Aku Mario, seorang perantau yang mengejar ilmu hingga ke daratan seberang. Beberapa tahun tinggal disini, aku justru mengalami hal yang tak terduga. Kemampuan mata batin yang kumiliki membawaku bertemu sesosok arwah perempuan. Dialah hantu wanita pertama yang paling cantik yang pernah aku temui selama 23 tahun.
~~
"Ahhh, gagal lagi!" Aku kesal mendapati gadis incaranku berpacaran dengan orang lain. Padahal malam ini aku sengaja ingin menyatakan perasaanku padanya. Namun karna kesal secara refleks aku menendang botol kosong yang ada di hadapanku.
BUGGH!
"Awww!" Seseorang gadis memekik tajam saat botol yang kutendang mengenainya.
Aku mendekati sumber suara tersebut. "Maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucapku pada gadis itu.
"Hey, kau bisa melihatku?" Dia membulatkan matanya.
"Ya, karena aku bisa melihat makhluk sepertimu. Tapi kau justru terlihat tidak menakutkan sama sekali. Kecuali darah di keningmu itu, sangat mengganggu." Aku menunjuk keningnya yang berdarah, dan dia menyentuh darah segar yang masih meleleh disana.
"Karna kau bisa melihatku, berarti hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantuku," ucapnya yakin. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri menyamaiku.
Jelas saja aku menolak. Aku tidak ingin berurusan dengan makhluk halus walaupun dia terlihat cantik. Aku takut jika ternyata dia adalah hantu jahat, kemudian dengan sengaja memanggil teman-temannya yang lain dan mulai mengganggu sekitar tempatku tinggal. Itulah pikirku.
Tapi dia berhasil membujukku dengan menunjukkan kesedihannya. Dengan berat hati aku pun setuju dan membawanya mengendarai motor yang ku bawa.
Sesampainya di rumah, aku segera menutup pintu dan mulai menanyakan perihal bantuan apa yang ingin dia minta.
"Hai Nona hantu, duduklah di sofa itu. Namaku Mario. Kalau kau, siapa namamu?" aku memulai percakapan dengannya. Jika saja ada yang melihat kejadian ini, pasti orang itu tak segan untuk segera membawaku kerumah sakit jiwa.
"Hmm ..." Hantu cantik itu hanya menggeleng sesaat setelah menggindikkan bahunya.
"Kau tak memiliki nama?" Aku mengernyitkan dahi. Mencoba mencerna kebingunganku sendiri dalam situasi ini.
"Entahlah mungkin aku lupa. Aku tidak ingat tentang kejadian kemarin. Aku juga tidak ingat apapun. Bagaimana aku bisa menjadi hantu seperti ini aku pun tak mengingatnya," Dia menundukkan kepalanya lesu.
"Lalu bagaimana kau bisa sampai ke kampusku tadi?" Aku semakin penasaran dengan cerita Nona hantu yang kutemukan ini. Lebih tepatnya tak sengaja.
"Aku tak tau mengapa saat aku bangun aku sudah berada di tempat yang gelap. Saat itu aku terkejut melihat 2 bola mata menyala menatapku. Aku pikir itu pasti hantu. Aku ketakutan dan seketika berlari menjauhi tempat tersebut. Kemudian aku menghampiri sebuah warung kecil. Aku bertanya pada seseorang disana, tapi mereka tak menjawabku bahkan seperti tak mnganggap kehadiranku. Aku pikir mereka hanya tak suka berbicara pada orang asing. Lalu aku tak sengaja menjatuhkan gelas kopi di warung itu. Sontak hal tersebut membuat mereka kaget dan lari terbirit-birit, saat itulah aku menyadari bahwa aku bukanlah manusia." Raut sedih seketika terlukis jelas di wajahnya.
"Hemm, jadi kamu lupa segalanya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres tentang kematianmu. Tenang saja aku akan membantumu." Aku berusaha meyakinkan hantu itu untuk membantunya.
Dia tersenyum dan harapan terlukis jelas di matanya. Aku tak pernah menyangka akan ada hantu yang lupa tentang identitasnya selama hidup. Ini sangat aneh. Atau semua hantu memang seperti itu?
~~
"Mario ...." Hantu itu menyembulkan kepalanya menembus pintu kamar mandi.
"Aaaaa ...." sontak aku berteriak karena terkejut melihat sepenggal kepala menembus pintu. Untung saja saat itu aku telah selesai mandi dan membalut tubuh dengan handuk.
