Hari itu saat jam istirahat pelajaran aku bersama teman kelas ku sembari memakan bekal makan siang kami bercerita tentang mitos yang ada di desa kami masing-masing. Satu persatu teman-teman ku bercerita tentang hantu dan hal aneh yang pernah ada di desa mereka. Saat telah sampai pada giliranku, berbeda dari yang lain aku menceritakan tentang adanya ayam hutan langka nan spesial di hutan belakang desaku warna bulu sayap dan tubuhnya yang putih bersih serta kaki dan ekor yang bewarna kuning keemasan ditambah dengan suara yang indah. Namun hanya sedikit orang yang pernah melihatnya itu pun hanya para orang tua lanjut usia yang sudah mulai pikun apalagi mereka melihat hewan itu berpuluh puluh tahun yang lalu saat mereka masih muda sehingga banyak diantara orang di desaku yang meragukan kebenarannya.
Setelah selesai berbicara seorang temanku menanggapi cerita ku tadi. Ia mengajakku untuk mencari dan menangkap ayam hutan tersebut. Tapi aku menolaknya, bagiku mencari sesuatu hal yang tidak pasti hanya membuang waktu dan sangat merepotkan.
Erwin terus saja mengajakku lama kelamaan seakan terasa memaksa ia bahkan berkata bahwa jika kami bisa menangkap hewan itu pasti akan terjual dengan harga sangat mahal tapi aku tak tertarik dan terus menolak dengan berbagai alasan. Perlahan teman teman ku yang lain menatap ku seakan seorang pembohong dan hanya mengarang cerita itu. Tak lama dugaanku terbukti.
"Sudahlah Win berhentilah memaksa dia, aku pikir dia hanya mengarang cerita itu agar sejalan dengan perbincangan kita!" Suara nya terdengar mengejek dengan raut wajah yang terlihat sinis.
Terpancing amarah tanpa pikir panjang aku mengiyakan permintaan Erwin. Kami sepakat untuk melakukan pencarian pada hari sabtu pagi sebelum matahari terbit. Akhirnya hari sabtu pun datang pukul lima pagi Erwin telah sampai di rumahku, kami kemudian menyiapkan peralatan.
Aku membawa sebuah senapan angin dan sebilah pedang untuk membuka jalan dan Erwin membawa tas ransel kecil berisi air,makanan, dan peralatan lain serta sebuah senapan angin miliknya sendiri.
Kami mulai berangkat saat telah sampai di pinggiran hutan ketika hendak memasukinya kami disambut oleh sebuah pohon mahoni berukuran sedang dengan daun rimbun bergerak seakan tertiup angin padahal disekitarnya tak ada satupun pohon lain yang bergerak bahkan kami pun tak merasakan adanya hembusan angin sama sekali. Rasa takut sedikit merasuki tubuh ku berbeda dengan Erwin yang malah menembaki pohon itu sambil tertawa.
"Berhentilah main-main apa kau sudah lupa dengan tujuan awal kita? jangan melakukan hal yang dapat mencelakakan diri sendiri!" Tegur ku dengan agak kesal sambil memegang laras senapan miliknya.
"Maaf aku hanya merasa bersemangat setelah melihat hal aneh seperti itu." Jawabnya
"Kita disini ibarat tamu tak diundang. Ada banyak hal yang mengincar nyawa kita, jangan pernah mencoba memancing hal berbahaya, ayo segera menyelesaikan tujuan kita dan bergegas pergi dari tempat ini." Kata ku kemudian berjalan kembali di depan Erwin.
Tangan kanan Erwin tiba tiba memegang pundak ku dengan kencang, aku kemudian melepaskan genggamannya dan berbalik menatap wajah marahnya dan mata yang menyipit.
"Tunggu dulu!, Aku tau dirimu mau melakukan ini hanya agar tidak disebut pembohongkan? ayo kita kembali saja tak usah diteruskan perburuan ini, aku tidak mau bekerjasama dengan orang yang tidak sepenuh hati. Padahal sedari awal niat ku hanya ingin berpetualang dengan seorang pemburu handal seperti mu Dave!" Suaranya meninggi terdengar sangat kecewa dengan ku.
