#plak
“YAK… Kenapa kau ada disini?”
Aku menendangnya sampai ia terjatuh dari ranjang, dia menarik selimut yang kupegang.
“YAK… kenapa kau menendangku?” ia mengusap tengkuknya karena kedinginan.
“Kau sedang apa di kamarku?”
“Kamarmu?” tanyanya dengan nada mengejek, “benar ini kamarmu?”
Aku memandangi sekeliling, warna kamarku berubah menjadi biru laut. Dan kenapa ada fotonya dinding kamarku?
Bukan… ini bukan kamarku. Ini kamar pria gila itu.
“Kenapa? Kau sadar ini bukan kamarmu? Ini kamarku. Lihatlah ada fotoku.”
Aku menarik selimutku menutupi tubuhku, “kenapa aku ada disini?”
“Mana aku tau…” Ia berdiri lalu mengambil kaos yang tersampir di atas sofa di kamarnya dan memakainya. “Kau masih ingin disini?”
“Aku mau mengambil bajuku dan memakainya.”
“Ambil dan pakai…”
“Bila kau masih disini mana bisa aku mengambil dan memakainya.”
“Aku tidak akan menyerangmu, tubuhmu itu tidak ada yang bisa ku kagumi. Benar-benar bukan tubuh seorang perempuan.” Katanya mengejekku. Kalau saja aku sudah memakai baju, dia pasti sudah habis ditanganku.
“Keluarlah…”
“Dan kedua orang tuaku bertanya apa yang sedang kulakukan? Mereka pasti bertanya-tanya nanti saat kau keluar dari kamarku pagi-pagi seperti ini.”
“Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa aku bisa ada dikamarmu dan tanpa pakaian?”
“Mana aku tau?” dia menaikkan bahunya. “yang kuingat tadi malam sepulang aku kerja, aku langsung tidur karena mengantuk.”
“Tadi malam aku menemani Onni berbelanja kemudia ketiduran dan terbangun di kamarmu.”
Kami berdua saling berpandangan dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.
Cklek…
Seseorang membuka pintu kamarnya, aku bergerak panik antara kembali menyelimuti tubuhku atau bersembunyi di bawah ranjangnya. Ia pun sama paniknya denganku.
“Hyuk-ah….” Omma-nya membuka pintu kamar dan terkejut melihatku, tetangganya yang selama ini sudah di anggap anak sendiri berada di kamar anak laki-lakinya dan dalam keadaan tidak mengenakan pakaian.
“Omma, aku…”
“Apa yang kalian berdua lakukan?”
“Immo.. ini bukan seperti itu. Kami tidak melakukan apa-apa, kami berdua tidak melakukan apa-apa.”
“Cepat pakaian bajumu, Eunji-ah. Immo menunggumu di bawah, kita akan berbicara ini bersama orang tuamu.”
Arghhh… ini buruk sekali…
‘’’’’
Sekarang aku seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis. Aku dan Hyukjae duduk di antara para tetua. Mereka memberikan pandangan yang begitu menusuk. Aku saja binggung dengan hal yang kualami ini.
“Menikah. Kalian berdua harus menikah.”
Aku melonggo kaget ketika Appa-ku mengatakan hal itu, menikah dengan pria yang selama ini tidak akur denganku. Aku menoleh ke arah Hyukjae dan kulihat tubuhnya menegang.
“Tidak ada kata tidak setuju.”
“Kalian sedang menjebak kami berdua? Tidak mungkin aku dan dia tidur bersama dan ini tidak masuk akal. Aku bahkan tidak ingat apa yang kami lakukan. Semalam aku terlalu lelah sepulang kerja dan langsung tdur di kamarku.”
“Dijebak atau tidak pun kalian harus menikah.”
Aku menghela napasku dan melirik ke arah Hyukjae, “bagaimana bila di tunggu sebulan? Bila aku hamil atau apapun itu, baru kami menikah.”
“TIDAK….” Jawab mereka serempak dan membuatku kaget.
“Kalian berdua harus menikah.”
Kami berdua saling menatap dan kulihat Hyukjae menghela napasnya pasrah. Menikah dengan Hyukjae? Kami saja selalu bertengkar bila bertemu.
Bagaimana nasibku?
‘’’’’
Aku pasrah saja, kami berdua tidak bisa menghentikan pernikahan ini. Banyak orang yang sudah memperkirakan pernikahan kami karena keluarga kami sangat dekat. Kami melewati pernikahan ini dengan aneh, terlihat dari Hyukjae yang terlihat sangat kaku untuk tersenyum saja dia tidak bisa.
“Badanku pegal semua.” Hyukjae melepaskan jasnya dan menyampirkannya di atas sofa, “kau dulu atau aku dulu yang mandi?”
“Kau saja, Hyuk-ah.” Dia menyergitkan dahinya,
“Kenapa?”