"Kamu jangan nongolin kepala gitu dong, kan serem, lagian hantu kok ganjen banget liat orang mandi." Jantungku masih berdebar-debar mengingat kejadian tadi. Cantik memang, tapi caranya menyembulkan kepala sungguh tidak elegan.
"Pfft, iya maaf. Aku panggil kamu berkali-kali tapi kamu gak denger. Malah asik nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Jadi aku terpaksa ngagetin kamu biar gak berisik." Dia terkekeh geli.
Setiap hari melihatnya, membuatku menjadi terbiasa akan kehadiran Nona hantu di rumahku. Aku memiliki teman mengobrol saat aku sendiri. Bahkan sekalipun dia hanyalan sesosok hantu, aku tetap merasakan bahwa kehadirannya mampu mengikis sedikit demi sedikit kesepian yang hinggap dalam diriku.
Dua minggu berlalu aku belum juga menemukan informasi apapun mengenai dirinya. Aku ingin membantu menemukan alasan dibalik arwahnya yang belum tenang itu. Tapi sampai sekarang aku tak mendapat informasi apapun. Bahkan dia tak mengingat apapun tentang kehidupannya yang telah lalu. Asal dia mengingat namanya saja, pasti masih bisa diselidiki.
"Mario, sepertinya aku telah membebanimu, maafkan aku mario. Tapi hanya kamulah orang yang bisa membantuku," dia menundukkan wajahnya. Merasa bersalah dengan permintaan yang menyita usahaku.
"Tidak masalah Nona hantu, aku bersedia membantumu. Instingku mengatakan kita akan segera mendapat petunjuknya. Yasudah ayo kita pulang." Aku beranjak dari kursi di lorong kampus, dan menuju tempat parkir untuk mengambil motorku.
Diperjalanan, kami mampir di sebuah pom bensin mini untuk mengisi bahan bakar motorku yang hampir habis. Kemudian aku tak sengaja melihat sebuah brosur yang menempel pada batang pohon, tepat disebelah pom mini ini.
Kuraih brosur yang menenpel di pohon itu. Setelah aku perhatikan, foto di dalam brosur sama persis dengan wajah hantu cantik ini. Lalu aku mengambilnya dan membawanya pulang.
"Nona hantu, kemarilah! Sepertinya aku mendapatkan petunjuk." Aku menatap Nona hantu dan foto pada brosur secara bergantian. Mendengar kata petunjuk dia segera duduk di sebelahku.
"Petunjuk apa?" Dia begitu antusias. Berharap bahwa petunjuk ini bisa segera memberi jawaban.
"Kau tau mengapa aku mengambil brosur ini tadi? Karena sepertinya gadis yang di cari dalam brosur ini adalah kamu. Lihat saja ciri-ciri yang disebutkan sama, tinggi kurang lebih 165 cm, rambut panjang bergelombang, kulit putih ntahlah karena kau seorang hantu pasti kulitmu putih dan pucat. Tapi lihatlahh foto ini sangat mirio denganmu." Aku memperlihatkan padanya brosur yang ku bawa.
"Apakah wajahku terlihat seperti di dalam brosur itu?" Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya.
"Ya, kau terlihat sangat cantik sama seperti dalam brosur ini. Sudah, jangan bersedih aku pasti akan membantumu menemukan jawaban dari semua pertanyaanmu." Meskipun dia hantu, rasanya aku tak tega melihatnya terus-menerus merasakan kesedihan.
"Terima kasih, Mario." Tiba-tiba tubuh dinginnya memelukku. Aku bingung bukankan hantu tak bisa menyentuh manusia lalu mengapa pelukannya terasa begitu nyata.
Keesokan harinya aku dan nona hantu pergi menuju alamat yang tertera dalam brosur. Disana kami bertemu seorang wanita paruh baya yang memiliki paras wajah yang hampir mirip dengannya. Dia mempersilahkanku masuk. Lebih tepatnya kami berdua yang masuk.
"Adik siapa ya?" tanya wanita itu sembari menyuguhkan minuman dan beberapa camilan.
"Maaf, tante, jika kehadiran saya membuat anda terkejut. Saya Mario, apakah disini benar alamat dalam brosur ini?" Aku menunjukkan brosur yang kudapati kemarin.
