Anton dan Prilly adalah pasangan berbahagia yang baru saja menikah dan menjalankan resepsi di hari Minggu yang cerah.
Mereka sangat bahagia sebagaimana pasangan lain, saat masuk ke dalam pernikahan pertama.
Janji setia telah terucap dan cincin kawin telah tersemat di jari manis masing-masing. Betapa bahagianya mereka memecah masa jejaka dan perawan.
Sepasang pengantin baru ini sedang duduk di atas ranjang asmara mereka. Menatap pasang bola mata satu sama lain.
Anton memandang wajah cantik Prilly, bibir tipis itu, mata bulat itu, tubuhnya yang putih, wangi dan berlekuk indah.
Prilly memandang penuh gairah wajah Anton. Alis tebal itu, dada bidang itu, serta perawakan Anton yang kekar.
Anton ingin segera melakukannya.
"Eitttss... Nanti dulu!", Ujar Prilly memecah konsentrasi suaminya yang baru saja resmi 1 hari belakangan ini.
Anton paham, kemudian tangannya mengambil sebuah buku Dengan sampul berwarna biru. Sementara Prilly sudah siap dengan buku berwarna merah muda.
Buku-buku itu adalah buku harian mereka masing-masing, yang sesuai janji pasangan itu sebelum menikah, bahwa pada malam pertama pernikahan, mereka akan bertukar buku harian untuk dibaca oleh pasangannya.
Mereka "membelah" buku harian itu, yang sudah mereka tukar satu sama lain.
***
Prilly menatap sampul buku biru di tangannya, tersenyum manis, membukanya dari halaman pertama, lalu membacanya:
Lain kali, aku benar-benar harus menguraikan secara rinci, berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai ke kedai kopi itu.
Hari ini adalah hari Selasa dan seperti setiap Selasa sejak aku tiba di kota ini, aku mencoba untuk tiba di kedai kopi sebelum pukul 11:00, tetapi hari ini tampaknya keberuntungan tidak berpihak pada ku.
Aku terlambat.
Semua teman ku di kantor mungkin bertanya-tanya, mengapa aku begitu merasa rugi jika terlambat datang ke kedai kopi itu.
Hal itu bukan karena kopi atau kue, meskipun keduanya memang terasa enak dan cemilan terbaik di kota ini.
Sebenarnya aku sedang memastikan, apakah aku cukup beruntung untuk bertemu dengan wanita yang duduk di sebuah meja di sudut kedai itu.
Jika aku memberi tahu teman-teman ku, bahwa dia adalah alasan kunjungan ku, mereka pasti akan mengejek ku habis-habisan.
Sebenarnya mereka sudah melakukannya, tetapi dengan alasan yang kurang tepat.
Mereka melihat semangat ku meninggalkan kantor untuk dapat tiba di kedai kopi tepat waktu karena mereka meyakini aku sedang berselingkuh dengan pemilik kedai kopi yang berusia 70 tahun, namun tidak pernah pensiun.
Itu adalah ejekan buruk yang wajar untuk pria kutu buku, seperti diriku.
Tapi tidak seperti itu, cintaku bukan pada nenek tua itu, melainkan pada seorang wanita yang menumpahkan cangkir kopinya pada hari pertama aku bertemu dengan dirinya.
Dia datang ke kedai kopi setiap hari Selasa, pada jam yang sama dan duduk di sudut yang sama, seolah-olah dia tidak ingin mengganggu siapa pun atau seolah-olah dia tidak ingin diganggu.
Saat ia datang pada suatu pagi, semua meja di kedai itu penuh, jadi dia harus duduk di sebuah kursi tinggi di kedai kopi itu.
Membuat kecantikannya mudah terlihat oleh ku, dan membuat ku sangat mudah mengingat detil penampilannya.
Segala sesuatu tentang dia.
Aku masih ingat secara detail apa yang dia kenakan waktu itu, dia memakai gaun hijau yang mirip dengan warna zamrud.
ya, aku adalah seorang pria yang hanya bisa menggambarkannya dengan warna zamrud, kemudian dipasangkan dengan sepatu kets putih serta dompet kecil.
Wanita cantik dan menarik.
Rambutnya yang lurus, panjang dan berwarna hitam.
Dia memakai sedikit saja riasan, karena memang sebenarnya dia tidak membutuhkan apa pun untuk bibirnya yang sudah berwarna merah.
Saat dia memesan sesuatu pada pelayan kedai, dia melihat ke meja sudut di kedai itu. Sayangnya sudah ada yang menempati.
Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi tinggi tapi paling jauh dariku, namun paling jelas sudut pandangnya untuk ku.
Aku tidak tahu apa yang terlintas dalam pikiran ku, tetapi pada saat itu aku memutuskan, bagaimana caranya untuk bisa berkenalan.
Atau setidaknya sekadar mengetahui namanya saja.
Jadi yahhh... Aku menunggu waktu yang tepat untuk cukup alasan, agar aku bisa mendatangi dirinya, lalu pindah duduk satu meja dengan dia.
