Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Suasana Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya hari ini lumayan begitu rame, apa lagi di salah satu Fakultasnya. Itu semua terjadi, karena ada dosen baru yang lumanyan membuat mata meleleh jika memandangnya. Ahmad Nayif Furqon Zam Zami, begitulah dia memperkenalkan diri di salah satu ruang pertemuan di Semester 5. Fak.Terbiyah dan Keguruan, Bidang study Bahasa Arab.
Wajah tampan sekaligus ramah membuat beberapa Mahasiswi enggan berpaling darinya, meski pembelajaran materi sudah usai. Dan terus saja perhatian tetap tertuju padanya yang berjalan menyusuri lorong kampus.
"Fika, darimana saja kamu.?" Tanya salah seorang Mahasiswi, kepada Mahasiswi yang baru saja datang ke ruang pertemuan.
"Baru selesai wawancara untuk kandidat Asdos di gedung sebelah." Jawabku dengan senyum simpul.
Aku, Afiqah Akmalia. Sebagian temanku sangat mengenalku dengan seorang gadis yang ambisius dan tekun dalam belajarku. Dan itu akan wajar aku lakukan karena memang aku punya tujuan untuk membanggakan kedua orang tuaku yang telah mengirimku ke sini.
"Fik, tadi Dosen baru manis banget. Dagunya bikin ke semsem. Sumpah manis banget, dan suaranya nyesss banget di telinga." Ujar Latifa teman baik ku selama berada di Surabaya ini.
"Sungguh.?" Jawabku tanpa menoleh ke arahnya dan memilih membuka catatan Irna untuk menyalin materi yang aku tinggalkan tadi.
"Sudahlah, aku rasa itu juga tidak akan berpengaruh untukmu." Kata Irna dengan muka kecut karena tidak dapat menyalurkan kebahagiaannya dengan bercerita kepada teman super cuek itu.
Sudah cukup lama kedua teman itu saling menemani, dan nyatanya Dosen pembimbing untuk materi selanjutnya tidak bisa hadir, sehingga membuat mereka beranjak dari tempat mereka untuk kembali tempat tinggal masing masing, tepat saat adzan Asar dari Masjid Kampus berkumandang.
"Fik, aku duluan yah. Aku lagi dapet." Kata Latifa, saat aku sudah menghentikan langkahku untuk mengajaknya shalat Asar sekalin sebelum kembali.
"Ya, baiklah. Hati hati di jalan. Assalamu'alaikum." Jawabku dan mengambil langkah lain untuk menuju ke Masjid.
Usai shalat berjama'ah aku masih senatiasa berada di tempatku, dan seperti kebiasanku sehabis shalat maka akan melakukan deresan sedapat dapatnya guna untuk menjaga hafalanku.
Pelan dan pasti suara mengalun pelan, di serambi Masjid yang sudah mulai sepi dan sesekali tenpa terasa suara ku akan berirama sesuai dengan suasana hatiku. Dan hari ini hatiku cukup bahagia, itu karena dua perkara sekaligus. Pertama karena Pernikahan sahabatku di desa, yang kedua karena keberhasilanku menjadi kandidat Asdos di Ilmu Tafsir.
Cukup lama aku berada disini, dan sudah berapa Juz pula yang telah ku baca, lantas akupun menyudahi deresanku bertepatan dengan tirai dari jendela serambi Masjid yang di singkap oleh seseorang, namun tidak terlihat siapa yang membukanya, bahkan posisiku juga tidak memungkinkan untuk di lihat olehnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seminggu berlalu, dan aku cukup di buat sibuk oleh kegiatan ku di Kampus, ataupun di Pesantren dimana Abi menitipkanku. Pondok Pesantren Darussyifa' tempatku sekarang mengamalkan Ilmu juga sekaligus menuntut Ilmu.
Dan selama dua tahun disini, Bu Nyai Wajha memberiku tugas untuk membantu mbak mbak yang ingin menjadi Hafidzul Qur'an seperti aku. Dan malam ini, Nyai Wajha sengaja menyuruhku untuk mengajari bacaan qori' sab'ah atas perintah dari Kyai Imron. Lantaran beliau yang mengetahui bahwa aku Putri dari Abi Farid, temanya belajar di Yaman.
Dengan penuh tanggung jawab, akupun melaksanakan tugasku, lantas kembali ke kamar ku setelah acara belajar usai. Dan berfokus pada materi kuliahku besok, dengan mengechek beberapa email yang masuk, ataupun Chat dari kelompok yang di buat untuk kami. Hingga larut malam, aku masih berkutat dengan materiku, hingga chat dari Latifa cukup membuatku tercengang.
