Suatu hari, di kota Bandung, sedang terjadi hujan deras yang mengguyur tempat tinggal warga terutama sebuah rumah kecil yang sudah tidak layak karena beberapa bagian rumahnya sudah runtuh. Rumah kecil itu adalah rumah milik seorang ayah yang sudah tua dan anak perempuannya yang bernama Amanda. Amanda adalah seorang gadis yang berumur 17 tahun. Ia bersekolah di salah satu sekolah negeri yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Ia terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai supir angkot untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Setiap harinya, ayahnya mendapat Rp 100.000 paling banyak. Ibu Amanda telah meninggal saat melahirkannya.
Hari-hari mereka jalani dengan tegar. Namun, Amanda sering mengeluh kepada ayahnya karena kondisi mereka sekarang yang sangat tidak enak. Mereka harus tinggal di sebuah rumah kecil yang sudah rusak dan kotor. Mereka juga hanya bisa makan nasi dan kecap manis setiap harinya. Sesekali, Amanda mengeluh kepada ayahnya karena kondisinya itu. Amanda juga sering memarahi ayahnya, bersikap kasar, berkata-kata kasar dan bahkan pernah hampir mengusir ayahnya karena malu memiliki ayah yang bekerja sebagai supir angkot.
Suatu hari, saat sedang sarapan, Amanda mengeluh kepada ayahnya.
“Ayah, kapan sih kita punya rumah yang bagus dan bisa makan makanan enak? Bosen terus gak enak lagi.” Keluh Amanda.
“Iya nak, maafkan ayah. Kondisi keuangan kita tidak terlalu bagus. Kita bersyukur aja yah.” Ujar sang ayah.
“Duh, cuman bisa bilang bersyukur. Gimana sih?” Amanda menambahkan.
Ayahnya terdiam.
******
Setiap hari, Amanda pergi ke sekolah jam 6 pagi dan pulang ke rumah jam 3 sore. Berbeda dengan teman-temannya, Amanda selalu berjalan kaki kemanapun ia pergi termasuk untuk pergi ke sekolah. Sedangkan teman-temannya selalu menggunakan mobil untuk pergi ke sekolah. Amanda juga sering diejek oleh temannya karena kehidupannya yang sangat miskin.
Suatu hari, saat pulang sekolah, Amanda diejek oleh teman-temannya.
“Miskin banget lu. Seragam sekolah aja uda pada sobek, sepatu uda cacat. Ke sekolah cuman jalan kaki.” Ejek salah satu temannya.
“Iya! Lihat dong kita, seragam masih baru, sepatunya mahal. Ke sekolah juga pakai mobil.” Teman yang lain melanjutkan.
Teman-temannya pun pergi meninggalkan Amanda.
Amanda hanya terdiam. Yang dia rasakan hanya sedih, kesal, iri, marah, dan lain-lain. Ia pun langsung berjalan pulang dengan amarah yang ia pendam.
Sesampainya di rumah, ia langsung mengunci diri di kamarnya sambil menangis.
******
Saat ayahnya pulang kerja, Amanda langsung mengeluh dan memarahi ayahnya.
" Ayah, tau gak, aku tuh diejek sama teman-temanku. Semua barang yang aku punya itu uda gak layak dipakai! Sampai kapan sih kita hidup miskin? Aku bosan, aku capek, aku kesel sama kehidupan kita yang miskin." Keluh Amanda.
Ayahnya terdiam sedih.
******
Keesokan harinya, di sekolah, lagi-lagi Amanda diejek oleh teman lainnya. Tapi, kali ini Amanda diejek karena tidak mempunyai smartphone.
"Yang bener aja, jaman sekarang masih belum punya smartphone. Hahahahaha." Ejek teman nya.
Amanda langsung pergi karena merasa malu. Ia juga merasa iri karena semua teman-temannya sudah mempunyai smartphone. Sedangkan Amanda tidak pernah mempunyai smartphone, bahkan memegang saja tidak pernah.
Setelah selesai sekolah, Amanda langsung berjalan pulang ke rumahnya karena ia takut diejek lagi oleh teman-temannya.
