"Pokoknya aku tidak mau di jodohkan yah, emang segitu tidak lakunya aku kalau aku tidak perhatian dengan jodohku bukan berarti aku tidak bisa mencari sendiri" ucapku pada ayah.
Kenalkan nama ku Aisyah, bisa kalian panggil aku Ai. Aku lebih suka fokus dengan pekerjaan, sehingga aku lupa akan mencari jodoh yang tepat untuk hidup dan mati ku. Usiaku kini sudah kepala 3, atau tepatnya 32 tahun. Aku lebih senang kerja dan sosialisasi dengan rekan kerja dibanding fokus mencari calon suami. Hingga akhirnya ayah menyuruhku untuk menikahi anak dari sahabatnya.
"kamu sudah tidak muda lagi Ai, mau sampai kapan kamu melajang? kamu tidak kasihan pada ayah sama ibu mu yang sampai sekarang menunggu kapan dapat cucu dari kamu" ucap ayah.
"tapi ayah... aku ingin mencari sendiri jodohku, bukan dengan cara perjodohan orang tua" rengek ku pada ayah.
"ayah ngerti nak, tapi pergaulan sekarang yang ayah takutkan. ayah tidak ingin kamu terjerumus dengan pergaulan anak jaman sekarang yang tidak malu melakukan dosa" ucap ayah.
"sudahlah mas, kita kasih waktu Ai untuk mencari jodohnya sendiri. Hanya jika dalam 1 bulan dia tidak mendapatkannya, dia harus mau menerima perjodohan itu" ucap ibu.
"masa hanya 1 bulan bu? ibu ini dukung aku atau mau jatuhkan aku sih" kesal ku.
Akhirnya kami pun sepakat 1 bulan aku mencari jodohku, namun aku pun meminta pada kedua orang tuaku agar mengizinkanku mengontrak agar aku bisa fokus mencari jodohku. Aku tidak ingin jika jodohku hanya melihat keluargaku bukan karena menyayangiku.
Hari pertama di kontrakan, aku sibuk merapihkan barang-barang yang aku butuhkan di kontrakan itu. Sesuai perjanjian kedua orang tua ku tidak membantuku,hanya aku sendiri yang merapikannya. Hitung-hitung belajar mandiri agar tidak bergantung pada orang tua.
Tidak terasa sudah Minggu ke 2 ngontrak, pagi ini beda dengan pagi biasanya. Pagi ini aku bangun kesiangan sehingga berangkat kerja pun terburu-buru.
"tumben kucel banget hari ini Ai, belum tidur dari semalam bukan?" tanya Rara.
"haduh Ra, malah kelamaan tidur aku. Hari ini aku jadi bangun kesiangan deh" jawabku kesal.
"kenapa semalam kamu tidak bisa tidur?" tanya Rara.
"aku semalam nonton film India. wkwkwk..." candaku.
"serius eh" pinta Rara.
"semalam aku minum kopi, akhirnya aku tidak bisa tidur sampai jam 2 malam" keluhku.
"ngapain juga kamu minum kopi?" tanya Rara, namun sebelum Rara mendapat jawaban manager kami datang.
"kalian jangan ngegosip terus, sebentar lagi pemilik kantor ini akan datang" ucap manager.
"baik Bu" jawab kami bersamaan.
(15 menit kemudian manager menelpon dan memintaku membawakan kopi dan teh panas ke dalam ruangan kantornya)
Tok.... Tok.... Tok....
"masuk saja, tidak di kunci" ucap Manager.
"Bu, ini kopi dan tehnya" ucapku sambil berjalan menghampiri.
"berikan kopi pada pak Ari dan Teh panas pada putra pak Ari" pinta Manager.
"Ini pak, kopinya" ucapku.
"terima kasih" jawab pak Ari.
"hei, kamu bukannya Aisyah?" tanya anak pak Ari sambil tersenyum sontak buat aku memalingkan wajahku pada wajahnya.
"maaf, apa anda mengenal saya?" tanyaku ragu.
Laki-laki di depanku sepertinya hampir sama usianya denganku, tapi apa mungkin aku mengenal orang kaya seperti anak pak Ari ini, rasanya tidak mungkin batinku.
"bukankah kita pernah bertemu" jawabnya.
"dimana ya?" tanyaku kembali.
"ehemm... Kalau kamu mau reunian ngobrol di luar sana, ayah mau bicara serius sama Bu Rina dulu" potong pak Ari sontak buatku malu dan pamit undur diri.