"Fik, besok materi dari Pak Nayif, harus datamg. Titik." Pesan yang di kirim oleh Latifa.
"Pak Nayif itu siapa..?" Tanyaku, karena baru kali ini mendengar Dosen bernama Nayif.
"Pak Nayif Furqon Zam Zami. Dosen Bahasa Arab." Jawab Latifa lagi dan seperti aku pernah mendengar nama itu.
"Baiklah." Jawabku singkat saja.
"Sampai ketemu besok, Fika cantik."
"Assalamu'alaikum." Jawabku dengan cepat.
"Wa'alaikumussalam, Ustadzah." Jawab Latifa.
Usai membalas Chat dari Latifa, akupun segera membereskan buku buku, laptop ku, dan peralatan rulisku, lantas memasukannya ke dalam tas yang hendak kau bawa besok ke Kampus. Setelah semua usai akupun bergegas membaringkan tubuhku di kasur lantai dengan Ponsel berada di tanganku untuk melihat kiriman Foto pernikahan sahabatku yang di kirim oleh Bunda, dan senyumku seketika melebar saat ku lihat senyum mempelai wanita yang melengkung dengan sempurna.
"Selamat menempuh hidup baru Mbak Zill, semoga menajadi kelaurga yang sakinah, mawaddah, warohmah dan barokah." Ucapku lantas menaruh ponselku dan menarik selimutku untuk lekas tidur.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku terus memperhatikan Dosen baru yang tengah menerangakn materinya di depan ruang pertemuan ini, dan bukan karena memperhatikan materinya, melainkan memperhatikan wajahnya yang familar buatku. Hingga materi usai aku masih belum faham betul apa yang di sampaikan tadi
"Fik, terpesona sekali kayaknya sama Pak Nayif." Kata Latifa saat kami hendak berkemas untuk pulang.
"Bukan gitu, wajahnya kayak enggak asing buatku. Tapi, tidak tahu pernah ketemu dimana." Jawabku masih dengan mengingat ingat.
"Mungkin saja mirip sama suara seseorang di rumah kamu." Jawab Latifa sambil beranjak pergi dari ruang pertemuan dan akupun juga mengikutinya.
Kami terus bercapak capak sambil berjalan, hingga tidak terasa kami sampai di parkiran dan kami melangkah menuju ke kendaraan kami masing masing.
Lima menit keluar dari area kampus, motor matic yang ku kendarai tiba tiba seperti sedikit oleng, dan setelah aku menepikan motorku lantas berhenti, dapat terlihat bahwa ban motorku tengah bocor. Dengan menghela nafas dalam akupun mendorong pelan motorku dengan peluh yang bercucuran.
Lumayan jauh juga aku mendorong motor maticku untuk mencari tukang tambal ban, namun sama sekali tidak ku temukan, Hingga sebuah mobil menepi mencegat jalanku, lantas keluarlah Dosen yang tadi mengajar di kelas ku.
"Ada apa dengan motornya.?" Tanyanya saat sudah mendekat ke arahku, lantas dengan cepat mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya dna di berikan kepadaku. Harum farfum aroma maskulin memenuhi indra penciumanku saat sapu tangan itu ku usapkan di wajahku.
"Bannya bocor Pak, dan sepetinya semua tambal Ban sedang tutup." Jawabku dengan menundukan pandanganku darinya, karena dari yang dapat ku liaht dia tidak sama seperti Dosen kami pada umumnya.
"Sampean tinggal dimana.?" Tanyanya dengan melirik jam di tangannya.
"Saya tinggal di Jalan Nias, Pak. Tepatnya di Pesantren Darussyifa'." Jawabku.
"Darussyiffa', Kyai Imron Baharudin.?" Tanyanya dengan nada sedikit tercengang.
"Enggeh Pak." Jawabku.
"Kebetulan sekali, saya juga akan kesana. Kalau begitu ayo bareng saja." Jawabnya. "Di dekat sini ada rumah teman saya, biar saya titipkan motor sampean disana." Lanjutnya.
"Apa tidak akan merepotkan Pak.?" Ucapku.
"Tentu saja tidak, karena di dekat rumahnya ada bengkel. Lagian ini sudah snagat sore, akan susah cari angkot jurusan jalan Nias." Jawab Pak Nayif. "Sampean tunggu disini sebentar biar motornya tak antar kesana." Lanjut Pak Nayif dengan sudah meraih motorku.
