"Kamu dapat hadiah apa dari ortu kamu... kan kamu dapat ranking satu tuh?! tanya Nina pada Rena.
"Nggak dapat apa-apa Nin... dari kecil tiap kali dapat ranking satu dianggap biasa aja..." Rena tersenyum.
"Kamu kemarin ranking tiga kan? dapat apa dari papa mama kamu?" sekarang Rena yang bertanya pada Nina.
"Dibeliin iPhone", jawab Nina.
"Wow... kereeen... ck ...ck...ck...", Rena terkagum-kagum.
"Dulu... ketika aku kecil... ketika pertama kali dapat ranking satu saat kenaikan kelas... aku dipanggil keatas panggung oleh guruku, lalu diberi piagam penghargaan dan hadiah yang dibungkus kado...
Sejak saat itu, aku selalu berusaha keras untuk mendapatkan ranking satu. Tujuannya... agar bisa naik ke panggung dan menerima hadiah lagi...
Kamu tahu Nin?! ... sejak SD aku sudah terbiasa begadang kalau sedang ada tes atau ujian. Aku nggak akan tidur sebelum puas menghafal semua materi".
"Wah ... pantas saja susah sekali mengalahkanmu dalam pelajaran", kata Nina.
"Hanya itu yang aku bisa... ngapalin. Aku nggak punya gadget buat main game. Aku hanya punya hp jadul yang cuma bisa dipakai nelpon dan SMS. Dan kesulitan tersendiri untukku... kalau ada tugas untuk mengetik laporan, ngeprint atau googling. Aku harus cari rental... belum lagi kalau uang buat ngerentalnya nggak ada....
Makanya, aku sering ngerepotin kamu... ikut ngetik laporan, ikut ngeprint pakai printermu, ikut googling di laptopmu... makasih ya sudah baik sama aku", Rena memeluk bahu Nina.
"Jangan ngomong kayak gitu dong... kita kan sahabat... dan aku senang kalau kamu sering ke rumahku, jadi ada yang menemaniku di rumah", Nina mengusap-usap punggung Rena.
Nina dan Rena sama-sama anak tunggal. Hanya saja mereka berdua berbeda keadaan. Kedua orang tua Nina bekerja di kantoran. Sedang orang tua Rena bekerja sebagai buruh, ayahnya sebagai buruh bangunan dan ibunya sebagai tukang cuci pakaian.
Kadang-kadang Rena berpikir, kalau dirinya dan Nina hidup dalam dunia berbeda. Karena ia sering main ke rumah Nina, ia tahu betul bagaimana orang tua Nina memperlakukan Nina.
Walaupun kedua orangtuanya bekerja, bukan berarti Nina kurang perhatian, setiap pagi sebelum ibunya pergi bekerja, ia selalu menyiapkan bekal makanan dan memperhatikan semua keperluannya sebelum Nina pergi sekolah.
Begitu pula dengan ayahnya yang bekerja di sebuah bank, pernah suatu kali Rena diajak Nina ke tempat ayahnya bekerja. Ternyata mereka... ayah dan anak sudah janjian untuk makan siang bersama. Dan Rena diajak oleh mereka untuk makan bersama di rumah makan.
Wah sungguh hal-hal yang tidak biasa terjadi di dunianya Rena.
Setiap pagi, kalau Rena akan pergi ke sekolah, ia menyiapkan bekal makanannya sendiri... seadanya, tujuannya untuk menghemat uang jajan. Ibunya Rena, pagi-pagi sekali sudah pergi dari rumah untuk mencuci di rumah para tetangga.
***
"Ren, pulang sekolah nanti... kamu ke rumahku ya?! Kita kerjakan bareng pr matematikanya...."
"Ya, baiklah", sebenarnya Rena nggak enak hati kalau sering ke rumah Nina. Biasanya Nina akan memaksa Rena untuk makan bersamanya. Malu... kalau terlalu sering.
***
"Ren, kok kamu makannya sedikit amat?"
"Kan tadi waktu istirahat, aku makan bekal yang aku bawa dari rumah", Rena tersenyum pada Nina. Padahal Rena sengaja mengambil sedikit saja porsi makanannya. Kalau menuruti keinginan hati... ia ingin mengambil banyak... siapa tidak tergiur melihat makanan beragam yang enak-enak... terhidang diatas meja makan.
"Bi... makannya sudah", Nina memberitahu pembantunya kalau ia dan Rena sudah selesai makan.
"Ren kita ke kamarku yuk"
Kamar Nina sangat luas menurut Rena. Didalamnya terdapat tempat tidur yang indah seperti untuk princess, lemari pakaian yang besar, meja belajar, meja rias yang penuh dengan pernak-pernik untuk perawatan wajah dan perawatan tubuh untuk remaja.
Rena mengeluarkan buku matematikanya dan menyimpannya diatas meja belajar Nina. Rena mulai mengerjakan apa yang tadi di-pr-kan oleh gurunya. Nina menyeret kursi meja riasnya dan meletakkan didekat meja belajar. Nina pun mengeluarkan buku matematikanya.
"Ah kalau dikerjakan bersama, jadi lebih cepat selesainya", Nina tersenyum lebar sambil menggerak-gerakkan badannya.
"Aku pamit pulang ya?!", kata Rena sambil memasukkan buku kedalam tasnya.
"Ah mau kemana? tinggal dululah sebentar disini... temani aku...", Nina merengek manja.
"Baiklah... aku akan tinggal sebentar lagi ", kata Rena sambil tersenyum.
"Ren, kemarilah", Nina membuka lemarinya. Terlihatlah pakaian yang digantung berderet dan penuh. Pakaian yang dilipat juga bertumpuk dan penuh.