"Iya-iya, saya yang menyebar brosur itu. Dia Gita anak bungsu tante yang sudah hilang selama beberapa hari ini. Nak Mario kenal Gita?" Wanita itu bertanya dengan antusias. Ia pun menangis saat membicarakan putrinya yang hilang.
"Saya teman Gita tante, saya menghubunginya beberapa hari yang lalu tapi tak pernah bisa. Kebetulan kemarin saya melihat brosur ini dan melihat wajah gita. Lalu saya berpikir untuk ke alamat ini." Aku terpaksa harus berbohong
"Ya, Gita sudah menghilang lebih dari 2 minggu. Semua pihak keluarga sudah mencoba mencari dan menghubunginya. Tapi kami tak mendapat hasil apapun," ucap Wanita itu sembari menangis.
"Sebenarnya saya datang kesini untuk memastikan tante, saya khawatir Gita yang saya cari bukan Gita anak tante. Apa tante punya foto-foto Gita. Karna saya ingin memastikannya dulu." Aku meminta beberapa foto pada ibu Gita.
Dia bersedia mengambilkan beberapa album foto Gita. Aku melihat potret-potret lucu dan menggemaskan Gita sewaktu kecil. Lalu aku beranjak melihat album lain dimana gita tumbuh menjadi remaja cantik yang ceria, dan di album yang ketiga aku melihat potret Gita tumbuh dewasa dengan paras yang menawan dan mempesona.
Setelah mengamati beberapa foto ini. Aku berkali-kali membandingkan wajah foto gita dan wajah nona hantu disebelahku. Belahan rambut yang sama. Bibir tipis yang sama, posisi tahi lalat di bawah mata juga sama. Berarti Gita yang dimaksud wanita ini adalah nona hantu disebelahku.
Aku pun melihat peluang untuk menemukan kebenaran semakin terbuka lebar. Tapi aku tak tahu bagaimana harus menyampaikan bahwa Gita yang dicarinya telah tiada dan ada diruangan ini bersama kami. Aku tak bisa membayangkan betapa terkejutnya hati seorang ibu jika mendengar kematian anaknya.
Gita berbisik padaku "Mario apa Gita yang dimaksud adalah aku?" Aku hanya mengerjapkan mata satu kali. Entah dia mengerti atau tidak maksudku ini.
"Tante apa sudah menghubungi polisi?" tanyaku.
"Sudah, tapi pihak kepolisian belum memberikan kabar, kami hanya disuruh menunggu," ucapnya sembari menahan tangis.
Aku melihat album terakhir. Aku melihat ternyata Gita telah memiliki tunangan. Mereka telah melakukan prosesi tukar cincin di dalam foto itu. Lalu aku melihat jari Nona hantu, tapi aku tak menemukan cincin disela-sela jarinya. Otakku berpikir keras, mengapa cincin itu sekarang tak terlihat di jari manis Nona hantu? Apa mungkin karena dia hantu?
"Tante, sebelum Gita menghilang apakah dia tidak mengatakan apapun?" Rasa penasaranku semakin bergejolak kuat.
"Dia hanya mengatakan ingin pergi. Tapi dilihat dari penampilannya saat itu dia menggunakan dress formal selutut dan sepertinya akan menghadiri sebuah acara. Tapi dia tak mengatakan akan pergi kemana. Setelah itu Gita tak pernah kembali lagi sampai sekarang," ujar ibu gita.
"Tante tidak mencoba menghubungi tunangan Gita atau teman-temannya?"
"Semua orang yang mengenal Gita sudah tante hubungi. Tunangannya mengatakan bahwa Gita tak datang kerumahnya. Teman-teman Gita juga mengatakan bahwa dia tak melihat Gita, bahkan Gita tak hadir dalam pesta ulangtahun temannya." ucap wanita itu yakin.
Gita tak hadir dalam pesta? Saat terakhir pergi dia berpenampilan seperti akan menghadiri acara. Apakah mungkin sebenarnya Gita akan menghadiri acara itu. Tapi ditengah jalan dia dirampok dan perampok itu membunuhnya.
Atau mungkin Gita datang ke pesta kemudian dia mengalami bullying dari teman-temannya dan dia tak sengaja dibunuh. Lalu semua temannya sepakat untuk memberi pernyataan bahwa Gita tak pernah hadir dalam pesta?
Ah, terlalu banyak kemungkinan yang aku pikirkan jika tak segera mendapatkan petunjuk selanjutnya.
