Lelah rasanya badan ini. Begitu banyak laporan yang harus kuselesaikan. Kurapikan meja kerjaku, laptop kumasukkan kedalam tasku. Rekan kerja yang lain sudah pulang dari tadi. Aku pun segera keluar dari ruanganku menuju lobby. Disini aku melakukan absensi sidik jari terlebih dahulu.
Saat melewati lapangan parkir, hari sudah gelap, tiba-tiba... "Tiin... tiin...", ada suara klakson mobil.
Aku menengok kearah belakang, ada sebuah mobil sedan menghampiriku.
"Kay... baru pulang? Aku antar ya ... ini sudah malam", pintu mobil terbuka, terlihatlah wajah pengendaranya, Pak Rendi manajer HRD.
"Terima kasih Pak, tapi saya akan naik ojol saja".
"Jangan! ini sudah malam, biar aku yang mengantar kamu pulang".
Akhirnya aku pun masuk ke dalam mobilnya karena tak enak kalau terus menolaknya.
"Rumahmu di mana?"
"Di Cibeureum Pak..."
"Cibeureum? lumayan jauh tuh".
"Iya, jauh Pak... nyesel ya nawarin nganter?!", kataku sambil tertawa kecil.
"Rumah Bapak dimana?"
"Cibiru".
"Wah... jalurnya bertolak belakang dong... saya turun didepan saja, biar Bapak tidak terlalu jauh mengantarnya".
"Eh, tidak bisa begitu dong... aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu, tapi temani dulu aku makan ya?! aku lapar".
Belum sempat aku menjawab, mobil sudah berbelok ke halaman rumah makan Sunda.
"Ayo turun, Kay"
"Saya tunggu disini saja ya Pak?! Silahkan Bapak makan".
Pak Rendi turun dari mobil dan membukakan pintu mobil disebelahku.
"Ayolah turun, temani aku makan dulu... sebentar saja".
Akupun mengalah lagi, aku turun dari mobil dan mengikutinya. Pak Rendi memilih duduk didalam gazebo bambu. Tak lama pelayan datang menghampiri dengan membawa buku menu. Pak Rendi memilih menu paket nasi liwet komplit dan minumnya kelapa muda.
"Aduh ini sih tidak bisa sebentar", pikirku dalam hati saja, nggak berani kalau diomongin.
"Sudah berapa lama ya kamu bekerja di divisi produksi?" tanya Pak Rendi, mungkin untuk basa-basi, dia kan bisa melihat data semua karyawan di file yang pasti dimilikinya.
"Sudah tiga tahun Pak".
"Kalau di luar kantor, kamu jangan panggil Pak, panggil saja langsung nama aku... Rendi gitu, atau bisa juga panggil Mas", kata Pak Rendi sambil tersenyum.
"Saya tidak berani"
"Kok, nggak berani? Wajar kan kalau kamu manggil nama atau manggil Mas?! Umur kita kan tidak jauh beda", kata Pak Rendi sambil tertawa.
Akhirnya makanan datang. Wih, benar saja... ternyata banyak... porsi empat orang.
"Kenapa banyak-banyak pesannya, kita kan cuma berdua, nanti mubazir kalau tidak kemakan?"
"Sudah nggak apa-apa... nanti kalau nggak habis... aku akan minta dibungkusin sisanya", dia berkilah.
Aku langsung diam. Pak Rendi mengisi nasi ke piringku. "Segini cukup Kay?"
"Cukup Pak... terima kasih".
"Ck..aku bilang jangan panggil Pak!"
"Mmm... ya Mas..", kataku ragu. Pak ... eh ... Mas Rendi pun tersenyum.
"Aku paling senang kalau makan ada yang nemenin", katanya sambil makan dengan lahapnya. Benar-benar terlihat lapar.
"Lho, memang di rumah nggak ada siapa-siapa?"
"Ada Bi Enok...yang bersih-bersih di rumah, dulu ada Ibu yang suka nemenin makan... tapi Ibu meninggal tahun lalu".
"Maaf..."
