Penulis: Tim GMKS
Naskah ditulis oleh: sin cera
Hai, aku Salsa. Aku ingin menceritakan tentang seorang gadis misterius yang tinggal satu kost denganku. Ia pindah ke kamar yang berada tepat di samping kamarku sekitar dua minggu yang lalu. Gadis itu menempati kamar bernomor 21.
Aku ingat saat ia pertama kali pindah. Saat itu pukul 7 pagi, aku baru bangun dari tidurku. Aku melihat seorang wanita paruh baya,dan anak perempuannya yang menggunakan masker,menutupi sebagian wajahnya berdiri di depan kamar sebelah. Aku menduga,gadis itu sepertinya memiliki umur yang kurang lebih sama denganku. Gadis itu sempat melihatku sebentar dengan tatapan kosong, lalu ia mengalihkan pandangannya ,dan masuk ke kamarnya seolah-olah aku tidak penting. Ketika aku ingin menghampiri mereka bermaksud untuk menyapa, ibunya langsung memasuki kamar anaknya dan menutup pintu rapat-rapat. Ibunyapun menganggapku tak ada.
Sejak awal kepindahannya hingga sekarang, aku tidak pernah mengobrol atau sekadar basa-basi dengan gadis sebelah kamarku itu. Aku bahkan tidak tau namanya. Ketika berpapasan dan aku mencoba menyapanya, ia selalu menganggapku seperti tak kasat mata. Aku tidak pernah mendengar suaranya sekalipun. Pintu kamarnyapun selalu tertutup rapat.
Selain selalu menggunakan masker dan jarang berbicara, ada beberapa hal aneh semenjak kepindahan gadis itu. Pertama, aku jarang melihat gadis itu keluar dari kamarnya kecuali untuk mengambil sebuah paket yang terbungkus kardus mie instan berlakban coklat. Jika ku perhatikan, ia rutin mendapatkan paketan tersebut setiap 1 minggu sekali. Lalu yang kedua, hal ini merupakan hal yang paling mengangguku. Setiap malam setelah kepindahannya, aku selalu mendengar suara-suara aneh, seperti suara erangan menyakitkan ,lalu diikuti suara bisik-bisik yang tak terdengar jelas. Sejak saat itu, aku selalu mengunci rapat-rapat pintu kamarku di malam hari.
****
Naskah ditulis oleh: >τια<
Keesokannya aku melihat ia mengambil paket itu lagi. Aku mulai penasaran dengan isi paket miliknya. Aku mencoba menghampirinya, tapi tetap saja aku seperti tak kasat mata. Ia berjalan melewatiku ,bahkan tidak menghiraukanku sama sekali. Ia langsung masuk kamarnya dan menutup pintu. Sebenarnya apa yang ia lakukan didalam sana?Apa isi dari paket itu? Akhirnya, aku memutuskan untuk mengintip melalui lubang kunci pintu kamarnya. Gelap sekali, aku tak bisa melihat apapun dari sana. Aku kembali ke kamarku. Setidaknya aku dapat mendengar suara saat ia membuka paket itu.
Setelah sampai dikamar, kudekatkan telingaku ke tembok yang berbatasan langsung dengan kamar sebelah. Tidak ada suara apapun. Sunyi. Aku sungguh penasaran dengan isi paket miliknya. Lebih baik kutunggu sampai malam untuk mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan.
Awalnya aku tak peduli dengan gadis di kamar sebelah itu. Tapi karena semakin lama aku semakin terganggu, maka mau tidak mau, aku harus tau siapa dirinya dan apa yang ia lakukan setiap malam.
Sambil menunggu malam tiba, aku membuka ponselku dan mengobrol dengan temanku. Namanya Serina, ia sahabatku sekaligus teman curhatku. Kemarin aku sempat memberitahunya tentang masalah ini. Ia bilang sebaiknya aku tak usah ikut campur. Ia juga mengatakan kalau aku tetap bersikeras ingin mengetahui siapa dia, lebih baik aku bertanya ke ibu kost saja.
