"Kamu ikut acara pelantikan Pasus Paskibra hari Sabtu ini?", tanya Andri pada Dudi.
"Ya jelas dong aku ikut... kalau nggak berarti nggak sah jadi anggota dong... tahun depan harus ikut lagi dengan adik kelas... tengsin dong dilantiknya dengan adik kelas", Dudi menjawab dengan berapi-api.
"Kamu ikut juga Toni?" sekarang Andri bertanya pada Toni.
"Ya aku juga ikut... ini kan acara wajib untuk anggota Pasus Paskibra.
"Dadan Maulana sebagai penjuru !!" terdengar teriakan Dadan untuk mengajak anggota pasukan Pasus Paskibra berbaris. Ia paling tinggi diantara teman-temannya.
Selama hampir dua jam, mereka latihan baris berbaris. Sebelum latihan baris berbaris dimulai, biasanya mereka berlari bersama dalam satu barisan sebanyak empat keliling sekolah, yang jadi masalah... sekolah mereka sangat luas jadi berlari bersama sebanyak empat keliling itu lumayan melelahkan.
***
"Hai Ton! kamu sudah datang... baru kita yang datang nih", Andri menyapa Toni dengan girang, karena dari tadi cuma dia anggota junior yang baru hadir.
"Iya nih... kayaknya kita yang paling semangat untuk pergi... hehehe", Toni tertawa.
"Kamu bawa apa saja?... Ranselmu kelihatan berat sekali Ton".
"Selain yang diperintahkan untuk dibawa, aku bawa makanan ringan, susu kotak, sereal, telor asin..."
"Ya ampun Ton... kita bukan mau piknik ... kita mau diplonco... kapan ada waktu buat makan itu semua... jangan karena ibu kamu punya warung ... kamu bawa semua isi warung ibumu", Andri membelalak pada Toni.
"Deuh... sekarang aja kamu ngomong kayak gitu... kalo nanti kebagian makanannya, kamu juga ikut seneng", Toni meledek Andri. Lalu mereka tertawa bersama.
Akhirnya teman-teman yang lainnya juga telah berdatangan. Selain itu truk tentara yang dipinjam untuk mengangkut siswa ke tempat pelantikan sudah datang.
"Dengarkan semuanya..." terdengar suara Fery sang ketua Pasus Paskibra memecah suasana.
"Semua anggota berbaris, anggota junior sebelah kiri dan anggota senior sebelah kanan", Fery memberi komando lagi.
"Dadan Maulana sebagai penjuru..." semua anggota junior langsung berbaris rapi, karena sudah terlatih.
"Asep Rustandi sebagai penjuru..." begitu pula dengan semua anggota senior, mereka berbaris rapi.
"Semua anggota junior putra akan naik truk satu. semua anggota junior putri dan senior putri naik truk dua. Dan semua senior putra naik truk tiga, sekarang semua ransel dan barang bawaan lainnya silahkan masukkan kedalam truk sesuai dengan pembagian yang tadi... ingat lakukan dengan tertib. Setelah itu berbaris kembali disini untuk upacara pelepasan dari pihak sekolah dan untuk melakukan doa bersama", Fery menambahkan instruksinya.
Setelah itu masing-masing pemimpin pasukan membubarkan pasukannya, "Bubaaar jalan!".
Dan mereka pun melakukan apa yang diinstruksikan oleh Fery.
Selesai acara pelepasan dan doa bersama, mereka naik keatas truk sesuai pembagian yang telah ditentukan.
Pelantikan dilaksanakan disebuah perkebunan teh, bukan pelantikannya yang ditakutkan oleh anggota junior, tapi acara jurit malamnya yang katanya diisi dengan acara seperti perploncoan dan ditakut-takuti oleh seniornya.
Akhirnya tibalah di lokasi acara, truk berhenti, dan para siswa dibariskan disebuah tanah lapang. Ternyata ada beberapa senior yang sudah datang lebih awal dan mereka bertugas untuk mendirikan tenda peleton.
Setelah berdiri cukup lama bersama pasukan, akhirnya upacara pembukaan dimulai. Belum juga acara jurit malam dimulai, para anggota junior sudah mulai merasa lelah.
***
"Acara jurit malam akan dimulai sesudah shalat Isya. Semua anggota junior akan dibagi menjadi beberapa regu. Setiap regu terdiri dari empat orang".
Fery mengumumkan nama-nama setiap regu. Andri, Dudi, Toni dan Aswin berada dalam satu regu yang sama.
"Wah kenapa aku harus selalu bersama denganmu?", Andri menyenggol tangan Toni.
"Memang apa yang salah denganku?", Toni melotot pada Andri.
"Aku bosan selalu bersama denganmu, kita seperti pasangan saja", Andri tertawa.
"Yang pasti aku yang rugi, semalaman aku harus bersama denganmu, kamu si hobi kentut", Toni mencibir kearah Andri.
***
Jalur jurit malam melalui jalan kecil diantara kebun-kebun teh. Kalau siang hari, pemandangannya disini indah sekali, tapi malam hari begitu sepi, gelap dan udaranya dingin.
Andri, Dudi, Toni dan Aswin adalah regu empat. Tiap pemberangkatan regu diatur berselang waktu lima menit sekali. Jadi mereka menunggu dahulu sampai regu tiga maju, baru mereka berempat maju menuju pos satu.
"Ingat ya kalian harus kuat, jangan cengeng, kalau dibentak-bentak senior jangan nangis ya", Dudi memberi nasehat.
"Woy... kita bukan balita... masa iya nangis... nggak ada tuh dikamus", Aswin mencibir.
"Ingat di setiap pos kita disuruh push up, ingat ya harus kuat ", Dudi mengulangi lagi nasehatnya.
