Selama 4 tahun aku tinggal seorang diri didalam kos-kosan petak sederhana, keadaan disini layaknya kos-kosan pada umumnya. Namun, aku tidak pernah melihat tatangga dikamar sebelah.
Meski begitu, aku dapat merasakan aura aneh dari kamar sebelah yang menimbulkan rasa penasaran dihatiku. Aku hanya tidak berani untuk melihat karna tidak ada yang menemani.
Hari ini aku membulatkan tekat untuk masuk dan memeriksa langsung kamar sebelah, ibu kos sudah berulang kali melarang tetapi aku keras kepala. Kata ibu kos, beliau pernah mendengar suara aneh dari dalam kamar sebelah.
Suara aneh tersebut terdengar sebelum aku tinggal disini jadi aku tidak mengetahui pastinya, yang aku tahu hanya ibu kos yang gemetaran saat menceritakan kejadian dikamar sebelah.
"Anita, kau yakin ingin masuk?" tanya ibu kos kurang yakin dengan keputusanku.
"Ya bu, kenapa tidak?" aku membusungkan dada bangga.
Sejujurnya aku adalah orang yang menyukai misteri seperti ini, jiwaku seperti tertantang untuk melihat langsung misteri yang ada. Aku bahkan pernah masuk kedalam hutan angker seorang diri walau rasa takut menghampiriku.
Kali ini aku tidak sendiri, anak ibu kos yang bernama Gisella akan ikut denganku, gadis manis tersebut juga merasa penasaran dan kesal karna ibunya tidak mau memberi kamar kos tersebut pada remaja yang ingin ngekos.
"Tidak ada lampunya?" keluh Gisel kesal, untung aku sudah membawa senter yang seakan menjadi teman terbaikku.
Kamar ini sangat gelap, aku bisa merasakan aura suram disini, juga bau menyengat seperti bangkai yang sudah membusuk. Namun, tidak ada apa-apa disini, hanya sebuah kamar kosong.
Lalu dari mana asal bau dan aura tidak mengenakan ini berasal? aku benar-benar sudah mencapai puncak tertinggi dalam rasa penasaran. Ini cukup menyenangkan, seperti aku tengah menjadi seorang detektif handal.
Kamar ini memang hanya petak, tetapi cukup luas dibanding kamar kos lainnya. Itulah mengapa aku betah 4 tahun tinggal disini, tidak selamanya, hanya selama masa kuliahku.
"Pengap sekali disini!" lagi-lagi Gisel menggerutu, gadis itu sama sekali tidak cocok dengan tipeku yang menyukai ketenangan.
"Sudah, cari tahu saja darimana asal bau busuk ini!" ucapku tegas menatap wajahnya yang tidak terlalu nampak karna kegelapan ruangan.
Walaupun sudah ada senter, kamar ini masih saja terkesan gelap. Aku merasa ada yang tidak beres dengan kamar ini, karna semua jendela yang ada sudah kubuka untuk membantu pencahayaan.
TSIK...
Kurasa kakiku menginjak sesuatu, kepalaku menunduk untuk melihat sesuatu yang telah kakiku injak, tapi aku tidak melihat apa-apa. Hanya keramik kosong berwarna putih.
Namun, tiba-tiba keluar darah dari dalam keramik yang membuat jantungku berpacu kencang. Kutatap Gisel yang sudah melotot horor kearah keramik yang kakiku injak.
"Darah?" gumamku heran, Gisel segera mendekat. Walau cukup berisak, gadis ini sama sekali tidak merasa takut sedikitpun.
"Darah apa ini?" tanya Gisel, tangannya mengambil sedikit darah dan mencium aromannya.
Matanya membulat mencium bau amis juga busuk dari darah tersebut, tangannya tersodor kearah hidungku seakan meminta diriku untuk mengendus bau-nya.
"Apakah ini darah manusia?" tanyaku menatap intens wajahnya bingung Gisel.
Aku berjongkok dan menyenggol keramik asal darah ini berada, keramik ini tidak lekat terpasang yang artinya bisa dengan mudah dilepas.
Dengan sedikit usaha aku sudah bisa mencabutnya, sebuah kejutan untuk kami karna didalam keramik ada begitu banyak cairan merah yang kuketahui adalah darah.
Kami saling berpandangan lalu dengan cepat menggoyangkan keramik lainnya, ternyata sekitar 20 kotak keramik yang bisa digoyangkan. Dengan gerakan cepat kami membuka semua keramik yang bisa dibuka agar misteri cepat terselesaikan.
Bau amis darah tercium jelas membuatku harus menutup hidungku tidak tahan, Gisel mengambil dua masker sekali pakai dari tasnya untuk diriku juga dirinya.
Setelah memakai masker, bau amis masih tercium walau tidak terlalu menyengat. Ini bukan hanya amis tetapi juga bau, seperti bau sesuatu yang sudah lama tidak dikeluarkan.
Mataku membulat melihat sebuah tangan seperti tertimbun semen dikamar ini, Gisel menatapku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Segera kami keluar mencari bantuan.
"Ibu!" panggil Gisel kepada ibunya yang setia menunggu didepan kamar kos.
"Siapa orang yang terakhir tinggal dikamar kos ini?" tanyanya serius membuat ibu kos bingung.
"Kenapa memangnya?"
"Jawab saja!" desak Gisel tidak sabar.
"Terakhir adalah lima orang pria berbadan kekar yang hanya satu orang ibu ketahui namanya, Reno adalah nama pria yang ibu kenal!" tutur ibu kos masih dengan wajah bingungnya.
Aku menatap wajah Gisel yang juga tengah menatapku, kami menceritakan penemuan darah dan tangan yang terkubur didalam semen yang sudah ditutupi dengan keramik.
Ibu kos memanggil beberapa orang untuk membantu mengangkat tangan yang entah ada atau tidak tubuhnya. Setelah diangkat, ternyata itu adalah tubuh seorang gadis!
"Ini adalah mayat seorang wanita ibu Romlah!" seru salah satu warga yang membantu mengangkat keluar tubuh tanpa nyawa tersebut.
Dapat kulihat beberapa memar diwajahnya yang masih jelas cantik, aku sudah memikirkan banyak kemungkinan didalam benaknya. Kemungkinan paling masuk akal adalah, gadis itu diperkosa oleh kelima pemuda tersebut dan dibunuh.
Jika dugaanku benar, alangkah sadisnya kelima pemuda tersebut. Apakah mereka tidak mengenal hukum karma dan perihnya siksa tuhan. Tubuh gadis tersebut bahkan dalam keadaan telanj*ng.
Ibu kos segera menelfon pihak kepolisan untuk menangani kasus ini lebih lanjut, ini termasuk kasus yang serius karna bisa saja akan ada korban lainnya yang mati terbunuh.
Senyum terbit dibibirku, aku dan Gisel tidak hanya memecahkan misteri kamar sebelah, tapi juga membantu seorang gadis malang agar mendapat tempat peristirahatan terakhir yang layak.
~~
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA KARYAKU. JIKA BERMINAT SILAHKAN MAMPIR DIKARYAKU YANG LAIN.
- Reinkarnasi Menjadi Selir (Cerpen)
- Penyihir Cantik Gabriella (Novel)
- Merebut Hati Suami (Novel)
- Selalu Mencintaimu (Novel)