Malam haripun tiba. Terdengar suara lakban yang dibuka dari kamar sebelah. Lalu, beberapa menit kemudian suara erangan dan bisikan tak jelas itu mulai terdengar. Jujur saja, aku agak takut dan dijam seperti ini teman kostku yang lain sudah tertidur. Tersisa aku yang tak bisa tidur sejak tadi. Anehnya, teman kostku seperti tak ada yang mendengar suara tersebut. Aku memberanikan diri keluar kamar, kemudian aku mengintip kamar teman kostku. Mereka semua tertidur pulas, dan tak ada tanda-tanda mereka terganggu suaranya. Setelah itu, aku mencoba mengintip pintu kamar sebelah yang bernomor 21 tersebut. Ternyata pada malam itu pintunya tak dikunci, hanya saja sedikit sulit membukanya. Aku membukanya perlahan sampai kurasa cukup lebar untuk kuintip. Akupun menyaksikan apa yang terjadi pada gadis itu.
****
Naskah ditulis oleh: MR
Aku menutup mulutku kala melihat wanita tua itu melanjutkan sayatan demi sayatan di sisi kiri bibir anaknya.
" Apa ini! " pekikku dalam hati.
Anehnya, anaknya tak bergerak sama sekali, hingga rasa penasaranku terjawab ketika bola mataku tak sengaja melihat cermin yang sudah berlumuran darah, tersandar di ujung kepala si anak. Bayangan anak di dalam cermin itu bergerak kesana kemari, namun tak ada suaranya.
" Apa yang di lakukannya, apakah ini "
" Aaaaa, aaaa, "
Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang sedikit tertahan.
" Diam! " Bentak wanita tua itu, sambil menekan paruh ayam cemani dengan sebuah kain putih yang tak sengaja terlepas.
Seketika saja suara itu hilang bak ditelan bumi, tapi lagi-lagi fokusku kembali pada bayangan anak di cermin yang terus bergerak, namun seperti ada sebuah tali yang menahan keleluasaanya untuk memberontak.
* Huffffts * Lanjut wanita itu ketika mendekati wajah si anak.
Matanya terpejam, dan memainkan bibirnya. Dia nampak sangat menikmati menghisap darah segar anaknya itu.
" Iiiih,ueeek "
Aku seketika merasa mual, saat melihat dia menghisap darah yang mengalir di dagu anaknya itu.
Dengan cepat aku menutup mulut, agar suaraku tak terdengar olehnya.
* Menjijikkan *
****
Naskah ditulis oleh: Popow
Seketika tubuhku terhuyung membentur pintu. Wanita tua itu melirik kearahku. Aku berusaha untuk melarikan diri dari tempat itu. Dengan kaki yang gemetaran membuatku sulit untuk melangkah. Wanita tua itu berhasil menggenggam tanganku, menarikku masuk ke kamarnya, kemudian menghempaskan tubuhku ke ranjang yang ada di kamar kost itu.
Dengan rasa takut yang luar biasa, membuat keringatku bercucuran deras membasahi tubuhku. Kemudian ia mencengkram leherku seraya berkata, "Bagaimana jika kau saja yang aku jadikan tumbal" dengan tatapan yang menyeramkan, kemudian ia melepaskan cengkramannya.
Aku teriak sejadi-jadinya, namun suaraku seolah-olah tidak terdengar. Tubuhku tidak bisa aku gerakkan, seperti ada sesuatu yang mengikat tubuhku ini. Wanita itu mempersiapkan ritualnya. Dan gadis yang tadi akan di tumbalkan, ia biarkan begitu saja.
Wanita tua itu membawa silet dan juga cermin yang di dalamnya ada sebuah roh sebagai alat ritual. Saat wanita tua itu mendekat ke arahku, kakiku secera refleks menendangnya hingga cermin yang ia bawa itu jatuh dan pecah.
"Tidak...." teriaknya penuh histeris
****
Naskah ditulis oleh: Mamy titien
Cermin itu pecah, wanita tua itu segera menunduk dan memunguti pecahannya, lalu kemudian kembali menatapku dengan tatapan yang mengerikan.