Setelah cukup lama aku berada di rumah ibu Gita, aku meminta nomor beberapa teman Gita untuk mencari informasi tambahan. Wanita itu juga memberikan nomor ponselnya dan memintaku segera memberi kabar jika ada perkembangan. Akupun berpamitan pada wanita paruh baya itu dan melaju dengan motorku.
Sesampainya dirumah, aku melihat Nona hantu tak berbicara sedikitpun. Dia masuk menembus pintu rumah sebelum aku sempat membukanya. Aku pun segera masuk dan tak mendapatinya berada di ruang tengah.
Suara tangisannya terdengar dari arah kamarku. Benar saja, setelah aku membuka pintu dia sedang duduk bertekuk lutut dan membenamkan wajahnya. Aku menghampirinya yang kala itu sedang duduk di pojok kamar.
"Nona hantu ...."
"Mario, apa aku adalah korban pembunuhan? Aku kira kematianku tak serumit ini. Mario apa aku terlihat menjijikan hingga ada orang yang tega menghabisi nyawaku?" Ternyata nona hantu juga merasakan sakit hati atas misteri kematiannya
"Nona hantu, itu semua hanya dugaanmu. Kita belum mendapat jawaban yang pasti. Kau tenang lah, aku akan berusaha menemukan kebenarannya," Aku mendekap tubuh dinginnya yang sedingis es. Entahlaah, mengapa rasanya mendekap dia yang sedang menangis membuatku ikut merasakan kesedihan?
~~
Hari-hari berikutnya aku menghubungi beberapa nomor ponsel milik teman-teman Gita. Untung saja mereka yang aku hubungi bersedia menemuiku. Aku dan Nona hantu menemui mereka satu persatu, dan itu tak hanya membutuhkan waktu satu hari saja. Setidaknya kami menghabiskan waktu 3 hari untuk menemui mereka hanya untuk mendapat sebuah petunjuk. Sekecil apapun petunjuknya, pasti akan sangat berguna.
Tapi berdasarkan informasi yang mereka beri, tak satupun yang dapat merujuk pada siapa pelakunya. Semua teman-teman Gita hanya mengatakan bahwa Gita orang yang baik dan ramah pada setiap orang, Gita juga tak pernah memiliki musuh di kampusnya. Pernyataan mereka seperti memberi sebuah jalan buntu bagiku. Bukan berarti aku berharap Nona hantu memiliki musuh semasa hidupnya. Tapi aku benar-benar bingung harus memulainya dari mana lagi.
"Mario, apa kau tak melewatkan satu orang pun dari mereka? Mengapa kita tidak bertanya langsung pada temanku yang mengadakan pesta waktu itu. Mungkin saja kami akrab, aku tak tau pasti. Tapi segala kemungkinan bisa terjadi kan? Kita jangan melewatkan kesempatan itu." Nona hantu menyadarkanku bahwa aku memang melewatkan sesuatu yang penting.
"Kau benar Nona hantu, ayo kita cari tahu tentang dia, dan segera bertemu dengannya." Aku kembali bersemangat seakan pintu keluar terbuka lagi untukku. Aku segera menghubungi teman Gita dan meminta alamat seseorang yang mengadakan pesta malam itu.
Aku dan Nona hantu segera melaju dengan motorku untuk bertemu langsung dengan Sovi, orang yang mengadakan pesta.
Sesampainya di rumah Sovi, aku dipersilahkan masuk oleh security yang berjaga di sana, dan dia menungguku tepat di depan pintu rumahnya. Sepertinya teman Gita telah menghubungi Sovi bahwa aku akan datang.
"Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sovi memulai percakapan.
"Sovi, maaf jika pertanyaanku sensitif, aku hanya ingin mencari tahu kebenaran mengenai Gita. Kau jangan khawatir, Ibu gita juga tahu tentang ini. Bahkan beliau langsung yang memberi tahu nomor teman-teman Gita." Aku menjelaskan sedikit pada Sovi, takut gadis itu sedikit tak nyaman disangkut-pautkan dengan hilangnya Gita.
"Lalu apa tujuanmu kemari? Apa yang bisa aku bantu?" Sovi bertanya. Tampaknya dia tak suka bertele-tele.
"Sovi, apa kau mengadakan pesta baru-baru ini? Apa kau mengundang Gita juga? Apa Gita datang menemuimu?" Karena tak sabar aku langsung pada intinya saja.
