuk Olimpiade Matematika, wakilnya adalah Ardi dari kelas 7, Aldi dari kelas 8 dan Kak Fitri dari kelas 9.
Kelompok Matematika juga mendapat pelajaran tambahan seperti kelompok IPA.
Hanya saja berbeda ruangan dan mempunyai tim sendiri.
Pada saat istirahat pertama sekolah, semua peserta olimpiade di kumpulkan di ruang pertemuan.
Putri berjalan ke arah ruang pertemuan
"Eh Putri! Kamu mau kemana?" sapa Raina.
"Mau ke ruang pertemuan. Di panggil Kepala Sekolah," jawab Putri sambil tersenyum.
"Emang kenapa Put? Kok dipanggil?" tanya Stella.
"Ini, mau dikasih pesan-pesan sama trik menghadapi Olimpiade nanti." Jelas Putri.
"Ayo Put, kita anter." Kata Sarah sambil menarik tangan Putri untuk segera pergi.
Sampai di depan ruang pertemuan, mereka bertemu dengan kak Reyhan yang ternyata juga baru datang tapi dari arah berlawanan.
"Eh Putri!" sapa kak Reyhan.
"Kenapa kak?" tanya Putri.
"Ini, aku berencana ngadain acara doa bersama di rumah. Supaya kita lebih siap lahir batin menghadapi Olimpiade nanti. Kita kan satu kelompok dalam Olimpiade IPA. Acaranya hari Minggu besok sekitar jam sepuluh pagi. Kamu datang yah?"
"Eh rumah kak Reyhan dimana yah?" tanya Putri.
"Tetanggaku Put!" sahut Stella. "Ya kan kak?"
Kak Reyhan mengangguk.
"Rumah Stella dimana yah?" tanya Putri lagi.
"Kita anterin aja deh!" kata Raina. "Boleh kan kak?" tanya Raina pada kak Reyhan.
"Ya boleh dong! Semakin banyak yang datang kan semakin bagus. Soalnya semakin banyak yang berdoa." jawab kak Reyhan.
"Yeiyy." kata Sarah kegirangan.
"Yaudah. Ayo Put kita masuk!" ajak kak Reyhan.
Putri mengangguk mengikuti Kak Reyhan masuk ke ruang pertemuan.
*****
Hari minggunya Raina dan Sarah sudah sampai dirumah Putri sejak pukul setengah sembilan.
"Ini baru jam berapa?" -tanya Putri keheranan.
"Eh iya!" kata Raina tertawa. "Soalnya aku nanti pengen mampir ke rumah Stella dulu bentar."
Mereka pun berangkat menuju ke arah rumah kak Reyhan menggunakan mobil Raina. Tentu saja Raina nggak mengemudi sendiri, tapi ada pak Usman supir Raina.
Putri terkagum-kagum ketika masuk ke kompleks perumahan Kak Reyhan. Kalau Sarah dan Raina sih sudah biasa. Karena mereka sudah sering main ke rumah Stella. Rumah di kompleks tersebut semuanya besar-besar dan di desain dengan mewah. Setelah melewati pos penjagaan kedua, mobil itu masuk ke dalam kompleks yang tertata rapi. Berlantai dua, di hiasi oleh taman cantik di setiap rumah.
Pak Usman menghentikan mobil di depan rumah bernomor J-04, rumah kak Reyhan. Tiba-tiba pintu rumah kak Reyhan terbuka, kak Reyhan keluar berjalan menghampiri.
"Halo semuanya, ayo masuk!" sapa kak Reyhan.
"Halo kak!" kata Raina yang masihdi dalam mobil.
Putri keluar mobil. Menemui kak Reyhan.
"Ayo kita masuk, kamu bantuin nyiapin kue ya?" kata kak Reyhan.
Putri mengangguk. Lalu menoleh ke mobil mengajak yang lainnya turun.
"Put, kita ke rumah Stella dulu ya!" kata Raina. "Ntar kita ke situ kok!"
Pak Usman menjalankan mobil lagi. Putri melihat dengan tidak rela. Kok di tinggal!
"Ayo Putri!" kata kak Reyhan menunggu.
Putri mengangguk mengikuti kak Reyhan masuk ke rumah.
"Put kenalin, itu kak Freya, istrinya kak Rendi, kakakku!" Kata kak Reyhan.
Putri menyalami kak Freya, kak Freya tersenyum ramah. Seperti kak Reyhan dan kak Rendi, kak Freya orangnya ramah. Putri sampai terpana. Orang-orang kaya tapi tidak sombong.
Tiba-tiba mata Putri tertuju pada foto-foto yang dipajang di meja hias. Putri berjalan mendekati foto itu.
