--PERASAAN ITU NYATA—part 1
Liam pov
Bagaimana jika perasaan ini nyata? Perasaanku pada Diana? Sedari dulu aku selalu menganggap wanita yang sedang duduk membaca buku novel didepanku ini hannyalah adikku saja. Tapi perasaan itu tiba-tiba saja berubah signifikan ketika aku menginjak remaja. Diana yang kukenal sebagai perempuan yang manis dan juga riang, dimataku berubah menjadi wanita anggun dan sangat memesona. Ini sungguh gila untuk pemikiranku yang tak pernah percaya pada cinta dan selalu menolak setiap hal yang seirama dengan itu.
Tapi kali ini beda, jantungku dua kali lebih cepat berpacu ketika dia berada di dekatku. Tanganku yang selalu kugunakan untuk belajar dan juga mencari uang kali ini memiliki otak dan keinginan sendiri untuk menyentuh Diana. Pertama aku mengenal Diana karena aku berteman dengan Jay-kakaknya. Kala itu Diana menjelma sebagai gadis kecil cengeng yang sangat manis. Bahkan Jay sering kali menjahilinya dan aku adalah benteng terbesar Diana kala itu. Dengan rok mini dan juga baju motif bunga-bunga untuk anak usia 5 tahun, benar-benar membuatku merasa menjadi seorang kakak jika melihatnya dengan penampilan itu.
Aku, Jay dan juga Diana tumbuh bersama, walaupun aku lebih tua 5 tahun dari Diana, untungnya saja itu tak menghalangi persahabatanku dengannya. Aku senang ketika Diana bergantung padaku dan mengadu mengenai Jay yang selalu memarahi atau menjahilinya. Sesekali aku juga menasihatinya sama seperti yang dilakukan Jay. Tapi tidak sampai membuat Diana menangis dan ketakutan. Aku tak sanggup melihatnya sampai seperti itu. Dan untuk Jay, dia bukan kakak yang kejam, bahkan aku mengakui jika dia adalah orang yang juga sangat mencintai Diana, mungkin melebihi cintaku padanya.
Aku memperhatikan lagi wanita anggun yang sedang menyelami cerita novelnya saat ini, kakinya yang disilang kemudian memangku bantal sofa empuk dipahanya. Mata bulat dan cerah itu menyiratkan gairah kehidupan dan kebahagiaan, aku berharap jika suatu saat nanti cahaya itu tidak akan pernah redup dalam matanya-aku harap dia bisa merasa bahagia setiap hari.
O, dan aku lupa mengatakan jika aku dan Diana sudah menikah. Ini rumit dan dengan alur cerita yang sangat Panjang. Intinya, Diana dan aku menikah karena dijodohkan oleh keluarga kami masing-masing. Aku menyilangkan taganku di dada dan memejamkan mata, mengingat bagaimana ini bisa terjadi. Awalnya Jay dan Diana sangat terkejut dengan keputusan yang tiba-tiba ini. Begitu juga aku, tak ter bayangkan jika Diana dijodohkan denganku untuk kesepakatan bisnis mereka. Dan lucunya adalah bagaimana Jay menolak secara tegas mengenai perjodohan ini.
Aku berpikir apa aku pria seburuk itu dimatanya? Dan mengenai perjodohan ini, aku sangat senang, jujur sebelum aku mendengar mengenai keputusan ini dari ibu dan ayah. Aku sudah berniat melamar Diana dikemudian hari. Tapi siapa sangka jika mereka lebih dulu mengambil keputusan dariku? Dan mengenai Jay... aku langsung mengatakan padanya jika aku sudah mencintai Diana sejak lama dan ingin menjadi orang ke tiga yang membahagiakan dan menjaganya. Sangat susah untuk meyakinkan sahabatku yang satu ini sampai aku harus membuktikannya dengan berlutut di depan calon-maksudku kakak iparku itu. Hah.... padahal dibanding kami bertiga aku adalah yang paling tua. Dan aku harus menjadi adik iparnya. Itu tidak masalah asalkan aku bisa mendapatkan Diana. Ketika aku berlutut aku dengan tegas mengutarakan perasaanku dan berjanji akan membahagiakan Diana, membuatnya menjadi ratu dalam duniaku. Dan tak akan pernah membuatnya meneteskan air mata.