Ternyata, jalan yang biasa ia lewati ditutup karena ada pembetulan jalan. Ia pun terpaksa menggunakan jalan lain yang akan memakan waktu 5 menit lebih lama dari biasanya.
Di tengah jalan, Amanda melewati sebuah toko smartphone. Karena penasaran, ia menghampiri toko tersebut. Amanda melihat-lihat berbagai macam smartphone di situ. Saat sedang melihat-lihat, ia menemukan satu smartphone yang sangat ia suka. Ia bertanya kepada penjualnya.
"Pak, yang ini harganya berapa?" Tanya Amanda sambil menunjukkan salah satu smartphone.
"Oh yang ini harganya Rp 6.000.000 kak." Penjual itu menjawab.
"Hahh? Yang bener aja pak. Cuman 1 smartphone aja harganya mahal banget." Amanda tak percaya.
"Iya kak,memang harganya begitu kak." Jawab penjual itu.
"Ya uda deh." Jawab Amanda dengan singkat dan langsung pergi meninggalkan toko itu.
Di dalam hatinya, ia merasa kecewa karena harga smartphone itu sangat mahal. Ia bingung bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu. Sekarang saja, dia hanya mempunyai tabungan Rp 30.000 yang hanya cukup untuk makan dan ayahnya juga hanya bekerja sebagai sopir angkot yang penghasilannya tidak seberapa. Dengan putus asa, ia melanjutkan berjalan menuju rumahnya dengan lemas.
******
Saat ayahnya pulang, Amanda meminta ayahnya membelikan smartphone.
"Ayah, belikan aku smartphone, dong. Semua teman-teman ku sudah punya." Keluh Amanda.
"Iya kak, nanti ayah belikan kalau sudah punya uang. Ayah akan bekerja lebih keras lagi." Ujar ayahnya.
“Janji loh ya harus beliin aku semua yang aku mau.” Amanda memastikan.
Ayahnya hanya mengangguk.
Ayahnya pun berniat untuk bekerja lebih keras lagi. Ayahnya ingin Amanda tahu kalau ayahnya sangat sayang kepada Amanda dan rela melakukan apa saja untuk Amanda. Keesokan harinya dan seterusnya, ayahnya memperpanjang waktu bekerja supaya bisa menambah penghasilan. Dari yang biasa mulai bekerja jam 5 pagi sampai jam 6 sore, sekarang mulai bekerja jam 4 subuh sampai jam 10 malam. Walaupun terkadang mengantuk, ayahnya tetap bekerja keras supaya anaknya bahagia. Ayahnya juga sering tidak makan dan lebih mementingkan pekerjaannya. Dengan memperpanjang waktu kerjanya,ayahnya bisa mendapatkan penghasilan 2 kali lipat lebih banyak dari yang biasanya didapatkan. Ia sangat bersyukur karena walaupun pekerjaannya hanya sebagai supir angkot, tetapi ia dan anaknya masih bisa makan. Semua penghasilan yang ayahnya dapatkan selalu ditabung.
******
2 bulan kemudian
Selama 2 bulan ayahnya bekerja, ayahnya sering sekali merasa tidak enak badan karena kelelahan. Namun, ia tidak memperdulikannya. Ia tetap bekerja keras untuk Amanda. Saat bekerja, ayahnya sering sekali menahan rasa sakit yang dialaminya. Ia sengaja tidak memberitahu Amanda tent ang hal ini. Ia an tidak mau Amanda kepikiran.