Putri menatap beberapa foto itu.
"Itu orang tuaku."
Putri terlonjak kaget. Ternyata, kak Reyhan sudah berdiri di belakangnya. Ntah sejak kapan.
"Oh? Orangtua kak Reyhan?"
"Iya. Rumah yang di belakang itu, itu rumahku yang di desa." jelas kak Reyhan sambil menunjuk foto.
"Lah ini?" tanya Putri bingung sambil menunjuk ke lantai.
"Kak Reyhan tersenyum. "Ini rumah kakakku! Foto yang itu, kak Rendi sama kak Ria! Kak Ria itu kakakku yang nomor dua. Sekarang sekolah di Jakarta, dapat beasiswa."
"Oh ya?" tanya Putri takjub. "Kupikir kak Reyhan itu anaknya orang kaya..." bisik Putri pelan. Tapi cukup di dengar kak Reyhan.
"Orangtua ku tinggal di desa. Mereka punya usaha kecil-kecilan. Hidupnya sederhana, aku dulu waktu SD sampai lulus juga tinggal disana. Tapi setelah kak Rendi hidupnya lebih mapan, aku diajak ke sini. Orangtua ku nggak mau ikut mau tinggal di desa saja, lebih tenang katanya." jelas kak Reyhan.
"Berarti kak Rendi dulu juga tinggal di situ?" tanya Putri lagi.
"Ya iya dong. Kan kak Rendi itu kakakku." jawab kak Reyhan.
"Tapi kok bisa? mmm...rumah kak Rendi besar?" tanya Putri ragu.
"Soalnya kak Rendi pintar. Lulus kuliah nilainya bagus, jadi banyak perusahan besar yang menawarkan pekerjaan. Ini rumah hasil jerih payah kak Rendi dan kak Freya. Makanya aku sekarang rajin belajar, biar nanti juga bisa hidup enak kayak kak Rendi!"
"Umm..., kak! Putri mau tanya. Kak Reyhan pilih mana? Jadi orang kaya tapi bodoh atau jadi orang miskin tapi pintar?" tanya Putri lagi.
"Tentu saja yang orang miskin tapi pintar."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau orang kaya tapi bodoh, lama-lama pasti miskin juga. Soalnya nggak bisa ngejaga hartanya. Pasti lama-lama duitnya habis. Kalau orang miskin tapi pintar, pasti nanti bisa jadi kaya soalnya punya otak yang cerdas untuk berpikir dan dan cari uang. Contohnya kak Rendi, bukannya bermaksud sombong tapi itu kenyataan nya kan?"
Putri mengangguk paham. Ternyata keadaan Putri sekarang sama kayak kakaknya kak Reyhan dulu. Putri akan belajar dengan giat supaya bisa jadi sukses kayak kak Rendi.
*****
Raina dan Sarah justru nongol setelah acaranya hampir selesai. Berdua saja, tanpa Stella? Stella kemana?
"Mana Stella?" bisik Putri.
"Ntar aku ceritain, itu loh acaranya mau ditutup!" kata Raina.
Putri kembali menghadap kedepan. Memperhatikan Pak Kepala Sekolah yang juga hadir disitu. Saat ini, Pak Kepala Sekolah memang sedang menutup acara. Berterima kasih kepada kak Reyhan, kak Rendi dan kak Freya yang telah sibuk menyiapkan acara.
Lalu mereka pulang setelah berpamitan.
"Kenapa?" tanya Putri nggak sabar setelah mereka masuk ke mobil. "Stella mana? pergi keluar negeri?"
"Luar negeri apaan?" cibir Raina.
"Ternyata Stella pembohong Put" kata Sarah.
"Pembohong gimana?" tanya Putri tidak mengerti.
Raina yang duduk di depan segera memutar badannya menghadap ke belakang.
"Jadi ceritanya tuh, nyampe di rumah Stella, kita langsung masuk lewat pintu samping."
"Iya. Kayak biasanya, kita emang kalo ke rumah Stella suka lansung masuk lewat situ. Apalagi kita pikir kita kan sudah janjian. Jadi Stella pasti sudah tau kalau kita mau datang. Jelas Sarah.
"Nah, kita kan mau ke lantai dua tuh. Kamarnya Stella kan di situ, ternyata waktu ngelewatin ruang keluarga, kita ketemu sama tante, om, sama. bapak-bapak satu.."
"Nah Stella kan masih di kamar. Kita belok dong ke arah kamar Stella." sahut Sarah
"Nah ternyata Put..." Raina memghentikan ucapannya.
"Iya?"