"Ya, aku mengadakan pesta ulang tahun dan aku juga mengundang Gita. Tapi sayangnya Gita tak hadir dalam pesta. Jika kau tak percaya, aku tak keberatan memperlihatkan rekaman CCTV-nya," Sovi mengajakku ke ruang CCTV. Dia memutar rekaman CCTV pada tanggal saat berlangsungnya acara.
Aku dan Nona hantu saling memandang, kami memang tak melihat ada Gita datang ke acara Sovi, bahkan sampai jam 10 malam saat acara usai, Gita masih belum terlihat.
Setelah merasa cukup mendapatkan informasi, aku pun berpamitan pada Sovi dan berterimakasih karena bersedia menerima kehadiranku. Sovi mengatakan padaku bahwa Gita berniat datang ke acaranya bersama sang tunangan, Radit. Dia menyuruhku untuk menemui tunangan Gita dan dia memberikan alamatnya padaku. Dia mengetahui alamat itu karena Radit teman dari kakaknya. Dan dia juga sering berkunjung kerumah Radit bersama sang kakak.
Mendengar perkataan Sovi, aku merasa mendapat petunjuk besar. Dan targetku selanjutnya adalah Radit, Tunangan Gita.
~~
Saat itu hari masih gelap, fajar belum menampakkan sinarnya. Tapi seluruh warga sudah digegerkan tentang kabar penemuan mayat yang telah membususk di perkebunan kelapa sawit milik warga sekitar. Mayat itu sudah tak dikenali karena badannya telah rusak dan menghitam.
Warga mengatakan bahwa Bau busuk bangkai sudah tercium sejak lama, tapi ia tak menemukan asal bangkai tersebut. Menjelang minggu ke-3, bau itu semakin menyengat dan bukan seperti bau bangkai hewan.
Sang pemilik kebun menyisir setiap bagian kebun hingga jauh. Alhasil ia menemukan tumpukan batang daun sawit kering yang seperti sengaja ditimbun. Sang pemilikpun dengan hati was-was menyingkirkan satu persatu tumpukan batang daun sawit tersebut. Ia tetperanjat tatkala melihat mayat yang telah hitam dan membusuk itu.
Ia berlari ketakutan dan menceritakan penemuannya kepada warga lain, saat itulah semua warga membicarakannya dan pemilik kebun bersama beberapa warga melapor pada pihak polisi.
Warga berbondong-bondong menuju lokasi penemuan mayat yang diyakini seorang wanita. Aku dan Nona hantu juga ikut melihat lokasi tersebut, aku curiga mayat itu berkaitan dengan Nona hantu.
"Mario, Mario, berhenti!" Nona hantu menepuk pundakku ketika dalam perjalanan menuju lokasi penemuan mayat.
"Ada apa Nona hantu?" seketika aku menghentikan laju sepeda motorku.
"Itu, warung itu." Dia menunjuk sebuah warung kecil yang masih tutup. "Aku ingat saat terbangun dari tempat yang gelap, aku menghampiri warung itu."
"Apa? Jadi nona hantu, mungkinkah mayat yang ditemukan warga adalah jasadmu? Mereka bilang mayat itu ada di dalam kebun sawit, dan kau bilang kau saat kau terbangun sudah berada di tempat gelap. Kebun sawit, malam hari, gelap. Itu masuk akal! Oke, aku pikir aku tau jawabannya. Biarkan masalah ini kita serahkan pada polisi. Kita menuju tempat selanjutnya saja!" Aku segera memutar arah motorku dan meninggalkan kebun sawit.
"Kemana tujuan kita Mario?" Nona hantu masih bertanya dengan bingung.
"Tentu saja kerumah Radit." aku mengencangkan laju motorku dan segera menuju rumah tunangan Gita.
Sampai di depan rumah tunangan Gita, aku berusaha memanggil nama sang pemilik rumah, namun tak ada jawaban. Berkali-kali aku mengetuk pintu, namun tetap tak ada jawaban.
"Mario, apa kamu yakin ini rumah tunanganku? Sepertinya tak ada orang" tanya nona hantu padaku.
"Aku yakin Nona, kita tunggu saja mungkin dia belum bangun." Aku duduk di lantai teras menunggu kemunculan Radit. Namun betapa terkejutnya saat aku menemukan sebuah cincin emas bermata merah yang terdapat di dalam pot bunga di teras Radit. Cincin itu seperti cincin yang digunakan Gita, saat prosesi tukar cincin dalam album yang kulihat.