"Nggak apa-apa kok... bukankah kehidupan itu begitu?!... lahir, jadi seorang anak, kemudian tumbuh dewasa, tua, akhirnya meninggal".
"Itu kalau fase normal Mas... ada juga yang tiba-tiba sakit lalu meninggal atau mendadak kecelakaan lalu meninggal", aku menunduk sedih.
"Maaf... adakah keluargamu yang meninggal juga?"
"Iya... kakakku dan suaminya... tiba-tiba mengalami kecelakaan mobil dan keduanya meninggal dunia, dua tahun yang lalu".
"Maaf aku membuat kamu sedih ya?"
"Tidak ... ini semua sudah takdir ... aku harus tegar demi ibuku, ibuku sangat terguncang dengan kematian kakakku. Dia kesayangan ibuku, dia cantik, pintar dan baik".
"Kamu juga cantik, pintar dan baik... Ibumu juga pasti sayang padamu", Mas Rendi menatap wajahku dalam-dalam.
Ehhm... aku berdehem. Aku memalingkan mukaku yang terasa panas, kalau aku bisa melihat mukaku ini, pasti terlihat memerah.
"Apa tadi ia memujiku?" pikirku dalam hati.
"Kay... apa kamu sudah punya pacar?" Mas Rendi menatapku.
"Belum... memangnya kenapa nanya kayak gitu Mas?" Kayla salah tingkah.
"Takut ada yang marah kalau aku mengantarmu pulang", Mas Rendi tertawa.
"Weh... itu namanya pengecut... belum apa-apa sudah takut... bersikap jantan dong berani bersaing... berani menghadapi rintangan", kataku sambil tertawa juga.
"Mmm... baiklah kalau kamu ingin aku bersikap jantan", Mas Rendi mengedipkan matanya.
"Wah... menjurus kemana nih kalimatnya... aku jadi takut", aku berkata dalam hati.
"Makannya yang banyak dong Kay... biar sehat"
"Mas ngomongnya kayak ke anak kecil aja", aku tertawa.
"Sayang sekali ... kenapa aku baru sekarang mengantarkan kamu pulang ... tidak dari dulu-dulu, ternyata menyenangkan ngobrol dengan kamu", Mas Rendi tersenyum sambil menatapku.
Aku tersenyum sekilas lalu menunduk.
"Sudah selesai makannya?"
Aku mengangguk.
"Ayo kita pergi", Mas Rendi menuju kasir untuk membayar. Aku menunggunya, setelah selesai urusan di kasir, kami masuk kembali ke dalam mobil.
"Duh... pulangnya jadi malam sekali... pasti dia nungguin..." aku bergumam dalam hati.
"Sudah dekat ya Kay?" Mas Rendi membuyarkan lamunanku.
"Mmm.... iya... belok kiri didepan... lurus... lurus... nah belok kiri didepan", aku memberi komando.
"Rumahmu yang mana Kay?" Mas Rendi bertanya sesudah jalan menjadi bercabang.
"Harus berhenti disini... terus jalan ke gang itu... jadi sampai disini saja ya... terima kasih banyak sudah diantar", aku membungkukkan badanku sedikit.
"Hei... Kay... tunggu... aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu, ini sudah malam", Mas Rendi turun dari mobilnya dan mengikuti aku dari belakang.
"Nah ini rumahku... Assalamualaikum" tak lama Ibuku dan Seyra keluar menyambutku.
"Wa'alaikumsalaam" ibu menjawab salamku.
"Mama... Mama Kay..." Seyra menghambur ke pelukanku. Aku menciumnya, lalu menggendongnya.
"Belum tidur sayang?"
"Belum Mama... Ceya nungguin Mama... kok Mama puangnya malem", Seyra bertanya bertubi-tubi padaku dengan bahasanya yang masih cadel.
"Mama?... ini anak kamu Kay?" Mas Rendi terbelalak kaget.
"Kamu sudah menikah?" Mas Rendi masih terlihat terbengong-bengong.
"Belum", aku menggelengkan kepala.
"Nak ... mari masuk... teman kerjanya Kayla?"
