Guabraaaakk!!!
Suara itu keras memecah keramaian. Kesibukan, obrolan, dan hiruk pikuk berubah menjadi keterkejutan.
"Bagas!!!!" Teriak putri shok melihat Bagas terpental jauh dari kursi rodanya.
Sebuah mobil Avanza menabrak kursi roda yang di duduki Bagas.
Putri berlari kearah Bagas yang sudah berlumuran darah. Ia berteriak sejadinya untuk meminta tolong.
Seketika beberapa perawat langsung berhamburan menyelamatkan Bagas yang sudah bermandian darah. Beberapa orang juga tak kalah heboh melihat kejadian yang begitu cepat itu.
"Kamu harus bertahan Bagas. Kamu pasti kuat. Bertahanlah, aku akan berusaha semampuku." Isak putri sambil mendorong brangkat dorong.
Hati putri benar kacau saat itu. Ia tau kalau saja dia tidak membuat Bagas cemburu, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Dia tau kehadiran dokter Hermawan itu membuat Bagas cemburu.
*****
Keheningan dan kesunyian berteman degub jantung dan tetesan keringat. Langit mendung berhawa dingin menyertai suasana yang begitu dingin itu.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa. Aku memang tak pantas untukmu. Aku hanya manusia cacat sedangkan kamu seorang dokter." Ucap Bagas yang sudah berpisah dengan raganya, melihat Putri yang sedang menangisi kepergiannya.
"Seandainya ada waktu lagi, betapa ingin ku melihat keindahan mu. Aku hanya bisa melihat saat ini. Setelah aku pergi." Lanjutnya sambil mencoba mengusap rambut Putri namung tidak bisa.
Sesaat kemudian, sebuah cahaya menghampiri Bagas. Cahaya itu terus mendekat. Terang dan....
"Waktumu masih 3 hari lagi. Namun bukan bersama ragamu. Apa akan kamu gunakan kesempatan ini?" Ucap suara yang hanya nampak cahaya saja itu.
"3 hari sudah cukup buat ku." Balas Bagas.
"Baiklah 3 hari ini gunakanlah waktumu sebagai Bagus."
Selesai ucapan itu, Bagas berpindah raga kedalam tubuh Bagus yang memiliki raga mirip dengannya.
****
Siang itu, nampak putri enggan meninggalkan pemakaman. Hatinya masih terpuruk. Hermawan yang mencoba untuk mengajaknya pulang pun tak bisa membujuknya. Seolah putri ingin sendiri dan tak ingin di ganggu. Hermawan pun terpaksa meninggalkan putri sendiri.
Bagas yang menjelma menjadi Bagus pun menghampiri putri.
"Tak ada bagusnya menyesali yang sudah terjadi. Semua sudah menjadi jalannya. Ikhlaskan saja, jalanmu masih panjang. Biarkan dia tenang di sana. Tugasmu adalah melanjutkan hidupmu." Tegur Bagus sambil berjongkok di sebrang putri.
"Seandainya aku lebih memahaminya, semua ini tak akan terjadi. Aku dokter yang tak berguna. Harus melihat nya mati di meja kerjaku sendiri." Isak Putri.
"Dengan kamu menangis seperti ini, dengan kamu seperti ini apakah dia akan kembali. Jangan bodoh." Suara Bagus nampak sedikit meninggi membuat Putri sontak menatapnya.
"Bagas,, apakah itu kamu?" Putri langsung bangkit dan memeluk Bagus yang berada di seberangnya.
Bagus hanya terdiam. Ia tau belum waktunya dia merespon.
"Kamu masih hidup Bagas, jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku." Ucap putri terisak.
"Putri, aku Bagus. Aku bukan Bagas mu." Ucap dan sanggah Bagus beberapa saat kemudian. Membuat Putri melepas pelukan itu.
"Tidak, biarpun kamu merubah apapun aku tetap mengenalmu. Kamu Bagas." Balas putri sambil menatap Bagus.
"Ok kalau memang menurutmu aku ini Bagas, sekarang ayo bangkit. Biarkan almarhum tenang." Ucap Bagas sambil memapah putri.
