Saat ini, kau sedang menonton acara reality show di televisi sembari meneguk segelas soda yang menyegarkan. Sesekali matamu melirik pada benda pipih canggih yang kaupegang karena bosan, sedang jempolmu menggulir layar gawai dengan pelan.
Iya, kau tengah menunggu pesan masuk dari lelaki yang kau sukai selama dua tahun terakhir.
Namanya Reiga. Tampan dan menawan. Tak hanya itu, dia juga sangat ramah dan baik hati.
Kau baru bisa dekat dengannya seminggu yang lalu setelah hampir dua tahun menyukainya dalam diam. Sama-sama menjadi koordinator di event sekolah yang akan datang, kau dan Reiga resmi menjadi partner.
Kau sangat senang, itu pasti. Akhir-akhir ini pun kau cukup sering berkomunikasi dengannya lewat gawai. Senyum yang merekah dan pipi merona selalu terlihat darimu tiap kali Reiga mengirimkan pesan.
Reiga bilang dia akan menghubungimu malam ini untuk membicarakan event sekolah. Namun, sampai saat ini, belum ada satu pun pesan masuk darinya. Kau mencoba mengirimkan pesan, tetapi hanya centang satu yang bisa kau dapat.
Kau bosan. Acara malam ini tidak ada yang bisa menghiburmu. Beruntung kau masih memiliki persediaan soda di kulkas. Tak sadar sebotol soda yang berukuran satu liter itu habis dalam sekejap olehmu.
Kau baru akan meneguk segelas air putih kala suara lolong seperti serigala tertangkap indra pendengaranmu. Sembari minum, kau menajamkan telingamu. Akan tetapi, pendengaranmu tak salah karena suara lolong itu memang terdengar beberapa kali.
Serigala? pikirmu heran.
Setahumu, tidak ada serigala di daerah sekitar tempat tinggalmu. Bahkan, tidak ada hutan di sini.
Aneh.
Apa mungkin ada serigala yang menyelinap ke pemukiman? Pasalnya, suara itu terdengar keras. Seharusnya tidak jauh dari tempat tinggalmu.
Kakimu melangkah menuju jendela lantas menyibak gorden sewarna gading yang menutupinya. Remang-remang sinar rembulan yang berwarna kemerahan menembus retina, kemudian kau terbeliak.
Cepat-cepat kau mendongak, menatap langit malam yang berhias dua buah bintang. Namun, bukan itu yang menjadi atensimu, melainkan benda langit berbentuk satu lingkaran penuh. Warnanya sangat tak normal. Bukan putih atau kuning seperti yang biasa kaulihat, tetapi merah benderang yang seperti darah.
Matamu memicing, mencoba melihat lebih jelas lagi. Namun, bulan itu benar-benar seperti memancarkan warna merah yang menusuk. Buluk kudukmu terangkat seketika-kau merinding. Entah karena suara lolong serigala atau bulan merah yang terlihat menyeramkan atau mungkin keduanya.
Mencoba memberanikan diri, kepalamu melongok ke luar jendela. Suasana tampak begitu sepi. Tak ada seorang pun orang yang berlalu- lalang.
Aneh, pikirmu.
Biasanya jam segini daerah tempat tinggalmu masih ramai. Tetangga sebelah sering kali menyetel musik keras-keras hingga larut malam. Bocah kecil di seberang rumah juga senang merengek kencang sampai suaranya terdengar ke rumahmu. Kadang kala, dari jarak lima puluh meter dari rumahmu, terdengar suara iringan musik yang berasal dari konser kecil-kecilan. Namun, suara-suara yang biasa kaudengar itu sirna malam ini.
Sejenak, kau terdiam. Pikiranmu berkelana karena penasaran. Tentang bulan merah, lolong serigala, juga lingkungan tempat tinggalmu yang mendadak hening. Akan tetapi, dering ponsel membuyarkan lamunanmu.
Kau segera menutup jendela lantas mengambil ponselmu yang tergeletak di sofa.
Tertera nama 'Reiga' si pujaan hati di layar ponselmu. Kau memekik tertahan dan membekap mulut dengan sebelah tangan karena terkejut tiada tara.
Kenapa Reiga tiba-tiba menelepon?
Kau sempat heran, tetapi jarimu tetap menggeser layar ponsel, kemudian mendekatkannya ke telinga kanan.
"Halo?" Suara berat nan serak menyapa telingamu kala panggilan itu kauangkat. Kau mengenal suara itu-Reiga.
"Ya, halo?" Kau menjawab sambil mencoba bersikap tenang walaupun hatimu menjerit-jerit, seperti: 'Astaga! Seorang Reiga meneleponku dan sekarang aku sedang berbicara dengannya!'