"Aku tidak peduli dianggap sebagai seorang pembohong! dari awal memang aku terpaksa melakukan perburuan ini tapi entah kenapa aku ingin sekali melihat hewan itu, maka dari itu aku membuktikannya bersama mu, aku hanya tidak suka dirimu membuang waktu dan peluru yang berharga dan terus bermain-main" aku coba mengatakan yang sejujurnya untuk meredakan amarahnya.
"Baiklah, aku tidak akan bermain-main lagi Dave!" Dia kembali tenang dan memahami maksud ku.
Kami berdua kembali berjalan memasuki bagian tengah hutan, cahaya matahari yang belum bisa menembus lebatnya dedaunan agak menyulitkan perjalanan tapi suara merdu burung berkicau saling bersahutan seakan menambah semangat ku untuk terus masuk ke tengah hutan, kami mulai kelelahan dengan rasa putus asa yang kian terasa. Yang ada hanya ayam hutan hijau biasa yang sesekali nampak berkeliaran dan berkokok nyaring sengau diantara semak.
"Dave!,Dave! lihat itu!, kita berhasil menemukannya" Erwin menepuk-nepuk pundak ku sambil menunjuk ke arah sebuah pohon.
Aku terperanjat melihat hewan itu benar-benar ada sama persis dengan apa yang ada di dalam cerita. Luapan rasa bahagia sekaligus lega memenuhi hati, tanpa pikir panjang kami langsung bersembunyi dibalik semak sambil berjalan mendekat kearah ayam hutan itu.
Door!
Erwin langsung menembak tepat di kaki ayam hutan itu.
"Yosh, kau mengenainya Win!." Aku langsung berlari untuk mengambilnya, tapi sialnya ayam hutan itu masih sanggup terbang menuju ke tengah hutan.
Kami berlari mengejarnya namun setelah mencari-cari ke segala arah kami kehilangan jejak. Karena lelah kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon sambil bersandar.
Tang...tang...tang....
Suara pasak pemecah batu yang dipukul oleh palu bodem terdengar lirih dari sebuah tenda warna putih khas penambang batu yang jaraknya sekitar beberapa ratus meter dari tempat kami.
Aku mencoba melihatnya melalui teleskop yang terpasang pada senapan angin, tak terlihat dengan jelas tapi samar-samar sepasang tangan kekar mengayunkan palu menghantam bebatuan, aku agak kagum di waktu sepagi ini ada seseorang yang telah bekerja keras seperti itu.
"Dave aku akan mencoba untuk bertanya pada orang itu. Siapa tau ia melihat ayam hutan buruan kita!" kata Erwin sembari berdiri.
"Tunggu dulu! Jangan mengganggu orang yang sedang bekerja, nanti saja kita lanjutkan pencariannya!" Ucap ku sambil memegang kakinya.
"Tak apa aku jangan khawatir aku tidak akan berbuat yang aneh aneh, sudah beristirahat lah saja oke!" Tukasnya lalu ia berlari kecil ke arah tenda itu.
Aku yang kelelahan tak bisa melarangnya entah kenapa ada sebuah pertanyaan yang mengganjal di hati ku tapi apapun itu sepertinya aku melupakannya. Angin pagi melewati tubuhku membuat mataku terpejam tak lama aku terbangun oleh sebuah teriakan.
"Dave!, lariiii!, Dave!, Lariiiii!" Erwin berteriak sangat kencang sambil berlari dikejar oleh pria bertelanjang dada membawa sebuah parang jauh di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan dasar bodoh!, aku sudah bilang jangan membuat masalah!" aku memarahi Erwin sambil berlari ketakutan disampingnya.
"Jangan banyak bicara sialan! teruslah berlari atau kita akan dibunuhnya!" Erwin malah balik memarahi diriku.
Kami lari tunggang langgang melewati rerimbunan pepohonan. Sesekali aku coba menoleh kearah belakang untuk melihat sejauh mana pria itu mengejar kami. Ia terus mengayunkan parang seakan ingin sekali membunuh kami, namun aku tak sempat melihat wajah orang itu karena saking takutnya.
