"Sayang, kakak mau ke toilet dulu ya!" pamit seorang suster yang bernama Rosa pada gadis kecil pasiennya yang setia duduk di kursi roda
"Baiklah kak, nanti tolong belikan aku makanan ringan ya! Aku masih ingin disini" sahut Nalda
"Oke,,, jangan kemana², tetap disini" Rosa pun berlalu
Setelah kepergian Rosa, Nalda kembali mengalihkan pandangannya pada hamparan rumput hijau di seberang danau, menatap damai alam sekitar yang memberikan kesejukan
"Hai gadis kecil! Kenapa kau sendirian duduk disini? Apa kau tidak punya teman?" sapa Dalina
"Hallo kak! Aku tidak sendirian, aku bersama suster Rosa, dia sedang ke toilet" jawab Nalda
"Dalina, siapa namamu?" sambil mengulurkan tangan pada Nalda
"Nalda, senang berkenalan dengan kakak" ucap Nalda sembari mencium punggung tangan Dalina
"Kakak sering kemari?" tanya Nalda
"Hampir setiap hari kakak kemari, tapi kenapa baru hari ini kakak lihat kamu?" sahut Dalina
"Ya, karena baru hari ini aku di perbolehkan keluar dari rumah sakit, sebelum operasi besok"
"Kamu sakit apa? Maaf, tak perlu di jawab jika tak mau" ucap Dalina saat melihat guratan kesedihan yang terpancar dari mata Nalda
"Penyakit jantung bawaan, setelah menunggu selama lima tahun, akhirnya ada juga donor jantung yang cocok dengan ku, jadi abang dan semua dokter yang merawat ku, mengijinkan aku keluar hari ini untuk berjalan², bagaimana dengan kakak? Kenapa sering kesini? Apa kakak tidak bekerja? Atau kakak masih kuliah?" Nalda pun bertanya pada Dalina
"Sejak lulus SMA kakak sudah bekerja, dan sekarang bekerja di sebuah cafe di ujung jalan taman ini. Semangat ya buat operasinya, semoga berjalan lancar, dan kakak akan selalu menunggu kamu di taman ini di jam yang sama seperti saat ini, jadi berjuanglah, oh ya, kakak harus berangkat kerja, bye Nalda" Dalina pun beranjak dari tempat duduknya dan mencium kening Nalda dengan penuh kasih sayang
"Nalda janji" ucapnya sambil memeluk Dalina
Suster Rosa yang melihat Dalina sudah menjauh pun segera mendekati Nalda. Sebenarnya sedari tadi dia sudah sampai, namun dia sengaja membiarkan Nalda bersama Dalina, karena Nalda tampak bahagia saat berbicara dengan Dalina
*****
Sudah hampir satu minggu dari saat terakhir bertemu dengan Nalda, hingga kini Dalina tidak pernah bertemu Nalda. Ada sedikit rasa sedih yang hinggap di hati Dalina, meski baru bertemu sekali, dan bodohnya kenapa saat itu tak bertanya dimana rumah sakit tempat Nalda di rawat
"Semoga kamu baik² saja Nalda, kakak selalu berharap dapat melihatmu lagi disini"
*****
Suasana 'NA Cafe' di siang hari sangat ramai, apalagi bertepatan dengan jam makan siang. Dalina yang bertugas sebagai kasir pun ikut melayani para pembeli, dan tugas kasir dia serahkan pada Becca Manager cafe, hal itu sudah biasa terjadi saat cafe ramai pengunjung
"Dalina, tolong antarkan pesanan ini ke ruang VIP nomor satu ya! Aku mau mengantar pesanan ke meja nomor tujuh" pinta Lia teman Dalina
"Hmmmm,,,, baiklah" Dalina pun berlalu sambil membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman tersebut
"Permisi,,," belum selesai Dalina mengucapkan kalimatnya, seorang gadis kecil berlari memeluknya, dan menyebabkan nampan yang di bawanya terjatuh karena terkejut, untung saja dia masih sanggup menyeimbangkan badan
"Nalda,,," tegur seorang pria
"Maafkan adik saya nona, saya akan mengganti semua kerugiannya" ucap seorang pria sambil melepaskan pelukan Nalda pada Dalina
"Kak, kenalkan ini abang ku Carlos, dan yang satu lagi bang Kevin, dan ini kak Dalina, teman ku" Nalda pun mengenalkan mereka
"Kakak, maaf ya! Aku rindu pada kakak, tadi aku ke taman tapi kakak tidak ada, lalu aku ingat, jika kakak bekerja di Cafe ini, jadi aku mengajak abang kemari. Tau nggak kak, tadi aku susah sekali lho membujuk balok es ini, setelah aku ancam, baru abang mau ikut" Nalda pun menceritakan semuanya pada Dalina
"Oh,,, benarkah! Apa kamu tidak takut padanya?" tanya Dalina sedikit berbisik
"Hahaha,, yang ada juga balok es yang takut padaku!"
"Baiklah, sekarang kamu duduk yang manis disini, kakak mau bersihkan ini dulu, setelah itu akan kakak buatkan makanan lagi untukmu, oke!"
