Napas tersengal-sengal saat mendapatkan daksa yang kuanggap tak ada gunanya ini masih utuh seperti sebelumnya. Aku kira telah tertimbun tanah dan di atasnya bertabur bunga, ternyata Tuhan masih percaya ; napasku berharga.
Hari yang sore dan pintu kamar kecilku masih terkunci rapat, tidak ada kegaduhan apa pun karena memang bekas kaca tadi tak pecah sesaat, melainkan pecah satu minggu lalu saat aku menarik buku dari meja. Kepalaku masih pusing, melihat bercak foundation-ku tumpah di ubin. Lagi pula aku juga tidak memerlukan benda itu, jadi kubiarkan saja. Aku berjalan menuju almari mengambil handuk dan kemudian keluar kamar.
Clekkk!
Berganti decit pintu yang seret akibat musim penghujan. Kulirik kiri-kanan, rumah terlihat sepi. Pikiranku menebak apa ini akhirat yang menyerupai rumahku?
“Aduhhh!” teriakku mengusap-usap ubun.
“Ini sudah jam berapa? Kau ini tidur atau mati, ha?” ucapnya tiada manis-manis. Wajar, bukan lemineral.
Sudah aku saja yang lihat pakai acara mukul kepala, jika bukan karena aku waras mungkin sudah kucekik lehermu. Aku berjalan tanpa menggubris ocehan satu makhluk menyebalkan yang terus mengekor.
“Aku mau mandi, kau mau ikut?!”
“Kalau bol—“
Selain menyebalkan sudah tentu aku tahu persis jawaban konyolnya. Langsung kututup pintu hingga menimbulkan suara keras. Mungkin para tetangga pun juga mendengarkan, tetapi masa bodoh.
***
Aku kira dia sudah menghilang atau pergi ke mana gitu, ternyata masih menunggu bagai satpam kompleks perumahan.
“Minggir aku mau lewat.” Menendang kecil betisnya, dan kemudian membenahi posisi sendal di jari-jari kaki. “Kau sedari tadi di sini, jangan-jangan ngintip, ha?!”
Dia hanya diam. Tumben.
Baru saja ingin membatin, dia sudah hilang ‘tak nampak mulut monyongnya. Tidak perlu pikir panjang mungkin tengah ada panggilan dadakan dari mandornya. Dasar demit bayaran.
Niatku mau kembali ke kamar dan membereskan kamar, walaupun hanya sedikit menyapu ke bawah ranjang. Menimbunnya agar menjadi harta karun. Namun, terhenti saat usus di dalam perut terus mendesis, bahkan menari-nari dengan cacing di dalam sana.
Langkahku berbelok ke meja makan. Membuka penutup nasi, tetapi kabar baik tidak menjabat tanganku kali ini. Tidak terdapat apa pun di sana hanya piring kosong dengan sedikit sisa. Tanganku gatal ingin makan menggaruk-garuk celana pendek selutut dan apa yang kutemukan? Gumpalan kecil terlipat di saku.
Rezeki memang tidak ke mana, kutarik benda itu.
“Mantap, dua puluh rebu!” sorakku yang senangnya bukan main.
Ketukan mangkok Kang Jay terdengar nyaring membuat senyumku semakin lebar. Tanpa perduli dandanan usai mandi aku langsung keluar rumah.
“Kang!” teriakku pada Kang Jay yang masih lumayan jauh dari rumah.
Terlihat binar mata Kang Jay yang berkilau, dengan berjalan cepat dia mendorong gerobak pangsitnya. Hingga dalam hitungan beberapa menit saja sudah sampai di hadapanku.
“Eh, Eneng. Mau beli pangsit, Neng?”
“Nggak, iya-iyalah, Kang!”
Mendapati jawabanku Kang Jay hanya cengar-cengir dan dengan cekatan mengolah bahan-bahan yang tersedia di almari kaca kecil gerobak. Aku mengambil kursi yang ada di depan gerobak dan mendaratkan tubuh di sana.
“Abis mandi ya, Neng?”
Aku memutar bola mata, oh, iya-iya. “Abis Fashion show, Kang.”
“Neng, ma bisa aja.”
Aku gak gombalin, tetapi responnya begitu? Hmmm. Aku baru ingat handuk masih memeluk leher. Pantas saya Kang Jay begitu.
