"Aku adalah sahabat yang baik, karena itu aku mengabulkan permintaannya ...." -Siko Padh
***
"Selamat pagi, teman-teman! Namaku Seth Eres, panggil saja Eres. Semoga kita semua bisa berteman baik," ucap Eres diakhiri senyuman ramah. Beberapa murid ikut tersenyum sopan, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
"Baiklah, Eres. Kamu bisa duduk di sana," titah Bu Guru seraya menunjuk bangku paling belakang di barisan tengah kelas.
Eres berjalan santai ke sana sembari menyisir pandang ke seluruh kelas. Setelah sampai di sana, dia langsung duduk, lalu mengulurkan tangan kepada teman sebangkunya yang baru.
Siswa tersebut menjabat tangannya dengan wajah ceria. "Aku Siko Padh, salam kenal, Eres!" Mendengar kalimat itu, Eres tersenyum lebar. "Iya. Salam kenal, Siko!"
Belum genap sehari mereka duduk berbagi meja, Eres dan Siko benar-benar sudah akrab. Sekarang adalah waktunya untuk istirahat, dan kini mereka sedang berjalan bersama menuju kantin.
Ketika tiba di sana, terlihat cukup banyak murid yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka berjalan menuju meja dengan dua kursi berhadapan, lalu Eres duduk di salah satunya.
"Aku akan memesankan makanan yang paling enak di kantin, spesial untuk hari pertamamu. Tunggu sebentar, yah!" seru Siko, kemudian berjalan cepat menuju antrian yang lumayan panjang. Eres tersenyum hangat, bersyukur memiliki teman seramah dan seceria Siko.
Matanya memandang ke seisi kantin, kemudian sontak mengernyit heran. Saat ini orang-orang menatapnya dengan pandangan dan ekspresi yang sulit diartikan.
Namun bisa dipastikan, itu bukanlah cara yang benar jika ingin berteman dengan seseorang.
Tiba-tiba seorang siswi datang dan menduduki tempat Siko. Penampilannya jauh dari kata rapi, ditambah lagi kantung mata hitam yang membuatnya terlihat menyeramkan.
"Maaf, Kak. Tapi kursi ini ada yang punya," tegur Eres sesopan mungkin.
"Kau jangan pernah berteman dengannya! Pindah kelas saja sekalian! Pokoknya menjauh dari dia! Ayo pergi! Cepat!" desak siswi itu sembari mencengkram pergelangan tangan kiri Eres.
Namun entah kenapa, siswi itu tiba-tiba melepas cengkramannya dan pergi tanpa permisi. Eres menoleh ke belakang, mendapati Siko datang dengan dua mangkuk ramen yang beruap.
"Mari makan!" seru Eres seolah tak terjadi apa-apa.
Hari beranjak siang, sudah saatnya bagi mereka untuk meninggalkan pekarangan sekolah. Eres dan Siko berjalan menuju persimpangan tempat angkutan kota akan lewat. Teriknya matahari tak lagi terasa, karena dua insan ini sedang sibuk berbagi cerita.
"Tahun lalu juga aku murid pindahan di sini, dan mereka sudah mengasingkanku sejak awal. Mungkin kau tidak sadar, tapi aku yakin orang-orang akan menatapmu rendah karena berteman denganku. Maaf, ya ...," lirih Siko.
Eres tersentak, kagum karena Siko mau terbuka padanya, dan kaget karena langsung teringat pada peristiwa di kantin tadi. "Oohh! Pantas saja tadi ada siswi yang melarangku berteman denganmu!" seru Eres menggebu-gebu.
Siko hanya bisa tertawa canggung, merasa tidak enak karena melibatkan teman barunya.
"Tenang saja, aku akan selalu menjadi sahabatmu. Selama kita bersekolah di sini, atau pun selama kita hidup di dunia ini," tegas Eres mantap. Dengan mata berbinar penuh haru, Siko memeluk erat sahabat barunya itu.
"Terima kasih ...."
***
Seiring berjalannya waktu, Eres dan Siko menjadi semakin terbuka satu sama lain. Eres bahkan tak lagi segan menceritakan hidupnya yang hancur berantakan semenjak ia dicap sebagai 'anak broken home'. Siko setia mendengarkan semua keluh kesahnya, beberapa kali juga memberikan nasihat dan solusi yang bagus.
Namun, siswi misterius itu selalu saja memerintah Eres untuk menjauh dari Siko. Setiap kali ada kesempatan, dia akan mencengkram tangan Eres dengan cepat, lalu memaksanya berlari ke kantor kepala sekolah. Meskipun hingga saat ini Eres tidak tahu alasannya apa. Namun siswi itu sudah sangat kelewatan, karena sampai berani menerornya.
Terkadang dia menulis kalimat-kalimat ancaman agar Eres menjauh dari Siko, atau bahkan membuntuti kemana pun mereka berdua pergi.
