Seluruh pasang mata menyorotnya dengan tatapan takjub. Seorang cowok berjalan ditengah lapangan SMA Taruna Bakti. Wajahnya yang asing membuat para siswa bertanya siapakah dia?
Kehadirannya membuat SMA Taruna Bakti heboh saat itu juga. Pesonanya memiliki daya tarik tersendiri, khusunya menarik perhatian siswi disana.
Dengan postur tinggi, beriris mata cokelat, dan alis mata tebal. Cowok itu menyandang sebelah ranselnya berjalan kearah salah satu kelas. Dan benar cowok itu memasuki kelas tersebut. Kelas XII IPS satu.
Namanya Natta Dwitama. Pindahan dari salah satu SMA terbaik di Jakarta. Sebut saja SMA Kesatuan.
Seisi kelas tercengang melihat kedatangan Natta yang tiba-tiba masuk ke kelas tersebut.
Ini masih pagi, tapi sudah membuat siswi dikelas itu mengigau.
"Ada bangku kosong kan dikelas ini?" tanya Natta pada segerombol siswi yang duduk di bangku depan.
"A-ada kok. Itu disana," jawab salah satu dari mereka sembari menunjuk bangku di deretan belakang.
Natta berjalan kearah bangku yang ditunjuk.
"Yang ini?" tanya Natta lagi.
Siswi-siswi itu tertegun, mereka tidak langsung menjawab melainkan menatap wajah Natta yang tampan tanpa berpaling kearah lain.
Natta duduk di bangku tersebut. Ia sedikit menyugarkan rambutnya kebelakang. Didalam kelas itu hanya beberapa siswa yang baru datang, dan semuanya menatap Natta dengan takjub tanpa berkedip.
Menit berikutnya, seorang gadis berkulit putih dengan rambut sepanjang bahu masuk kedalam kelas bersama satu teman dibelakangnya.
Kedua gadis itu tercengang melihat sosok Natta yang sudah duduk dengan manis memainkan ponselnya.
"Hay?" sapa Natta sedikit basa basi. Gadis itu tidak merespon. Ia langsung memposisikan duduknya. Meja mereka bersebelahan, jarak antara keduanya hanya selangkah.
Namanya Runita Andria. Siswi paling pintar dikelas ini. Dan satu temannya yang bernama Anin Ditta, tak kalah pintar.
"Wah Run, ganteng banget. Sumpah ga boong," seru Ditta terlihat kagum pada cowok disebelah Runi.
"Apaan sih, biasa aja gitu!" cibir Runi masih takmau melihat wajah cowok itu.
"Run?" panggil Natta.
Mata Ditta membelalak. Cowok itu tahu nama Runi. Bagaimana bisa?
"Run, dia manggil lo itu?" ucap Ditta.
"Udah biarin aja." Runi terlihat acuh, gadis itu malah pokus pada ponselnya.
"Lo kenal dia ya Run? kok dia tau nama lo?" tanya Ditta penasaran.
"Temen SMP gue."
"Ih Run, dia ngeliatin lo terus itu. Kasian tau."
Runi tak menjawab apa-apa lagi. Bel masuk mulai terdengar nyaring.
***
Natta sudah kembali pada bangku nya setelah memperkenalkan diri. Cowok itu terus tersenyum pada Runi yang terlihat acuh. Ditta sangat gemas pada sikap Runi, sebenarnya apa yang terjadi? Bisa-bisanya Runi mengabaikan cowok setampan Natta.
Pelajaran hari ini pun segera dimulai, yang dibimbing oleh Bu Nuni guru bahasa Indonesia.
Seluruh siswa diminta untuk membuka buka paket bahasa Indonesianya masing-masing. Natta terlihat bingung, hari ini adalah hari pertamanya masuk kesekolah barunya. Teman sebangku Natta kosong. Ia sama sekali tidak memiliki buku paket bahasa Indonesia.
"Run, kasih dia buku paket lo dong, kasian itu Natta kebingungan," ucap Ditta memohon.
Runi menoleh kearah Natta, dan benar wajah Natta terlihat panik. Dalam hati Runi tertawa melihat ekspresi lucu Natta saat ini.
"Yauda iya," jawab Runi akhirnya. Ditta pun tersenyum senang.
"Nat, Natta?" bisik Runi memanggil Natta. Cowok itu menoleh kearah Runi.
Gadis itu menyodorkan buku paket bahasa Indonesia nya. Natta pun dengan senang hati menerima buku Runi, dan tersenyum.
Natta membuka halaman yang dipinta Bu Nuni, dan menyalin catatan yang tertinggal.
