Untuk yang ke sekian kalinya, wanita berambut panjang sebahu itu berada di dermaga tempat singgah dan berlayar kapal-kapal milik nelayan.
Angin yang bertiup sedikit kencang, menerbangkan beberapa anak rambut wanita itu yang tergerai indah. Matanya terlihat sayu menatap luas lautan yang tak berujung.
Seperti menantikan sesuatu. Namun, tak dapat di ekspresikan melewati pita suara.
Perlahan wanita itu menunduk. Menutupi wajah ayu miliknya dengan tangannya yang kecil kurus. Bahunya bergetar seperti menahan tangis.
"Kau baik-baik saja?"
Wanita itu mendongak, menatap pria yang datang entah dari mana, kemudian pada baju yang di kenakan pria tersebut.
"Dia sudah berjanji padaku, Rick." Ucap wanita tersebut kembali berkaca-kaca.
"Dia sudah berjanji padaku." Ulangnya.
Pria itu tidak menjawab, Dia mendudukkan diri di samping wanita tersebut. Merengkuh tubuh wanita tersebut yang terlihat sangat rapuh.
"Jangan menangis, Mei." Pria tersebut berusaha menenangkan. Tetapi, wanita dalam pelukannya kembali menangis.
"Bagaimana? bagaimana bisa Aku tidak menangis? tujuh tahun sudah berlalu, dan Aku masih menunggunya di sini. Di mana Dia berjanji akan menemuiku di dermaga ini." Wanita itu kembali terisak.
"Kalau begitu, relakan Raka."
Mei melepas pelukan Erick, Dia menatap tak percaya pada pria itu.
"Kenapa? kenapa Kau bilang seperti itu pada sahabatmu sendiri!" Teriak Mei.
Erick menatap Mei dalam. Dia dapat melihat betapa besar cinta Mei terhadap Raka, sahabatnya.
Tujuh tahun lalu. Saat Erick dan Raka di tempat tugaskan pada sebuah pulau terpencil. Saat itu juga, terukir kenangan buruk di dalam hidupnya.
Saat akan kembali, badai besar menerjang kapal yang mereka tumpangi. Seluruh awak kapal berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri. Takdir, nasib berkata lain. Setengah dari kapal terendam air dan menyebabkan ketidakseimbangan kapal.
Akhirnya kapal yang mereka tumpangi terbalik oleh ombak besar dan tenggelam. Dan sampai saat ini, bangkai kapal tersebut belum juga di temukan.
Beruntung, Erick dengan cepat mengenakan pelampung meski itu tidak pernah berarti daripada kehilangan sahabat yang sudah Dia anggap sebagai saudara sendiri.
"Tidak bisakah kau melupakan Raka dan memulai dari awal bersamaku, Mei?" Suara Erick terdengar parau.
"Kenapa Kau tega mengkhianati sahabatmu sendiri?"
"Raka sudah tidak ada di dunia! Sadarlah Mei!" Erick mengguncang pelan bahu Mei.
"Dia masih hidup!"
Erick menggeleng. "Seberapa yakin kau mengatakan itu, yang sudah pergi tidak akan kembali."
Air mata Mei semakin berjatuhan. Erick benar, Seberapa menyangkalnya Dia terhadap takdir, takdir tersebut tidak akan pernah berubah.
"Dia memang tidak akan kembali, tetapi Dia akan tetap berada di sini. Selamanya." Mei meletakkan tangannya di dada.
"Aku sudah mencoba merelakannya, Rick. Tapi, kenapa rasanya sakit sekali?"
Erick tidak tahu harus berkata apa lagi. Perkataan Raka dulu memang benar, jika Mei tidak akan pernah bisa berpaling dari Raka. Dan itu menyakitkan baginya.
"Mau kutunjukkan sesuatu?"
Mei menengadah, menatap mata Erick yang tulus. Kemudian mengangguk.
Dia mengikuti Erick dari belakang. Hingga sudah beberapa meter mereka tempuh dengan berjalan kaki. Mei benar-benar berhenti saat menatap tempat peristirahatan di depan matanya.
"Kemari." Erick melambaikan tangan.
Ragu, namun Mei tetap mengikuti perintah Erick.
"Bagaimana.. ini..." Mei menutup mulut, menatap tempat yang tidak begitu asing.
"Ya, ini makam sekaligus tempat peringatan TNI angkatan laut yang tenggelam tujuh tahun silam."
Mei menatap tak percaya.
"Namanya saja yang makam. Tidak pernah ada jenazah yang dikubur di sini. Anggotaku hilang tanpa jejak." Jelas Erick.
Perlahan Mei memasuki kawasan makam tanpa 'isi' tersebut. Dan berhenti tepat di batu nisan bertuliskan Raka bin Rafli.
Mei berjongkok. Mengusap pelan batu nisan Raka dengan lembut.
"Walaupun Kau sudah pergi dari dunia ini, Tetapi, Kau tidak akan pernah Aku lupakan seumur hidupku.. Raka."
Mei menatap batu nisan tersebut dengan senyumman manis yang terpatri di bibir. Kemudian menatap Erick yang berdiri tak jauh darinya, dan mengangguk.
Mereka berdua kembali diikuti suasana senja yang semakin lama semakin gelap. Matahari yang sedikit lagi akan tenggelam terlihat seperti titik cahaya di seberang lautan.
"Jadi, apa Kau masih ingin menghabiskan soremu di sini, Mei?" Tanya Erick diiringi suara desiran ombak.
"Entah, aku tidak dapat berpikir sekarang. Setelah Kau menunjukkan sesuatu yang membuatku sedikit tenang. Terima kasih Rick."
Erick mengangguk. "Setidaknya jangan lagi membuang waktu untuk hal ini, Mei. Kau berhak hidup bahagia."-bersamaku.
Mei tersenyum menanggapi.
"Aku akan kesini lagi besok, untuk yang terkahir kali."
***
Mei menatap buket bunga di tangannya. Mencoba tersenyum kala menginggat kenangan yang sudah Dia lalui bersama Raka.
Mulai dari, Raka yang selalu menganggu dirinya hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Dan semua kenangan itu terhempas bagai buih di lautan.
"Semoga Kau tenang di alam sana."
Mei melempar bunga aster putih ke dalam lautan, berusaha mengakhiri apa yang selama ini menjadi menganggu pikirannya.
Matanya terbelalak ketika sebuah tangan besar melingkar pada perutnya. Dengan cepat Mei menyentak tangan tersebut.
"Erick! sudah Aku bil.. ang,"
Ini nyata bukan? Wajah yang Selama ini Dia rindukan? benar-benar berada di sini, tepat di depan matanya.
"Ra.. ka."
Pria yang di panggil Raka itu mengulas senyum lebar.
"Apa kabar, Mei?"
Mei masih mematung, tidak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya.
Dengan cepat Mei memeluk pria itu. Ingin membuktikan bahwa Raka benar-benar nyata.
"Raka." Ucap Mei terisak.
Raka membalas pelukan Mei. Pelukan yang sudah lama Dia tidak merasakannya.
"Bagaimana bisa? Bukankah kau sudah..."
"Aku menepati janjiku padamu kan?"
"Kau benar-benar Raka?" Mei menyentuh wajah yang lebih tinggi darinya.
"Aku kembali, Dear." Ucap Raka seraya mengelus rambut halus Mei. Kemudian berganti pada kecupan di dahi Mei.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Terima kasih, Kau masih setia mencintaiku."
.
.
.
End.
Terima kasih untuk pada readers yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerpen Saya. Jangan lupa mampir ke lapak Saya dan baca karya Saya juga ya!