"Oh Tuhan, cincin ini, cincin yang kamu gunakan saat kalian bertunangan Nona. Cincin pemberian Radit. Oke sedikit demi sedikit kebenaran telah terungkap." Aku menggenggam cincin itu.
Yang tak aku pahami adalah mengapa Cincin yang harusnya begitu berharga tergeletak sembarang disini?
Kecuali jika mereka terlibat pertengkaran dan Gita membuang Cincin itu. Mungkin itu bisa menjadi fakta yang wajar jika Cincinnya ada di sini.
Tapi ... apakah Radit?
"Mario lihat, jalan pemukinan ini memiliki CCTV. Kita minta petugas security mengeceknya, mungkin di dalam CCTV terekam jam berapa saat aku menuju kemari." Nona hantu berhasil menemukan CCTV di sekitar jalan menuju rumah radit.
Aku dan nona hantu segera mendatangi pos Security di pemukiman tersebut. Awalnya permintaanku ditolak dengan alasan karena aku bukan warga pemukiman tersebut dan hal itu akan membocorkan privasi warga disana.
Namun setelah aku memohon kepada Petugas Security dengan menceritakan semua dugaanku yang berkaitan dengan penemuan mayat pagi tadi, akhirnya permintaan kami diterima. Petugas Security segera mengecek rekaman ulang CCTV pada 3 minggu yang lalu saat jam setengah 7 malam.
Diruangan itu, aku merasa tegang untuk menyaksikan seperti apa kondisi sebenarnya di 3 minggu lalu. 15 menit belum terlihat apa-apa, 35 menit kemudian terlihat sebuah taksi berhenti di ujung jalan, dan dari dalam taxi keluarlah seorang gadis dengan dress selutut.
Gadis itu berjalan dari ujung jalan menuju Rumah Radit. Aku menyuruh petugas untuk menjeda rekaman vidio tepat saat wanita itu berjalan, aku melihat Postur tubuhnya, rambutnya, dan wajahnya sekilas mirip Nona hantu, baju yang dikenakan wanita dalam citra CCTV itu juga sama seperti yang dikenakan nona Hantu sekarang.
Kami masih terus melanjutkan pemamantauan CCTV dan pada pukul 20.15 sebuah mobil keluar dari arah rumah Radit. Aku semakin yakin Radit dan Gita ada dalam mobil tersebut. Tapi mengapa saat keluarga Gita bertanya, Radit mengatakan bahwa Gita tak pernah datang menemuinya atau pun mengajaknya pada acara pesta?
Aku berterima kasih kepada security yang telah membantuku dan segera pergi dari ruang CCTV. Kami pun kembali ke rumah Radit.
"Tok, tok, tok," Aku mengetuk pintu rumah Radit dengan keras.
"Radit, keluar!" Aku berteriak sembari tetap mengetuk pintu rumah Radit.
"Mario, aku lupa bahwa aku bisa menembus pintu ini, aku akan coba," ujar Nona hantu.
"Oke Nona, kamu cek kedalam." Aku menunggu nona hantu keluar. Setelah beberapa menit dia akhirnya keluar.
"Mario, ada seorang laki-laki di dalam. Aku tak tau itu Radit atau bukan. Sepertinya dia sedang gelisah dan ketakutan." Mengatakan seorang pria ada di dalam dalam keadaan gelisah, aku yakin itu Radit. Aku yakin dia pelakunya.
Lalu aku pun memanggil security tadi untuk membantuku memanggil Radit keluar.
"Saudara Radit, tolong anda buka pintu dan jangan bersembunyi di dalam," ucap security tadi sampil menggedor-gedor pintu rumah Radit.
"Radit, keluar kau. Kamu lah yang bertanggung jawab atas kematian Gita kan? Aku memiliki buktinya. Radit, keluarr...." Aku mencoba berteriak. Tak peduli bila gertakanku ini melesat. Tapi aku benar-benar yakin dia pelakunya.
"Krieeetttt...," suara pintu rumah terbuka.
JLEBB!
Radit menusukkan sebilah pisau ke perut securyty tadi.
"Astaga, pak ...." aku membungkuk hendak menangkap tubuh security yang hampir ambruk
"Mario, awas!" nona hantu memekik dengan lantang.