"Tidak perlu nona, biarkan orang lain yang membereskannya" ucap Kevin asissten Carlos
"Tidak apa² tuan, ini sudah tugas saya" sahut Dalina yang sudah mulai membersihkan lantai dengan kain lap yang ada di dalam apronnya
"Berdirilah" ucap Carlos
"Tapi tuan,,," sela Dalina, namun tak sanggup lagi melanjutkan kata²nya karena mendapat tatapan tajam dari Carlos
"Kev"
"Becca, suruh seorang pelayan membersihkan ruang VIP satu, dan Dalina hari ini akan ikut dengan kami" Kevin pun menelpon Becca
"Kak, temani aku check up ya hari ini. Abang nggak bisa anter" pinta Nalda
"Jadi kamu ke Cafe hanya untuk ini?" tanya Dalina
"Baiklah, kakak ijin dulu, kamu tunggu disini ya!" Dalina pun berlalu keruang Manager
Setelah mendapat ijin, mereka pun menuju kerumah sakit. Hasil diagnosa dokter menunjukkan keadaan Nalda semuanya baik² saja. Dan dia hanya perlu mengunjungi dokter saat ada keluhan
*****
"Becca, Lina di panggil Carlos" ucap Kevin saat bertemu Becca di depan ruang VIP 1 tempat biasa saat dia berada di cafe tersebut
"Ada apa Kev? Tidak biasanya Carlos tertarik pada perempuan? Kau tau sendiri, bahkan meski aku menggodanya, dia tak pernah menanggapinya" sahut Becca heran
"Entahlah, cepat kau panggil dia, kau tau sendiri jika singa sudah mengeluarkan taringnya"
Carlos, Becca dan Kevin adalah teman sedari mereka sekolah dasar. Selama itu pula Becca selalu menyimpan perasaan pada Carlos. Kevin dan Carlos sebenarnya sudah tahu, dan mereka menjaga jarak dengan Becca dengan cara melanjutkan kuliah di luar negeri tanpa sepengetahuan Becca
Dan tak lama Lina sudah berada di hadapan Carlos dan Kevin
"Maaf tuan, ada apa memanggil saya?" tanya Lina dengan gugup
"Kev, keluarlah" tanpa mengeluarkan suara, Kevin keluar dari ruangan tersebut dan berdiri di depan pintu
Carlos melangkahkan kakinya mendekat pada Lina. Sedangkan Lina dengan pikiran yang berkecamuk tetap menunduk karena tak berani menatap mata Carlos yang sangat tajam dan seolah ingin menerkam
Greep,,,
Lina terkejut karena Carlos memeluknya dengan tiba²
"Menikahlah dengan ku" bisik Carlos di telinga Lina
"Hah,,,"
"Dalina, menikahlah denganku, jadilah istri dan ibu dari anak²ku" Carlos pun semakin erat mendekap Lina, sedangkan Lina hanya mampu mematung dengan tindakan dan ucapan Carlos yang tiba²
"Tapi, kenapa saya tuan?" tanya Lina saat kesadarannya sudah kembali
"Tak ada alasan untuk itu"
"Maksud sa,,," ucapan Lina terhenti karena bibir Carlos sukses membungkam mulut Lina
"Aku hanya butuh seseorang yang sanggup menerimaku dengan segala kekuranganku"
"Berikan saya waktu berpikir tuan"
"Tidak" ucap Carlos dengan tegas
"Tuan, tolong berikan saya waktu untuk menjelaskan, sebentar saja" Lina pun memohon
"Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kau ungkapkan" ujar Carlos sembari menarik Lina duduk di pangkuannya
"Tetap diam atau tidak bicara" ancam Carlos karena Lina berusaha untuk lepas dari dekapannya
"Apakah keluarga tuan akan merestui saya sebagai istri tuan? Sedangkan tuan sendiri tau, perbedaan kita cukup jauh" ucap Lina
"Karena kau sudah menyebut kita, aku anggap kau menyetujui pernikahan ini, dan satu lagi jangan panggil aku tuan, aku ini calon suamimu, bukan majikanmu"
"Tap,,," Lina tak sanggup berkata lagi karena perbuatan Carlos, bahkan dia melakukannya lebih dalam lagi dari yang pertama
"Lina, aku sudah tak sanggup menahan lagi, jadi dua hari lagi kita menikah"
"Baiklah Hubby" sahut Lina
"Oh Lina,,," Carlos yang mendengar kata Hubby dari mulut Lina sontak memeluk Lina dan menciumi seluruh wajah Lina dengan ungkapan kebahagiaan, sedangkan Lina hanya pasrah saja, menolak pun percuma
*****
Hari yang dinanti pun tiba, Carlos tampak gagah dengan balutan jas dan celana hitam yang melekat di tubuhnya. Terpancar kebahagiaan dan senyuman dari wajahnya yang jarang sekali orang melihatnya. Lina pun tampak anggun dengan gaun pengantin warna putih hasil pilihan Carlos tentunya. Nalda yang tak lain adik Carlos pun ikut bahagia, karena abangnya menikah dengan Dalina.
Sedangkan Kevin saat ini disibukkan dengan persiapan pernikahan Carlos dan Dalina. Meski hanya pesta sederhana sesuai permintaan Dalina, namun dia tak ingin ada kesalahan sedikit pun. Dengan menahan perih di hatinya, Becca harus mampu menyiapkan makanan untuk tamu yang hadir.
Perlahan sang pengantin masuk ke dalam altar yang telah disediakan di pinggir danau tempat di adakannya acara tersebut. Suara musik terdengar indah mengiringi langkah kaki yang terus melaju menuju jalan kebahgaian
"Aku bersedia"