"Sebentar bro sebentar ,coba deh diam sebentar.” Kata Setyo sambil duduk dan bersandar pada pohon perdu.
"Kayaknya ada yang teriak minta tolong deh," terusnya.
"Masak sih bro," kata Ernest sebelum meneguk minum dari botolnya.
"Ahh nggak mungkin," imbuh Nur sambil membuka permen yang diambil dari sakunya.
"Beneran ,coba diam dulu deh semua," lanjut Setyo lagi.
Sementara itu Juli ,Pia ,Jun dan Edoy cuma tersenyum melihat wajah Setyo serius, yang biasanya selalu bercanda.
"Tolong ,tolong ,toloooong ,saya tersesat ,toloooong.” Terdengar suara lirih.
"Tuh kan bro ,beneran ada yang minta tolong," kata Setyo sambil meletakkan tas gunungnya di pohon perdu yang tadi ia sandari.
"Toloooong ....,saya tersesaaaaat...” Suara itu lagi ,terdengar pelan karena medan yang tertutup pepohonan tinggi.
"Iya beneran tuh ada yang minta tolong," Nur menyahut.
"Jun ,Edoy ,Juli ,ayo ikut aku," sambil berdiri Setyo mengajak ketiga temannya.
Sedangkan Ernest ,Pia dan Nur tetap tinggal di percabangan jalur untuk menjaga tas ransel teman mereka yang mencoba mencari sumber suara.
Mereka bertujuh tengah menuruni gunung, berada di bawah pos dua, sekitar pukul dua siang dan cuaca sedikit mendung. Jalur yang dilalui mereka berupa tanah yang licin karena setelah diguyur hujan semalam. Setyo adalah pria yang suka bercanda dan sangat peduli dengan teman-temannya, bisa dibilang pemimpin rombongan. Di usia dua puluh lima tentu masih sanggup untuk mendaki beberapa gunung.
Jun yang selalu bersemangat, karena bercita cita ingin menjadi angkatan darat, sudah pasti tak diragukan lagi fisiknya di usia yang menginjak dua puluh tahun. Ernest pria pendiam yang selalu mengagumi ciptaan Sang Maha Agung. Meski sudah berkepala tiga, tapi masih kuat untuk mengimbangi keenam temannya.
Sedangkan Juli, Nur, Edoy dan Pia, cowok-cowok ini masih satu kelas di sekolah kejuruan, tentu selalu kompak satu sama lainnya.
"Jun, kamu kan bawa parang, dibawa ya buat jaga-jaga," kata Setyo.
"Oke bro ..." Jun menyahut.
"Juli, kamu bawa minum, dan Edoy, kamu bawa bekal secukupnya," lnjut Setyo lagi.
"Oke mas ..." Juli dan Edoy menjawab serentak.
Tanpa pikir panjang Setyo, Jun, Juli dan Edoy berlari menuju sumber suara yang menurut Setyo itu adalah seseorang yang tersesat.
"Toloooong, toloooong." Suara itu terdengar lagi.
"Maaaasss...,diem aja di situ, jangan kemana mana, jangan pindah-pindah tempat." Setyo membalas teriakan itu, sembari berlari menuruni jalur yang licin, dengan sebelah kiri jurang tertutup semak belukar.
"Jun, kamu tandai pohon pakai parang ya, buat jaga-jaga semisal kita lupa jalur balik," perintah Setyo dengan nafas tersengal sengal.
"Oke bro .." sahut si Jun dengan pose mengacungkan jempol.
"Juli, bagi minum dong, kering nih tenggorokan," pinta Edoy.
"Nih ambil, jangan dihabisin, aku cuma bawa satu botol," jawab Juli.
Mereka berempat berhenti sejenak, mencoba mendengar sumber suara yang semakin lama terdengar semakin keras, mungkin sudah tak terlalu jauh. Nafas kembali normal, pencarian pun dilanjutkan, Setyo berjalan paling depan, karena dia merasa, dialah yang mendengar teriakan terlebih dulu. Juli dan Edoy mengikuti di belakang Setyo, sementara Jun paling belakang sambil membuat tanda pada pohon perdu dengan parangnya. Tiba-tiba Setyo berhenti.
"Ada apa mas kok berhenti?" tanya Edoy.
"Iya mas, kok diem kenapa?" Juli ikut nimbrung.
"Ini, ada jejak kaki, sepertinya terpeleset tapi di depan masih ada jejak lagi," jawab Setyo kaget.
"Apa mungkin dia jatuh bro," Jun tersenyum sambil menebas-nebaskan parangnya.
"Ahh ngawur kamu bro, wong di depannya ada jejak lagi kok," jawab Setyo dengan wajah serius.
"Maaaasss ....,toloooong ....,toloooong .... “ Suara itu terdengar semakin dekat.
"Tuh kan, suaranya makin dekat, nggak mungkin dia jatuh bro.“ Dengan wajah agak lega, Setyo memastikan.
"Iya juga ya," sahut Jun.
"Udah dekat kayaknya mas ..," kata Juli.
Setyo lanjut lagi, melewati rerumputan yang rimbun berbentuk seperti lorong, kemungkinan jalur babi hutan yang masih habitat gunung itu. Lorong yang panjangnya kurang lebih lima belas meter itu berujung pada padang pohon pakis luas setinggi dada orang dewasa. Terlihat orang yang berteriak itu berlari seperti kebingungan, hanya berlari memutari satu tempat dengan pandangan kosong linglung dan lelah pastinya.