“Panggil aku Oppa, aku setahun lebih tua darimu dan kita sudah menikah.”
“Kau tidak cocok dengan panggilan Oppa, kau bahkan lebih manja dari aku.”
Dia berjalan mendekatiku, aku ikut berjalan mundur. “Kau sekarang istriku dan kau harus patuh padaku, chagi-ya.”
Aku sudah tidak dapat berjalan kemana-mana, tubuhku sudah terhimpit antara dinding dan tubuhnya. “Hyuk-ah…” kataku takut.
“Oppa… panggil aku Oppa baru aku akan melepasmu.”
Aku mendorong tubuhnya tapi dia malah memperkecil jarak diantara kami. Dia menarik tubuhku kepelukkannya.
“Jangan macam-macam denganku, chagi-ya. Aku bisa menghabisimu kapan saja kumau.”
Aku memandangnya, dia sedang tersenyum lembut padaku. Bukan senyumannya yang seperti biasa dia perlihatkan padaku. “malam itu, aku pastikan kita tidak melakukan apa-apa. Kita berdua dijebak oleh para tetua itu. Dan bisa dipastikan kita tidak akan pernah bercerai karena mereka pasti akan melarangnya. Jadi, lebih baik kita jalani pernikahan ini. Menarik sepertinya menikah dengan musuh bebuyutan.” Bibirnya tertarik dan mengeluarkan seringai khasnya, “baiklah istriku, suamimu mandi dulu tapi setelah itu kau harus memijat tubuh suamimu ini. Aigo-ya, tubuhku kaku.”
Dia melepas pelukkannya lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di luar kamar kami dan meninggalkanku yang terpaku karena ucapannya itu. Sialan…
‘’’’’
“Makanlah yang banyak Eunji-ah.” Ibu mertuaku mengambilkan lauk dan menaruhnya di piring makanku.
“Ne, Oemonim.”
“Panggil Omma saja seperti Hyukjae, kau ini dari dulu kami menganggapmu sebagai anak kami sendiri tidak usah canggung seperti ini.”
“Ne, Omma.”
Ibu mertuaku mengambilkan lauk untuk suamiku, “kau harus makan yang banyak, Hyuk-ah. Kau butuh energi yang ekstra untuk malam ini. Siapkan tenagamu, cepet berikan kami cucu.”
Hampir saja aku menyemburkan makananku, dari dulu aku tau mulut ibu mertuaku ini tidak bisa di rem tapi tidak seperti ini juga. Kulihat Hyukjae malah tenang saja menikmati makanannya.
“Tenang saja Omma, aku akan membuat Eunji lemas. Dan jangan ganggu kami besok pagi, kami akan tidur sangat larut malam ini.” Hampir saja aku memukul kepalanya dan memakinya tapi kuingat sekarang aku istrinya.
“Baguslah bila begitu berarti kalian akan memberikan kami cucu secepatnya.” Sekarang Ayah mertuaku ikut berbicara.
‘’’’’
Aku menaikki ranjang dan merebahkan tubuhku, meraih guling yang barada di sampingku dan memelukknya. Hyukjae ikut membaringkan tubuhnya di sampingku. Merebut gulingku dan menaruh ke sisi tubuhnya yang lain. Aku menatapnya marah.
“Dari pada kau memeluk guling seperti itu, kau peluk aku saja.”
Dia menarik tubuh dan membelitkan kakinya ke tubuhku, “sesak.”
“Janji dulu kau tidak akan melepaskannya dan menendang tubuhku seperti pagi itu.”
“Janji.”
Dia melonggarkan pelukkannya kemudian menatapku lembut, membelai rambutku. “tidak menyangka musuhku selama ini menjadi istriku.”
“Iya, kitakan musuh abadi.” Aku membenarkan posisi tubuhku, “kapan kau kerja?”
“Oppa…”
Aku memutarkan bola mataku, “kapan kau kerja, Oppa?” aku menekankan kata Oppa.
“Minggu depan, kau?”
“Bulan depan.”
“Bulan depan?”
“Iya, anak sekolah baru memulai kelas bulan depan.”
“Apa tidak apa-apa berkerja setelah menikah? Aku sanggup membiayai semua keperluanmu.”
“Tidak apa-apa, masih bisa aku berkerja. Kita belum memilki anak juga.”
Dia terkekeh dan aku menatapnya binggung, “anak?” dia mengacak rambutku, “sepertinya kau akan memiliki anak secepatnya.”
“Apa maksudmu?”
“Omma kan menyuruhku untuk membuatmu lemas malam ini.”
Aku memukul kepalanya, “kau yang mengatakan itu, bukan Omma”
“Tapi aku bisa saja membuatmu lemas, kkkk…”Aku mencubit perutnya, “sakit Eunji.”