BUGGH!
Ada sebuah benda keras menghantam kepalaku. Aku merasa sangat pusing hingga akhirnya penglihatanku berubah gelap dan tak sadarkan diri.
~~
"Mario... Mario, bangun. Bangun Mario." Suara Nona hantu samar-samar terdengar dan berhasil membangunkanku.
Entah berapa lama aku disekap dan tak sadarkan diri di ruangan ini. Ruangan bekas kamar yang sangat berdebu dan ventilasi udara yang begitu buruk. Sepertinya ruangan ini tidak terlalu lama tak digunakan, dinding-dindingnya masih terlihat bagus.
Tubuhku terbaring dengan keadaan tangan dan kaki terikat, serta mulut tersumpal kain menyebabkan diriku tak bisa berbicara bahkan sulit untuk bernapas. Aku mencoba mengatur napas perlahan, setelah sedikit tenang aku memberi kode kepada Nona hantu untuk membuka ikatan tanganku.
Namun tiba-tiba..
Kriett!!
Pintu tempat ku disekap terbuka, seorang gadis masuk dan membawa kayu diikuti Radit dibelakangnya.
"Mario, tenanglah, aku akan mencoba membuka ikatan tanganmu." Nona hantu berbisik ditelingaku, aku hanya mengangguk menyetujuinya
"Hallo ... pria tampan, siapa namamu ?" ucap gadis itu menyeringai sinis.
"Sayang, kamu lupa? mulutnya kan masih tersumpal. Hahaha!" Radit tertawa keras, dia kemudian membuka sumpalan di mulutku
"Sayang? Bukannya kamu tunangan Gita? Apa kalian pasangan selingkuh?" Aku yang kala itu masih kesulitan bernafas mencoba berteriak pada mereka.
"Oops, selamat! Jawabanmu benar. Memangnya kenapa, hah!?" ucap gadis itu sambil berteriak padaku. Dia melayangkan kayu di tangannya tepat pada lututku.
"Aaarrgh!" seketika aku berteriak merasa sakit pada lututku.
"Mario maafkan aku, aku pasti bisa menolongmu," ucap nona hantu sembari terus berusaha membuka ikatan di tanganku.
"Kalian, kenapa kalian tega membunuh Gita?" aku berteriak lantang. Sekarang aku semakin yakin mereka atau salah satunya pasti pembunuh Gita.
Dan sekali lagi wanita itu melayangkan kayu di genggamannya ke arah perutku, namun aku berhasil mencegahnya karna ikatan di tanganku berhasil terbuka.
Aku merebut balok kayu di tangannya. Namun karena luka di lutut aku tak bisa leluasa melawan mereka. Akhirnya Radit berhasil merebut balok kayu di tanganku dan mereka pun mulai menyiksaku.
"Uhuk ... uhuk ...." Cairan darah mulai mengalir dari mulut akibat pukulan bertubi-tubi di area dada dan perutku.
"Gita, Gita, gadis yang malang! Seharusnya dia tidak memergoki kami bercumbu malam itu. Jika tidak, dia pasti masih hidup sampai sekarang," ujar wanita itu dengan bengis.
Aku melihat Nona hantu mulai menangis karena tak menyangka atas pengakuan gadis kejam ini. Dan aku masih tak mengerti, hanya karna memergoki perselingkuhan, Gita harus dibunuh. Ada apa ini ???
"Ha-hanya karna Git-ta memergoki kalian, la-lalu kalian membunuhnya? Kenapa?" rasa sakit diperut dan dadaku membuatku tak bisa berkata lancar.
"Karena aku dan Radit saling mencintai. Dan kami akan segera memiliki bayi. Hahaha! Tapi, saudaraku Gita memergoki kami dan mendengar pembicaraan kami. Aku tak ingin Gita mengadu pada ibuku. Karena apa? Karena aku tak ingin statusku sebagai anak angkat keluarga kaya akan berakhir gara-gara saudara menjijikkan itu! Hahaha" wanita itu tertawa puas.
"Da-dasar wanita Gila. Kau sau-dara angkat yang kejam." Aku tak tahan untuk mencemooh wanita itu.
"Jaga omonganmu, dasar laki-laki pengecut," umpat Radit.