"Udah mas, udah. Mas udah aman, udah ketemu sama kita," Setyo berjalan mendekati orang itu.
"Makasih mas, makasih banget, makasih." Orang itu berlari dan memeluk Setyo karena merasa bertemu dengan pendaki lain.
"Ini mas minum dulu, masnya tenang aja, udah ketemu sama kita," Juli memberikan minum.
"Ini mas buat ganjal perut, ada sedikit biskuit,“ Edoy menyodori.
Setelah dirasa istirahat cukup, mereka kembali ke percabangan jalur, tempat rombongan Ernest beristirahat.
"Nest, udah ketemu nih orangnya," teriak Setyo yang melihat Ernest cemas menunggu.
"Syukurlaaaaahhhhh ..." Ernest tersenyum.
"Alhamdulillah ...." Pia dan Nur tertawa lega.
"Jun, kamu cari batang-batang pohon ya, buat nutupin jalur ini, bikin tanda silang ya.“ Perintah Setyo pada Jun.
Seperti biasa Jun menjawab,
"Oke bro..." Dengan pose mengacungkan jempolnya.
Jun menutupi jalur dengan batang-batang pohon perdu yang ditebas dengan parangnya. Tak lama setelah berkemas, rombongan melanjutkan turun menuju base camp karena hari semakin sore dan kemungkinan akan turun hujan. Sesampainya di pos satu, ada salah satu teman dari rombongan orang yang tersesat itu menghampiri rombongan Setyo.
"Syukurlah Guuuussss....Guuuussss ...,kamu udah ketemu, temen-temen nyariin kamu, pada nungguin, pada bingung, pada khawatir sama kamu," teriak orang itu sambil menangis dan memeluk orang yang tersesat itu.
Bagus, ternyata nama orang yang tersesat itu adalah Bagus dan orang yang menghampiri Setyo, namanya Eky.
"Kok Bagus bisa sama mas," tnya Eky pada Setyo.
"Gini mas, tadi si mas Bagus ini, keluar dari jalur, lalu kami menjemputnya dan memastikan ke jalur yang benar," jawab Setyo.
"Ohhh, makasih banget ya mas, makasih udah nemuin Bagus.” Sambil bersalaman dengan Setyo.
Rombongan bergegas untuk menuju base camp. Sambil berjalan pelan Bagus bercerita pada Setyo, kenapa dia bisa tersesat. Ternyata waktu perjalanan turun, Bagus lupa jalur. Jalur yang seharusnya berbelok ke kanan, Bagus tetap ambil lurus, ia merasa itu jalur yang benar. Karena sudah tertinggal dari rombongan depan dan terlalu lama menunggu rombongan yang belakang, ia berjalan pelan dan melamun. Jalur yang menurut Bagus benar, itu adalah jalur yang salah dan malah membuat Bagus tersesat.
Hingga mereka sampai di base camp sekitar pukul lima sore, semua rombongan menyambut Bagus dengan berbagai macam reaksi, ada yang menangis, ada yang tersenyum, ada pula yang diam dan hanya mengelus elus pundak Bagus, menandakan semua baik-baik saja dan sudah teratasi. Sebelum beranjak dari base camp, Bagus sempat menghampiri Setyo untuk sekedar mengucapkan terima kasih.
"Mas, sekali lagi terima kasih ya mas, makasih banget ..." Bagus tersenyum dan bersalaman dengan Setyo.
"Iya mas sama-sama, jangan di ulangi lagi ya, lain kali jangan sampai ketinggal sama rombongan ..," pesan Setyo pada Bagus.
"Saya mau cerita dikit nih mas, saya merasa ada yang aneh deh, saya melihat ada pendaki lain di punggungan sebelah sewaktu saya nyasar, memakai atribut pendaki gitu, tapi saya masih sadar kalau sebelah kiri saya itu jurang ...," kata Bagus.
"Ooohhh mungkin jejak yang terpeleset itu .." Setyo bergumam dalam hati.
"Pendaki itu melambai lambai tangan mas, kaya ngajakin aku gitu ..," lanjut Bagus.
"Ahh mungkin halusinasi mas Bagus aja yang udah kecapekan..," jawab Setyo sambil memegang pundak Bagus dan memastikan kalau semua baik-baik saja.
"Ya udah mas, aku cabut dulu, terima kasih, hati-hati di jalan ..," Bagus tersenyum pada Setyo.
"Okeeee maaassss ...," Setyo mengacungkan jempol.
Setyo bersama rombongan berkemas dan keluar dari base camp sekitar pukul tujuh malam. Masih ada perjalanan pulang kurang lebih tiga jam mengendarai motor, saling berboncengan dengan badan lelah dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Ada rasa syukur bisa membawa seseorang ke jalur yang benar meski hampir saja ada hal yang tidak diinginkan.
Setelah sampai di kota tempat tinggal mereka, mereka berkumpul di rumah Setyo untuk sekedar evaluasi dan beres-beres peralatan. Hingga jam dua belas malam mereka pun berpamitan dari rumah Setyo untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.