***
Bel istirahat berbunyi. Natta cepat-cepat bangkit dari duduknya menghampiri Runi sebelum gadis itu pergi bersama Ditta ke kantin.
Natta menyodorkan buku paket itu pada Runi. Cowok itu juga berterima kasih padanya karena sudah mau membantu. Runi hanya mengangguk saja tanpa ekspresi.
"Dit, ayo ke kantin gue laper." Runi menarik tangan Ditta agar segera pergi dari cowok itu. Tapi sebelum Runi pergi, Natta sudah berhasil menyekal tangannya. Langkah Runi terhenti dan terpaksa membalikan tubuhnya menghadap Natta.
"Apa lagi, sih?" sebal Runi.
Natta tersenyum menatap wajah Runi.
"Gue ikut lo ya?" tawar Natta.
Mata Runi dan Ditta membelalak. Kaget mendengar ucapan Natta barusan.
"Gak!" tolak Runi.
Ditta menarik Runi sedikit menjauh dari Natta. Gadis itu berdebat dengan Runi, "gapapa lah Run, dia ikut kita," ucap Ditta meminta. "Ish lo apaan sih Dit, diakan bisa jalan sendiri, kenapa harus ikut kita?" sanggah Runi tak terima.
Dita melontarkan senyumnya pada Natta. "Gapapa Nat, bareng kita aja yuk," ajaknya.
Disisi lain, Runi mendecak sebal. Ia menggerutu terus-terusan tak habis pikir dengan sikap manis Ditta pada Natta.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Runi menyetujui, Natta diperbolehkan gabung bersama mereka.
***
Mereka memilih duduk dipojokan kantin. Sengaja agar siswi disana tidak memandangi Natta yang kelewat tampan. Runi yang memilih tempat duduk itu.
"Mau pesan apa Nat? lo apa Run?" tanya Dita pada keduanya.
"Kayak biasa aja Dit, minum nya juga, ya," jawab Runi.
"Gue mie goreng boleh deh, minum nya air mineral dingin aja, Dit," ucap Natta kemudian.
"Oke." Ditta mengangguk dan pergi ke stand mbak Susi untuk memesan.
Runi mengambil ponselnya didalam saku baju dan memainkannya. Di depan Natta tampak memperhatikan Runi saja. Cowok itu terus tersenyum memandangi wajah Runi yang tampak kesal.
"Run?" panggil Natta memecah keheningan diantara keduanya.
Runi menoleh, masih dengan tatapan tak sukanya.
"Apa?"
"Maaf ya," lirih Natta.
Runi menaikan satu pangkal alisnya. "Buat apa?" katanya.
"Maafin gue nggak nepatin janji kita dulu."
Runi tertawa, lalu kembali diam mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Natta adalah mantan pacar dari Runi saat keduanya menginjak bangku sekolah menengah pertama atau SMP.
Keduanya menjalin kasih selama dua tahun lebih, perkenalan mereka terjadi saat masa orientasi siswa atau MOS yang awalnya tidak sengaja saling bertabrakan saat itu.
Jika diingat memang lucu, masa dimana mereka tumbuh menjadi sepasang remaja yang baru mengenal cinta.
Runi adalah cinta pertama Natta saat itu. Natta sangat mencintai Runi, gadis pintar yang memiliki paras cantik dan sampai sekarang Natta tidak bisa berbohong, Runi memang benar-benar cantik.
Kala itu Natta pernah berjanji untuk tetap menemani Runi, dan mereka pernah sepakat untuk memilih sekolah yang sama jika SMA nanti, namun harapan itu sirna begitu saja mengetahui Natta yang saat itu masih berada di bangku kelas tiga SMP harus pindah sekolah ke luar kota. Dengan alasan Papa Natta dipindah tugaskan dan menetap selama tiga tahun disana.
Runi mendengar itu sangat kecewa, dan meminta untuk mengakhiri hubungannya dengan Natta. Saat itu Natta menolak, namun Runi tetap bersikeras ingin putus, dan kesepakatan itupun terjadi. Runi menjauhi Natta dengan menghapus semua kenangan bersamanya selama dua tahun lebih. Mulai dari foto, nomor telepon, dan memblokir semua akses media sosial lainnya.
"Gimana, dimaafin kan, Run?" Natta masih menatap Runi dengan penuh harapan. Sementara Runi masih diam mematung.
"Run?" panggil Ditta yang sudah kembali dengan membawa nampan pesanan mereka.
Runi tersadar, itu suara Ditta.
"Bengong aja, mikirin apa lo?" cibir Ditta sembari menyodorkan mie goreng pesanannya.
"Mie goreng juga, Run?" kata Natta yang kembali ingat makanan favorit keduanya saat di SMP dulu.