"malu-maluin...." ucapku setelah sampai pantry.
" kenapa kamu?" tanya Rara bingung.
" anak pak Ari sepertinya kenal aku"
"siapa pak Ari?" tanya Rara makin bingung.
"pak Ari itu pemilik kantor ini. Tadi waktu aku anterin minum, spontan anak pak Ari manggil nama aku. Akhirnya kami malah ngobrol dan itu malah jadi mengganggu urusan pak Ari dan Bu Rina" jawabku sambil tutup mata.
"serius? ko bisa kamu kenal dia? namanya siapa?" tanya Rara berturut-turut.
"entahlah, belum di jawab keburu dapat teguran pak Ari" jawabku sontak buat Rara tertawa terbahak-bahak.
Hari ini Minggu ke 3 ngontrak aku masih belum dapat laki-laki yang bisa aku kenalkan sebagai jodohku. kalau waktu sudah mepet, mungkin aku mau tidak mau terima perjodohan ini. kalau ingat perjodohan rasanya kesal sekali. Kerja jadi kurang semangat. Pulang pun rasanya lesu dan tidak bertenaga.
"Aisyah" terdengar seseorang memanggilku.
Ku lihat ke arah sumber suara ternyata yang memanggil anak pak Ari.
"kamu..." bingung memanggil apa karena tidak tau namanya.
"namaku Hari teman SMA kamu dan pernah sekelas kita" ucap Hari.
"oh iya Hari, ada apa?" tanyaku.
"kamu mau kemana? aku antar yuk" ajak Hari.
"aku mau ke kontrakan, dekat kok jadi tidak perlu di antar" tolak ku secara halus.
" tidak apa-apa, kontrakannya kata kamu dekat" ucap Hari.
"ya sudah kalau tidak merepotkan" jawabku tidak enak menolak lagi.
Di perjalanan ke kosanku, kami banyak mengobrol soal masa SMA kami. Awalnya aku masih tidak ingat soal Hari, tapi sekarang aku sudah ingat. Waktu SMA itu Hari cukup populer di sekolah, hanya dia terlalu dingin pada semua teman jadi semua pun ragu untuk dekat dengannya. Aku juga tidak menyangka dia bisa ingat orang biasa sepertiku.
Minggu ke 4, semakin tipis saja waktu untuk mendapatkan jodoh yang aku inginkan. Selama seminggu ini aku cukup dekat dengan Hari, karena dia sering datang ke kantor dan mengantarku pulang. Aku sempat berpikir meminta tolong pada Hari untuk menjadi calon bohongan aku,namun segera aku urungkan lagi karena kami baru dekat seminggu ini dan aku tidak mau membuat Hari tidak nyaman.
"Aisyah, kamu kenapa? Dari tadi sepertinya kamu melamun" tanya Hari.
"tidak apa-apa (melihat ke langit) sepertinya mendung, aku pulang sendiri saja ya takut nanti hujan" pintaku.
"tidak masalah, aku antar saja. Di mobil ada payung kok" ucap Hari.
(Melamun lagi)
"Aisyah, kamu ada masalah?" tanya Hari kembali.
"bukan masalah yang berat, hanya masalah keluarga saja" ucapku garing.
"kalau mau cerita sama aku boleh kok, kalau aku bisa bantu insha Allah aku bantu kamu" ucap Hari membuatku semakin tidak enak bercerita.
"tidak usah, ini masalah aku"
"cerita saja" pinta Hari.
Akhirnya aku pun menceritakan tentang perjodohan ku. Hari diam mendengarkan, setelah selesai pun Hari masih tetap diam. Aku menjadi tidak enak, kesannya aku minta tolong dia untuk pura-pura jadi calonku (walaupun pada kenyataannya memang seperti itu). Cukup lama Hari terdiam, namun tiba-tiba Hari bersuara.
"baiklah kalau gitu kita sepakat" ucapnya.
"sepakat apa?"tanyaku bingung.
"aku akan bantu kamu untuk menghindari perjodohanmu dan kamu pun harus bantu aku menghindari perjodohan ku" jawab Hari.
"tapi...." ucapku ragu.
"tidak ada tapi-tapi, bukankah kita saling di untungkan" ucap Hari memastikan akan aman.
"baiklah" ucapku sepakat.
"ngomong-ngomong kamu udah pernah lihat laki-laki yang akan di jodohkan denganmu?" tanya Hari.
"belum pernah, entah kalau keluargaku. Kamu sendiri bagaimana?" tanyaku.
