Suara lantang ayam jago yang berkokok mengawali hari ku menyambut pagi. Suara alarm dari ponsel beberapa anggota keluarga kami pun saling bersautan.
Memaksa diriku menyudahi mimpi indah yang rasanya baru sebentar terjalin.
Suara berita pagi di televisi, harum seduhan teh, kepulan asap kopi di cangkir papa, suara spatula mama dari dapur, suara mesin cuci yang sedang menunaikan tugasnya dan suara motor milik tetangga yg sedang dipanaskan turut absen secara otomatis.
"Cepetan mandi, kak! Ini bekalmu," kata mama, sang jantung keluarga. Yang selalu memastikan roda kehidupan rumah tangga aman terkendali.
tok... tok... tok...
"Des, cepetan dong mandinya!" teriakku.
"Tunggu! Gak usah gedor-gedor pintunya dong!" Desi menyahut dari dalam kamar mandi.
Aku dan adik kedua ku memang sering bersenggolan waktu. Jika adik-adikku yang ketiga dan keempat lebih bisa mengatur waktu dengan baik entah mengapa aku dan adik kedua ku sering meniatkan sesuatu yang sama di waktu yang sama pula. Mungkin karena saat kecil kita lebih sering menghabiskan waktu bareng.
Beberapa saat kemudian....
"Ma, aku berangkat ya," pamit ku kepada mama.
"Nih, kak... ongkos mu" kata mama sambil menyodorkan uang dua puluh ribuan. Gaji bulanan ku memang kuberikan semua kepada mama biar usaha dagang mama selalu berputar. Namun sebagai gantinya mama akan memberi ku ongkos harian.
Segera ku cium punggung tangan mama serta memeluknya dengan erat. Dan mama mengecup pipi kanan dan kiriku. Hal itu memang sudah jadi kebiasaan ku dan adik-adikku. Sedangkan adik-adikku sudah berangkat kesekolahnya masing-masing.
Aku berangkat kerja dibonceng papa dengan sepeda motor. Papa kerja di daerah Batusari, sedangkan aku di daerah mangga dua. Tapi papa akan mengantarkan aku sampai halte Trans Jakarta yang berada di dekat masjid Al-Azhar. Maksud papa, supaya aku tidak terjebak macet di sekitaran Cipulir dan Kebayoran.
Macet dan asap knalpot di Jakarta sudah mendarah daging, tapi mereka selalu membuatku pusing dan mabuk kendaraan setiap aku berlama-lama bergumul dengannya.
Beberapa puluh menit kemudian, sampailah kami ke tempat tujuan. Namun, papa melanjutkan perjalanan lagi sedangkan aku mulai menaiki tangga JPO. Kucium punggung tangan papa, meminta ridhonya.
Di dalam bus, aku membaca surah Yassin dari kitab majemuk yang selalu kubawa dalam tas. Mengisi waktu. Tak jarang aku memperhatikan para penumpang.
Membayangkan apa yang sedang mereka pikirkan, masalah apa yang sedang mereka hadapi. Malah aku pernah berpikir, tentang bagaimana jadinya bila aku bisa membaca apa yang sedang mereka pikirkan.
Perjalan ku masih berlanjut. Untuk sampai di gedung Harco Mangga Dua dari gunung sahari aku masih harus menyambung dengan KOPAMI jurusan Beos.
Dalam perjalanan aku banyak melewati pemandangan indah dan tempat-tempat fenomenal yang terkenal di Jakarta. Salah satu yang sangat berkesan untukku adalah saat melewati Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Harapan ku... suatu saat aku akan tampil di panggungnya.
Jam 8.40 WIB aku telah sampai di ruang kerja ku, disambut rekan-rekan ku yang telah menyeduh segelas kopi. Mereka sudah kuanggap jadi bagian keluarga besar ku. Aku sangat menikmati dan bersyukur, akan berbagai ilmu dan kesempatan yang Tuhan berikan.
Dalam usia yang belum lama lulus Sekolah Menengah Atas aku sudah mendapatkan dua kali promosi. Kali pertama saat menjadi staff administrasi gudang dan yang kedua saat menjadi marketing executive.
Waktu pulang kantor pun tiba. Kala rekan kerja lainnya bisa dengan bahagia pulang ke rumah bertemu keluarga, tapi aku harus mengejar bus jurusan Cikini untuk menuju ke kampus. Salah satu upaya dalam meraih cita-cita ku menjadi guru.
Bel berbunyi pukul 20.30 WIB tanda waktu perkuliahan telah usai. Aku pun langsung melesat menaiki bus tujuan terminal Blok M. Menuju Gelanggang Olahraga (GOR) Bulungan untuk latihan bersama teater Siluet pimpinan Sutradara R Tono. Yang dalam beberapa minggu ke depan kelompok kami akan mengadakan pegelaran teater di GKJ.
"Hai, Vita..." Heri menyapa ku.
"Hai, Heri... udah lama ya?" sahut ku.
"Enggak juga, baru aja selesai pemanasan.. cepet ganti baju gih!" ujar Heri yang akan mengambil sesuatu dari ruang sekretariat. Aku pun berjalan menuju toilet untuk mengganti pakaian kerja ku dengan T-shirt dan celana training yang ku bawa dari rumah.
Aku sangat menikmati saat-saat latihan teater. kalau bahasa ku... untuk keseimbangan hidup. Olah vokal, olah fisik, olah rasa. Sejenak berperan jadi orang lain. Dimana setelahnya ada rasa bahagia, puas dan tubuh terasa jadi lebih bugar.
Sekitar jam sepuluhan malam waktunya pulang ke rumah, menaiki angkot jurusan Ciledug dengan rupa penumpang yang berbeda dengan penampakan penumpang diwaktu siang hari. Ada yang masih pakai seragam kerja tapi sudah terkantuk-kantuk, ada yang berpakaian rapih dan wangi, ada yang tubuhnya bau kecut seperti aku. Dengan raut muka yang insecure. Saling awas satu sama lain.
Sekitar pukul sebelas malam aku telah sampai ke rumah dengan mama ku yang masih setia berjaga hingga semua anaknya ngandang. Kalau papa tidak sedang dinas, maka papa lah yang akan menunggu ku di teras depan rumah.
Dengan cuma melepas atribut yang tidak perlu lalu mencuci muka, tangan dan kaki aku langsung membuka tutup saji di meja makan dan mengambil piring yang sudah disiapkan oleh mama.
Sambil makan malam yang sangat terlambat aku pun bercerita pada mama tentang keseharian ku. Tak ayal mama juga turut berbagi cerita.
Seusai makan, aku lanjut untuk mandi bebek ke kamar mandi. Jam pun menunjukkan pukul 12 dini hari. Lalu menunaikan sholat Isya dan berlanjut lagi mencari kenyamanan untuk masuk ke dunia mimpi.
Mungkin bunga-bunga mimpiku baru saja bersemi namun kehidupan di berbagai sisi dunia akan selalu berdenyut. Menjalani hal-hal yang tak pasti namun telah dipastikan oleh Sang Maha Kuasa.
Banyumas, Januari 2021