Tidak berapa lama, Pak Nayif sudah kembali lagi dengan sebotol air mineral dingin dan memberikan kepadaku, lantas membukakan pintu mobil untuk ku.
"Ayo." Ucapnya dan dengan sedikit ragu ragu akupun masuk ke mobil Pak Nayif. Dan di dalam mobil Pak Nayif mencoba mengajakku untuk mengobrol mengenai materi kuliah dan hal hala remeh temeh lainnya hingga perjalan ini berahir setelah setengah jam lamanya.
"Ngapunten Pak, biarkan saya turun di depan gerbang saja." Ucapku dengan rasa takut takut saat Mobil Pak Nayif sudah membelok ke jalan Pesantren.
"Tidak perlu, Sampean tidak akan dapat Takjir, biar nanti saya yang menjelaskan ke Kyai Imron." Jawab Pak Nayif dengan santai seperti tau kekawatiranku. Dan akupun hanya bisa mengikuti arahannya hingga mobil benar benar berhenti di depan Dhalem Kyai Imron, yang dimana beliau sedang berada di teras bersama dengan Nyai Wajha dan Putra ke dua mereka.
"Assalamu'alaikum." Sapa Pak Nayif begitu kakinya menapak di undakan teras Dhalem Kyai Imron, dan begitu nampak terlihat berbeda dari sikapnya tadi. Kini Pak Nayif tampak sangat berkharisma, apa lagi saat Kyai Imron memeluknya jelas terlihat sekali jika dia bukan orang biasa saja. Dan senyum Nyai Wajha terhadapku juga nampak berbeda dari biasanya seperti ada misteri yang sedang di sembuyikan. Dan akupun bergegas pamit ke Asrama sesaat setelah menyalami tanga Nyai Wajha.
"Monggo pinarak Gus." Ucap Kyai Imron, yang sempat aku dengar sebelum aku bena rbenar menghilang di samping Ndalem.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sekian bulan berlalu, dan aku semakin menaruh respeck untuk Gus Nayif. Karena, meskipun para mahasiswa mengelu elukan ketampanannya, namun sama sekali dia tidak terpengaruh bahkan mau menanggapi ucapan mereka yang keluar dari konten materi yang di sampaikan.
Dan rasanya inilah kali kedua dadaku berdesir dan memberi semangat yang berbeda saat melihat Gus Nayif setelah cinta monyetku semasa SMP. Namun, semangat itu cukup aku saja yang tahu, karena aku masih punya kwajiban daripada hanya mengurusi tentang perasaan yang sudah pasti nanti akan bertemu juga dengan namanya yang telah tercatat di Lauhul Mahfudz.
Hubungan ku dengan Gus Nayif juga standart saja seperti Dosen dan Muridnya, meski kami sering terlibat obrolan untuk berdiskusi materi.
Hari ini cukup melelahkan bagi kami, karena satu hari full penuh kami habiskan di ruang pertemuan, karena ke tiga Dosen kami sedang bersemangat memberikan materinya sebelum kami PPL bulan depan. Hingga Asar ini kami masih stay di kampus dan hanya di beri waktu sebentar Istirahat untuk melakukan Shalat Asar, lantas kembali berkutat dengan materi lagi.
Dengan mendesah kesal Latifa, mengurut keningnya. Karena rencana malam minggunya gagal, dan harus kembali menyiapkan materi untuk hari senin jika tidka ingin dapat nilai C lagi.
"Aku langsung pulang ya, Fik. Capek banget." Ucap Latifa.
"Enggak sekalian nunggu Mahrib, Tif." Ucapku sambil mengemasi buku buku.
"Enggak ah, gerah banget mau mandi juga." Jawabnya "Ya udah aku duluan." Lanjutnya dengan bergegas keluara dari ruang pertemuan.
Dengan menghela nafas dalam akupun berjalan menuju Masjid Kampus, membersihkan diri sebentar dan fokus mengejar derasanku yang tertinggal Asar tadi. Dengan menutup mataku, akupun menikmati setiap ayat dari bacaanku dan tanpa terasa mungkin suaraku sedikit nyaring, karena ku dengar seseorang tengah memanggil namaku di balik tirai pembatas Jama'ah perempuan dan Laki-Laki.