Di malam hari yang dingin, Eres tiba-tiba saja menelepon Siko dengan keadaan menangis terisak-isak. Karena panik dan merasa cemas, Siko mengajaknya untuk bertemu di sebuah taman kota yang tenang. Sekaligus untuk menikmati indahnya langit berjuta bintang.
"Mereka terlalu egois. Aku tidak pernah minta apa pun selama ini. Aku cuma ingin hidup dengan tenang. Apa sesusah itu? Lebih baik mati saja ...."
Siko menoleh dengan raut wajah sendu. Sudah lima kali Eres menyebutkan kata 'mati' dengan suara bergetar. Dia cuma bisa mengelus-elus bahu sahabatnya untuk menunjukkan kepedulian.
"Orang tua sialan! Si jalang dan si tua bangka itu! Aarrghh ...! Mereka hanya mau bertemu denganku di pengadilan saja. Kalau aku mati pun, mereka pasti tidak akan datang ke pemakamanku!" ketus Eres sembari menendang rumput.
Untung saja taman itu sunyi dan sepi, sehingga tidak ada orang lain yang bisa mendengar keluh kesahnya selain Siko.
"Apa kau menghargai hidupmu?" tanya Siko, memecah keheningan yang sempat tercipta. Eres terpaku diam, menatap langit yang ditemani cahaya bulan.
Belum mendapatkan jawaban, Siko menoleh dengan raut wajah yang sulit diartikan. Walaupun Eres tidak bisa melihat hal itu.
"Apa kau bersyukur bisa hidup di dunia walaupun memiliki orang tua seperti mereka?"
Eres masih enggan membuka suara.
Siko menghela napas berat, lalu menengadah dan memandang langit yang sama dengannya. "Apa kau benar-benar ingin meninggalkan dunia ini?"
"Iya ...," lirih Eres tanpa mengalihkan pandangan.
Lagi-lagi Siko menghela napas. Ia tersenyum pahit, kemudian mengangguk paham.
***
Matahari beranjak bangun, memenuhi cakrawala dengan sinar hangatnya. Hari itu Eres tidak datang ke sekolah. Bahkan tidak ada keterangan atau pesan apa pun yang menjelaskan di mana keberadaannya sekarang.
Tak cukup sampai disitu, Eres tidak masuk berhari-hari selanjutnya. Sudah hampir satu minggu dia membiarkan Siko duduk sendiri di dalam kesepian.
Beberapa guru menanyakan keberadaan Eres kepada Siko, tetapi dia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Malam itu adalah saat terakhir dia bisa mendengar suara sahabat yang dia sayangi.
"Aku juga tidak tahu dia di mana, dia tidak pernah mengangkat panggilanku!" jawab Siko dengan nada frustrasi. Ini adalah kali kesepuluh dia diinterogasi.
Kepala sekolah yang tadi menjadi lawan bicaranya menghela napas berat, lalu mempersilakan Siko untuk kembali.
Tepat ketika dia melangkah keluar, bel pulang sekolah langsung berkumandang. Siko terpaksa berjalan dari koridor belakang agar tidak berpapasan dengan lautan murid yang ingin segera pulang.
Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram pergelangannya. Siko dipaksa berbalik, lalu dengan sigap dihimpit kuat ke dinding. Satu sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyuman khas yang selama ini tertutupi oleh keramahtamahan palsu.
"Kau melakukannya lagi, kan?!" tanya siswi berkantung mata hitam itu dengan suara parau dan mata melotot. "CEPAT JAWAB!" desaknya.
Siko memperhatikan raut wajahnya dengan mulut bungkam. Dia adalah siswi yang selama ini berusaha menjauhkan Siko dari sahabatnya, Eres. Namun sayang sekali, usaha itu berakhir sia-sia.
"HAHAHAHA! Mungkin kau harus menjadi sahabatku, Shin Tinq. Kau yang paling tahu banyak tentangku! Hahaha!" ungkap Siko, lalu terbahak-bahak.
Merasa geram, Shin memperkuat dorongannya agar Siko tak lagi bisa bersuara. "KAU MEMANG MONSTER! KAU TELAH MEMBUNUH SAHABATKU YANG DULU KAU REBUT DARIKU! SEKARANG KAU MEMBUNUH ANAK BARU YANG TIDAK BERSALAH?! KAU BUKAN MANUSIA, SIKO!!!"
Hening beberapa saat, hanya suara tangis penuh kesedihan dari Shin yang terdengar. Siko melepaskan cengkraman itu dari leher dan tubuhnya, lalu menautkan jarinya ke sela-sela jari Shin. Seolah mereka adalah sepasang kekasih.
"Aku adalah sahabat yang baik, karena itu aku mengabulkan permintaannya. Jadi sekarang, Eres bisa lebih bahagia. Kau mau menjadi yang selanjutnya, Shin Tinq?"
***
Terima kasih sudah membaca!;)