"Iya saya teman kerjanya Kayla... saya mau langsung pamit saja, sudah malam... assalaamualaikum".
"Wa'alaikumsalaam... terima kasih ya".
***
"Duh.. Seyra sayang... ayo kita tidur sekarang... sudah gosok gigi?..." Seyra mengangguk. "Sudah pipis?" Seyra mengangguk lagi. Aku membawanya ke kamar tidur.
"Sebentar ya... Mama Kay ganti baju sama gosok gigi dulu ya cantik?" aku menurunkan Seyra diatas tempat tidur.
Setelah mengganti baju dan gosok gigi, aku berbaring di samping Seyra. Ternyata dia sudah tertidur. Kukecup keningnya dan kuselimuti tubuh mungilnya.
Seyra adalah anak almarhum kakakku. Ibuku yang merawatnya setelah kedua orang tuanya meninggal. Seyra mulai tinggal dengan kami sejak berumur dua tahun... berarti sekarang dia sudah berumur empat tahun.
Seyra memanggilku mama, mungkin karena wajahku mirip dengan wajah mamanya. Dan aku pun berlaku seperti mamanya, aku memperlakukannya seperti anak kandungku.
Orang-orang yang tidak mengenalku secara dekat, pasti menyangka Seyra itu betul-betul anak kandungku. Jadi hingga sekarang tidak ada yang mendekatiku. Atau setelah tahu aku punya anak, mereka akan mundur teratur.
***
"Kay... nanti pulangnya aku antar lagi ya?!" Mas Rendi mampir di meja kerjaku.
"Wah... jangan sering-sering, kasihan kejauhan nganternya", kataku, sebenarnya maksudku adalah untuk menolak secara halus.
"Hmm... aku punya sesuatu untuk anakmu", katanya sambil tersenyum.
***
Seperti biasa, aku pulang setelah membereskan semua file laporanku, aku menuju lobby, melakukan absensi sidik jari, lalu melangkah menuju tempat parkir.
"Tiin...tiin..." aku menoleh kearah suara klakson. Pintu depan mobilnya terbuka. Ah itu pasti Mas Rendi.
Aku pun menghampirinya, aku masuk ke dalam mobil, lalu mengenakan seatbelt.
"Mas, apa nggak capek nganter dulu aku... terus pulang lagi ke rumahnya Mas?!"
"Berarti kalau gitu aku nginep aja di rumah kamu Kay... nggak usah pulang ke rumahku", Mas Rendi tertawa.
"Wew... mana boleh begitu?!", kataku
"Ya boleh dong,... nanti kita nikah dulu ya?!"
Aku diam saja, tak berkata lagi.
"Katanya nih ... kalau perempuan diam saja setelah diajakin nikah berarti dia itu mau diajak nikah", Mas Rendi tersenyum lebar.
"Wew... ngarang aja".
"Memang kamu nggak mau nikah gitu?", Mas Rendi terlihat serius.
"Ya mau dong... itu sunnah Rosul"
"Jadi mau dong diajak nikah sama aku?"
Wah sepertinya ini serius, "Mas Rendi betulan ngajak aku nikah?"
"Betul, aku serius"
"Tapi Mas belum mengenal aku secara dekat"
"Kita menikah dulu nanti kan bisa mengenal secara mendalam".
"Tapi aku kan punya anak dan tidak bisa meninggalkan Ibuku".
"Justru itulah paket lengkap untukku. Aku akan langsung punya keluarga besar", wajah Mas Rendi tetap serius.
"Tapi...Mas, kalau anakku tidak menyukai calon suamiku, aku tidak akan menikahinya".
"Tenanglah, ia pasti menyukaiku karena aku juga nya, anakmu lucu sekali".
***
"Kay... ayo turun...", aku turun dari mobil. Kulihat Mas Rendi mengeluarkan paper bag dan sebuah boneka kelinci.
"Mas sudah mempersiapkan sogokan buat anakku ya?" Kayla tertawa.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalaam", Ibu keluar sambil menggendong Seyra yang sedang menangis terisak-isak.
