Dahulu kala, desa ini masih dipenuhi berbagai macam pohon yang tinggi menjulang. Rumpun bambu berjajar di sepanjang jalan yang membentang mengikuti arah sungai. Rumah-rumah penduduk berdiri kokoh dengan tiang kayu dan dinding anyaman bambu yang usang.
Suasana malam semakin terasa begitu mencekam, karena sejauh mata memandang hanya terlihat kegelapan diantara luasnya bentangan sawah. Ditambah lagi penerangan kala itu hanya beberapa rumah saja yang menggunakan listrik sedangkan lainnya masih menggunakan lampu minyak.
Sore itu matahari hampir terbenam sempurna di ufuk barat. Semua anak di desa ini telah siap dengan pakaian busana muslim mereka untuk pergi mengaji di masjid. Tak lupa mereka membawa obor bambu sebagai pengganti senter untuk penerangan saat mereka pulang malam nanti.
"Tini, Sani, Sari, hati-hati ya nduk. Ini obor sama koreknya, nanti Emak tunggu di rumah mbah Ami," ucap mak Ni, orang tua ketiga anak perempuan itu.
"Iya Mak," sahut ketiganya secara bersamaan.
Sari berjalan dengan obor yang belum menyala di tangannya. Korek yang diberikan ibunya ia masukkan ke dalam tas. Ketiga bersaudara itu berangkat dari rumahnya menyusuri pematang sawah.
"Dek Sani, Mbak Sari, kalian duluan aku mau kesungai. Aku sakit perut." Tini segera berlari ke arah sungai. Ia berlari melewati pematang sawah di dekat rumah mbah ami.
Maklum saat itu warga belum memiliki toilet dan masih memanfaatkan sungai sebagai tempat membuang hajat.
"Cepetan, Tini. Kalau terlambat Aba bisa marah!" Sari berteriak, kemudian ia dan Sani bergegas setelah melihat bayangan saudaranya hilang, diantara tingginya pohon jagung di kanan kiri pematang sawah.
Matahari telah terbenam sempurna, Adzan maghrib hampir berkumandang. Namun Tini belum juga sampai di masjid.
"Mbak, Mbak Tini kok belum datang ya, apa jangan-jangan dia balik pulang habis dari sungai?" tanya Sani pada saudara tertuanya.
"Mana mungkin, yang ada bapak malah marah kalau Tini balik pulang," ucap Sari pada Sani. Sari khawatir takut terjadi sesuatu pada adiknya, Tini.
Selepas isya' semua anak pulang dari masjid. Mereka berjalan beriringan membawa obor. Sari dan Sani tak tenang saat dalam perjalanan pulang. Mereka berdua takut sang bapak marah besar ketika mengetahui Tini tak pergi mengaji. Mereka terus berjalan saling mendorong saat melihat Mak Ni, ibu mereka telah menjemputnya di depan rumah Mbah Ami.
"Loh nak, Tini mana? Kok gak barengan?" tanya mak Ni kebingungan.
"Anu, Mak, itu, tadi pas berangkat ngaji Tini bilangnya sakit perut, terus langsung lari ke sungai." Sari menunjuk Sungai yang ada di seberang sawah dekat rumah mbah Ami.
"Mbak Tini gak ngaji, Mak," Sani ikut menimpal.
"Ya Allah, kemana si Tini. Yaudah kita tanya sama tetangga dulu, siapa tau mereka ngeliat Tini," ucap Mak Ni sembari menggandeng kedua putrinya.
Mak Ni dan kedua putrinya berkeliling desa untuk menanyakan keberadaan Tini. Namun tak satupun dari para tetangga yang mengetahuinya. Akhirnya mak Ni dan kedua putrinya pulang kerumah untuk mengadukan hal tersebut pada sang suami.
"Pak, Pak, Tini gak ada, Pak," teriak Mak Ni sembari masuk kedalam rumah.
"Gak ada gimana?" tanya Pak Kona.
"Kata anak-anak tadi Sore Tini kesungai, terus sampai malam dia gak datang ke masjid. Tini gak ngaji. Tadi ibuk sudah keliling rumah tetangga juga, tapi gak ada yang tau Tini ada di mana," ucap mak Ni yang mulai panik karena saat itu sudah hampir pukul setengah delapan malam.
Mendengar hal tersebut, pak Kona segera mendatangi seorang dukun di desa sebelah untuk menanyakan keberadaan Tini. Dukun tersebut mengatakan Tini sedang disembunyikan oleh makhluk gaib bernama Wewe Gombel. Dia menyuruh Pak Kona untuk mengumpulkan warga dan membawa alat-alat dapur untuk ditabuh, sembari mengelilingi area Sungai tempat hilangnya Tini.
Pak Kona segera bergegas menuju rumah dan mendatangi setiap warga untuk ikut mencari Tini. Tak lupa ia meminta para warga untuk membawa alat-alat dapur seperti yang di perintahkan Dukun itu.
"Teng ... teng ... teng ... Tini ... Tini ...." Teriak Pak Kona sembari menabuh wajan dengan pisau yang dibawanya.