Tak lama kemudian, ayahnya sudah menabung semua penghasilannya dan setelah menghitung jumlahnya, ternyata uangnya sudah cukup untuk membelikan Amanda baju baru, sepatu baru, HP baru, dan barang-barang bagus lainnya yang Amanda inginkan. Ayahnya berencana untuk pulang kerja lebih pagi karena ia mau berbelanja untuk Amanda. Ayahnya langsung membawa uang itu ke toko pakaian. Disitu, ayahnya membelikan banyak pakaian bagus untuk Amanda. Ia juga tak lupa membelikan sepatu untuk Amanda. Lalu, ayahnya pergi ke suatu restoran dan membelikan Amanda makanan karena selama ini Amanda tidak pernah makan makanan dari restoran. Setelah membeli makanan untuk Amanda, ayahnya pergi ke toko smartphone. Di situ, ayahnya membelikan Amanda smartphone keluaran terbaru. Ia berharap Amanda merasa senang mendapatkan semua yang ayahnya belikan. Tiba-tiba, ayahnya teringat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Amanda. Ayahnya berencana untuk memberikan semua barang yang ia beli sebagai hadiah ulang tahun untuk Amanda. Ayahnya pun mengemas semua barang-barang yang ia beli untuk Amanda ke dalam sebuah dus. Lalu, ia menulis sebuah surat untuk Amanda yang berisi:
Untuk Amanda, satu-satunya anak ayah yang ayah sayang, ini ada berbagai macam barang yang ayah beli untuk kamu. Ayah juga ada menambahkan uang untuk kamu. Ayah tau kamu ingin sekali semua ini sejak kamu masih kecil. Maafkan ayah karena ayah baru bisa memenuhi semua keinginan kamu sekarang. Maafkan ayah, karena kamu harus merasakan kehidupan yang tidak enak. Ayah hanya ingin kamu tahu kalau ayah sangat menyayangi kamu. Ayah ingin saat kamu dewasa nanti, kamu menjadi anak yang baik, cerdas, sehat, dan menjadi orang yang sukses.
Selamat ulang tahun Amanda!!! Semoga panjang umur, sehat selalu, dan menjadi orang sukses.
Dari ayah
Setelah menulis surat itu, ayahnya memasukkan surat itu itu ke dalam dus yang sebelumnya ia siapkan untuk Amanda. Ia juga menyelipkan uang sebesar Rp 2.000.000 dan menutup dus itu. Ia langsung mengendarai angkotnya ke rumah. Iia meletakkan dus itu di sampingnya dan menjaganya dengan baik. Ia tidak mau dus itu hilang atau rusak.
Di tengah perjalanan, saat sudah dekat rumahnya,ia memberhentikan angkotnya karena rasa sakitnya kambuh lagi dan kali ini ia tidak bisa menahannya. Beberapa menit kemudian, ayahnya pingsan.
Saat itu, Amanda sedang berjalan kaki dari sekolah ke rumahnya. Dari jauh, ia melihat ada sebuah angkot yang mirip dengan angkot ayahnya sedang berhenti di dekat rumahnya. Namun, Amanda tidak tahu kalau itu adalah angkot ayahnya karena ayahnya tidak pernah pulang ke rumah sepagi itu. Karena penasaran, ia pun berjalan mendekati angkot itu. Ia semakin penasaran dan memutuskan untuk mengintip ke dalam untuk memastikan bahwa itu adalah angkot milik ayahnya. Setelah mengintip ke dalam, ia langsung terkejut karena ia melihat ayahnya ada di dalam angkot itu dengan keadaan pingsan sambil memegang sebuah dus. Ia langsung menyimpan dus itu dan langsung membawa ayahnya ke puskesmas terdekat.
Sesampainya di Puskesmas terdekat, ayahnya langsung diperiksa, sedangkan Amanda menunggu di luar ruangan. Ia sangat panik dan sedih. Walaupun ayahnya tidak bisa memenuhi keinginannya, tetapi ia tetap menyayangi ayahnya. Beberapa menit kemudian, dokter memanggil Amanda.
“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?” Tanya Amanda.
“Dek, apa adek tau sudah berapa lama ayah adek sakit?” Dokter bertanya balik.
“Saya tidak pernah tau kalau ayah saya sakit. Baru kali ini saya tau kalau ayah saya sakit.Memangnya apa yang terjadi dengan ayah saya?” Amanda semakin penasaran.
“Berdasarkan kondisi ayah kamu, sepertinya ayah kamu sudah lama menderita penyakit dan setelah saya periksa, ayah kamu sudah lama mengidap penyakit stroke dan karena tidak diobati, penyakitnya semakin parah dan kemungkinan untuk sembuhnya sangat kecil.” Dokter menjelaskan.
