Ibu Kota tidak pernah benar-benar tidur. Di bawah naungan langit Jakarta yang tak pernah sepenuhnya hitam—selalu merah keabu-abuan terkikis polusi dan pancaran lampu neon—ribuan manusia bertaruh nasib. Di salah satu sudut malam yang paling temaram, di dalam sebuah ruangan beraroma alkohol murah, parfum sintetis menyengat, dan asap rokok beracun yang menggantung tebal, Rindu Sania Putria menatap cermin rias yang retak di sudut meja.
Wajah di dalam cermin itu tampak begitu asing. Lapisan foundation tebal, garis eyeliner tajam yang menipu, serta pemerah bibir berwarna merah darah menyembunyikan wajah asli seorang gadis dua puluh dua tahun. Dulu, mata itu memancarkan kepolosan seorang anak desa dari pinggiran Jawa Barat yang membawa mimpi sederhana: bekerja keras, mengirim uang untuk ibunya yang janda, dan membiayai sekolah adiknya. Namun malam ini, mata itu hanyalah dua lorong kosong tanpa jiwa.
Rindu adalah seorang Lady Companion (LC) di salah satu kelab malam ternama yang tersembunyi di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Nama panggungnya "Sania". Bagi para pria berkantong tebal yang datang menguras pundi-pundi uang demi melupakan riuhnya dunia, Sania adalah pemuas dahaga visual dan teman minum yang sempurna. Namun bagi dirinya sendiri, Sania adalah cangkang kosong.
Siksaan itu dimulai dua tahun lalu. Kepolosannya dimanfaatkan secara dingin oleh Tante Sonia—seorang germo paruh baya berpenampilan mentereng dengan perhiasan emas imitasi yang bertumpuk di jemarinya. Tante Sonia mendatanginya di kampung dengan janji manis pekerjaan sebagai staf administrasi restoran. Namun setibanya di Jakarta, dokumen pribadi Rindu disita, dan sebuah jeratan utang fiktif bernilai puluhan juta rupiah mendadak dibebankan ke pundaknya.
"Di kota ini, kebaikan itu barang murah yang enggak laku ditawar, Rindu," ujar Tante Sonia malam itu sambil mengepulkan asap rokok ke wajah Rindu yang menangis gemetar. "Kamu punya muka cantik, badan bagus. Pakai itu buat bayar utangmu. Kalau kamu kabur, rumah ibumu di kampung saya ratakan!"
Sejak malam itu, martabat Rindu direbus di atas kawah candradimuka kehidupan malam. Ia dihina, dimaki jika tamu tidak puas, dicubit hingga lebam, bahkan tak jarang gelas kristal melayang ke arahnya jika ia berani menolak sentuhan tamu yang kasar. Di bawah cengkeraman Tante Sonia, Rindu bukan lagi manusia; ia adalah komoditas.
Di tengah kegelapan yang seolah tak berujung itu, hadir sosok Rian.
Rian adalah puncak definisi pria idaman bagi banyak wanita. Bertubuh tinggi tegap, dada bidang perkasa, berwajah tampan dengan rahang tegas, serta selalu mengenakan pakaian bermerek yang memancarkan aroma kekayaan dan kelas. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu datang sebagai tamu VVIP di kelab tempat Rindu bekerja. Berbeda dengan pria lain yang bersikap kasar, Rian bersikap lembut. Ia menyewa kamar khusus, memesankan minuman termahal, namun hanya duduk berbincang halus dengan Rindu.
"Kamu terlalu indah untuk tempat kotor ini, Sania," bisik Rian suatu malam, memegang jemari Rindu dengan hangat. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Rindu, menghadirkan getaran gila yang membuat dada Rindu kembang-kempis.
Bagi Rindu yang haus akan kasih sayang dan rasa aman, Rian adalah malaikat penolong. Saat Rian menawarkan untuk "membeli" kebebasannya dari Tante Sonia dan menempatkannya di sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan, Rindu merasa jalannya menuju kehidupan nyata telah terbuka. Ia menyerahkan seluruh hatinya, tubuhnya, dan jiwanya kepada Rian.
Namun, dongeng indah itu hanyalah awal dari lapisan hell baru yang lebih menyiksa.
