Aimee lahir setelah kedua orangtuanya merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 7. Tidak heran, kelahiran gadis cantik ini begitu dinanti-nantikan. Segala kebutuhan dan fasilitas bahkan sudah dipersiapkan bapak dan ibu Indra sejak lama.
"Kamu harus tumbuh sehat dan bahagia."
"Habiskan makananmu, Aimee."
"Jangan nahan-nahan selera kalau mau, makan aja.
Begitu kata-kata yang sering didengar Aimee sejak kecil dari orang-orang yang dikasihinya.
Dan.. Aimee kecil tumbuh menjadi gadis cantik, gembul, lucu dan menggemaskan. Menurut bapak dan ibu Indra sih, tapi mengesalkan bagi Aimee yang mulai remaja.
"Huh, aku benci pipi chubby, perut gendut, kawat gigi dan jerawat yang senang berkerumunan di wajahku." Gerutu Aimee.
"Sayang, kamu cantik. Selalu cantik dengan semua yang ada pada dirimu, harus percaya diri dong." Support pak Indra.
Pak Indra tahu kalau putrinya kurang percaya diri, enggan mengikuti kegiatan ekskul yang bermanfaat menggali potensi dan membuatnya bergaul dengan banyak orang.
Dari Aimee SD hingga dewasa, ia hanya punya 1 orang sahabat karib bernama Aida, itupun karena ayah mereka bersahabat terlebih dahulu.
Namun pak Indra tak berkecil hati, karena dirumah sejak Aimee kecil ia dan istrinya bergantian melatih Aimee bermain piano, bernyanyi, latihan menembak, melukis bahkan memasak. Hari-hari libur mereka isi dengan melakukan banyak hal bersama, main badminton, memancing juga berkunjung ke panti Asuhan.
"Tidak peduli bagaimana rupamu, yang penting hatimu penuh kasih sehingga hidupmu bermanfaat bagi orang lain." Begitu wacana bu Indra.
*****
Sama seperti remaja lainnya, Aimee juga mengalami puber. Diam-diam dia senang memperhatikan Arionbell, cowok sekelasnya di bangku SMP.
Arionbell yang selalu menjadi rivalnya dalam mengejar peringkat kelas, membuat keduanya tidak pernah akur. Padahal Aimee benar-benar suka sama Arionbell dan Aimee tahu dia bukan satu-satunya gadis yang nge-fans sama Arionbell.
Cowok tampan, pintar dan bintang basket di sekolah.
"Hai, bola.." Sapa Arionbell suatu pagi.
"Siapa yang kamu maksud, aku?" Tanya Aimee
"Siapa lagi, ga nyadar kalau badanmu sebundar bola?"
Aimee hanya mampu menahan marahnya, dia juga menerima saja saat Ariobell dan geng gemar membully-nya.
Apa salahku bertumbuh gendut?
Nasibnya sungguh berbeda dengan Aida yang cantik, ramping, supel, punya banyak teman dan sering gonta-ganti pacar, tapi itu tidak membuatnya iri.
*****
"Aimee, mulai bulan depan papi dipindahtugas ke Sidney."
"Hah, trus nanti Aimee gimana pi?"
"Ya kamu maunya gimana sayang? Karena kamu tidak lama lagi ujian kelulusan, terpaksa kamu di sini dulu, nanti eyangmu ke sini jagain kamu." Sahut mami Aimee.
"Yaaah.. Kenapa aku ga dititipin sama keluarga Aida aja sih? Kan kasian yangkung dan yangti aku, mi."
"Mami sama papi udah mendiskusikan hal ini sayang, justru eyang-eyangmu yang mengusulkan untuk kemari menjagamu sebelum kamu menyusul ke Sidney." Terang pak Indra.
"Yaaah baiklah kalau begitu, aku cuma kasian yangti dan yangkung bakalan repot ngurus aku aja." Aimee berusaha mengubah keputusan orang tuanya.
*****
Baru kali ini Aimee terpisah jauh dan lama dari kedua orangtuanya. Kangen, tapi Aimee menyemangati dirinya kalau tidak lama lagi dia akan segera berkumpul bersama mami dan papi.