“Ini, Neng.” Bang Jay mengulurkan mangkuk yang sudah berisi pangsit lengkap dengan pesanan khasku.
“Tujuh sendok, ‘kan?” tanyaku memastikan sambal yang ditaruh di atasnya.
“Nggeh, Ndhoro,” ucapnya membungkuk, membuatku tersenyum miring, dan kembali fokus pada pangsit yang sudah ada di tangan. Tanpa ba-bi-bu sedikit bibir bergerak-gerak merapal doa seraya tangan perlahan mengaduk pangsit agar tercampur, kemudian dengan lahap kusantap pangsit Bang Jay.
Kira-kira tersisa tiga gulungan lagu. “Kang ini bener tujuh, ‘kan?”
“Iya,” jawab Bang Jay mendongak dari layak ponselnya. Tentu usai membalas pesan kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Mina.
“Kok pedes, ya?” ujarku sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan mulut yang sudah memerah. Belum lagi dengan hidung yang banjir, lebih parah saat nangis ngeliat gebetan selingkuh sama temen sendiri pula. Rasanya ... mantap sekali.
“Lah, iyakah? Bentar kubuatkan minuman dulu.”
“Ho’oh cepet.” Aku menarik tisu untungnya Kang Jay sudah beli, yang benar saja hidungku setiba jadi banjir bandang. Air mata udah kayak air terjun ‘tak ada habis-habisnya. Mana bukannya kenyang perutku seperti dipelintir, dibakar atau mungkin para cacing demo sambil bakar ban, ya?
Parah. Aku belum makan sejak pagi dan sorenya makan pedas. Alamak tentu aku kayak orang kesetanan. Keringat dingin sudah mengembun di kening, leher, dan mungkin seluruh badan.
“Ekhmmm.”
Aku yang sedari tadi membungkuk beralih mendongak. Lihat siapa yang datang dan hanya berdehem? Siapa lagi kalau bukan si makhluk menyebalkan. Mungkin wajahku sudah pucat, bukan karena takut. Melainkan menahan perih yang melebihi saat pecahan kaca menggores tangan.
Suara gelas pecah mendengung di telinga. Kang Jay terlihat kewalahan memunguti pecahannya.
“Itu ulahmu?” bisikku melihat di tempatnya duduk dan mengayunkan kaki.
“Tentu.” Tiada dosa, bisa-bisa dia tersenyum seperti itu.
“Udah Kang, gak usah. Ini,” seruku menyodorkan selembar warna hijau tadi. “Kembalian ambil aja.” Aku langsung berjalan masuk ke dalam tanpa menunggu balasan Kang Jay.
Sesampai di dalam segera kucari kotak obat dan air untuk meneguknya. Berselang beberapa menit efek kantuk merajai ragaku. Aku beranjak berjalan menuju kamar kembali, tapi kelapa berdenyut-denyut. Pandangan mulai samar-samar, apa aku akan pinsan?
***
Sesuatu terasa dingin menempel di jidat, aku mencoba menepisnya. Namun, dikejutkan saat jemari tangan meraba dan merasakan sesuatu itu adalah sebuah tangan. Sontak saja aku langsung terduduk membuat denyut di kepala kembali lagi, belum lagi dengan napas yang naik turun.
“Kau mau membunuh, ya?!” tanyaku padanya. Dia malah melayang menuju atas almari dan duduk bersila di sana. Senyum menarik pipi pucatnya dan itu sangat manis.
Ada apa denganku? Segera kutepis pikiran itu dan kembali membaringkan tubuh di kasur.
“Kalau aku ingin membunuhmu, seharusnya kamu gak bangun.” Aku tidak menggubris, lebih memilih nmwnarik selimut dan menykpal telinga dengan bantal, tetapi percuma.
Suara omelannya terus saja masuk menggetarkan gendang telingaku, entahlah lama-lama aku juga muak memiliki kelebihan ini. Walaupun di sisi lain aku juga terkadang senang. Karena ini aku bisa bertemu dengannya. Tidak bisa dibohongi, dialah makhluk yang selalu menjagaku di manapun. Meski sebenarnya Tuhan lah yang sebenarnya selalu ada, melalui dia aku banyak mendapat arti dari pertemanan, dan menghargai sesama ciptaan bahkan untuk sesuatu yang tidak terlihat. Namun, sebenarnya selalu ada di sisi kita.
~Sekian~