Runi hanya tersenyum canggung dan mulai menjamah makanannya.
***
Dikelas sedang ada free less. Runi memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Menghabiskan waktu disana dengan membaca buku. Runi sebenarnya mengajak Ditta untuk menemani nya, namun Ditta menolak. Anak itu memilih untuk tidur dan memanfaatkan jam kosong ini. Disatu sisi Runi juga tidak bisa memaksa dan memberanikan diri ke perpustakaan seorang diri.
Saat Runi mulai berjalan keluar, Natta diam-diam mengikutinya dari belakang. Gerakannya sangat halus sehingga Runi tidak menyadari itu.
Runi sampai di depan perpustakaan. Ia mulai melangkah masuk kedalam diikuti oleh Natta juga. Runi melihat sekeliling perpustakaan yang terlihat sepi. Hanya ada Runi dan satu orang disana sedang memilih buku dirak ujung. Runi mulai mencari buku yang ingin ia baca, ia berjalan menyusuri judul buku disetiap rak tersebut.
Diam-diam Natta menyelinap masuk, menyembunyikan tubuhnya pada rak buku tersebut. Semua ini demi Runi, ia ingin menebus kesalahannya dimasa lalu, agar Runi mau memaafkannya.
Diatas kepala Natta, ada buku cerita yang kelihatan menarik untuk dibaca. Natta mengambil buku itu, lalu menghampiri Runi dari belakang.
"Cari buku apa?" Runi kaget mendengar suara itu. Ia membalikan tubuhnya dan benar sosok Natta sudah berdiri dibelakangnya.
"Ini," Natta memberikan sebuah buku cerita yang baru di pilihnya kepada Runi. Gadis itu tidak percaya apa yang sudah dilakukan oleh Natta kepadanya. Rasa sesak didada Runi mulai terasa. Matanya sedikit memanas. Runi menyadari itu, sifat care Natta masih besar kepadanya.
"Ambil Run," Natta lagi, lagi memaksa Runi untuk menerima buku cerita pilihannya itu. Natta menarik tangan Runi untuk menggenggam buku tersebut. Tanpa penolakan akhirnya Runi menerima.
Runi tak habis pikir, ia masih mengingat kejadian empat tahun silam dimana Natta memaksa Runi untuk membaca sebuah buku cerita pilihannya. Ia mengalah dan menuruti saja keinginan Natta saat itu. Mereka suka menghabiskan waktu di perpustakaan dengan membaca berbagai macam buku.
Gadis itu berjalan kearah meja tempat untuk membaca yang disediakan diperpustakaan. Natta masih mengikuti langkah Runi. Cowok itu mengambil posisi duduk disebelah Runi.
Degub jantung Runi berdetak lebih cepat. Rasanya seperti melihat Natta pertama kalinya di SMP. Seperti inilah yang sedang dirasakan Runi saat cowok itu memandangi Runi terus-terusan.
Jangan liatin gue terus, Nat, batin Runi risih.
Namun Runi masih terus membaca cerita dibuku itu.
Natta memegang tangan Runi, membuat ia tersentak dan menoleh.
Runi memberikan tatapan untuk Natta segera melepaskan tangannya, Natta tersadar dan segera melepaskan tangan Runi.
"Maaf Run," katanya.
Gadis itu hanya menggeleng dan kembali melanjutkan bacaannya.
"Run, liat gue bentar?" pinta Natta yang kembali menyentuh tangannya.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja," jawab Runi masih takmau memalingkan wajahnya pada Natta.
Natta menghela napas panjang.
"Lo benci sama gue?"
Runi masih pokus pada buku ceritanya, lalu mengalihkan pandangannya menatap Natta.
"Enggak," jawabnya singkat.
"Serius?"
"Iya."
"Kenapa lo ngehindari gue, Run?"
"Kenapa lo nggak nepatin janji lo, Nat?" serangnya balik.
Natta terdiam. Keduanya saling beradu pandang dalam jarak yang terbilang dekat. Runi melihat mata Natta sedikit berbinar.
"Gue mau nebus semuanya, Run. Gue mau minta maaf."
"Minta maaf? Sampe lo harus pindah sekolah kesini?" tanya Runi masih tidak percaya.
"Iya, Run. Bokap gue udah pindah lagi ke Jakarta. Dan gue masih ingat sama janji kita dulu. Lo mau maafin gue kan, Run?"
"Ada satu syaratnya," kata Runi.
"Apa Run?"
Runi tersenyum, membuat Natta bingung sekaligus penasaran.
"Pulang sekolah nanti gue bilang," ucap Runi.
Natta pun mengangguk menyetujui persyaratan dari Runi dan ia harus menunggu sampai bel pulang berbunyi.
