CERPEN Karangan :
Tim FF (Friends Forever)
1. wibenn kecil
2. 🌹Rahmatul Anisa🌹
3. Lismayanti aom
4. Eka Sari
5. G0137X
6. Sakura Hinnata
7. Hillary
8. 전 신혜
🇰🇷🇮🇩🌌
(🌹Rahmatul Anisa🌹)
Di tengah Kota, sepulang sekolah, sekelompok muda-mudi yang memiliki hobi bermain game tengah membahas tentang Kaset Game yang sedang tenar akhir-akhir ini.
"Teman-teman! Kaset Game yang kita nantikan sedang di perjual belikan di toko game terbesar di kota ini! Mari kita menuju ke sana!" sahut Robert.
"Benarkah? Wuah~ kalau begitu, ayo!" ajak Edward semangat.
Sesampainya di sana, bukannya mendapatkan apa yang mereka inginkan, justru mereka pulang dengan tangan kosong.
"Astaga, kalian terlambat. Kaset Game itu sudah terjual habis ... banyak yang memperebutkannya. Di lain waktu, datanglah tepat waktu! Kaset itu akan di kirim kembali 2 minggu mendatang." begitulah ucap penjaga toko.
Mereka pun memilih pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang kecewa.
Tetapi, saat di tengah perjalanan ada seorang pria dengan jubah panjang yang lusuh dan membawa sebilah tongkat menghampiri mereka berdua.
"Sedih karena tidak mendapatkan Kaset Game yang kalian inginkan? Khihihi."
"Kenapa dengan pria ini?" gumam Robert.
"Kalian tidak perlu merasa kecewa, karena aku memiliki Kaset Game yang sama. Masih baru, dan jika kalian menginginkannya, maka aku akan memberikannya secara percuma."
(G0137X)
Mendengar ucapan tersebut, seketika wajah mereka terlihat kembali cerah. Bagaimana tidak? Kaset Game yang begitu mereka dambakan akan diberikan secara percuma?
"Be, benarkah ...?"
"Tentu saja." Memberika sekeping kaset. "Ambillah."
"Wah, benar! Ini kaset yang kami cari! Te, terima kasih, Paman."
"Tidak perlu berterimakasih~. Melihat kalian senang pun itu sudah menjadi sebuah ucapan terima kasih. Khihihi."
"Ha .... Um, maaf, Paman. Kalau boleh tahu, Paman siapa, ya?"
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Yang pasti, kita akan segera kembali bertemu. Khihihi." Berjalan, kemudian menghilang.
***
(wibenn kecil)
Setelah berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pun pergi ke rumah teman mereka yang lain, Henry. Mereka mengajak Henry untuk ikut serta. Awalnya Henry menolak ajakan mereka, tapi setelah dipikirkan kembali ternyata sangat menarik.
Akhirnya Henry mempersilakan mereka 'tuk masuk dan menggunakan perangkat elektronik Hendry untuk mengaktifkan Kaset Game.
Mereka berusaha menyelesaikan game tersebut, dan saat hampir mendapatkan kemenangan dan meraih chest, tiba-tiba muncul sebuah portal.
Saat di perhatikan, dari dalam portal nampak sebuah tangan yang secara tiba-tiba menarik mereka satu persatu, kemudian terdengar suara tawa yang sangat keras dan memekakkan telinga.
"Si, siapa itu ...?" tanya Robert.
"Aku? Khihihi. Kalian berdua pasti mengenalku~." Menampakan diri dari balik kabut tebal.
"K, ka, kau ...?!" Robert dan Edward sangat terkejut ketika melihat sosok pria dihadapannya.
(Sakura Hinnata)
Ternyata itu adalah pria yang memberi mereka Kaset Game yang mereka mainkan!
"Robert? Edward? Siapa ... pria ini ...?" tanya Henry.
"Di, dia ... orang yang memberikan Kaset Game pada kami secara percuma ...." jawab Edward.