Ketika ada ibu hamil datang bersama dua orang anak yang kecil-kecil, aku berusaha membantu ibu itu mendapatkan meja di kedai.
Jadi aku bangkit dari kursi lalu mempersilahkan ibu hamil itu untuk menempati meja ku,
Kemudian aku mendekati wanita cantik itu, dengan alasan tidak ada meja lain untuk ditempati.
Aku menghampirinya sambil membawa secangkir kopi yang sudah ku pesan, dia membalikkan punggungnya kepada ku, mencari sesuatu di tasnya ketika aku duduk dan saat itu aku berkata,
"Halo!"
Dia berbalik, dan menurut ku, karena ketakutan melihat ada pria sok akrab tiba-tiba datang, dia menumpahkan kopi ke seluruh tubuhku.
Hingga kopi itu melumuri kemeja putih yang ku pakai, kopi itu membuat corak hitam yang hampir merata.
Di antara keributan cangkir pecah, ketakutan akan kedekatan kami, kemudian betapa panasnya kopi itu, juga kata-kata permintaan maaf, serta perhatian yang terus keluar dari mulutnya, intinya pertemuan pertama kami adalah bencana yang menumbuhkan rasa cinta.
Namun jika bukan karena pertemuan bisnis yang harus ku lakukan, tentu aku akan tetap ada di sana bersamanya. Mengobrol seasiknya.
Tentu saja setelah hari itu kami terus bertemu setiap hari Selasa, di jam yang sama.
Yah, menurutku akulah yang memanipulasi setiap pertemuan kami.
Seminggu pertama sejak aku bertemu dengannya. Aku datang ke kedai itu setiap hari.
Namun aku sadari sesuatu, bahwa ia hanya datang di hari Selasa jam 11.
Jadi hari ini aku terburu-buru tidak mau telat datang ke kedai kopi itu. Karena aku telah memutuskan untuk melakukan hal yang sama, yaitu menatap dia sedang memesan cappuccino dan kue.
Lantas ketika dia tidak sedang menulis di komputernya, dia akan membaca sesuatu dari ponselnya.
Dia selalu berpakaian nyaman, dia tidak pernah memakai terlalu banyak riasan, dan selalu tersenyum untuk siapa saja yang menyapanya.
Aku tidak tahu apakah dia menyadari bahwa setiap kali aku datang ke kedai kopi itu, aku sebenarnya datang hanya untuk dirinya, untuk menemui dia.
Aku tidak tahu apakah dia menyadari berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk menatapnya dan apakah dia melihat ke dalam mata ku, hingga ia tahu berapa banyak mimpiku yang isinya hanya dia.
Tetapi hari ini, sialnya aku terlambat dan aku tidak tahu apakah aku akan melihatnya.
Mengerikan untuk dibayangkan, karena jika aku tidak melihatnya hari ini, berarti aku tidak akan melihatnya sampai Selasa depan, terlalu banyak hari tanpa melihatnya tersenyum.
Terlalu banyak kerugian dan luka menyalahkan diri sendiri jika aku tak menatap senyumnya hari ini.
Jadi aku bertekad,
jika aku melihatnya sesampainya di kedai kopi itu, aku akan segera duduk di sebelahnya dan berkata:
"Halo! Nama saya Anton"
***
Anton membuka buku yang berwarna merah muda itu
Ada selembar kertas yang direkatkan kepada buku itu. Nampaknya itu surat yang tidak jadi dikirimkan.
Anton membacanya perlahan:
Wahai pria tampan bernama Vincent,
Aku bisa merasakan mu melalui getaran di kulit ku.
Kau adalah orang yang mengaduk-aduk perasaan ku, orang yang mengetahui semua rasa takut di dalam diriku.
Dan orang yang membuat ku menyadari bahwa aku harus mencintai seorang pria yang selalu berada di samping ku.
Tetapi apa yang tidak kau pahami adalah, bahwa dalam kenyataan ini kau bukan satu-satunya orang yang mendikte hati ku, hingga aku benar-benar jatuh cinta.
Suka atau tidak, kau harus memahami bahwa agar segala sesuatunya berfungsi, kita juga harus sinkron dengan hati yang lain sebagai perbandingan.
Kita telah melalui ini sepanjang hidup bersama kita, namun kita masih belum memahami satu sama lain.
Kau mengatakan putih dan aku mengatakan hitam. Aku mengatakan bahwa itu tidak mungkin dan kau bersikeras untuk melanjutkan tanpa terkadang menyadari bahwa kau menyakiti ku.
Pada akhirnya, kita saling menyakiti karena aku adalah kamu dan kamu adalah aku.
Aku menyakiti mu karena aku tidak berani mewujudkan keinginan mu dan kau menyakiti ku karena kau tidak menerima kekurangan ku dan buruknya karakter ku.
Kadang-kadang aku berpikir bahwa kau bernasib buruk ketika memilih ku sebagai teman hidup mu.