"Buk ... buk ... buk ... teng ... teng ... teng ...." Suara alat-alat dapur milik warga telah berhasil membuat kegaduhan malam itu. Bahkan ada warga yang turut serta mencari Tini setelah mendengar kegaduhan dari alat yang ditabuh warga lain
"Tini ... Tini .... Tini ... keluar Tini," ucap beberapa warga secara bersamaan.
Hari mulai larut, namun sampai pukul setengah 10 malam Tini belum juga ditemukan. Bahkan para warga tidak hanya menyisir ke sekitar sungai, mereka juga menyisir ke sebagian petak sawah karena dikhawatirkan Tini disembunyikan dalam rimbunan pohon jagung yang tinggi.
Mak Ni mulai menangis khawatir karena Tini belum ditemukan. Ia menggenggam erat kedua putrinya yang juga ikut berkeliling mencari Tini. Sedangkan warga tidak berani berpencar karena takut salah satu dari mereka akan diincar juga oleh si Wewe.
Para warga mulai memperluas area pencarian. Nereka tidak hanya berkeliling sekitar sungai dan sawah, tapi mereka juga menyisir ke segala penjuru desa untuk mencari Tini.
Malam semakin larut, saat itu jam 11 malam warga mulai kelelahan dan menyambangi rumah Pak Kona untuk beristirahat sejenak. Tak sampai mereka duduk melepas penat, salah satu warga yang ada di halaman rumah Pak Kona berteriak melihat Tini berlari ke arah belakang rumah Pak Kona.
"Wah, itu Tini, itu Tini ...." Warga yang melihat Tini langsung mengejarnya dan diikuti warga yang lain.
"Mana Tini ... mana?" tanya beberapa warga yang ikut mengejar, sembari mengarahkan penerangan Obor ke area belakang rumah pak Kona yang merupakan area kuburan.
"Mungkin yang kamu kejar tadi hantu menyerupai Tini," sambung warga yang lain.
"Tapi saya liat Tini lari kebelakang sini, makanya saya kejar," cetus warga yang kesal karna dianggap berbohong.
Karena sudah setengah jalan, mereka memutuskan untuk sekalian saja mencari Tini di area kuburaran belakang rumah Pak Kona. Berbagai macam alat dapur mereka tabuh bersama, Namun Tini belum juga berhasil ditemukan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menyusuri area sungai melewati pematang sawah di dekat are kuburan belakang rumah Pak Kona.
"Teng ... teng ... teng ... Tini ... Tini ... teng ... teng ... teng." Mereka bersama-sama menabuh peralatan dapur sambil meneriakkan nama Tini.
Mereka mulai menyusuri area sungai yang dipenuhi oleh rumpun bambu yang mengikuti arah sungai. Mak Ni menggandeng Sani dan Sari yang ketakutan saat melewati tempat tersebut.
Tiba-tiba seorang warga berteriak dan berlari..
"Itu Tini, itu disungai." Warga tersebut menunjuk dan mengarahkan obor ke arah Tini yang sedang basah kuyup, karena duduk di aliran air sungai yang hanya setinggi betis orang dewasa, sambil bersandar pada batang bambu.
"Mana? Tini ...." Mak Ni melepaskan genggamannya dari Sari dan Sani. :emudian ia segera berlari menghampiri Tini yang terlihat linglung dengan pandangan mata yang kosong.
Mak Ni terkejut saat Tini ditemukan, ia sedang memegang kotoran manusia dan memakannya. Mak Ni segera membuang benda kotor tersebut dan menggendong Tini untuk pulang. Lalu memandikan badah Tini yang kotor dan basar kuyup. Sesampainya dirumah Tini masih belum bisa diajak berkomunikasi. Dia hanya diam dengan tatapan kosong.
2 hari kemudian, Tini sudah kembali normal. Banyak warga yang mendatangi rumah Mak Ni untuk menjenguk putrinya yang sempat hilang itu. Orang tua Tini dan beberapa warga yang lain menanyakan bagaimana kejadian saat Tini di sungai.
Tini menceritakan bahwa saat ia selesai buang air besar di sungai, ada seorang nenek yang memanggil. Nenek itu meminta bantuannya untuk menyebrang jembatan kayu kecil yang membentang sungai. Setelah itu tau-tau Tini sudah berada di sebuah rumah gubuk dan diberi makan singkong. Begitulah penuturan Tini menurut apa yang dilihatnya.
Peristiwa hilangnya Tini oleh makhluk halus menjadi buah bibir masyarakat selama berbulan-bulan. Bahkan cerita tersebut dijadikan alasan untuk menakut-nakuti anak mereka yang suka bermain hingga senja Tiba.
~~
Itulah kisah nyata yang diceritakan oleh nenek Sari kepadaku, cucunya. Sampai sekarang pun, peristiwa hilangnya nenek Tini sewaktu kecil, masih dijadikan cerita untuk menakut-nakuti anak-anak yang sering bermain di area sungai hingga senja Tiba.
Lokasi : Madura, Jawa Timur.
-TAMAT-