Putri hanya menurut dalam rangkulan Bagus. Namun karna terlalu dalam luka batinnya, Putri pun pingsan.
****
Di kediaman Putri, nampak Bagus dan Hermawan duduk menunggu putri sadar. Keduanya sudah bermenit-menit tak membuka percakapan.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Hermawan membuka kesunyian.
"Aku Bagus, kenapa?" Sahut Bagus datar.
"Pergilah, jangan mengambil keuntungan dalam kondisi ini."
"Keuntungan? Sedikitpun aku tak pernah memikirkan itu. Kalaupun iya, apa ada urusannya denganmu?"
"Aku ini lebih mengenal Putri, aku menyukainya. Andai si Bagas itu tak ada dari dulu sudah pasti aku ini bakal memiliki Putri."
"Sepertinya Putri tak pernah melirikmu."
Suasana sedikit memanas. Ucapan Bagus itu membuat Hermawan bermuka kecut dan sinis.
"Bagas, jangan tinggalin aku. Aku juga mencintaimu. Maaf, maafkan aku" igau Putri yang tak lama kemudian terbangun di temani Isak tangisnya.
Hermawan berinisiatif mendekati Putri yang terbaring di tempat tidurnya. Namun, tangan Putri cepat mendorong Hermawan seolah tak mau di hampiri.
"Pergilah dulu. Saat ini Putri tak inginkan mu." Tegur Bagus sambil mendekat ke putri. Ia duduk di kursi sebelah tempat tidurnya.
"Bagas, ini benaran kamu kan?" Ucap Putri sambil mengusap pipi Bagus. Bagus hanya terdiam mencoba lebih tenang dan menjaga untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Jawab Bagas, jawab aku." Lanjut putri.
"Aku bukan Bagas put. Aku Bagus." Tegas Bagus pelan.
"Kamu bohong!"
"Tidak, aku memang Bagus. Bagas sudah meninggal put."
Putri kembali menangis dan tak lama setelah itu kembali tak sadarkan diri.
****
Hari ke dua,
Nampak Putri sudah mulai menerima kenyataan bahwa Bagas nya sudah tiada. Namun, dalam hatinya ia merasakan bahwa ada Bagas di dalam diri Bagus.
Sementara itu, Bagus yang juga menyadari perasaan Putri itu hanya bersikap tenang dan memaklumi semua itu.
"Kamu tidak kerja kah?" Tegur Bagus.
"Aku belum siap saat ini. Melihat ruangan dan lingkungan rumah sakit membuatku masih teringat akan Bagas." Sahut putri.
"Bolehkan untuk beberapa hari ini kamu menemaniku?" Lanjut putri.
"Tidak masalah kalau itu bisa membuatmu tenang." Balas bagus di balas dengan senyuman putri.
Tenang sekali rasanya apa yang di rasakan Bagus. Apa yang ingin ia lihat selama ini akhirnya tersampaikan. Walaupun hanya sebentar, ia ingin benar bisa menikmati waktu bersama Putri.
Siang itu, Bagus dan putri menghabiskan waktu dengan berjalan di taman. Waktu itu di habiskan oleh putri dengan bercerita banyak soal Bagas. Sementara itu, Bagus hanya mendengarkan.
"Bukan karena merasa kasihan, tapi aku memang mengagumi Bagas. Dia pria yang luar biasa di mataku." Ucap Putri.
"Dia pasti senang ya bersamamu. Di kagumi olehmu. Sungguh beruntung dia." Balas Bagus.
"Sayangnya dia berubah saat Hermawan hadir. Entah kenapa semenjak saat itu dia menjadi dingin."
"Mungkin cemburu." Balas Bagus.
"Aku yang salah, seharusnya aku lebih memahami nya. Pasti dia merasa tak berguna, kecil hati. Hatinya pasti terluka. Aku yang salah" ucap putri di temani buliran air mata yang menetes pelan.
"Sudah jangan sedih lagi. Bagas tidak akan senang jika melihat mu begini." Sahut Bagus sambil mengusap air mata di pipi Putri.
Putri memandang dalam wajah Bagus. Tanpa sadar tangannya mengusap pipi Bagus. Bagus hanya mematung membiarkan semua itu. Hatinya berdebar, sekuat tenaga mencoba menahan rasa agar tak terbawa suasana.