***
Seluruh siswa sudah berhamburan keluar kelas bersiap untuk kembali kerumah. Begitu juga dengan Natta yang masih menunggu persyaratan yang akan diajukan oleh Runi. Dengan sabar Natta menunggu Runi membersihkan kelas karena hari ini adalah jadwal piketnya.
Natta pun tak segan membantu Runi menyapu agar lebih cepat siap. Disana hanya ada Runi dan satu temen perempuan Runi yang membantunya, sisanya sudah kabur dan berpura-pura lupa jika mereka piket.
Setelah sepuluh menit, akhirnya selesai juga. Natta sudah tak sabar ingin mendengar persyaratan yang diajukan Runi. Sebenarnya Natta juga ingin mengatakan sesuatu pada Runi.
Posisi mereka saat ini saling berhadapan dikelas yang sudah kosong itu. Runi mengatakan pada Natta untuk pergi kesebuah tempat dimana dulu sering ia kunjungi, dengan senang hati Natta menerimanya.
Keduanya menuju parkiran. Disana motor ninja milik Natta terparkir dengan beberapa kendaraan lainnya yang tinggal sedikit.
Runi naik keatas motor Natta. Rasanya sangat beda sekali. Dulu Runi dan Natta naik angkot ataupun bus saat pulang sekolah. Dan ini baru pertama kalinya Runi merasakan di bonceng oleh Natta. Tidak bisa dipungkiri, Runi sangat bahagia.
Keduanya segera melaju kesebuah taman mini tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu.
***
Motor Natta berhenti didekat sebuah taman yang berada di dekat SMP-nya dulu. Runi turun, ia memegang pundak Natta. Sebenarnya Runi malas melakukan itu namun mau tidak mau Runi harus menyentuhnya. Senyum Natta terbit, saat Runi barusan memegang pundaknya.
Runi berjalan kesebuah kursi yang ada di taman tersebut dan duduk. Natta mengikuti saja, mengambil posisi duduk disebelahnya.
"Lo masih ingat tempat ini?" tanya Runi memulai pembicaraan.
"Iya Run, ini tempat favorit kita dulu, kan?"
"Gue sering kesini setiap sore," ucap Runi jujur. Mendadak air mata Runi meluncur jatuh, dan itu dilihat oleh Natta.
Cowok itu menyeka nya dengan tangan kanannya tepat dipipi Runi. Membuat gadis itu menoleh.
Natta menarik tangan Runi lalu menggenggamnya erat, tepat dipangkuan nya.
"Run, Lo tau kenapa gue nemuin lo saat ini?"
"Gue pengin nebus semua kesalahan gue, Run. Maafin gue Run, gak bisa nepati janji kita dulu."
Saat mengatakan itu air mata Natta menetes dengan sendirinya.
"Sampe sekarang belom ada satu orang pun yang bisa gantiin lo, Run. Gue sayang sama lo. Gue belom mau kehilangan lo Run."
Runi menatap Natta dengan genangan air mata yang sudah meluncur deras dikedua pipinya. Gadis itu hanya diam sampai Natta selesai bicara. Runi melihat kejujuran di mata Natta, bahkan cowok itu tidak ragu untuk menumpahkan kesedihannya selama ini.
Gadis itu memeluk Natta. "Maafin gue ya Nat. Gue dulu bego banget."
Runi kembali melepaskan pelukan Natta, namun cowok itu menahannya agar Runi tetap bisa memeluknya.
"Gue gamau kehilangan lo Run," lirih Natta.
Dengan rasa tidak mau kehilangan, Natta pun akhirnya melepaskan pelukannya.
Kedua mata mereka memandang sangat lekat. Dengan mata yang sudah berbinar-binar.
"Gue juga masih sayang sama lo, Nat." Runi menghapus air matanya, lalu menghela napas panjang. Mengembuskan nya berulang kali.
"Apa kesempatan itu masih berguna?" lirih Runi membuat Natta tak percaya.
"Kalau lo kasih kesempatan itu, gue janji Run, gue akan jaga kesempatan terakhir itu," sahut Natta dengan senyum yang mengembang.
"Apa gue harus percaya?" tanya Runi memastikan.
Natta mengangguk. "Lo boleh percaya saat gue bisa jaga kesempatan itu, Run," ucapnya sungguh-sungguh.
Runi langsung memeluk Natta, tangisnya tumpah pada bahu cowok itu. Cowok yang membuatnya selama ini menunggu. Dan karena ia jugalah Runi sulit untuk membuka hati, melupakan cinta pertamanya. Sama seperti cinta pertama Natta kepadanya.
***
TBC...