Rian ternyata sudah berkeluarga. Rindu hanya dijadikan selingkuhan tersembunyi—sebuah mainan eksklusif yang dikurung di dalam apartemen berpintu ganda. Sifat asli Rian yang protektif perlahan berubah menjadi monster posesif dan temperamental. Setiap kali Rian mengalami tekanan di dunia bisnis atau bertengkar dengan istrinya, Rindu menjadi sasaran tempat meluapkan emosi.
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) emosional dan fisik menjadi makanan sehari-hari Rindu. Rian tak segan menampar, memaki dengan kata-kata kotor yang meremukkan harga diri Rindu, lalu lima menit kemudian berlutut memohon maaf seraya memeluknya erat. Lebih parah lagi, Rindu mendapati dirinya sering dipertukarkan. Rian yang impulsif kerap membawa rekan-rekan bisnisnya ke apartemen itu, memaksa Rindu melayani fantasi-fantasi melenceng kelompok mereka demi melancarkan kesepakatan bisnis Rian. Rindu dijajakan dan dijual oleh pria yang dikiranya adalah penyelamatnya.
"Kamu itu cuma sampah yang saya angkat dari selokan, Sania!" bentak Rian suatu malam setelah melemparkan Rindu ke lantai marmer hingga dahinya berdarah. "Jangan berakting seolah kamu wanita terhormat! Tanpa uang saya, kamu cuma LC murahan!"
Rindu meringkuk di lantai yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Jiwanya hancur melayang. Namun, kehancuran fisik yang sebenarnya baru saja dimulai.
Beberapa bulan kemudian, tubuh Rindu mulai menunjukkan tanda-tanda aneh. Ia kerap diserang demam tinggi yang tak kunjung sembuh, kelenjar di lehernya membengkak, ruam-ruam merah bermunculan di kulitnya, dan berat badannya merosot drastis. Saat ia mengadukan rasa sakitnya pada Rian, pria itu justru menatapnya dengan jijik dan melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke dadanya.
"Kamu sakit-sakitan terus! Bikin malas!" caci Rian, lalu pergi meninggalkan apartemen dan memblokir seluruh akses komunikasi.
Dalam keputusasaan yang berada di titik terendah, Rindu memutuskan berobat sendirian ke sebuah klinik IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV tersembunyi di pinggiran kota. Di ruang tunggu yang hening dan berbau karbol itu, Rindu duduk gemetar. Di sebelahnya, seorang dokter muda bernama Dr. Maya menatap berkas pemeriksaan Rindu dengan raut wajah sangat prihatin.
Saat itulah, sebuah kejutan besar yang meremukkan seluruh kenyataan Rindu terungkap.
"Mbak Rindu," panggil Dr. Maya pelan, mengajak Rindu masuk ke ruang konsultasi yang tertutup rapat. "Saya harus menyampaikan sesuatu yang sangat krusial. Pasangan Anda... Rian... apakah Anda tahu latar belakang kehidupannya di luar?"
Rindu menggeleng lemah. "Dia... dia pengusaha, Dok. Dia punya istri, tapi..."
Dr. Maya menarik napas panjang, menggeser sebuah dokumen rekam medis terselubung—sebuah data persilangan jaringan penelusuran kontak medis yang mencengangkan.
"Rian bukan cuma berpasangan dengan Anda atau istrinya," ungkap Dr. Maya dengan nada dingin yang menohok ulu hati. "Rian adalah bagian dari jaringan *gay* dan biseksual berrisiko tinggi di Ibu Kota. Pria yang Anda anggap gagah perkasa itu memiliki puluhan pasangan pria rahasia di berbagai kelab malam privat. Tubuhnya adalah sarang virus. Rekan-rekannya yang pernah dibawa ke tempat Anda... semuanya berada dalam kluster penularan HIV aktif."
Kata-kata itu menghantam kepala Rindu bagaikan petir di siang bolong. Napasnya tercekat, dadanya kembang-kempis hebat, dan dadanya terasa dihantam bongkahan batu besar. Pria yang selama ini dipujanya sebagai sosok maskulin sempurna ternyata hidup dalam kepalsuan ganda yang amat menjijikkan dan berbahaya.
"Lalu... bagaimana dengan saya, Dok?" bisik Rindu dengan suara bergetar parau, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang tirus. "Apakah saya... HIV positif? Apakah hidup saya sudah selesai?"
Dr. Maya menatap mata Rindu yang ketakutan. Ada jeda hening selama sepuluh detik yang terasa bagai ribuan tahun.