"Banyak pakaian disini yang belum terpakai olehku. Sebagian malah masih terpasang gantungan labelnya. Pilihlah yang kamu sukai", kata Nina sambil merengkuh bahu Rena.
"Nin, kamu jangan meremehkan semua yang ada dalam lemarimu ini. Semua pakaian yang mengisi penuh lemarimu ini... adalah bukti kasih sayang ibumu....
Pakailah olehmu secara bergiliran... perlihatkan kepada ibumu kalau kamu memakai semua pakaian pemberiannya. Perlihatkan kalau kamu sangat menyukai semua pemberiannya... Ibumu pasti bahagia kalau kamu bersikap seperti itu...."
"Tapi lihatlah ... ini sangat banyak untuk kupakai sendiri... pilihlah setidaknya satu baju", bujuk Nina.
"Aku sangat berterima kasih atas kebaikan hati kamu... tapi aku tidak bisa menerimanya... Bayangkan olehmu... setiap ibumu pergi ke suatu tempat, lalu ia melihat satu pakaian cantik, lalu secara otomatis ia teringat kamu anaknya sehingga ia membelinya dan memberikannya padamu. Semua pakaian yang ada di lemarimu itu penuh cinta ibumu ... aku tidak berani untuk memilikinya".
"Ah... kamu jadi bikin sedih... hoaaa... Mama aku sayang Mama... huuhuu... Mama..." tiba-tiba Nina menangis keras.
"Weleh... cup... cup... udah ah... jangan nangis dong... nanti dikira kamu nangis diapa-apain sama aku", Rena kaget mendengar tangisan Nina.
***
Rena kini sudah berada di kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang kecil.
Ririn memandang isi kamarnya. Ada meja belajar, hasil buatan ayahnya, lemari plastik untuk tempat pakaiannya yang hanya sedikit, Cermin berbentuk oval tergantung di dinding.
"Seandainya....
Yah seandainya saja... ayah dan ibuku juga kerja kantoran, tentu kamarku tidak akan jauh berbeda dengan kamarnya Nina, pakaianku akan sebanyak pakaian Nina, Ayahku juga akan bisa mengajak makan siang di rumah makan. Walaupun bukan iPhone, setidaknya aku akan dibelikan hp android atau bahkan dibelikan laptop juga, tidak akan kekurangan pulsa dan kuota....
Ah, seandainya saja...."
Pikiran Rena melayang kemana-mana dan berandai-andai.
"Assalaamualaikum", terdengar suara ibunya yang baru pulang.
"Wa'alaikumsalaam", Rena mencium tangan ibunya dan membantu membawa kresek-kresek yang dibawa ibunya.
"Bu, bawa apa ini kreseknya berat-berat?" Rena bertanya sama ibunya sambil memberikan segelas air putih.
Ibunya Rena meminum air putih tersebut, "Alhamdulillaah... hari ini Ibu dapat rejeki besar... Hari ini, ibu mencuci di rumah Bu Susan, ia bercerita anak gadisnya sudah kuliah dan berhasil diterima di UI. Bu Susan senang sekali... Ibu diberi upah yang besar....
Dan lihat ini... baju-baju lama anak gadisnya Bu Susan, semuanya diberikan kepada Ibu, karena ia tahu Ibu juga punya anak gadis. Katanya, anaknya sudah dibelikan baju-baju yang baru", Ibunya Rena bercerita dengan penuh semangat sambil mengeluarkan baju-baju yang memang masih terlihat bagus dari dalam kresek.
Ririn terharu melihat Ibunya. Ibunya itu telah bekerja sangat keras untuk dirinya... anak mereka satu-satunya.
"Terimakasih Ibu... pakaian ini bagus sekali... aku suka", kata Rena sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillaah... kalau kamu suka, tadinya Ibu berpikir kamu tidak mau menerimanya, karena ini pakaian bekas", Ibunya Rena terlihat senang melihat Rena menyukai baju-baju yang dibawanya.
"Bu, bajunya mau aku bawa ke kamar ya, mau aku masukkan ke dalam lemari", Rena tersenyum lagi.
"Oh, iya...iya... beresin sana....", Rena mengangkat semua baju-baju itu kedalam kamarnya.
"Ren.." Ibunya Rena melongokkan kepalanya ke dalam kamar Rena.
"Ada apa Bu?"
"Ini buat kamu simpan... kalau-kalau ada keperluan buat sekolahmu", Ibunya mengasongkan selembar uang seratus ribu.
"Aduh... buat apa ini Bu? kok banyak sekali..."
"Ibu tadi kan udah bilang... Bu Susan memberi upah yang besar... Nah uang yang itu buat kamu..."
"Nggak usah Bu, ini hasil jerih payah Ibu, Ibu saja yang simpan... Buat aku sih cukup uang jajan seperti biasa saja".
"Sudah.. kamu simpan saja! Jarang sekali Ibu bisa memberimu uang lebih"
"Terima kasih Bu", Rena mengalah ketika melihat ibunya memaksa.
Rena menyimpan uang yang diberikan ibunya di dalam lemari dibawah tumpukan bajunya. Ia tidak akan memakainya.
"Astaghfirullah... maafkan aku ya Allah... aku telah berani berandai-andai... tidak bersyukur dengan keadaanku yang sekarang ini... Aku sudah dikaruniai keluarga yang baik, Ayah dan Ibu yang bekerja sangat keras, Ayah dan Ibu yang memberikan semua yang mereka miliki walaupun dengan segala keterbatasannya...."
Allaahummaghfirlii waliwaalidayya warham hummaa kamaa rabbayaani shaghiiran...
Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di masa kecil.
Aamiin
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************