"(Namamu), sekarang kau ada di mana?" tanya Reiga.
"Di rumah, kenapa?"
"Aku sudah bilang malam ini kita akan membicarakan event, bukan?"
Kau mengangguk pelan. "He'em, iya."
"Maafkan aku tidak mengabarimu, tadi aku ada sedikit urusan." Reiga tak menjawab kebingunganmu, melainkan mengatakan alasannya tidak kunjung online dan menghubungimu.
Desah napas terdengar dari seberang. "Nah, bagaimana kalau kita membicarakannya sekarang? Lebih enak membicarakannya langsung. Kutunggu kau di kafe dekat perempatan."
Dahimu mengernyit, heran akan keputusan Reiga yang terlalu tiba-tiba dan seenaknya. Mulutmu terbuka, lalu melontarkan protes.
"Uhm, tunggu dulu! Kau yakin? Ini sudah malam-maksudku, malam yang aneh. Apa kau tidak merasa aneh ataupun takut?" tanyamu resah. Sebelum Reiga menyela, kau melanjutkan, "Maksudku, coba lihat bulannya-warnanya merah! Dan lagi-baiklah, katakan aku gila-tetapi tadi aku benar-benar mendengar suara seperti lolong serigala!"
Entah bagaimana, tiba-tiba kau merasa takut, padahal tadi biasa saja. Otakmu mulai berkelana, berpikir berbagai pemikiran negatif yang mungkin saja benar terjadi, seperti warga yang tidak bising seperti biasanya karena mendengar suara tadi. Bagaimana jika itu benar-maksudmu, soal serigala yang berkeliaran di daerah tempat tinggalmu.
Suara dari seberang sana mengeluarkan kekehan dan hal itu membuatmu mengerutkan kening.
Reiga tertawa?
"Oh, ayolah! Bulannya memang berwarna merah, tetapi tidak ada suara serigala. Dan kau tahu? Di sini tidak ada hutan, mana mungkin ada serigala. Kau hanya berhalusinasi, (namamu)," respons Reiga.
Rautmu berubah, tampak tak suka dengan respons Reiga. Namun, sebagian hatimu menjadi meragukan apa yang kaudengar tadi.
Bagaimana jika suara itu benar halusinasimu?
Kau terdiam cukup lama, begitu pun Reiga sebelum akhirnya laki-laki itu kembali bersuara dengan nada begitu santai.
"Ayolah, (namamu). Laporan harus diserahkan lusa, sedangkan kita belum membahas apa pun lagi," ujarnya, "selagi kafe tidak terlalu ramai, tempat ini sangat cocok untuk berdiskusi."
Reiga terdengar seperti membujukmu-atau memohon entahlah. Yang pasti, kau kaget dengan deadline laporan yang dikatakan Reiga. Kaupikir waktunya masih seminggu lagi. Pantas Reiga memaksa begitu-tetapi, ah, bukankah itu salah Reiga sendiri yang sering hilang-hilangan?
Kau mungkin menyukainya, tetapi kau tidak bodoh. Reiga memang cukup menyebalkan di saat-saat begini. Dan lagi, barusan laki-laki itu mengajakmu bertemu malam-malam?
Kau tidak mungkin mau-selain karena memang malas melangkah ke luar rumah. Akan tetapi, itu sebelum Reiga melanjutkan ucapannya.
"Kutraktir soda."
Senyummu merekah. "Baik! Tunggu aku!"
Percakapan berakhir setelah Reiga memutuskan sambungan.
Kau butuh waktu beberapa detik untuk berpikir kembali dan menyadari atas perkataanmu barusan yang langsung menyetujui begitu mendengar Reiga akan mentraktir soda.
Oh, harga dirimu hanya segelas soda.
Namun, mau bagaimana lagi?
Kau pun mengambil kardigan berwarna yang tergantung di lemari dan memakainya. Cukup kontras dengan kaus putih, serta celana pendek selutut yang kau kenakan.
Tak menunggu lama, kau segera berangkat sebelum hari semakin larut.
Sepanjang perjalanan, hanya ada suara jangkrik dan derap langkahmu yang terdengar agak menggema. Lingkungan sekitar rumahmu benar-benar sunyi, berbeda dengan biasanya yang bising tiada tara. Jalan raya pun sangat sepi. Kau tidak melihat ada satu pun kendaraan yang lewat atau berlalu-lalang.
Tidak seperti biasanya.
Feeling-mu semakin tidak enak kala suara seperti lolong serigala terdengar lagi. Kali ini jauh lebih keras dan terasa dekat.