"aku hanya tahu ayahnya saja, karena berteman baik dengan ayahku" jawab Hari.
"kalau begitu Minggu depan kamu ikut aku ke rumah orang tuaku untuk aku kenalkan sebagai calonku ya" ucapku pada Hari.
Akhirnya sudah habis waktu ku untuk mencari calon jodohku, untung saja Hari mau membantuku pura-pura jadi jodohku. Kalau tidak, aku mungkin akan di jodohkan oleh kedua orang tuaku. Pulang kerja hari ini aku tidak pulang ke kontrakan, namun aku dan hari langsung pergi ke rumah orang tuaku.
"assalamualaikum" ucapku sambil mengetuk pintu.
"waalaikum salam, wah ini siapa Ai? Mungkinkah calon yang kamu janjikan pada kami?" tanya ibu.
"bisa kita bahas di dalam bersama ayah? masa ibu mau lihat tamu sendiri berdiri terus karena ingin tanya-tanya anak sendiri" kesal ku.
"anak ibu sensi sekali hari ini. hehehe... Ya sudah ayo kita masuk" pinta ibu pada kami"
"ayah mana Bu?" tanyaku.
"ada di belakang, sedang mandi. Tunggu sebentar ya. kamu siapa namanya? calonnya Ai ya " ucap ibu.
"saya Hari Bu, iya saya calon dari Aisyah" ucap Hari tanpa ragu.
"nak Hari sedang apa di sini?" tanya ayah tiba-tiba datang sontak buat kami semua terkejut.
"pak Wahyu" ucap Hari kaget.
"kalian saling kenal" tanyaku ragu karena takut akting kami terbongkar.
"mas kamu kenal dengan calonnya Ai?" tanya ibu.
Mendengar ucapan ibu, ayah pun tersenyum dan berkata.
"akhirnya tanpa kita jodohkan mereka ternyata kalau sudah berjodoh mereka bisa bersama" ucap ayah membuatku semakin bingung.
"Hari, maksud ayah apa ya?" tanyaku.
"pak Hari ini adalah teman ayahku yang mau menjodohkan anaknya denganku" ucap Hari sontak membuatku kaget.
Akhirnya kami sepakat mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Soal calon pura-pura pun tak luput dari penjelasan kami. Ayah sempat terlihat marah, namun sepertinya ayah tahan. Akhirnya ayah pun bertanya sesuatu.
"Saya hanya ingin bertanya pada kamu nak Hari. Apa kamu ingin melanjutkan perjodohan ini atau tidak? sejujurnya bapak kecewa dengan kebohongan yang kalian lakukan ini" ucap ayah.
"maaf pak, bukan maksud Hari mau mengecewakan bapak. Kami tidak tahu kalau ternyata Kami berdua yang sudah bapak dan ayah jodohkan. Sejujurnya saya sudah menyukai Aisyah semenjak SMA, tapi masalah keputusan perjodohan ini saya akan berikan pada Aisyah saja pak" jawab Hari sontak membuatku kaget.
Ayah tersenyum, lalu melihat ke arahku dan bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"bagaimana Ai, ayah ingin tanya keputusan kamu? jujur saja ayah marah karena kamu nekad mengenalkan laki-laki untuk calon pura-pura kamu. Untung saja nak Hari yang kamu kenalkan, kalau yang lain ayah akan marah besar" ucap ayah membuatku merasa bersalah.
"Sejujurnya Ai ragu yah, soalnya mas Hari ini anak dari pemilik kantor tempat Aisyah kerja. Rasanya Ai tidak pantas untuk Hari" ucapku ragu.
Tersirat raut wajah Hari yang kecewa mendengar perkataan ku.
"ayah tanya apa kamu mau lanjut perjodohan ini atau tidak, bukan nanya pantas atau tidak pantas" tanya ayah lagi.
"kalau Aisyah terserah ayah deh" ucapku malu.
"kalau ayah bilang kamu nikah sama nak Hari bagaimana?" ucap ayah pura-pura tegas.
"ya sudah Ai ikut saja" ucapku semakin malu rasanya.
Mendengar perkataan ku, Hari sangat gembira. Rasanya seperti mimpi bagiku menikah dengan Hari. Pertama kali aku mendengar perjodohan ini aku sangat menentangnya sampai-sampai aku meminta bantuan teman SMA ku untuk pura-pura jadi calonku. Pada akhirnya dia memang calon yang Allah SWT berikan untukku. Semakin menolak semakin Allah SWT dekatkan dengannya. Takdir Allah SWT tidak ada yang tahu.