"Tiap pergi dan pulang sekolah yangkung siap mengantar jemput Aimee."
Aimee kemudian dapat bersyukur, sekarang dia jadi lebih dekat dengan yangkung dan yangti-nya bisa saling memperhatikan.
"Rasa-rasanya Aimee pengen disini aja kung, enakan juga tinggal sama yangkung dan yangti." Kata Aimee.
"Yang bohong, nduk." Goda yangti.
Aimee tersenyum samar.
" Cuma rasa-rasanya aja sih kung, ti."
Jauh dari mami papi membuat Aimee tumbuh mandiri dan beriring dengan kepercayaan diri dan kedewasaannya.
Hingga saatnya dia menerima ijazah kelulusan dan menyusul kedua orang tuanya di Sidney.
*****
Di kota ini, Aimee bertumbuh menjadi gadis supel, periang, optimis dan banyak teman.
Aimee senang berada ditempat dimana orang-orang ga terlalu mikirin hidup orang lain, itu yang membuat Aimee nyaman terutama karena dia ga pernah lagi merasakan diledek oleh bentuk fisiknya.
Tidak salah bapak dan ibu Indra melatih putrinya dengan banyak keterampilan, hal-hal sederhana yang kemudian menjadi kunci kesuksesan Aimee di kemudian hari.
Aimee memang anak yang cerdas, selain mampu menyesuaikan diri dalam hal studi dia juga dapat menyelesaikan pendidikannya lebih cepat. Padahal dia ga melulu belajar, tapi juga hang out dengan teman-temannya dan mengambil job part time di restoran yang menjual makanan khas Indonesia sebagai asisten chef juga menjadi guru les bahasa indonesia bagi balita di lingkungan apartemen mereka.
Masihkah Aimee gembul lucu dan menggemaskan?
Mmmmmm...
Yang jelas ga "sebundar bola" lagi lah.
Lebih 3 tahun menetap di Sidney membuatnya mengalami kemajuan. Aimee yang banyak kegiatan diluar rumah, otomatis energinya juga tersita, dengan memperbaiki pola makan dan rutin pilates Aimee tumbuh menjadi gadis cantik, percaya diri dan bahagia meskipun untuk gadis seusianya badan Aimee tergolong berisi tapi dia malah menilai dirinya sebagai seseorang yang sexy.
Pulang bekerja Aimee mendapati telponya berdering, panggilan dari sahabatnya Aida.
🧚♀️(Aida) : Aimee kamu sibuk ga?
💃 (Aimee) : Ga sih, aku baru sampai rumah. Ada apa Aida?
🧚♀️: Aku senang sekali
💃: Kenapa, kamu punya adek lagi?
🧚♀️: Husss, bukaaan. Tapi libur semester ini papaku membolehkanku berlibur ke situ
💃 : Yeeeeiiiii, om Andhy emang the best deh. Oh ya, kamu datang diwaktu yang tepat. Aida, minggu depan beberapa karyaku diikutsertakan juri karena menang kompetisi.
🧚♀️: Waaah, aku tunggu ke situ ya.
---
Waktu yang dinanti pun tiba, Aida disambut dengan sukacita oleh Aimee dan keluarganya.
"Aimeeee... kaku cantik banget sekarang." Jerit Aida memeluk sahabatnya.
"Kamu juga tambah cantika Aida." Balas Aimee.
Percakapan 2 sahabat itu seolah tak habis-habis, hingga melewati tengah malam.
"Aimee, aku senang lihat perubahanmu. Kamu sudah punya pacar ya?" Tanya Aida.
"Belum, kamu?"
"Hehe. Sudah, kedatanganku ke sini juga sebenarnya untuk menengok pacarku."
"Pacarmu juga disini, kuliah apa kerja?"
"Kuliah sambil ambil part time juga kaya kamu, buat nyari pengalaman."
"Bule?"
"Ah, ga kok. Wong teman sekelas kita waktu SMP dulu."
"Hah, siapa? berarti aku kenal dong."
"Pastilah. Rahasia, silakan menebak. Aku mau mempertemukan kalian pas di pameran lukisanmu nanti aja, aku mau liat Kalian masih saling kenal ga, haha."