"Eh, sayang kenapa digendong Nenek? kan Mama udah bilang sama Seyra... jangan digendong sama Nenek, kasihan... Seyra kan udah besar... badannya udah berat", kataku sambil mengambil Seyra kedalam gendonganku.
"Silahkan masuk Mas"
"Saya Rendi Bu", Mas Rendi mengenalkan dirinya sambil menyalami ibuku.
"Ayo nak, silahkan masuk".
Mas Rendi duduk di kursi ruang tamu. Aku duduk juga sambil tetap menggendong Seyra.
"Kenapa kamu nangis?" kataku sambil mengusap-usap rambut dikepalanya.
"Ceya mau sama Mama Kay"
"Mama kan harus kerja sayang, jadi sebelum Mama pulang, Seyra harus main dulu sama Nenek.
"Sama Om digendongnya ya?!... nih lihat Om bawa apa buat Seyra", Mas Rendi mulai mengeluarkan jurusnya... merayu Seyra.
Perlahan Seyra menoleh, Mas Rendi memberikan boneka kelincinya, "Seyra suka boneka nggak?" Seyra mengangguk, ia mengambil dan mendekap bonekanya.
Aku mendudukkan Seyra diatas kursi. Sepertinya ia sudah mau berinteraksi dengan Mas Rendi.
"Lihat ini... Om juga punya mainan", sekarang Mas Rendi mulai mengeluarkan isi paper bag. Ada alat dokter-dokteran, alat masak-masakan, pensil warna dan buku gambarnya.
"Seyra suka nggak ini?" tanya Mas Rendi.
"Cuka... cuka... maenannya baanak banget", kata Seyra sambil menghampiri Mas Rendi.
Aku meninggalkan mereka dengan diam-diam untuk membuatkan minuman.
"Kayla, temanmu itu menyukaimu ya?", ibuku bertanya.
"Katanya Bu, ia ingin menikahimu", ibu tersenyum.
"Sudah saatnya kamu menikah, umurmu sudah lebih dari cukup",
"Tapi aku ngasih syarat Bu, Seyra harus menyukai calon suamiku dulu, baru aku mau menikahinya".
"Bu, aku kedepan lagi", kataku sambil membawa nampan berisi air teh dan setoples kue kering buatanku.
Ketika sampai di ruang tamu, aku melihat Seyra sedang asyik bermain dengan Mas Rendi. Seyra sedang mengenakan stetoskop mainan dan menempelkannya di lengan Mas Rendi. Mereka tertawa bersama.
"Diminum dulu Mas", aku meletakkan nampan diatas meja.
"Lagi main apa nih kok asyik sekali?"
"Ceya jadi doktel Mah.... Mah Ceya mau baju doktel yang putih",
"Iya, nanti Mama carikan ya?! tapi nggak cepet-cepet, nanti kalau Mama libur kerja nyari baju dokternya".
"Seyra sayang sini... mainnya sama Nenek", ibu memanggil Seyra, sepertinya sengaja agar aku bisa ngobrol berdua dengan Mas Rendi.
"Om Ceya mau main sama Nenek ya... makacih maenannya", Seyra membawa mainannya kedalam rumah.
"Kay, libur nanti kita ajak Seyra ke Kebon Binatang yuk?" kata Mas Rendi
"Nanti aku tanyakan dulu sama Seyra nya".
"Anakmu cantik dan lucu Kay... aku akan menyayanginya... aku juga akan menyayangimu Kay", tiba-tiba saja Mas Rendi duduk di sebelahku dan memegang tanganku. Tentu saja aku jadi gugup, aku mencoba menarik tanganku, tapi ia menggenggam tanganku dengan kuat. Ada debar aneh didadaku.
"Mas, sebenarnya Seyra itu bukan anak kandungku, tapi anak almarhum kakakku, aku merawatnya sejak dia berumur dua tahun hingga sekarang, aku sangat menyayanginya".
"Kamu luar biasa Kay".
"Aku harus tegar Mas, demi Ibuku dan Seyra, kalau Mas betul-betul akan menikahiku, Mas juga harus sayang sama Ibu dan Seyra"
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************