Hari ke dua pun berlalu.
****
Hari ketiga dan terakhir.
Pagi itu masih buta. Nampak Bagas keluar dari raga Bagus. Jiwanya melayang mengikuti petunjuk yang belum tau entah kemana. Sampai tersadar bahwa itu di kediaman rumah Hermawan.
Bagas melihat Hermawan mondar-mandir. Raut wajahnya nampak gusar.
"Sial, kupikir setelah Bagas meninggal, aku akan bisa mendapatkan Putri." Gerutu Hermawan sambil memukul meja di kamarnya.
Sementara itu, Bagas merasakan ada yang ganjil dengan kelakuan Hermawan. Ada sesuatu yang sepertinya tersembunyi. Dan benar, ternyata kematian Bagas ada hubungannya dengan Hermawan.
"Sudah keluar uangpun ternyata tak ada gunanya kalau kenyataan Putri juga masih tak ada rasa untukku. Sial!!"
"Kamu kejam ternyata. Sungguh memang tak pantas Putri untukmu. Seandainya bukan kamu yang menyebabkan aku seperti ini, sudah pasti kamulah orang yang kupilih untuk menjaga Putri." Gerutu Bagas namun hanya bisa di dengar olehnya sendiri.
Entah mengapa, Bagas seperti bisa mengumpulkan bukti-bukti akan kejahatan Hermawan itu. Mungkin ini kesempatan itu. Kesempatan untuknya mendapat keadilan.
Sesaat kemudian Bagas seperti kembali lagi dalam raga Bagus. Bersama dengan itu, beberapa bukti itu sudah tersimpan dalam ponselnya. Dan tak lama kemudian dia sudah berpindah tempat di kediaman Putri.
"Bagus, kenapa kamu sepagi ini disini?" Tegur Putri berlari menghampiri Bagus.
"Aku, aku ingin menunjukan ini untukmu." Balas Bagus sambil menyodorkan ponselnya.
"Ini, ini apa maksudnya?" Putri munutup mulutnya kaget.
"Aku tak tahu. Mungkin ini bukti." Balas Bagus.
"Aku tidak menyangka kalau semua ini, semua ini sudah di rencanakan Hermawan. Aku tidak menyangka. Kenapa dia yang orang berpendidikan bisa melakukan hal keji ini. Dia, dia harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia lakukan." Muka Putri nampak marah. Kemudian,
"Apa kamu bisa menemani ku ke kantor polisi? Aku ingin Hermawan mendapatkan apa yang sudah ia lakukan." Lanjutnya
Bagus hanya menjawab dengan anggukan. Ada rasa bahagia saat Putri membelanya.
Mereka pun ke kantor polisi untuk melaporkan semua itu.
Sepulang dari kantor polisi, Putri mengajak Bagus kembali ke taman dekat rumah sakit.
"Maaf ya, aku merepotkan kamu. Terimakasih kamu mau menemaniku dan tak keberatan bila aku menganggap mu seperti Bagus." Ucap Putri sambil bersandar di pundak Bagus.
"Seandainya kamu tau kalau aku memang Bagas." Lirih Bagus dalam hati sambil mengusap rambut Putri.
"Maaf lagi dan lagi aku seperti ini. Kamu Bagus bukan Bagas. Maaf ya." Lanjut putri sambil mengatur jarak duduk.
"Tidak apa, aku paham kondisi kamu." Balas Bagus sambil menahan dirinya agar tidak terbawa suasana.
Hari pun berlalu sampai tak terasa senja sudah menyambut. Hari begitu cepat, membuat rasa yang lama tak terbantah itu haru berakhir.
"Put, setelah hari ini, mungkin aku tak bisa menemanimu lagi. Malam ini, aku harus kembali. Mudah mudahan kita bisa bertemu lagi." Ucap Bagus membelah senja.
"Iya tidak apa-apa. Terimakasih 2 hari ini menemaniku. Aku sudah tidak apa-apa kok. Besok aku juga sudah mulai kerja lagi." Balas Putri walau terasa berat.