-----
"Nah, masih saling mengenal ga nih kalian" Ujar Aida ketika Aimee dan Arionbell ketemu.
Tentu saja, bahkan sampai sekarang baru lelaki ini yang membuat hatiku bergetar. Batin Aimee.
"Ar..Arionbell?" Aimee terbata.
"Iya dan kamu.. Aku sebenarnya sering liat kamu tapi ga yakin kalau kita pernah saling kenal sebelumnya. Jadi ya ku abaikan saja keraguanku."
"Oh ya, dimana?" Penasaran Aimee.
"Restoran Kedai Kita. Tahun kemaren ketika restoran itu direnovasi, aku yang mendesain ulang sekaligus mengawasi pengerjaannya." Sahut Arionbell.
"Oh, kamu arsitek ya. Aku part time disitu jadi asisten chef. Kenapa ga negur aja?"
"Aku ga yakin, dan ga kepikiran itu kamu. Kamu, kamu bola kan?"
"Husss bola-bola, sahabatku ini punya nama tau." Protes Aida.
"Maaf, kamu Aimee bukan? Cantik banget kamu sekarang pantesan aku pangling." Sahut Arionbell tidak mampu menutupi kekagumannya.
Baik Arionbell maupun Aida sama-sama mengagumi transformasi Aimee. Terlihat sekali kalau dia sangat nyaman dengan dirinya sekarang.
Selama Aida liburan, mereka sering menghabiskan waktu hang out bertiga hingga saatnya Aida kembali pulang ke Indonesia.
*****
"Aku nyaman sama kamu, mau ngomong apa aja nyambung. Kalau aku lagi suntuk, asal liat senyummu atay dengar ketawamu aja, aku jadi bersemangat lagi . Kamu mau ga jadi pacarku?" Tembak Arionbell.
"Gila kamu Bell, jangan lupa Aida itu sahabatku. Aku ga mau nikung sahabatku sendiri."
"Ah, Aida mah gampang. Aku bisa putus sama dia kalau kamu mau jadi pacarku"
"Ga." Tegas Aimee.
Arionbell pada akhirnya beneran putus sama Aida dengan alasan tidak ada lagi kecocokan. Ditambah lagi 2 tahun setelah mereka putus, Aida menikah dengan salah satu sahabat abangnya.
Arionbell ga putus asa mengejar cinta Aimee dengan berbagai cara untuk mendapatkan perhatiannya.
Mengantar jemput Aimee kuliah, bekerja dan menemani Aimee beraktivitas, membuatnya semakin mengagumi gadis yang kerap disapanya bola dulu.
Aimee bukan lagi gadis gembul yang minderan dan ketus kalau berbicara dengan orang lain, tapi dia sudah tumbuh menjadi sosok wanita cantik, murah senyum, optimis, percaya diri, mandiri dan senantiasa bersinar dimanapun dia berada.
Dalam diri Aimee Arionbell melihat bentuk keindahan dengan versi lain.
Ah, Aimee kamu tetaplah bolaku. Bola yang telah menggelinding menerobos gawang hatiku. Bathin Arionbell.
"Jadi gimana nih Aimee, aku masih nunggu jawabanmu. Mau ga jadi pacarku?"
"Itu terus yang kamu tanya, ganti pertanyaan lain napa?"
Sebenarnya Aimee bahagia Arionbell juga menaruh hati padanya, hanya saja Aimee merasa perlu untuk menyakinkan pilihannya.
"Baiklah, aku ga akan nanya lagi."
Yah.. Aimee kecewa dalam diamnya mendengar perkataan Arionbell.
"Tapi aku akan langsung menemui om Indra untuk meminta putrinya jadi pendamping hidupku." Sambung Arionbell lagi.
"Apa??"
Seketika hati Aimee jadi berbunga-bunga, ternyata kecintaannya pada Arionbell sejak usia belia tidak bertepuk sebelah tangan.
-TAMAT-
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Baru belajar nulis cerpen ni teman-teman.
Jangan lupa tinggalkan jejak, kritik dan saran. Terimakasiiiiih ❤❤❤