"Hasil tes antibodi awal Anda menunjukkan reaksi, namun jumlah viral load Anda masih berada di batas kritis bawah karena infeksi seksual sekunder lainnya yang parah," jelas Dr. Maya. "Secara ajaib, sistem imun Anda masih bertarung. Anda nyaris... sungguh nyaris terpapar HIV AIDS penuh jika Anda terlambat datang satu atau dua minggu lagi untuk terapi PEP dan ART darurat. Allah masih memberi Anda napas dan kesempatan kedua, Rindu."
Kalimat itu menembus relung jiwa Rindu yang paling dalam. Allah masih memberi kesempatan kedua.
Malam itu, Rindu keluar dari klinik dengan tubuh gemetar, namun jiwanya yang mati mendadak membara kembali. Di bawah gerimis hujan Jakarta yang dingin, ia berjalan menuju jembatan penyeberangan orang. Dari atas jembatan, ia menatap kilatan lampu mobil yang lalu lalang di bawahnya—pemandangan Ibu Kota yang dulu amat dipujanya, kini terlihat seperti panggung sandiwara yang penuh kepalsuan.
Ia merogoh tasnya, mengambil seluruh pakaian seronok, peralatan rias mahal, dan ponsel yang berisi nomor Tante Sonia serta Rian. Tanpa ragu sedikit pun, Rindu melemparkan benda-benda itu ke dalam tong sampah besar di bawah jembatan.
"Cukup," bisiknya pada angin malam. "Cukup jadi budak dunia kotor ini."
Rindu mengambil keputusan ekstrem. Ia meninggalkan apartemen itu malam itu juga, hanya membawa satu tas ransel berisi baju-baju longgar dan sisa uang tabungannya. Ia naik bus malam pertama menuju kampung halamannya di pedesaan Jawa Barat.
Di rumah panggung kayu yang sederhana, ibunya yang sudah tua dan renta sedang melipat mukena di atas balai-balai. Saat pintu lapuk itu terbuka dan Rindu bersimpuh berlutut di pangkuan ibunya seraya menangis sejadi-jadinya, tidak ada caci maki. Ibunya hanya memeluk kepala Rindu, mengusap rambutnya yang kusam dengan jemari kaku yang kasar karena bertani.
"Emak enggak pernah minta kamu bawa uang banyak dari kota, Neng," bisik ibunya tulus dengan air mata menetes di kening Rindu. "Emak cuma mau anak Emak pulang dengan selamat dan ingat jalan kembali pada Gusti Allah."
Proses tobat dan hijrah Rindu Sania Putria bukanlah perjalanan yang mudah atau serba instan ala sinetron. Merekam luka trauma KDRT, celaan tetangga yang tahu masa lalunya di kota, serta pengobatan medis rutin untuk memulihkan fisiknya adalah ujian berat yang harus ia lewati saban hari. Namun, Rindu tak lagi berlari.
Ia memotong habis riasan tebalnya, mengenakan pakaian bersahaja yang menutup auratnya, dan mulai belajar menjahit baju di sebuah konveksi kecil desa. Setiap malam, di atas sajadah lusuh yang dulu sering ia lupakan, Rindu bersujud lama, menumpahkan seluruh air mata penyesalan dan rasa syukurnya karena telah diselamatkan dari jurang maut HIV AIDS dan kehancuran jiwa.
Beberapa bulan kemudian, kabar dari Jakarta terdengar sampai ke desa. Rian dikabarkan jatuh sakit parah akibat komplikasi HIV AIDS yang sudah stadium akhir dan ditinggalkan oleh istri serta seluruh rekannya, sementara bisnis Tante Sonia digulung oleh pihak kepolisian atas kasus eksploitasi manusia dan tindak pidana perdagangan orang.
Rindu menerima kabar itu dengan tenang di sudut bengkel jahitnya. Tak ada rasa dendam atau kepuasan di hatinya; yang ada hanyalah rasa iba yang mendalam atas jiwa-jiwa yang tersesat dalam gemerlap dunia yang menipu.
Kini, Rindu Sania Putria bukan lagi "Sania" sang LC pujaan kelab malam. Ia adalah Rindu—seorang wanita yang telah melewati neraka dunia, merobek topeng-topeng kepalsuan, dan menemukan kembali harga diri serta cahaya hidupnya di atas jalan kedamaian yang hakiki.