Kami berlari cukup jauh dan ujung hutan masih beberapa ratus meter lagi. Aku sudah tak kuat menahan rasa lelah, nafas yang mulai terengah-engah dan lari ku kian melambat tertinggal oleh Erwin, akhirnya sebuah batu menjatuhkan tubuhku ke tanah. Aku mencoba berdiri namun rasa mual menghentikan usaha ku. Pasrah dengan keadaan aku hanya berharap ketika pria itu menangkap ku setidaknya ia mengampuni dan memaafkan kesalahan kami.
" Aaaaarrgg! Dasar lemah! Kenapa kau malah tidur disitu? Cepatlah berdiri atau kau akan mati!" Erwin berlari kembali ke arahku sambil berteriak-teriak.
Ia langsung melepas senapan yang aku bawa di punggung, sekilas ia menatap wajahku seketika itu pula ia kemudian menendang perut ku hingga aku muntah.
Door! door!
Erwin menembak pria itu sebanyak dua kali. Entah mengenai atau meleset pria itu berhenti mengejar dan berdiri terdiam, aku yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan memaksa tubuhku berdiri dan berlari sekuat tenaga. Perlahan sinar matahari mulai terlihat pertanda ujung hutan sudah dekat. Tak lama Erwin pun menyusul berlari dibelakang ku yang kembali di kejar pria itu.
Akhirnya kami berhasil keluar dari hutan lalu jatuh tersungkur di sebuah ladang, Erwin langsung duduk lantas mengisi peluru di kedua senapan angin dan membalikkan tubuhku yang tertelungkup kemudian memaksaku memegang kembali senapan angin untuk menembak pria itu ketika berhasil menyusul kami. Tapi ia tak kunjung datang akhirnya kami bisa sedikit menarik nafas lega.
Tergeletak di atas tanah hingga tak mampu bergerak. Dengan tenggorokan yang terasa terbakar, detak jantung tak beraturan, paru-paru sesak, kaki mati rasa sebab terlalu memaksakan diri sampai dibatas kemampuan tubuh benar-benar menyiksa kami. Butuh waktu satu jam untuk kembali pulih di waktu itu juga aku menyadari hal yang telah aku lupakan dari awal. Sebenarnya ada sesosok hantu yang dipanggil iblis penambang oleh para leluhur pendiri desaku, menurut cerita mereka yang pernah melihatnya akan dibunuh saat malam hari olehnya, tak ada alasan yang pasti mengapa ia akan membunuh orang yang pernah melihat dirinya tapi bagi orang yang telah melihatnya tak ada pilihan lain untuk membunuh iblis tersebut sebelum matahari terbenam.
"Dave ayo pergi dari tempat terkutuk ini, lihat pria itu ia tidak memiliki kepala dan terus berdiri di sana sambil mengawasi kita!" Erwin merengek dengan ketakutan.
"Kita akan membunuhnya sekarang atau nanti malam kita yang akan dibunuh olehnya! berhentilah merengek tidak jelas! Diam dan dengarkan ceritaku!" Ucapku sambil menarik kerah bajunya.
Aku mulai menceritakan semua kepadanya meski cerita itu seakan mustahil tapi nyatanya kami sedang berhadapan dengan iblis penambang itu. Erwin terperangah dan sangat ketakutan tapi aku terus berusaha memaksanya untuk menerima kenyataan dan membantu ku untuk menghabisi iblis tersebut.
"Sekarang dengarkan rencana ku, tugasmu memancing perhatian iblis itu dengan menembaknya sebanyak enam kali dari tempat ini, di saat itu juga aku akan masuk kedalam hutan melalui jalur sebelah kiri. Saat tembakan terakhir mu selesai aku akan langsung menikam jantungnya menggunakan pedang dari belakang setelah itu kita akan menyeret tubuhnya keluar dari hutan. Ingat jangan pernah mencoba memasuki hutan sebelum aku memanggil mu!."
"Baiklah aku akan mengikuti rencana ini dan tidak akan mengacau!" Jawabnya dengan mantap.
"Sebelumnya mari isi ulang tenaga kita dengan makan dan minum bekal yang kita bawa tadi" kata ku sambil membuka tas ransel.