Aku beringsut mundur, merasakan naluri dalam bahaya. Kemudian aku berlari sebisaku, walau kakiku sepertinya berat untuk diayunkan. Aku berlari berusaha mendekati pintu
dengan maksud keluar, tapi tiba-tiba pintu itu sulit untuk dibuka. Sepertinya aku harus merelakan diriku jika aku akan segera mati. Akan tetapi, aku masih berusaha membuka mulutku lebar- lebar. Aku berharap suaraku akan keluar dan akan terdengar keras, hingga bisa membangunkan teman-teman kostku.
" Aaaaaaaaaaaaaa..." Ternyata kini suaraku keluar cukup keras. Aku sedikit tenang karena aku yakin, sebentar lagi teman teman bahkan penduduk yang tinggal di sekitar sini, akan datang menyelamatkanku.
Aku kembali panik karena, dugaanku salah. Tidak ada seorangpun yang datang ke tempat ini untuk menyelamatkanku. Wanita itu kini berjalan, menghampiriku yang sudah gemetaran dan berkeringat dingin. Mataku hanya bisa melotot, dan tanganku tidak henti-hentinya bergerak mendorong pintu agar terbuka.
Dan yah, ternyata aku berhasil. Pintu itu terbuka. Mungkin Tuhan masih menghendaki aku untuk hidup. Kini aku berlari secepat mungkin, berusaha menyelamatkan diri. Wanita itu terus saja mengejarku dengan gencar.
****
Naskah ditulis oleh: JESI KURNIA
Aku terus berlari, berharap ada orang yang menolongku, tapi sepertinya itu tidak mungkin, sebab sekencang apapun aku berteriak, tidak ada orang yang datang. Nafasku sudah tersengal-sengal ,hingga kuputuskan untuk berhenti sejenak. Aku menoleh sekitar, dan kutemukan sebuah telepon umum. Lalu aku mendatanginya dan segera menelepon Serina,temanku. Belum selesai aku berbicara, ternyata wanita itu kini sudah berada di depan mataku, dengan membawa pisau dan diarahkannya padaku. Dinding kaca telepon umum berhasil dipecahkannya.
Dalam ketakutan, tiba-tiba saja mulutku bergumam "ala di rusak nganggo kebecikan, apa sing ana ing bumi yen ala mula bakal di bubarake"
Wanita itu menjerit sambil menutupi kedua telinganya. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari menjauhinya. Tapi,kakiku mendadak terkilir, mungkin karena aku tidak berhati-hati. Wanita itu mendekatiku dan akan membunuhku, tiba-tiba sebuah mobil menabraknya hingga tubuhnya terpental.
Serina datang menyelamatkanku. Tapi tanpa kami sadari, wanita itu masih hidup dan melempar batu, hingga mengenai kepala serina dan berdarah.
Aku panik ingin menolong Serina. Aku berlari mencari bantuan, dan terpaksa meninggalkan Serina seorang diri. Aku seperti diarahkan untuk berlari ke kamar kostku, lalu masuk dan memojok di kamar mandi sambil menahan rasa sakit. Tiba-tiba,kurasakan sesuatu memasuki tubuhku.
***
Wanita itu mengejarku sampai masuk ke kamarku.
"Kau harus mati menggantikan ibumu yang telah membunuh anakku!" Wanita tua itu terdengar menggerutu, tapi aku tidak takut ketika dia berlari ke arahku. Aku langsung mengangkat tubuhnya dan membantingnya ke lantai. Kemudian, kuinjak kakinya hingga dia menjerit kesakitan, lalu menarik rambutnya.
Kini, aku memanggil keris dengan sebuah mantra untuk mengakhiri nyawa wanita itu yang sudah tak berdaya. Aku menusuk keris itu di kepalanya. Wanita itu kini sudah mati. Pandanganku semakin menggelap dan aku pingsan.
***
Ketika aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Ada Serina yang menjagaku dan ia bilang, kalau para wartawan dan polisi sudah berkumpul di kostku setelah mendapati mayat seorang gadis, dan wanita paruh baya.
--Tamat--
Tim GMKS:
1. MR
2. >τια<
3. Popow
4. Mamy Titien
5. Jesi Kurnia
6. Sin Cera
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh anggota tim yang sudah meluangkan waktu dan pikirannya untuk mewujudkan terciptanya cerpen ini ^^ 😊. Dan untuk para pembaca semoga kalian semua suka dengan cerita yang kami tulis 😊😊