"Orang? Heh ... hei, anak-anak muda! Aku bukanlah manusia seperti kalian! Aku adalah makhluk penunggu Kaset Game ini. Dan aku sengaja memberikan Kaset Game tersebut pada kalian secara percuma, kemudian saat kalian memainkannya aku akan membuka sebuah portal menuju duniaku, dunia Game ini. Maka, kalian semua akan terjebak selamanya di dalamnya!!! Khihihi!!" jelas pria tersebut.
"Ro, Robert ... apa yang telah kita lakukan ...?" tanya Edward ketakutan.
"Entahlah ... tetapi, yang kutahu kita harus segera mencari jalan keluar dari game ini ...." jawab Robert.
"Kalau begitu, tunggu apalagi? Cepat ikuti aku, kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama!" ajak Henry.
"Kalian tidak akan pernah bisa menemukan jalan keluar dari dunia Game ini. Dan aku, Herrion, tidak akan membiarkan kalian bebas begitu saja! Kalian harus menyelesaikan permainan yang kubuat dalam dunia Game ini, anggap saja seperti dunia nyata, dan teruslah berusaha menyelesaikan misi kalian!"
"Tu, tuan Herrion ...!"
"Waktu kalian hanya 24 jam. Dan jika selama itu kalian belum mampu menyelesaikan misi, maka kalian akan kuubah menjadi karakter dalam permainan Game ini untuk selama-lamanya ...! Khihihi!" Menghilang.
(전 신혜)
"Hah! Bagaimana bisa kita menyelesaikan misi dalam waktu 24 jam?! Ini gila! Kalian ...! Benar-benar membuatku susah! Jika saja kalian tidak datang kerumahku dan mengajak bermain, pasti aku tidak akan terjebak bersama kalian! Lain kali, jangan libatkan aku!" Henry marah.
"He, Henry ...! Tunggu!" panggil Edward.
Henry 'tak mengindahkan panggilan temannya, dan terus berjalan.
"24 jam, dimulai dari ...," tiba-tiba terdengar suara ditengah-tengah mereka berdua. "sekarang!"
"Hah!"
Tepat dihadapan mereka, jalan yang tadinya merupakan jalan setapak berubah menjadi arena permainan Game.
Mereka masih ragu untuk menyelesaikan misi. Khawatir akan terjadi sesuatu pada teman mereka, Henry.
Sedangkan Henry telah menghilang entah kemana?
'Tak berselang lama, dengan terpaksa, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelesaikan permainan itu sampai mencapai level terakhir.
Di sisi lain, Henry bertemu dengan salah seorang karakter Game, bernama Alvin. Alvin selama ini terjebak dan dikutuk menjadi karakter Game tersebut karena gagal menyelesaikan misi yang diberikan oleh Herrion.
"Jadi, itu memang benar-benar terjadi, ya? Ternyata Herrion telah mempermainkanmu rupanya!"
"Iya ...." jawab Alvin lesu.
"Hm ... kira-kira sudah berapa lama kau terjebak di sini?"
"Huft ... sekitar satu tahun atau ... ah, aku benar-benar tidak tahu sudah berapa lama ada di sini. Aku sangat lelah ...." jawab Alvin.
"Maaf, tapi ... apakah kau mau membantuku dan teman-temanku untuk mencari jalan keluar dari dunia Game ini? Kau pasti lebih banyak tahu dibandingkan diriku. Setelah kita menemukan jalan keluar aku pasti akan membantumu untuk ikut keluar bersama kami!" ucap Henry.
"Hm? Jadi kau tidak datang sendirian kemari?"
"Iya ... sebenarnya aku sedang berusaha mencari jalan keluar sendirian. Aku marah pada teman-temanku ... jadi aku meninggalkan mereka. Aku menyesal ...."
"Masalah apa?"
"Itu ... ceritanya panjang ...--"
(Lismayanti aom)
Henry pun menceritakan semua yang ia alami bersama teman-temannya kepada Alvin.