Tetapi kemudian aku berpikir itu bukan pilihan kita sama sekali, itu masalah takdir atau kebetulan saja.
Satu hal yang aku yakin adalah karena sejarah kebersamaan kita, pria lain di samping ku ini tidak akan pernah merasakan hal yang sama.
Untuk alasan yang sama aku memperingatkan mu untuk mempersiapkan dirimu.
Untuk mendengarkan dan merasakan bahwa aku sejujurnya bersedih, karena tidak peduli seberapa banyak aku mencoba untuk memberitahu mu untuk tidak jatuh cinta lagi pada ku.
Namun kau memutuskan untuk melakukannya lagi, kau memutuskan bahwa kau akan merasakan lagi apa adanya.
Merasakan itu.
Merasakan untuk memiliki cinta yang tak terbalas.
Kamu masih ingat aturan main 11 11 ?
Pukul 11:11 di kedai kopi itu?
Saat aku minum cappucino terbaik di kota kita, aku selalu membuat permintaan dan berdoa setiap kali aku melihat jam menunjukan pukul 11:11.
Aku tahu ini terkesan murahan dan agak bodoh tetapi aku memang melakukannya, bahkan untuk waktu yang lama.
Meski terkadang harapan ku tidak menjadi kenyataan, hanya dengan melihat jam tangan pada waktu itu, sudah cukup memberi ku harapan bahwa sesuatu yang baik kelak akan terjadi hari itu.
Hari itu adalah hari Selasa, satu-satunya hari libur yang aku punya setiap minggunya.
Jika kau bertanya-tanya apa pekerjaan ku, kau hanya perlu tahu bahwa pekerjaanku hanya terdiri dari mengartikan huruf dan menghitung pil.
Jangan salah paham, karena aku sungguh mencintai pekerjaan itu.
Aku mendapatkan banyak uang, aku mampu melakukan perjalanan jauh, membeli makanan untuk peliharaan ku, mencukupi kebutuhan hidup kita, dan memiliki rumah impian.
Tetapi dengan semua kecukupan itu, tentu aku perlu hari-hari seperti hari selasa itu.
Untuk sekadar mengisi ulang baterai hati ku yang melemah. Tidak ada yang lebih baik daripada melakukannya dengan secangkir kopi, kue yang enak, lalu duduk di meja sudut di kedai kopi itu, menunggu seseorang yang membuat semua mimpi ku jadi kenyataan.
Menunggu Tuhan menulis ulang takdir diriku, untuk menemukan pria yang lebih bertanggung-jawab untuk ku.
Pria itu bernama Anton. mau tahu bagaimana aku tahu nama itu ?
yah, pada hari Selasa yang pertama, saat dia duduk di kursi yang bersebelahan dengan ku.
Aku secara tidak sengaja menumpahkan secangkir kopi yang ia bawa ke seluruh tubuhnya.
Sejak itu, setiap kali kami bertemu, kami memberi isyarat untuk memberi salam, tidak lebih.
Kami tidak berbicara sama sekali. Dan meskipun begitu hatiku telah memutuskan bahwa dia akan menjadi kekasih fantasiku mulai saat itu, karena setiap hari Selasa Anton memesan secangkir espresso dengan kue jagung.
Hingga tiba pada Selasa yang tidak biasa. Anton datang berkeringat karena tampaknya ia merasa telat.
Ia datang tepat pukul 11.11, dia pikir aku sudah meninggalkan kedai kopi pada pukul itu.
Ia tidak tahu bahwa aku selalu memanjatkan doa di pukul 11.11, sesuai kebiasaan aku dan Vincent.
Di Selasa sepesial itu, tiba-tiba Anton tak basa - basi dengan duduk di meja lain, ia langsung duduk di kursi satu meja dengan ku.
Bantu aku Tuhan, aku tahu apa yang seharusnya dilakukan, namun memang ini gila, untuk membuat hubungan baru dengan laki-laki lain, saat ada seorang suami menunggu di rumah.
Meski ia hanya pria malas yang meninggalkan karir demi berbotol-botol minuman keras. Tapi tetap saja ia seorang suami.
Tapi aku tidak ada pilihan.
Atau aku sekedar tidak kuat lagi.
Sesaat setelah aku menumpahkan kopi itu, sebenarnya aku hanya menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk tetap fokus kembali pada tugas ku dan melanjutkan membaca buku yang ada di ponselku.
Di sisi lain di dalam hati ku, sebenarnya pada saat itu ada sesuatu yang aneh terjadi disini, di dalam hati ku yang terdalam, sesuatu yang tidak ku rencanakan.
Aku jatuh cinta pada pria yang kemejanya kotor akibat kopi yang ku tumpahkan.
Ku harap dia juga mencintai ku,
Mau menerima kondisi ku,
Apa adanya,
Dan tidak berubah pikiran setelah ia tahu aku adalah mantan istri seorang pria lain di luar sana.
***
Anton tampak terkejut, terlihat dari ekspresi wajahnya.