Bulu kudukmu meremang. Cahaya merah temaram yang berasal dari rembulan menerang, bahkan membuat lorong jalan beraspal yang kaulalui dihiasi warna merah. Ditambah lagi, angin dingin mendadak berembus dan menusuk kulitmu yang tidak tertutup kain. Kau memeluk tubuhmu sendiri.
Perasaan dan situasi ini ... rasanya seperti berada di film horor saja!
Kau menggeleng-gelengkan kepala, menepis pikiran negatif yang menghantui lantas terus melangkah menuju perempatan. Lagi, kau tidak melihat ada seorang pun yang berlalu-lalang ataupun terlihat oleh indra penglihatanmu yang sudah minus dua.
Terlalu sepi dan sunyi. Rasanya seperti ... mendadak tempat ini mati.
Sebelum hendak melangkah kembali, tiba-tiba kau teringat sesuatu perihal laporan terkait koordinasi event. Tanpa menunggu lama, kau segera mengeluarkan ponsel dari saku celana dan bertanya pada Lucas lewat chat.
Beruntung Lucas sedang online. Tak lama kemudian, orang itu membalas pesanmu.
Lucas, kapan deadline laporan event sekolah?
Seminggu lagi. Kenapa?
Rasanya aku sudah mengatakan itu berulang kali.
Ah, tidak. Terima kasih.
Maaf, aku lupa.
Benar. Pantas kau merasa janggal saat Reiga bilang deadline-nya dua hari lagi. Apa laki-laki itu lupa, pura-pura tidak tahu, atau sengaja berbohong?
Entahlah, kau tidak tahu. Semoga saja Reiga sungguh lupa, bukan bermaksud apa-apa.
Kafe dekat perempatan yang dimaksud Reiga mulai terlihat. Atap berbentuk setengah bola berwarna biru muda dengan gradasi ungu-karena terkena sinar merah rembulan-menjadi atensimu. Di depan atap, dipajang sebuah plang yang tertulis 'Marlin's Cafe' dengan font unik. Kafe itu begitu menarik perhatian bagi siapa pun yang melewati perempatan.
Yah, kau sendiri cukup sering melihat kafe itu, tetapi tak pernah sekali pun mengunjungi atau sekadar menjejakkan kaki di sana. Ini pertama kalinya, karena Reiga.
Kau melangkah lagi menuju kafe itu. Beberapa meter sebelum sampai, firasatmu bertambah buruk. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang terlihat. Lampu kafe juga dimatikan sehingga kau tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya.
Takut-takut, kau membuka ponsel kembali dan menelepon Reiga dengan tangan gemetar.
"Ha-halo, Reiga?"
"Ya, (namamu)? Ada apa?"
"Aku sudah sampai di depan kafe. Lampunya dimatikan, juga sedari tadi aku tidak melihat ada pengunjung. Kau ada di mana?"
"Oh, kau sudah sampai?" tanya Reiga. "Masuk saja, aku ada di dalam."
Dahimu mengernyit. "Kau yakin? Marlin's Cafe?"
"Ya," jawab Reiga, "lampunya memang terlihat dimatikan dari luar dan ada beberapa pengunjung di dalam. Cepatlah, kita tak punya banyak waktu."
"O-oke."
Kau memutuskan sambungan kemudian menatap ragu papan persegi bertuliskan 'open' yang tergantung di pintu masuk.
Setelah mengumpulkan keberanian, tangan kananmu memegang kenop pintu, hendak membukanya tatkala suara itu terdengar lagi untuk yang keenam kalinya. Kau meneguk salivamu takut lalu segera menekan kenop dan membuka pintu dengan keras. Tanpa pikir panjang, kau bergegas masuk lantas menutup pintu kembali. Namun, bukan seorang pelayan kafe yang menyambutmu ketika masuk, melainkan kegelapan dengan hawa mencekam.
Napasmu menderu, sedangkan jantungmu berpacu cepat. Tak ada yang bisa kaulihat dan rasakan selain udara dingin yang berasal dari AC berembus dan menggelitik kulit lehermu. Tak lupa bau anyir nan busuk yang tercium sangat tajam.
"Re-reiga?" Kau memanggil nama Reiga. Cukup keras, tetapi terbata-bata dengan suara bergetar. Kakimu ikut melangkah pelan-pelan, mencari keberadaan si lelaki.
Sekian detik, tiada jawaban. Bahkan tak terdengar suara barang satu pun selain desir angin dari pendingin ruangan.