"Yosh!, waktunya mengakhiri ini semua kau siap Erwin?!" Teriak ku bersemangat.
"Tentu saja!, mari kirim kembali dia ke neraka!" Teriakan Erwin tak kalah semangat dari ku.
Kami memulai serangan balasan. Aku segera berlari ke arah kiri dan masuk ke dalam hutan, diikuti tembakan pertama Erwin. Iblis itu bergerak menuju arah Erwin seperti dugaanku. Aku menghitung setiap suara tembakan, dua... tiga... empat... lima... enam.... Yosh, aku telah berada dibelakangnya kemudian pedang kuhunuskan tepat di bagian punggung sebelah kiri sambil berlari dengan sekuat tenaga.
"Aaaaarrgg, rasakan ini dasar ib-."
Sriiinggg!!!
Leherku hampir saja terpengal oleh tebasan parang. Beruntung aku dapat menangkis serangan itu kemudian menendang tubuhnya hingga ia terdorong beberapa langkah. Padahal kurang sedikit lagi aku mengenainya namun secara tiba-tiba dia berbalik kebelakang seperti telah mengetahui rencana kami. Tak lama ia kembali menyerang ku dengan membabi buta menargetkan bagian perutku. Aku tak bisa berbalik melawan hanya terus bertahan dari tebasan parang yang bertubi-tubi, dengan cepat ia dapat membuatku terdesak. Tak ada celah untuk membalikkan keadaan pedangku tak cocok untuk pertarungan dengan jarak yang sangat dekat.
Selangkah demi selangkah aku berjalan mundur hingga punggung ku menabrak sebuah pohon, seketika serangannya meninggi mengincar kembali bagian leherku. Aku segara menjatuhkan diri saat Ia dengan tenaga penuh mengayunkan parang.
Crack....
Suara parangnya terdengar keras saat mengenai pohon di belakangku hingga tertancap sangat dalam.
Aku langsung menebas kedua tangan dan menikam jantungnya. Tubuhnya ambruk ke tanah, namun ia tak kunjung mati malah memberontak untuk kembali berdiri. Tapi tubuhku yang menindih nya menghentikan usahanya. Aku kemudian berteriak memanggil Erwin.
"Woy Erwin! Kemarilah bantu aku membawa iblis ini keluar dari hutan!"
Kemudian ia datang sambil berlari kearah ku, kami berdua menyeret tubuh kekarnya tanpa mencabut pedang yang masih tertancap bersama ke dua tangan yang ku tebas tadi. Setelah melalui rerimbunan semak kami sampai di ladang. Tubuh iblis itu saat terkena sinar matahari terasa sangat panas membuat tangan kami terasa seperti terbakar, tak kuat menahan rasa sakit kami melepaskannya hingga sebuah percikan api dengan cepat membakar hingga menjadi abu tubuh iblis itu menyisakan bilah pedangku yang menghitam seperti arang.
"Dave ini sudah berakhir kan?"
"Yah! sepertinya begitu, sekarang baru jam setengah sembilan pagi dan kita sudah hampir terbunuh dua kali. Win aku minta padamu untuk merahasikan kejadian ini cukup hanya kita berdua yang tau!"
"Aku berjanji akan merahasiakan nya Dave, tapi kenapa dia disebut sebagai iblis penambang padahal tubuhnya saja masih seorang manusia?"
"Iblis itu sebenarnya tidak berbentuk ia hanya mencuri tubuh manusia yang mati lalu memakainya untuk memecah sebuah batu yang sangat keras bahkan sebuah pasak baja pun tak mampu menggores batu itu. Entah apa yang ingin ia ambil dari dalam batu itu tak ada yang tau, hanya itu yang aku ketahui dari buku milik kakek ku." Aku menjawabnya dengan menatap langit yang membiru.
Aku dan Erwin berjalan pulang memutari hutan dengan melewati ladang sejauh dua kilometer, sepanjang perjalanan kami mulai lebih membuka diri agar lebih mengenal satu sama lain, semenjak hari itu kami menjadi sahabat sejati.
Terimakasih telah membaca....