Kesunyian menerpa di telingaku, dingin menghampiri tubuhku.
Aku duduk termenung di sebuah hutan, hutan yang gelap pengelihatan yang gelap dan hati yang gelap.
Sebenarnya hari ini adalah hari dimana aku akan dijodohkan. Tapi aku memilih kabur dari rumah karena aku tidak mau dijodohkan lagi. Lagi? Ya lagi, sudah lebih dari 5 orang pemuda yang dijodohkan denganku. Ingat pemuda!!! Bukan kakek tua loh ya.
Naasnya semua pemuda yang dijodohkan denganku meninggal, SEMUA!!! Tapi ingat aku bukan pembunuh. Aku juga ingin memiliki suami, aku gak mungkin membunuh calonku kan?
Aku selalu mendapatkan cemoohan dari orang - orang karena di umurku yang segini belum mendapatkan suami. Asal kalian tau saja, umurku sudah 25 tahun.
Dan dihari ini aku dijodohkan dengan seorang pria berumur 30 tahun. Dia adalah pengusaha sukses, namanya Elvano Ankara. Tapi bodohnya aku, aku tidak mengetahui seperti apa wujud dari calonku itu. Karena sebenarnya aku tidak mau dijodohkan lagi, ya seperti ceritaku tadi bahwa mereka akan mati setelah bertunangan denganku.
Aku hanya anak pembawa sial. Aku memiliki seorang ayah yang membenciku dan seorang adik yang sekolah di luar negeri. Ibuku telah meninggal saat aku berumur 13 tahun.
Sebenarnya aku bukanlah anak kandung ayah dan ibuku. Aku adalah anak angkat mereka, karena aku dibuang di depan rumah mereka jadi mereka mengurus diriku. Bukan rahasia umum untuk yang satu ini.
'Srak...... Srak..... Srak..... ' terdengar suara langkah kaki yang sangat teratur, bahkan seperti hanya melangkah di tempat.
"Sunyi...... Sunyi...... Sunyi..... " Bisiknya, siapa itu? Aku pun tak tau.
"Sunyi....... " Lagi, suaranya terdengar serak dan memberat. Dari suaranya sih dia perempuan.
Aku hanya diam karena aku merasa tubuhku gemetar, lantas aku berdiri dari dudukku. Jujur aku takut sendiri, karena aku sedang di hutan.
"Sunyi..... Sunyi..... Sunyi..... " Lagi dia kembali berkata.
Lalu hening menyelimuti, sekitar 10 menit suara itu tidak terdengar lagi. Tapi entah kenapa aku merasa penasaran dengan kata 'sunyi' itu. Emang apa sih yang sepesial dari kata itu? Kan gak ada.
"Su..... " Tidak aku tidak bisa mengataka ini, aku takut.
"Sunyi.... " kataku dengan suara yang sedikit bergetar karena ketakutan.
"Sunyi..... Sunyi..... Sunyi.... " katanya lagi, dia kembali berucap.
"Siapa.....? " tanyaku.
"Sunyi..... " jawabnya. Aku tak tau pasti apa artinya 'sunyi' apakah nama? ataukah keadaan?
'Dorr' bunyi senapan menyita perhatianku.
Sekarang aku takut, bukan karena 'si sunyi' tapi takut kalo kalo ada gangster yang sedang berkeliaran di hutan itu.
'srak....... srak..... srak. srak.. srak. srak. srak..... srak.... srak.... ' suara langkah kaki yang sedikit tidak beraturan.
Disana aku melihat seseorang berjalan terseok - seok kearahku.
Cahaya rembulan membantu penglihatanku, dia laki - laki. Tampan, garis wajahnya terlampau sempurna dan kulitnya yang kelihatan halus lebih mendominasinya.
"To..... Tolong, " katanya menatap kearahku dengan mata sanyu itu.
"si.... siapa kamu? " tanyaku terbata, entah kenapa aku merasa takut.
"Elena, " panggilnya, omg siapa dia? kenapa tau namaku hah???!!
"Siapa.... kamu? " tanyaku, aku semakin takut dengan pria itu.
'Brukk,' dia menabrakkan tubuhnya ke tubuhku lalu bersandar di bahuku.
Aku yang lebih pendek darinya pun kualahan. Aku menuntunnya untuk duduk di tanah.
"Kenapa? " tanyaku. Bodohnya aku yang tidak menyadari bahwa dia memegangi perutnya dari tadi.
"ini berdarah? " tanyaku, dasar to*ol.Kan dah jelas itu berdarah.
Tanpa babibu lagi aku melepas lilitan kain di leherku dan menutup lukanya yang kelihatannya lumayan dalam. Itu seperti bekas sayatan.
'srak... srak. srak. srak. srak. srak' terdengar langkah kaki lagi, ini bukan hanya satu orang tapi lebih dari 2 orang.
"Ayok kita pergi, " ajakku pada pria itu sambil menarik tangannya.
"aku tau tempat aman, " katanya lalu berbalik memegang lenganku dan mengajakku berlari.
Setelah lari beberapa lama, kami akhirnya sampai di sebuah rumah mewah bak istana negara.
"Sunyi...... Sunyi..... Sunyi..... " Lagi suara itu lagi.
'Sial, kenapa harus sekarang, ' batinku dalam hati.
"Ayo masuk, " kata pria itu.
"Tidak, aku.... aku harus pergi dari sini, " kataku sambil berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu.
"Sunyi.... Sunyi..... Sunyi.... " lagi suara itu terdengar dengan jelas dan dekat. Suara itu berasal dari dalam rumah besar ini.