"Apa?! Seharusnya kau tidak melakukan itu! Dengar! Dalam permainan ini, kita harus saling bekerja sama! Jika tidak kita semua tidak akan berhasil keluar dari sini! Sepertiku, dulu aku hanya seorang diri, dan tidak mengindahkan perkataan Herrion untuk tetap fokus menyelesaikan misi selama 24 jam. Aku hanya terus sibuk berputar-putar mencari jalan keluar. Tiba saatnya waktu habis, dia pun mengutukku menjadi karakter Game."
"Hah!" Henry terkejut. "Kalau begitu, mari kita susul mereka! Aku tidak ingin hal semacam itu terjadi pada mereka. Meski aku marah, tetapi mereka tetap temanku! Ayo!"
"Baiklah, aku juga akan membantumu untuk keluar dari dunia Game konyol ini!"
Mereka pun menyatukan kekuatan, kemudian menyusul Robert dan Edward.
"Robert!!! Edward!!!" sahut Henry.
Mendengar teriakan Henry, mereka pun langsung merespon,
"Hah?! Henry!!! Kami di sini!" balas mereka.
"Ah, Alvin ...! Mereka ada di sana! Ayo, kita pergi ke sana!"
"Iya, ayo!"
Mereka pun saling menjelaskan satu sama lain. Henry juga memperkenalkan Alvin pada Robert dan Edward. Akhirnya mereka memilih untuk bekerja sama menyelesaikan level Game.
***
(Hillary)
Akhirnya mereka pun berhasil mencapai level terakhir dalam Game tersebut. Dan waktu yang tersisa tinggal satu jam lagi.
"Anak-anak yang pintar ...! Tidak disangka kalian berhasil menyelesaikan permainan yang kubuat. Apa ada kesulitan ...?" sahut Herrion yang muncul mendadak.
"Ugh! Jangan banyak bicara kau! Tepati saja janjimu untuk mengeluarkan kami dari sini!" teriak Robert.
"Hm? Siapa yang kalian sembunyikan di belakang kalian?" tanya Herrion.
"Eh? Ternyata kau juga melihatku, ya? Heh, Herrion ... aku sudah membantu mereka untuk menyelesaikan permainan, sekarang cepatlah, tepati janjimu pada mereka!" kata Alvin.
"Hm? Alvin ...! Heh! Rupanya kalian dibantu oleh Alvin? Itu tidak adil ... kalian harus menyelesaikan misi yang kuberikan tanpa menggunakan bantuan dari karakter dalam dunia Game ini!"
(G0137X)
"Apa kau bilang?! Kapan kau mengatakan aturan itu?! Kau hanya mengatakan jika kami berhasil menyelesaikan misi, maka kami dapat keluar dari sini!" teriak Edward tidak terima.
"Heh, kalian pikir aku bodoh? Aku masih punya satu permainan yang tidak akan mungkin bisa kalian selesaikan! Dengan begitu, aku yang akan menang dan mampu mengutuk kalian menjadi karakter Game mana pun sesuka hatiku ...! Khihihi!"
"Apa?!" Henry terkejut. "Kau ...! Keterlaluan! Kau menipu kami, kau tahu?!"
"Khihihi. Aku tidak peduli! Permainan terakhir adalah ... cobalah untuk mencari sendiri jalan keluar dalam dunia Game ini! Dan ingat, waktu kalian tersisa 45 menit lagi! Jika Tidak berhasil selesai, maka aku akan langsung mengutuk kalian! Khihihi. Semoga beruntung ...!" Menghilang.
Tiba-tiba jalan yang tadinya merupakan arena permainan berubah menjadi sebuah labirin
(Eka Sari)
Tanpa basa-basi, mereka pun sesegera mungkin mencari jalan keluar dari dunia Game tersebut, memanfaatkan waktu yang tersisa.
Mereka terus berlari menyusuri jalan dalam labirin tersebut.