“Lalu, apakah yang harus saya lakukan supaya ayah saya bisa sembuh dok?” Tanya Amanda.
“Saya akan memberikan obat. Lalu kita tunggu saja sampai ayah kamu sadar. Kita berdoa saja yah semoga ayah kamu cepat sembuh.” Kata dokter.
“Baik dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya yah.” Amanda meminta tolong.
“Baik dek. Memang sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter untuk melakukan yang terbaik untuk pasiennya.” Ujar dokter.
Lalu dokter memberikan ayahnya Amanda obat dan pergi meninggalkan Amanda dan ayahnya. Amanda hanya menangis sedih. Ia lalu berdoa supaya ayahnya cepat sembuh. Amanda duduk di samping ayahnya sambil menunggu ayahnya sadar. Beberapa menit kemudian, dokter datang kembali untuk melihat kondisi ayahnya. Saat ingin diperiksa, tekanan darah ayahnya tiba-tiba menurun drastis. Dokter langsung segera melakukan pengecekan. Amanda semakin panik. Dalam hitungan detik, dokter mengatakan bahwa nyawa ayahnya tidak bisa diselamatkan lagi. Amanda tak percaya dan menyuruh dokter melakukan pemeriksaan ulang. Dokter pun melakukan apa yang Amanda suruh. Sayangnya, nyawa ayahnya memang sudah tak bisa diselamatkan. Amanda pun semakin menangis. Ia sedih karena ayahnya meninggal sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa menemaninya, memeluknya, menghiburnya, dan lain-lain. Dokter pun menghibur dan menyemangati Amanda lalu ia pergi meninggalkan ruangan. Amanda terus menangis sambil memeluk ayahnya.
Tak lama kemudian, Amanda teringat tentang dus yang ia temukan di samping ayahnya saat ayahnya pingsan di angkot. Ia memutuskan untuk membuka dus itu. Ketika dus itu terbuka, ia menemukan sepucuk surat. Lalu, ia membaca surat itu sambil menangis terharu. Setelah membaca surat itu, ia langsung melihat barang-barang yang ayahnya berikan untuknya. Amanda sebenarnya senang karena diberikan semua itu. Tetapi ia tidak bisa merasakan kesenangannya itu karena ayahnya meninggal.
Ia menyesal karena selama ini ia selalu bersikap jahat kepada ayahnya padahal ayahnya sangat baik. Ia menyesali perbuatannya dan langsung berlutut di depan ayahnya untuk meminta maaf. Rasanya ia ingin mengulang kehidupannya bersama ayahnya itu, tapi sayang waktu tidak berputar balik. Semuanya sudah terlambat. Ayahnya sudah meninggal dan Amanda sudah tidak bisa memperbaikinya lagi. Amanda menyesal karena selama ini dia juga selalu mengeluh dan selalu meminta ayahnya memenuhi keinginannya sehingga ayahnya bekerja sampai kelelahan. Ia juga menyesal karena selama ayahnya masih hidup, ia tidak pernah peduli dan sayang terhadap ayahnya.
Sejak saat itu, ia selalu memasang foto ayahnya di semua barang yang ia sayangi. Ia juga mulai bekerja sebagai pelukis karena Amanda sangat terampil dalam melukis. Ia memberi nama bisnisnya itu dengan nama ‘Lukisan untuk orang tercinta” dan diberi logo dengan gambar ayahnya karena ia ingin ayahnya tahu kalau ia tidak akan pernah melupakan ayahnya dan juga untuk melambangkan penyesalannya terhadap ayahnya. Setiap kali ada pembeli yang memesan, ia selalu melukis dengan indah dan saat diberikan kepada pembelinya, ia selalu menulis surat yang berbunyi, “Sayangilah orang-orang di sekitarmu terutama orang tuamu. Jangan sampai kamu menyesal saat mereka tidak ada disampingmu.” Surat itu selalu diselipkan di belakang lukisan pembelinya karena ia tidak mau pembelinya dan juga orang lain merasakan hal yang sama seperti dirinya yang menyesal.
TAMAT