"Afiqah.?" Ucapnya dengan jelas hingga membuatku membuka mataku dan membuat netra kami bertemu lantas menggunci beberapa saat, meski bibirku tetap komat kamit melanjutkan deresanku. Gus Nayif kembali menutup tirai itu setelah aku menyudahi dersanku.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seminggu berlalu, dan dari peristiwa petang itu, sama sekali Gus Nayif tidak menyinggung soal itu, ataupun bertanya sesutau terhadapku, dan cendrung menjauhiku. Tapi setelah kejadian itu aku melihatnya berkunjung ke Dhalem Kyai Imron pas bertepatan dengan aku yang sedang mengajar Qori'.
Sebulan dua Bulan berlalu dan hatiku sedikit tidak tenang, saat ku rasa Gus Nayif mulai sedikit demi sedikit memberi jarak untuk ku. Mungkinkah dia mengira bahwa aku sengaja melakukan hal itu di senja kala itu ,untuk satu alasan.
Semuanya terus berlalu dan tanpa sadar sudah hampir dua tahun lamanya Gus Nayif menjadi Dosen bagiku, dan seperti orang asing yang tiba tiba menyelinap masuk di relung hati yang terdalam namun tidak tergapai. Dan setiap ada pertemuan pasti ada ahrinya, begitupun dengan kami, karena saat ini sudah tiba untuk ku Wisuda. Dan ini kali pertama kami berbincang kembali setelah senja di Masjid kampus waktu itu, meskipun aku sering melihatnya berkunjung di Dhalem Kyai Imron seminggu sekali.
"Selamat dan sukses untuk sampean Ning Fika." Ucapnya pelan, dan aku yang mendengar dia menyebutku Ning dengan segera mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Gus bagaimana sampean tau saol itu." Jawabku dengam masih memperatahankan menatapnya, dengan cepat Gus Nayif tersenyum tipis ke arahku.
"Permata meski terbenam oleh lumpur akan tetap terlihat bercahaya." Ucap Gus Nayif dengan melebarkan senyumannya. "Hari pertama saya datang ke kampus ini, hati saya di buat bergetar oleh suara seorang Hafidzul Qur'an yang tengah mencoba Istiqomah dengan deresannya. Dan sayangnya saat saya hendak melihat pemilik suara itu ternyata dia sedang tidak mau memperlihatkan wajahnya kepada saya. Sekian bulan berlalu suara gadis itu masih tetap menjadi ratu bagi hati saya, hingga aku melihatnya bahwa pemilik suara yang merdu itu adalah sampean. Dan begitu saya tahu itu adalah sampean, sayapun menemui Kyai Imron untuk mengkhitbah sampean, tapi Kyai Imron menyuruh saya untuk matur kepada Abi sampean, yang tak lain adalah Kyai Farid Hazmi Maulana, Putra dari Kyai Ahmad Aliyyul Maulana, dan dari situ sayapun beranikan diri untuk menemui Abi sampean." Lanjutnya dengan teratur, dan membuat aku ternganga mendengar ucapannya, tanpa bisa berkata apa apa untuk menjawabnya.
"Dua tahun lamanya saya sudah menunggu sampean, karena perjanjian dari Abi sampean tidak boleh menganggu sampean yang sedang belajar." Lanjutnya lagi
"Karena itukah sampean menjahui saya." Jawabku.
"Demi kebaikan sampean." Jawab Gus Nayif dengan senyum yang masih senantiasa tertahan di bibirnya, tanpa memerdulikan airmataku yang sudah merebak membasahi pipiku.
"Sampean tidak tahu, betapa saya berfikir bahwa apa yang telah membuat sampean sengaja menjaga jarak dari saya. Atau tidak cukup pantaskan diri saya untuk sampean." Jawab ku dengan isakan yang semakin sering, tanpa memerdulikan riasanku yang akan hancur oleh air mataku.
"Maafkan saya, saya juga tidak bisa berbuat apa apa, selain untuk menjaga amanat dari Abi sampean dan lulus sebagai calon suami sampean." Jawab Gus Nayif dengan menyeka airmataku menggunakan sapu tangan yang dulu pernah di pinjamkan untuk ku.
Dan aku terus terisak, hingga pelukan hangat dari Abi juga Bunda menenangkan tangis yang sesungguhnya bahagai ini. Dan nyatanya yang di pendam itu tidak selamanya akan terkubur bersama sang waktu. Karena kadang Allah memiliki rencana lain untuk menyatukan yang telah hilang dan memperbaiki yang rusak. Seperti yang mempersatukan aku dengan seseorang yang diam diam aku cintai dan juag diam diam mencintaiku..
........ Tamat .....