"Ayo masuk! Kenapa tidak mau?!! " ini seperti bukan nada tanya tapi lebih ke nada memaksa.
"maaf aku tidak bisa, aku harus pulang, " kataku mencari alasan sebisa mungkin.
"Masuk!!!! " katanya, berubah menjadi dingin dan datar.
"Tap...." kataku yang berhasil diberhentikan oleh dia.
"Diam!!! " potongnya penuh penekanan.
Lalu kami masuk kedalam rumah mewah itu. Kami sudah disambut oleh 2 pelayan perempuan dan 4 orang pria berjas hitam.
"Duduk disini, " perintahnya menyuruhku duduk di sofa.
Akupun duduk, memang apa yang bisa kulakukan? aku tidak bisa apa - apa, kalo aku menuruti perintahnya aku yakin nyawaku selamat. Tidak ada niatan di hatiku untuk pergi /kabur karena aku yakin, aku tidak mampu.
---- ---- ----
'Tap.... Tap... Tap.... ' terdengar suara langkah kaki dari tangga.
Aku melihat kearah tangga itu. Berjalanlah seorang pria yang sangat tampan. Dia tinggi, Garis wajahnya yang tegas, Matanya yang tajam, serta tubuh atletisnya, ditambah aura dominannya yang kuat, ini adalah definisi kata sempurna untuk suami idaman..... eh... apa tadi? Maksudnya definisi sempurna untuk lelaki.
"Siapa namamu? " Tanyanya padaku.
"El... Elena, " jawabku gagu. entah kenapa rasanya jantungku mau melompat.
"Elena Wijaya? " katanya dengan nada bertanya. Aku hanya mengangguk, aku sangat takut mama tolong.
"Sunyi.... Sunyi..... Sunyi.... " terdengar suara itu lagi, suara yang sebenar nya selalu terngiang di telingaku selama 12 tahun terakhir ini.
Entah kenapa aku merasa sangat takut, badanku gemetar dan dahiku berkeringat.
"kenapa? " tanya pria itu sambil menepuk pundakku.
"Sunyi..... Kemarilah..... " Katanya, ini adalah kata kedua setelah 'sunyi'
Reflek aku mengangat wajahku.
"Kamu kenapa? Perkenalkan namaku Elvano Ankara, " kata pria itu yang sontak saja membuatku membelalakkan mata.
"Kenapa? Kamu Elena kan? My soulmate, " katanya berbisik ditelingaku.
Aku kembali menatapnya seperti berkata 'apa!? Sembarangan'
"Apa?!! Ikut denganku, " katanya lalu menarik lenganku untuk ikut bersamanya.
Kami sampai di sebuah kamar, lalu dia membukanya dan kami berdua masuk.
"Sunyi..... Sunyi...... Sunyi..... " lagi - lagi itu terdengar.
"tolong aku..... " kataku merapatkan tubuhku di tubuh pria itu.
"kenapa? takut? " katanya, dia tersenyum kepadaku.
"Your My Soulmate and Your My Love, " katanya penuh goda.
"apa maksudmu? " tanyaku panik.
"kalian telah datang..... " suaranya sama tapi kalimatnya berbeda bukan 'sunyi' lagi.
Muncul wanita cantik, sangat cantik.
"Ibunda, " Panggilnya kepada wanita tersebut.
Aku hanya memasang wajah to*ol dan memandangnya.
"Menantuku? Dia adalah soulmate mu, " kata wanita yang dipanggil ibunda oleh Elvano.
"Kalian berdua harus menikah, " Sekarang laki - laki. Dia langsung muncul di samping wanita itu.
Gila apa aku sedang di dunia dongeng? Wanita ini sangat cantik dan prianya sangat tampan. Apa mereka benar - benar manusia?
"Baik Ayah, " Jawab Elvano sambil membungkuk sedikit.
What!!!!? Ayah!!!! Yang benar saja
"Sekarang, kami sudah menunggu, " Kata pria yang dia panggil ayah tersebut. Lalu wanita dan pria yang mungkin adalah orang tua Elvano hilang begitu saja.
----- ----- -----
Saat ini aku sudah sah menjadi istri dari seorang Elvano Ankara.
Kuberi bocoran sedikit.
Ternyata Elvano adalah titisan werewolf, aneh kan jaman gini masih ada gituan. Tapi ini nyata. Ayah nya adalah pemimpin Klan Wlof, dan ibunya adalah anak dari panglima perang Klan Wlof terdahulu.
Jadi bisa di simpulkan bahwa, Elvano nantinya akan menjadi pemimpin Klan Wlof berikutnya. Tapi sayangnya dia punya suatu keistimewaan (kelainan). Dia di segel oleh kakeknya sendiri yang adalah ayah dari ibunya.
Segel itu bisa dibuka kalau Elvano menikah dengan titisan werewolf yang berasal dari Klan Biru. Dan apesnya diriku, aku adalah titisan werewolf juga. Tapi karena aku berasal dari Klan Biru, makannya aku lebih terlihat seperti manusia asli.
Dan sekarang kami telah bersama, Elvano dan Elena. Namanya aja sama sama El. Sekarag namaku menjadi Elena Ankara. Dan tahta seterusnya akan diteruskan oleh Elvano karena pada dasarnya dia adalah anak tunggal serta sudah menikahi perempuan dari Klan Biru, Yaitu Aku Elena Wijaya.... Eh maksudku Elena Ankara.
----- TAMAT ------
Terimakasih..... Ini cerita memang tidak terlalu bagus karena saya sedang bingung. Nanti kalo ada imajinasi yang lebih bagus dan ada waktu aku nulis cerpen lainnya..... Makasih 🙏🙏