"Ternyata bapak itu put..."
Iya?"
"Adalah..."
"Iya?"
"Bapaknya Stella!"
"Iya? terus kenapa?" tanya Putri nggak sabar dengan cara bercerita Raina yang penuh teka-teki.
"Bapaknya Stella itu tidak kerja di Qatar!"kata Sarah.
"Terus dimana?"
"Ya jadi petugas SPBU! Ituloh yang tukang ngisi bensin ke tangki mobil kalo lagi beli bensin!" kata Raina.
Putri ternganga. "Bener?"
"Iya!" kata Raina dan Sarah barengan.
"Lah? Mobilnya yang ada tiga?"
"Nggak ada satu pun!"
"Vila?"
"Bo'ong!"
"Kolam renang?"
"Boro-boro!"
"Yang lebih parah, put. Kamu tau nggak?"
"Nggak!"
"Yee!! Akukan belum ngomong." protes Raina.
Putri tertawa. "Iya, kenapa?"
"Itu loh! Yang dia biasa traktir kita makan sama nonton itu... ternyata pakai uang tantenya!"
"Maksudnya?" tanya Putri bingung.
"Ya Stella ngambil uang tantenya nggak bilang-bilang!"
"Nyuri gitu?" tanya Putri
Raina dan Sarah mengangguk membenarkan.
"Kok kalian bisa tau? tantenya yang bilang?"
"Nggak lah Stella yang bilang," tukas Sarah. "Jadi setelah kita tau cerita yang sesungguhnya dari tante, om sama bapaknya Stella keluar tuh dari kamar. Dia kelihatan kaget loh waktu ngeliat kita datang! Soalnya kan kita datengnya kepagian! Stella langsung mengajak aku sama Raina kekamarnya. Disitu kita tanyain Stella, kita interogasi dia."
"Iya. Terus Stella ngaku, ngakuin semuanya. Ya termasuk yang nyuri itu!" kata Raina.
Putri mengangguk paham. "Tapi kenapa dia mesti bohong? Pake nyuri segala?"
"Soalnya dia takut kalau nggak punya teman. Dia takut kalau nggak bisa diterima di lingkungan barunya karena dia nggak sama, sama yang lain"
Seperti aku dong! Tapi aku sekarang sudah berubah. Aku sekarang tidak malu menjadi anak biasa saja. Untung aku diberi oleh Tuhan otak yang pintar! Semoga aku bisa sukses nantinya. Pikir Putri
"Terus, nasibnya Stella gimana?"tanya Putri. " Masih tetap jadi teman kan?"
"Ih ogah! Mana mau kita berteman sama pembohong apalagi pencuri!"
Putri terdiam. Sebenarnya Putri merasa kasihan pada Stella. Putri tau perasaan Stella karena Putri sama kayak Stella. Putri pernah takut tidak di terima oleh teman-teman karena perbedaan status sosial. Hanya saja Putri memilih menarik diri dari pergaulan, sementara Stella berusaha menyesuaikan diri dengan menghalalkan segala cara.
"Terus, sekarang kami mau minta maaf sama kamu." kata Sarah sambil menarik tangan Putri.
"Minta maaf kenapa?" tanya Putri
"Minta maaf, soalnya kemarin-kemarin sempat ninggalin kamu. Kemarin-kemarin lebih milih jalan sama Stella daripada sama kamu! Maaf ya!" kata Raina.
Putri jadi salah tingkah. "Nggak papa lagi. Emang kalian mau berteman sama aku? Akukan cuma anaknya penjual nasi ayam."
"Kok ngomong gitu sih!" Protes Sarah.
"Iya. Mau kamu anaknya tukang nasi ayam kek, anaknya tukang semir sepatu kek. Tapi kamu kan jujur! Nggak neko-neko! Nggak tukang bo'ong!" Sahut Raina.
"Maaf yah put!" Kata Sarah lagi.
Putri mengangguk sambil tersenyum. Hatinya senang sekali.
Tuhan, terima kasih banyak engkau telah mengembalikan teman-teman Putri. Dan juga karena lewat kak Reyhan, Tuhan telah membuka mata Putri. Bahwa kepintaran yang Tuhan telah berikan kepada Putri adalah anugerah yang tiada duanya. Maafkan juga Stella. Jadikan dia anak yang baik. Jadikan dia anak yang bersyukur.
Tuhan, Putri ingin jadi anak yang berguna, bagi diri sendiri, bagi keluarga dan bagi teman-teman Putri. Semoga suatu saat nanti Putri dapat menjadi anak yang sukses. Tolong kabulkan doa Putri ya Tuhan, Amiinn!