"Sayang, sekarang giliranmu. Kau tak membantuku melenyapkan Gita waktu itu, kau bisa menebusnya dengan membantuku melenyapkan laki-laki ini. Gunakanlah cara yang sama seperti yang aku contohnya malam itu." Wanita itu dengan sadis meminta Radit membunuhku sama seperti waktu dia membunuh Gita.
Tanpa pikir panjang Radit mulai menyiksaku menggunakan balok kayu di tangannya. Bahkan ia menyeret ku ke kamar mandi dan membenamkan wajahku di dalam air berkali-kali.
Aku kesulitan bernafas. Bahkan Radit menghantam kepalaku ke dinding berkali-kali. Aku melihat nona hantu menangis dan tak tau harus melakukan apa. Semakin lama Nona hantu semakin marah dan wujudnya pun berubah sangat menakutkan.
Dia mencekik leher wanita kejam itu hingga menjerit dan mengalami kesulitan bernafas. Radit segera meninggalkanku dan menolong kekasihnya. Dengan sedikit sisa energi di tubuhku, aku menggunakan kesempatan itu untuk merangkak kabur. Namun tiba-tiba ....
BUGGH!
Sebuah pukulan mendarat di tengkukku. Badanku ambruk. Lalu samar-samar aku mendengar suara ramai dari banyak orang, aku juga melihat beberapa polisi menangkap Radit dan saudara angkat Gita.
Aku juga merasakan tangan-tangan hangat mulai menggotong tubuhku yang perlahan terasa dingin. Pandanganku menjadi sangat kabur dan aku melihat nona hantu berlari menggapai tubuhku, lalu aku tak melihat apa-apa lagi.
"Marioooo ...." Namun aku masih bisa mendengar suaranya.
~~
Hari-Hari berikutnya aku dan Nona hantu datang untuk menyaksikan segala rangkaian proses hukum, yang dijalani oleh Radit dan saudara angkat Gita. Mulai dari olah TKP saat Gita dibunuh dan dibuang ke dalam kebun sawit, dan saat mereka menjalani persidangan.
Berdasarkan pemeriksaan Tim Forensik, mayat yang ditemukan membusuk di lahan perkebunan adalah benar jasad Gita. Dimana ia dibunuh sendiri oleh kakak angkatnya, dan Radit tunangan Gita yang memberikan ide untuk membuang Jasad Gita ke lahan sawit. Kemudian mereka berdua mengumpulkan ranting daun sawit kering yang jatuh ke tanah, dan menimbun mayat gita bersama.
Aku melihat ibu Gita menangis dan tak menyangka anak yang dipungutnya 25 tahun lalu, tega membunuh anak kandungnya sendiri, yaitu Gita adik yang masih yang lebih muda 2 tahun darinya. Ayah Gita tak henti-henti menguatkan hati istrinya yang hancur karena harus kehilangan Gita akibat ulah anaj angkatnya sendiri. Setelah persidangan selesai aku dan Nona hantu mengikuti ibu Gita menuju pemakaman.
"Gita, maafkan mama ya nak, Semoga dengan dihukumnya mereka, arwahmu bisa tenang disana," Ucap mama Gita sembari mencium nisan anaknya.
"Mario, terima kasih kamu telah berjuang mencari keadilan untuk Gita. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ujar wanita itu sambil menangis.
"Ma, kita pulang ya, mama istirahat," ucap ayah gita sembari memapah tubuh sang istri yang begitu lemah.
Aku merasa sunggu kasihan melihat kondisi kedua orangtua Gita yang harus menanggung beban di usia mereka yang tidak muda lagi. Bahkan beban itu akan terus terasa selamanya. Tiba-tiba aku pun teringat akan orang tuaku.
"Mario, terima kasih telah membantuku mengungkap misteri ini. Dan maaf membuatmu jadi menanggung beban." Nona hantu menundukkan pandangannya.
"Tidak papa Nona hantu, inilah takdir." aku tersenyum padanya dan memeluk tubuhnya. dia membalas dekapanku.
"Jangan panggil aku Nona hantu lagi, panggil aku Gita." Dia tersenyum padaku dan melayang terbang ke udara.
"Gita, tunggu aku," Aku mengejar Gita yang melayang-layang ke udara, dan untuk yang terakhir aku melihat nisan ku bersebelahan dengan nisan Gita.
Setidaknya aku melakukan kebaikan di akhir hidupku. Dan sekarang Tuhan memanggilku, aku tak akan menyesal.
Selamat Tinggal Semua.....
-TAMAT-