Benakmu mulai berpikir macam-macam. Satu-satunya hal yang terpikirkan olehmu hanyalah membuka ponsel dan menghubungi Reiga.
Begitu cahaya yang berasal dari layar ponsel tertangkap retina, kakimu tidak sengaja tersandung sesuatu—membuat tubuhmu nyaris terjungkal ke depan jika saja kau tidak refleks menjaga keseimbangan. Dan tentu saja, ponselmu sudah tergelincir terlebih dahulu dari genggaman tangan.
Kau berdesis dan mengumpat pelan sambil melangkahi sesuatu yang tidak sengaja kau tabrak tadi. Lantas kau meraba-raba lantai keramik yang dingin, mencari-cari keberadaan ponselmu yang terjatuh dan tergeletak dengan mengenaskan.
Nit nit.
Senyummu merekah. Tak butuh waktu lama bagimu untuk mengetahui keberadaan ponsel. Layarnya menyala tatkala suara pesan masuk berbunyi. Kau segera mengambil ponselmu yang berada beberapa langkah di hadapan.
"Fyuh, syukurlah!" Kau menggumam lega, kemudian menggeser layar ke atas dan mengaktifkan senter.
Begitu wajah ponselmu kau arahkan ke depan, lampu kafe menyala satu per satu, menerangi ruangan yang semula gelap dan penuh bau anyir. Kau mengucap syukur dan tersenyum senang, lantas memanggil nama Reiga. Namun, sepertinya ekspresi senangmu harus sirna tatkala mendapati ruangan kafe yang ... ah, membuatmu mual.
Jasad manusia bergelimpang di mana-mana. Kondisinya tidak ada yang utuh. Ada yang kehilangan tangan atau kaki, perut robek, dada bolong, bahkan kepala yang terpisah dari raganya. Lantai kafe yang terbuat dari keramik becek oleh cairan merah yang menggenangi jasad-jasad. Kau berdecak. Pantas saja tadi kau seperti menginjak air. Dan lagi, bau anyir yang sedari tadi kaucium ternyata berasal dari jasad-jasad itu.
Baiklah, kau mencoba untuk tidak panik. Dadamu naik turun, sementara bahumu bergetar. Kendati napasmu tertahan sejenak, tentu kau tidak lupa untuk mengembuskannya kembali, bukan?
Dengan tangan bergetar, kau mengarahkan ponsel yang masih menyala senternya ke lantai. Biarpun lampu sudah menyala, ruangan tidak terang benderang. Temaram begitu serasi dengan gelapnya langit malam berhias rembulan merah.
Suara lolong terdengar lagi. Kali ini terdengar begitu keras dan—dekat. Rasanya seperti serigala itu berada tidak jauh darimu, sedang mengawasi dan siap memangsa. Atau barang kali, itu benar?
Baru saja kau berpikir begitu, pintu dari arah dapur—sepertinya—didobrak keras. Sesosok makhluk berwujud seperti manusia datang sambil melolong. Tubuh bagian atasnya tidak berlapis kain, menampilkan perut kotak-kotak serta lengan berotot yang ditumbuhi rambut pendek warna abu-abu yang cukup lebat. Celana jeans hitam yang dikenakannya sudah robek-robek berhias bercak merah. Begitu pun dengan dada bidang, lengan, serta wajah rupawannya.
Kau terpaku. Tak sempat berlari atau sekadar bereaksi. Atensimu tidak lepas dari sosok yang sedang menghampirimu seraya menjilat bercak merah di lengannya yang tergores bujur. Netra merah mengilat dan sorot tajam sosok itu mampu membuat tubuhmu semakin membeku. Ditambah lagi rambut hitam mengilap yang terkena sinar temaram semakin meyakinkanmu.
Sosok di hadapanmu sekarang, adalah Reiga. Orang yang kau sukai, dan orang yang menjebakmu dalam situasi ini. Dan sekarang apa? Apa kau harus mempercayai netramu? Atau hatimu?
Suara lolong lolos dari sosok di hadapanmu, terdengar jauh lebih keras dari sebelumnya. Telinga serta ekor yang semula tidak ada kini mencuat. Benar-benar seperti serigala.
Dengan ini, kau pun yakin jika dirimu tidak berhalusinasi. Yang kau dengar adalah nyata—dan buktinya ada di hadapanmu. Reiga benar, bukan serigala yang melolong. Di sini tidak ada serigala ataupun hutan. Yang ada hanyalah Reiga, si serigala itu sendiri.
Kini, kau dengannya hanya tersisa dua langkah. Reiga memandangmu tajam. Sementara bibirnya melengkung ke atas, sedikit memperlihatkan gigi-giginya yang tajam dan siap mencincangmu.