Mereka pun berpisah bersama senja yang menjadi pemisah siang dan malam.
Putri kembali ke kediamannya. Sementara itu, di taman yang mulai sunyi itu. Nampak Bagas atau Bagus duduk di bangku seorang diri. Ditangannya tergenggam ponsel. Jemarinya mengetik nomer. Nomer itu adalah nomer panggilan radio dalam acara kisah malam.
"Hallo sobat kisah malam, ini bersama saluran kisah malam." Ucap pembawa radio di sebrang sana. " Apakah saudara mau berbagi kisah seseorang atau kisah pribadi?" Lanjutnya di sebrang sana.
" Saya Bagus saya akan menceritakan kisah ku sendiri." Balas Bagus.
"Baik saudara Bagus silahkan ceritakan kisah nya."
Bagus pun mulai bercerita. Ia menceritakan semuanya. Cerita hidupnya yang tanpa sengaja atau memang kebetulan kisah itu di dengar oleh Putri yang masih berjaga di rumah sakit.
" Aku mungkin orang yang beruntung dari beberapa orang lainnya. Aku masih di beri kesempatan untuk kembali walau hanya 3 hari. 3 hari ini aku bisa merasakan hangatnya pelukan orang yang kucintai. Aku bisa melihat wajahnya yang dulu hanya dalam angan. Dan aku bisa menjadi sandarannya. Seandainya saja waktu tidak hanya sesingkat ini, aku ingin selalu bisa menjaganya menjadi teman hidupnya dan selalu ada di sampingnya. Aku tak pernah menyesal, semua ini akan berakhir di taman ini. Tempat dimana dulu pertama kalinya aku mengenal dia. Harapanku, dia tetap tangguh, tetap ceria melanjutkan hidupnya dan bisa lebih banyak lagi menyelamatkan orang. Aku yakin dia dokter hebat. Dokter yang luar biasa. Dan terakhir aku ingin bilang, Putri ketahuilah bahwa aku selalu menyayangi mu. Di dunia ini dan sampai dunia nanti dimana kita bisa di pertemukan lagi. Terimakasih" cerita Bagus mengakhiri kisahnya.
"Cerita yang sangat mengharukan. Terimakasih saudara Bagus atas kisah nya. Buat dokter Putri disana semoga anda mendengarkan kisah malam ini." Ucap penyiar radio itu.
Putri yang menyadari itu langsung berlari sekencang mungkin menuju taman. Dari kejauhan ia melihat Bagas yang tertunduk dan duduk di kursi taman.
"Bagas!!" Teriak putri sambil masih berlari ke arah Bagas.
Bagas menoleh dan tersenyum. Membiarkan sejenak putri memeluknya bersama Isak tangisnya.
"Kenapa? Kenapa kamu tak mau bilang kalau itu kamu. Kenapa Bagas?" Isak putri dalam pelukan Bagas.
"Aku tak ingin kamu sedih. Aku kembali sebentar hanya untuk melihatmu. Tersenyumlah, aku tak ingin melihat tangismu." Sahut Bagas sambil melepas pelukan Putri.
Genggaman tangannya mulai tak terasa. Mulai memudar. Dan terus memudar.
"Putri, aku selalu mencintaimu. Terimakasih selama ini sudah merawatku. Tidak ada hari yang indah selain hari-hari bersamamu. Jangan menangis, aku tak ingin melihat air matamu saat ini. Aku ingin melihat senyum mu untuk yang terakhir kalinya. Tersenyumlah untukku putri." Ucap Bagas mencoba untuk tersenyum juga walau sakit.
"Aku pergi ya. Terimakasih." Lanjut Bagas yang semakin memudar.
Putri hanya terpaku dan mencoba tersenyum walau airmata terus menetes.
Perlahan dan perlahan tubuh Bagas memudar dan berganti kunang-kunang yang berterbangan. Meninggalkan putri yang rubuh terduduk di kursi.
"Aku juga mencintaimu Bagas. Selalu mencintaimu. Tunggu aku di sana. Karna aku dan cinta ini hanya untukmu." Lirih putri yang sudah bangkit dan berjalan lemah kembali ke rumah sakit.