"Astaga ... sejak tadi kita hanya berputar-putar ... kita tidak bisa menemukan jalan keluar ...! Huaa!! Bagaimana ini ...?!" keluh Edward.
"Sabar, mungkin kita sudah dekat dengan jalan keluarnya--," mereka menghentikan langkah. "Lihat? Di depan sana ada sebuah pintu! Ayo, kita masuk ke dalamnya, mungkin akan ada jalan keluarnya!" sambung Alvin.
"Iya, benar! Ayo!" ajak Robert.
Mereka pun membuka pintu tersebut dan terus berjalan.
Di tengah perjalanan mereka merasa aneh dengan lokasi tempat mereka berada.
"Lho? Arghh! Jadi, sejak tadi kita hanya berputar-putar ...?! Bagaimana ini ...?" Henry terduduk lemas.
"Khihihi!!!" tawa Herrion yang tiba-tiba muncul dan menghalangi jalan mereka.
(wibenn kecil)
Mereka berempat ketakutan dan langsung lari terbirit-birit tanpa arah.
Dan Herrion semakin senang, kemudian terus mengikuti bahkan mengejar mereka. Seakan ia sedang mengawasi dan berjaga-jaga ke mana keempat orang itu akan pergi.
"Ampun ... kenapa makhluk konyol itu terus mengejar kita?!" tanya Robert heran.
"Hosh, hosh ... mu, mungkin ... jalan keluarnya sudah dekat! Ah! Lewat sini!" Menarik tangan Robert dan Henry.
"Hei! Hosh, hosh ...! Tunggu aku ...!" sahut Edward.
"Cepatlah!" balas Henry.
"I, iya ...! Huaa!!! Di, dia mengejarku! Huaa!! Tolong aku!!"
"Hosh, hosh! Be, berhenti!" perintah Alvin.
"Eh? Hosh, hosh ... ada apa, Alvin?" tanya Robert.
"Sepertinya makhluk tersebut sudah berhenti mengejar kita?"
"Eh? Iya! Benar!" kata Henry senang.
(전 신혜)
"Tunggu! Jangan senang dulu." kata Alvin.
"Apa? Kenapa?" tanya Edward dan Henry.
"Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan kelakuan makhluk itu?"
"Kenapa?" tanya Edward 'tak paham.
"Eh? Tunggu! Sepertinya aku mengerti dengan yang kau maksud, Alvin!"
"Benarkah?"
"Ya! Ini aneh! Saat kita mulai merasa bahwa jalan keluarnya sudah dekat, tiba-tiba makhluk itu muncul tanpa alasan."
"Hm ... kenapa tidak kita coba untuk mengejar makhluk itu?" kata Henry.
"Apa?!" teriak Edward terkejut.
"Bingo!" ucap Alvin.
"Benar juga ... kemana pun ia tidak ingin kita pergi maka ia akan terus menghalangi jalan itu! Dan mungkin jalan yang ia halangi itu merupakan jalan keluarnya!" jelas Robert.
"Masuk akal! Ayo, kita kejar dia!" ajak Henry.
"Apa?! Ta, tapi ...!" ucap Edward.
"Tenang saja. Aku akan menemanimu, Edward." kata Henry. "Ayo!" Tersenyum.
Mereka pun berlari mengejar makhluk itu. Dan akhirnya Herrion pun berhenti di suatu tempat.
"Baiklah, semuanya ... sekarang!"
Mereka terus berlari menerobos tubuh Herrion.
Dan benar saja, ternyata di balik tubuh Herrion berpijak terdapat sebuah pintu yang sangat besar.
"Tidak ...!!!" teriak Herrion.
(Hilarry)
Mereka pun berhasil membuka pintu tersebut.
Saat masuk, mereka melihat sekeliling dan terkejut.
"Astaga! Ini ... jalan setapak yang kita jumpai saat tersedot masuk ke dunia Game ini, 'kan?" tanya Edward.