"Ada apa, (namamu)?" Sosok yang kau yakini sebagai Reiga bertanya.
Kau menggelengkan kepala, lantas memandang Reiga horor. "Kenapa, katamu?" ujarmu dengan suara bergetar. "Jelaskan apa maksud semua ini, Reiga!"
Biar tahu sedang dalam bahaya, kau tetap tidak bisa tidak menuntut penjelasan. Kau benci sesuatu yang terjadi tanpa alasan. Maka dari itu Reiga tetap harus memberikan penjelasan kepadamu.
"Bukankah kau bisa lihat sendiri?" Nadanya terdengar dingin.
"Iya, tapi—" Suaramu mengecil, terdengar lirih. "Apa kamu ... apa kamu yang membunuh mereka? Orang-orang yang bergelimpangan di sini? Jawab aku, Reiga!"
Reiga berhenti menyesap darahnya, kemudian mengangkat dagu. "Aku tidak membunuh mereka, hanya memakannya," jawabnya santai.
Kau menggeleng lemah. Tidak tahu harus berkata atau berbuat apa lagi. Mendadak semuanya terasa pening bagimu biar kau paham situasi sekalipun.
"Omong-omong, kenapa kau tidak lari saat melihatku? Aku akan segera memakanmu lho, Gadis Cantik."
Kau mengabaikan Reiga. Benakmu masih belum cukup bisa diajak kerja sama. Berbagai pertanyaan yang tak bisa kaujawab sendiri muncul dan memenuhi kepalamu.
Jadi, Reiga yang disukainya selama ini bukanlah manusia biasa? Dia adalah manusia serigala? Dan dia memakan orang-orang di sini?
Karena apa? Lapar?
Apa dia belum kenyang juga setelah memakan puluhan orang? Dan kini, dia mau memakanmu?
Sialan! Ramah dan baik hati apanya?
Kau sudah tidak punya alasan untuk menyukainya lagi. Dan kau punya alasan kuat untuk membencinya—sepenuh hati.
Bau anyir darah kian menusuk indra penciumanmu. Bahumu bergetar, sedang bibirmu yang merah ranum melengkung ke atas.
Jika Reiga berani mengungkapkan jati dirinya ... maka kau pun boleh, 'kan?
Ah, persetan! Dengan semua jasad bergelimpangan dan darah yang menggenang, kau sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
"Grr, kenapa diam?" Reiga menggeram. Netra tajamnya menatapmu tajam. "Oh! Atau kau bersedia dimakan olehku? Begitu baiknya, (namamu)!"
Kata-kata yang keluar dari mulut manusia serigala di hadapanmu kau abaikan. Tubuhmu tidak bergerak sama sekali, hanya membatu di tempat. Tatkala Reiga maju selangkah, cakar tangannya yang lancip dan tajam terayun kepadamu. Detik selanjutnya kau baik-baik saja.
Satu ujung bibirmu terangkat, menyunggingkan senyum miring, sementara Reiga menggeram keras.
"Kau!" Pandangan Reiga terarah pada pergelangan tangannya yang digenggam erat olehmu.
"Payah," ledekmu.
Geraman Reiga terdengar lagi. Kali ini tidak hanya tangannya yang terayun. Kaki jenjangnya hendak menendang kepalamu. Namun, bagimu gerakan itu sangat lambat. Kau dapat menghindar dengan mudah.
"GRRR!" Gigi-gigi runcing ditampakkan. Suara lolong kembali terdengar. "Bagaimana kau—"
Reiga langsung membisu.
Kau tergelak keras di antara gelimpangan jasad dan genangan darah. Lampu remang-remang menambah kesan suasana seram. Ah, sekarang kau jadi terlihat seperti tokoh antagonis saja.
"(Namamu) ...." Reiga mendesis. "Sebenarnya siapa kau?"
"Bicara apa kau, Reiga?" Nadamu terdengar dingin. "Tentu saja aku (namamu)."
Tepat saat kau mengatakan itu, kau menunjukkan cengiran yang menampakkan dua gigi runcing yang kau sembunyikan. Netramu yang semula sewarna hazel, kini berwarna merah terang. Sedang kuku-kukumu memanjang. Ujungnya lancip dan tajam bak pisau.
Sekarang, seluruh tubuh Reiga benar-benar membeku. Sedetik, ia terkekeh-kekeh seperti orang gila.
"Sialan. Ternyata kau vampir." Hanya itu kata-kata terakhir Reiga sebelum tak ayal tanganmu terayun secepat kilat dan memotong lehernya.