"Katanya pos satu ngasih pertanyaan dengan materi agama, pos dua kewarganegaraan, pos tiga baris berbaris, pos lainnya aku lupa lagi....", kata Aswin.
"Pokoknya kita harus bertahan bersama ya ... Besok pagi aku bagikan bekalku pada kalian. Mau telor asin?... boleh... Mau susu?... boleh... Mau makanan ringan?... boleh...", Toni menyemangati regunya dengan mengiming-imingi hadiah dengan makanan yang dibekalnya.
"Siaap grak....majuu jalan!", Dudi memberi aba-aba untuk mulai bergerak.
Setiap pos selalu diawali dengan push up 20 kali, baru diberi pertanyaan. Dan pertanyaan yang sama yang ditanyakan setiap pos, "Apa tujuan kalian masuk Pasus Paskibra?". Sepertinya kakak-kakak senior tidak membuat list pertanyaan yang akan diberikan kepada para junior, sehingga pertanyaannya hampir selalu sama.
Pos satu terlewati, pos dua terlewati, pos tiga terlewati dan tibalah di pos empat....
Pos empat ada di tengah perkebunan. Disana ada bangunan tempat menimbang teh hasil para pekerja pemetik teh. Dan ada sebuah kolam berisi air, kalau siang air itu terlihat sangat coklat.
"Lapor... regu empat siap melaksanakan tugas"
"Oh jadi kalian ingin tugas ya?! Silahkan push up 20 kali... sesudah selesai push up silahkan segarkan badan kalian di kolam itu!", kakak senior memberi perintah.
"Siap, laksanakan!"
Seperti yang diperintahkan Andri, Dudi, Toni dan Aswin melakukan push up 20 kaki. Selanjutnya, walaupun dengan langkah ragu mereka berempat masuk kedalam kolam dan ternyata itu kolam... airnya setinggi dada.
Tengah malam, udara sangat dingin karena disini termasuk dataran tinggi, direndam dikolam... lengkap sudah penderitaan mereka berempat.
"Nyanyikan lagu Hallo-Hallo Bandung... setelah selesai baru boleh keluar dari kolam!", kakak senior memberi perintah lagi.
Halo-halo Bandung
Ibu kota Periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali
Suara Andri, Dudi, Toni dan Aswin bergetar menahan dingin. Begitu selesai menyanyikan lagu, cepat-cepat mereka keluar dari kolam. Mereka berempat menggigil kedinginan.
"Kalian semangat ya ... jangan sampai sakit ya", Dudi memberi semangat lagi pada teman satu regunya. Seperti dia cocok untuk profesi sebagai motivator.
"Tinggal satu pos lagi nih... tetap bertahan ya guys", sekarang Toni ikut-ikutan memberikan semangat.
"Lapor... regu empat siap melaksanakan tugas" lapor Dudi kepada kakak senior di pos lima.
"Tugas untuk kalian tidak sulit... cukup tiarap disebelah sana selama sepuluh menit", kakak senior menunjuk kearah perkebunan yang sepi.
"Siap, laksanakan!"
Mereka pun pergi kearah yang ditunjuk oleh kakak senior tadi dan segera mengambil posisi tiarap.
"Aduh dingin sekali euy..." Aswin mengeluh.
"Nanti sampai di tenda... aku buatin susu coklat panas buat kalian", janji Toni, yang punya perbekalan banyak.
"Aduh aku mules euy..." keluh Andri.
"Awas jangan deket-deket pantat si Andri... dia mah suka ngebom", kata Toni. Langsung saja teman-temannya beringsut menjauhi Andri... takut kena bom-nya.
"Sabar Ndri... tahan dulu mulesnya... sebentar lagi kita kembali ke tenda", kata Dudi.
"Ya sudah selesai... kalian boleh kembali ke tenda dan ganti pakaian kalian", kakak senior berteriak dari kejauhan.
"Ayo, cepat kita kembali ke tenda", kata Aswin.
Andri, Dudi, Toni dan Aswin segera berdiri. Mereka berjalan dalam barisan menuju ke tenda peleton.
Jalanan sangat sepi, jalan yang dilalui sudah bukan jalan setapak diantara perkebunan teh, tapi jalan ini bisa dilalui oleh mobil walaupun jalanannya masih berbatu, tidak diaspal. Disisi kiri kebun teh dan disisi kanan jalan banyak pohon besar dan rimbun.
Tiba-tiba Dudi lari sekencang-kencangnya... lalu diikuti Andri yang juga lari kencang sambil terkentut-kentut... lalu Toni juga ikut lari menyusul Andri ... Aswin yang bingung dengan tingkah temannya, akhirnya lari kencang karena takut ditinggal sendirian.
Setelah dekat dengan tenda, mereka berempat memperlambat larinya dan kembali berjalan bisa, sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ada apa kalian lari begitu kencang?" tanya Aswin yang kebingungan.
"Nanti saja di tenda ngobrolnya", kata Dudi.
***
Sampai di tenda mereka minum banyak karena kehausan sehabis berlari tadi.
"Cerita dong tadi kalian lihat apa sampai berlari kayak gitu?", Aswin sangat penasaran.
"Tadi ketika kita sudah melewati pohon yang besar dan rimbun itu, aku melihat asap yang keluar dari tanah", kata Dudi.
"Tadi aku melihat asap juga setinggi orang", kata Andri.
"Tadi aku melihat asap itu berbentuk orang", kata Toni.
"Kalau kamu Win... lihat asapnya udah kayak gimana?" tanya Dudi.
"Aku nggak lihat ada asap, karena aku nggak melihat kearah pepohonan, aku melihat ke arah punggung Toni saja... makanya pas ngeliat kalian lari, aku hanya ikutan lari aja... takut ditinggalin", kata Aswin sambil nyengir.
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************