Karena kasian, aku mengelus bekas cubitanku. “kau tau, Oppa. Baru kali ini kita berbicara seperti ini. Tidak seperti biasa, kau selalu membuatku marah dan kesal dengan kelakuanmu tapi hari ini kau sangat lembut sekali.”
“Status kita berbeda sekarang, aku suamimu dan kau istriku. Perlakuanku terhadapmu juga berbeda. Bila aku seperti itu kemungkinan tiap hari kita akan bertengkar dan ujung-ujungnya kau meminta cerai.”
“Kau benar-benar memikirkan hubungan kita?”
Dia mempererat pelukannya, “aku ingin menikah hanya sekali seumur hidup, walaupun pernikahan kita adalah hal yang di rancang kedua orang tua kita tapi aku tetap ingin menjalaninya dengan serius. Kau memang temanku bertengkar selama ini tapi sekarang kau teman seumur hidupku dan kita akan selalu bersama.” dia menempelkan dahinya di dahiku, “kau menyesal menikah denganku?” aku mengelengkan kepalaku, “jadi, sekarang kita bersama-sama menjalani pernikahan ini, hem.” Aku mengangguk lalu membalas pelukkannya, dia letakkan dagunya di atas kepalaku.
“Tapi kau tidak akan membuatku lemas malam ini kan?”
“Tidak malam ini… hari ini sangat melelahkan, mungkin aku akan tidur di tengah-tengah nanti. Kapan-kapan saja saat kau siap dan tidak terpaksa melakukannya bersamaku.”
“Terima kasih, Oppa.”
“Sepertinya sekarang kita tidur saja. Aku sudah sangat mengantuk.” Hyukjae Oppa melepaskan pelukkannya dan mematikan lampu kamar kami. Dia kembali memelukku, “kau harus terbiasa tidur dipelukkanku.”
‘’’’’
Sayup-sayup aku mendengar suara-suara. Aku masih lelah untuk membuka mata saja tidak bisa.
“Manisnya, kita harus memfotonya. Eunji Omma…”
Aku mendengar suara klik dan kilat cahaya yang membuatku sedikit terganggu. Aku membuka mataku perlahan, ahh… ternyata aku masih berada di posisi yang sama seperti tadi malam, berada dipelukkan Hyukjae Oppa. Aku melepaskan pelukkannya perlahan dan bangkit dari tidurku.
Aku membelalakan mataku, dihadapanku sekarang ada Omma dan ibu mertuaku. Mereka tersenyum riang sambil memegang ponsel d tangannya.
“Kalian berdua manis sekali, tidur berpelukkan seperti itu. Bukankah tadi malam Hyukjae ingin membuatmu lemas. Omma penasaran sekali tapi kalian hanya tidur berpelukkan seperti itu.”
Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku. Kedua Omma ini…
“Hoam…” Hyukjae Oppa perlahan bangun dari tidurnya, dia duduk di sampingku lalu mengucek matanya. Seperti anak kecil, “annyeong…” dia memelukku dan membuatku semakin malu. “OMMA…” akhirnya suamiku ini sadar, kedua Omma kami sedang berada di kamar kami.
“Lihatlah betapa manisnya kalian berdua, sebelum menikah terlihat sangat tidak akur. Tapi sekarang… seharusnya kau memberinya ciuman selamat pagi, Hyuk-ah.”
“Bila Omma tidak ada disini, aku akan memberinya ciuman selamat pagi.” Suamiku bangun dan berjalan ke arah Omma, “kami butuh privasi, sudah kukatakan jangan menganggu kami pagi ini.”
Ibu mertuaku memukul kepala suamiku, “katanya kau akan membuat Eunji lemas, mana buktinya?”
“Maka dari itu, Omma keluar saja. Aku akan membuat Eunji lemas sekarang.” Suamiku mendorong tubuh kedua Omma lalu mengunci pintu kamar kami, “ya ampun, pagi-pagi mereka sudah menganggu kita. Pantas saja aku merasa hawa yang tidak enak tadi.”
Hyukjae Oppa kembali berbaring di atas ranjang tapi matanya tidak tertuup kembali. Menatapku dengan lembut.
“Kenapa?”
“Kedua kalinya melihatmu terbangun di kamarku, mungkin bila keadaanmu seperti yang pertama. Aku akan langsung menyerangmu.” Aku memukul kakinya, “kekerasan dalam rumah tangga.”
“Apa yang kita lakukan hari ini?”
“Aku hanya ingin berbaring saja, masih sangat lelah. Tubuhku sangat pegal.”
“Malam ini kita tidur di kamarku saja bagaimana?”
“Terserah padamu saja…” Hyukjae Oppa menarikku kepelukkannya, “temani aku tidur, rasanya sangat nyaman ketika tidur sambil memelukmu.”
‘’’’’
Huft…. Menghela napas, ini aneh y?
Terima kasih sudah mampir dan membaca^•^