"Benar. Berarti ... jalan keluarnya adalah portal itu!" Menunjuk sebuah lingkaran yang sangat besar dan berada tepat diujung jalan. "Ayo, kita menuju ke sana!" ajak Robert.
"Ayo!" jawab mereka serentak.
"Alvin ...." panggil Henry.
"Hm? Kenapa diam? Ayo cepat!" ajak Alvin.
"Tunggu!" cegahnya.
"Hm?"
"Alvin ... sekaranglah saatnya, kau akan segera bebas dari dunia Game ini. Sesuai janjiku padamu, aku akan membantumu keluar dari sini."
(Sakura Hinnata)
"Hmft ... kau orang yang sangat baik, Henry. Aku sungguh berterima kasih padamu." Memeluk Henry.
"Arghh!!! Aku tidak akan membiarkan kalian mencapai portal tersebut!"
"Hah! Ayo, Henry! Cepat, kita harus pergi dari sini!" ajak Alvin.
"Hah! I, iya ... ayo!"
"Teman-teman, cepatlah!" sahut Robert yang sudah menunggu di depan portal.
"Iya, sedikit lagi!" jawab Henry.
"Arghh!!! Kalian tidak boleh keluar! Tidak akan ...!" teriak Herrion marah.
"Astaga ... ayo!" teriak Alvin.
"Alvin! Ayo! Pegang tanganku!" sahut Henry mengulurkan tangannya.
"I, iya ...."
(Eka Sari)
Alvin yang sedikit tertinggal berusaha menggapai tangan Henry.
"Tidak bisa!!!" teriak Herrion menarik kaki Alvin secara tiba-tiba yang membuat Alvin terjatuh.
Selain menariknya, Herrion juga menyeretnya kembali memasuki jalan setapak.
"Hah?! Tidak!!!" teriak Alvin.
"Alvin!!!" teriak Henry.
"Henry! Jangan!" cegah Robert.
"Tapi ...!"
"Kubilang jangan!" tegas Robert.
***
(🌹Rahmatul Anisa🌹)
Mereka bertiga berhasil keluar dari dunia Game tersebut. Namun, tanpa mereka sadari ternyata ada sebuah peti yang juga terikut keluar bersamaan dengan keluarnya mereka.
Ketika dibuka, ternyata isinya adalah sebuah jantung yang masih berdegub.
Seketika mereka terkejut dan merasa jijik.
"Hiii ... ja, jantung ... siapa itu?" tanya Edward.
"Hmft ... tidak tahu!" jawab Robert.
"Hiks ... hm? Ah! Mungkin ... itu adalah jantung Herrion!"
"Ha?" Robert dan Edward terheran-heran.
"Bwahahaha!!! Ka, kau baru selesai menangis langsung berbicara hal yang aneh? Hahaha!"
Mereka justru menertawakan Henry. Akhirnya Henry pun mengambil pisau belati yang ia simpan di laci meja belajarnya dan berkata,
"Sudah cukup!" Berjalan ke arah Robert dan Edward.
Robert dan Edward ketakutan.
(Lismayanti aom)
Zrassh!
Ternyata...
Henry menusuk jantung yang ada di dalam peti tersebut.
'Tak berselang lama, terdengar suara Herrion yang berteriak kesakitan.
Portal pun akhirnya tertutup dan Robert mengambil Kaset Game tersebut serta menghancurkannya.
Henry yang melihat hal tersebut menangis histeris seperti anak kecil.
"Eh? Kenapa kau kembali menangis?" tanya Edward heran.
"A, Alvin ...? Jika kau menghancurkan Kaset tersebut, maka Alvin ... Alvin pun akan ikut hancur ...!"
"Astaga, Henry ... itu ... mungkin sudah menjadi takdir bagi Alvin. Kemungkinan pula dia juga sudah dibunuh oleh Herrion. Sabar, ya ... berhentilah menangis ...." kata Robert mencoba untuk menenangkan temannya.
***TAMAT***