Itu janji yang ukup ekstrem memang, tapi aku tidak peduli dengan tanggapan orang-orang yang mungkin mengatakan jika aku sinting dan segila itu dalam mendapatkan restu keluarga pihak perempuan. Diana istimewa dan dia adalah perempuan yang patut diperjuangkan. Kuakui jika aku bukan pria manis yang penuh dengan kata-kata romantis, tapi aku adalah pria yang selalu menepati janji meski apa pun yang terjadi. Dan menurutku aku masih kurang dari kata sempurna untuk mendapatkan Diana, bagiku gadis yang sudah kukenal 15 tahun itu adalah permata yang akan selalu kujaga, bukan sebagai teman ataupun sahabat lagi, tapi sebagai pendamping hidup yang ditakdirkan sang maha kuasa.
Dan ketika aku sudah mendapatkan restu dari Jay yang setengah syok akan pengungkapan cintaku pada adiknya. Aku tentu saja harus menanyakan kepastian persetujuan Diana-calon mempelai wanitanya. Ketika aku menanyakan ini pada Diana...aku tak bisa melihat perasaan yang tergambar di wajahnya. Dia hanya menatapku datar dan memberikan jawaban agar aku menunggu hingga esok pagi.
Aku menyanggupi itu, dan besoknya keluargaku heboh karena Diana setuju untuk menikah denganku. Dan sampai sekarang, aku belum menanyakan kenapa dia setuju untuk menikah denganku. Aku memang sudah mengatakan perasaanku padanya, walaupun dia tak menjawab iya, tapi Diana hanya menyuruhku untuk menunggunya sebentar lagi agar bisa menumbuhkan perasaan yang sama denganku.
Dan hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang satu bulan. Aku tau jika setiap pasangan zaman-now akan merayakannya dan langsung memposting foto atau video mereka di sosmed dengan caption alay dan menjijikkan. Aku bingung kenapa bisa mereka berpikiran untuk mengumbar hal seistimewa tersebut. Padahal menurutku akan lebih istimewa jika kita menyimpannya dalam kenangan dan memori masing-masing. Itu membuatnya lebih istimewa karena hanya kita yang tahu dan juga beberapa orang yang terkasih.
“kakak ingin tidur?” aku mendengar suara Diana dari seberang sana. Salah satu sifat yang kusuka darinya adalah ini: setiap perhatiannya yang dia curahkan padaku walaupun dalam kondisi sesibuk apa pun.
Aku menggeleng sebagai jawaban, kemudian tersenyum padanya. Ingat, aku belum menyerah untuk membuat Diana menumbuhkan rasa cintanya padaku!
“sudah kubilang kakak tidak usah menemaniku sekarang, seharusnya kakak kembali istirahat dikamar....” kata Diana sembari menutup novelnya, kemudian memperhatikan wajahku dengan ekspresi sedih.
“boleh aku duduk disampingmu?” ujarku hati-hati. Yah ini adalah salah satu hal sensitif yang sangat ditakutkan Diana ketika kami baru saja menikah. Jangan tanya tentang bagaimana malam pertama yang berantakan itu, aku bahkan masih malu mengingatnya. Intinya Diana sangat takut jika aku menyentuhnya lebih dari sekedar pelukan. Walaupun itu membuatku frustrasi setengah mati.
Aku memperhatikan ekspresi Diana yang sangat berpikir keras tentang permintaanku barusan. Dia sedikit menghela nafas dan akhirnya mengeluarkan suara.
“baiklah”
“terima kasih” setidaknya ini kemajuan dalam hubunganku dengannya-walaupun tak bisa melakukan rutinitas kebanyakan suami istri- tapi ini masih bisa membuatku bahagia, setidaknya bersama dan dekat dengan Diana bisa mengurangi sedikit rasa penat yang kurasakan akhir-akhir ini karena lelah bekerja.
Aku mendudukkan diri di sebelah Diana. Kulihat dia sangat kaku ketika jarak yang kuberikan hanya o,5 cm- lebih dekat dari biasanya- yaitu 1 meter. Aku tidak bisa menampik kesenangan yang tiba-tiba saja hadir dalam hatiku saat Diana tak menolak untuk kupeluk. Biasanya dia akan sedikit bergeser lebih jauh ketika aku hendak duduk di dekatnya. Aku merasakan aroma parfum vanila yang biasa dia gunakan merasuki penciumanku. Aku menumpukan daguku diatas bahunya dan menghirup aroma itu berulang kali, mungkin aku akan merindukan kehangatan dan juga aroma tubuh Diana nanti ketika bekerja.
Aku merapikan rambut Diana yang terurai menutupi telinganya. Kurasakan jika Diana dalam pelukanku kali ini bertambah kaku dan juga gugup. Aku memakluminya, karena memang Diana tidak pernah berhubungan spesial dengan lelaki mana pun selain aku. Dan itu membuatku bertambah senang dan bersemangat agar nantinya Diana bisa terbiasa dengan setiap sentuhanku.
“apa aku boleh-maksudku aku boleh menciummu?”sial, disaat seperti ini tubuhku bereaksi seperti akan memakan Diana hidup-hidup saja. Tapi aku harus menekan hasrat sialan dan manusiawi ini agar aku tidak menyakiti wanita berhargaku. Aku memperhatikan Diana yang masih kaku, dia menatap ke depan lurus sedangkan aku menatap wajahnya sangat dekat dari samping. Bahkan aku bisa melihat kegugupan nyata itu terpampang dengan jelas di wajahnya. Bisa kulihat jika Diana mengulum bibirnya itu dengan gerakan cepat kemudian menggigitnya kecil. Man... tahan nafsu mu itu, jangan karena kau menginginkan Diana seutuhnya kau bertindak kasar padanya.... batinku.
Kali ini Diana menoleh padaku dengan perlahan kemudian memejamkan matanya secara paksa. Keningnya yang berkerut membuatku menghela nafas berat. Mungkin bagi pria lain ini adalah kesempatan emas, tapi bagiku... perasaan Diana padaku belum sepenuhnya perasaan rela...aku berjanji ingin melakukannya jika Diana sudah siap, tapi tidak jika dia memaksakan dirinya seperti ini. Aku yakin akan menyakitinya jika terus memaksakan kehendakku seperti ini.
Aku tersenyum melihat wajah itu begitu dekat denganku, setidaknya dengan menerima lamaranku dan menjadi istriku sekarang adalah sebuah hal yang sudah sangat kusyukuri. Tidak untuk sekarang mungkin nanti, aku percaya jika Diana akan dengan rela membiarkanku menjadikannya milikku seutuhnya. Aku mengalihkan tatapanku pada bibir Diana, dan akhirnya bibirku berlabuh pada keningnya, setelah mengecup sekilas aku masih membiarkan bibirku disana, tertempel bagaikan prangko pada surat.
“kamu boleh menolak jika kamu belum siap Diana” bisikku dikeningnya. Setelah itu aku menjauhkan wajah ku agar bisa melihat Diana yang kali ini sudah membuka matanya. Aku mengacak sedikit rambutnya dan segera berdiri, berjalan dan berlalu dari ruangan itu. Untuk mengontrol diriku agar tidak memaksa Diana lagi... Man.... Kau terbakar!
yang mau part 2 silahkan komen di bawah atau bisa chat saya pribadi!!
terima kasih karena sudah menghargai karya ini... love u all🥰🥰🥰