Ini adalah cerita pengalaman masa kecil tata dulu, jadi maaf ya kalo kurang/enggak menarik🙏🙏
🍁🍁🍁🍁
.
.
Saat itu usiaku masih sepuluh tahun, ya masih SD lah pokoknya, saat itu lebih tepatnya disore hari aku sedang sakit demam yang lumayan tinggi, karena dulu aku tidak mau dibawa ke rumah sakit sebab takut disuntik, jadi kedua orang tua ku memutuskan untuk merawat aku sendiri di rumah.
Ayahku membuatkan obat ramuan untuk aku minum sedangkan mamaku sedang mengompres kepalaku dengan menggunakan kain yang di celupkan ke dalam air hangat dikamar.
"Ini obatnya diminum," ucap ayah.
"Huum .... " jawabku.
Mama membantu membangunkan tububku yang lemas tanpa tenaga.
Setelah aku meminum obatnya Mama memintaku untuk tidur, Mama menarik sehelai kain tebal untuk menyelimuti tubuhku.
Skip=>>>
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara samar-samar seperti ada suara orang ramai di kamarku, aku membuka mataku dan melirik di sekeliling dan tidak tampak seorang pun di situ, tapi telingaku tetap mendengar suara bising samar-samar seperti suara orang banyak yang sedang berbincang-bincang.
Tenggorokanku terasa kering aku melirik ke arah meja di sebelah kasur tetlihat ada air putih di d dalam gelas, aku ingin mengambilnya tapi saat aku akan menoleh kepalaku sama sekali tidak bisa di gerakan begitu juga dengan tanganku, aku ingin meraih gelas itu tapi seluruh tubuhku kaku tidak bisa bergerak, aku berusaha bertriak tapi tidak keluar suara dari mulutku, samapai akhirnya aku memejamkan kembali mataku.
Dan saat aku memejamkan mataku aku mendengar suara Mama dan Ayah yang sedang membicarakan kondisiku.
"Bagaimana ini demamnya tidak turu?" ucap Mama sedikit panik tapi berusaha tenang.
"Dikompres aja terus nanti pasti akan turun
panasnya," jawab ayah menenangkan Mama.
Karena aku tadi merasa tenggorokanku kering, kini aku memutuskan untuk kembali membuka mataku, dan aku sangat terkejut ketika mataku sudah terbuka, aku melihat tubuhku yang sangat besar yang sedang berbaring di atas kasur yang sangat besar dan luas, sedangkan Ayah dan Mamaku sedang duduk disampingku dan aku sendiri duduk di atas bantal sebelah kepalaku sendiri tapi ukuran tubuhku sangat kecil sekecil jari kelingkingku dan aku hanya menatap seluruh tubuhku yang besar itu.
Aku melihat di sekelilingku, semuanya berukuran sangat besar tapi saat aku melihat ke arah Ayah dan Mamaku, aku melihat ada bayangan hitam di belakangnya yang sedang berdiri dan menghadap ke arah tubuh besar ku yang sedang terbaring, aku sempat takut saat melihatnya tapi dia sama sekali tidak bergerak dan begitu juga dengan ku, aku tidak bisa berbicara maupun bergerak aku hanya bisa melihat tubuhku dan semua yang ada di kamarku malam itu.
Skip=>>>>
Setelah beberapa lama aku duduk di sebelah kepalaku tiba-tiba tubuhku tersungkur seperti ada yang mendorongku sampai terjatuh dari tempat ku duduk dan tanpa aku sadari suaraku sudah kembali keluar.
"Agrh ... ha ...huuuuh ...." teriakku.
Perlahan aku mulai membuka mataku kembali, dadaku terasa sesak, jantungku berdetak sangat kencang, tubuhku gemetaran dan keluar keringat dingin di sekujur tubuhku, saat mataku terbuka dan aku bisa melihat jelas semuanya Mama dan ayah ku, ternyata aku sudah kembali ke tubuhku, Mama langsung mengambilkan air minum untukku dan meletakan tangannya di atas kepalaku.
"Udah enggak panas lagi," ucap Mama.
"Kenapa napasmu seperti orang yang baru saja lari maraton?" tanya Ayah.
"Kepalaku masih pusing," jawabku lirih.
Ayah memijit-mijit pelan kepalaku dan mengoleskan minyak kayu putih di telapak tanganku dan telapak kakiku.
"Apa masih terasa pusing?'' tanya Ayah.
"Sudah tidak seperti tadi," jawabku.
Skip=>>>
Selang dua hari setelah aku sakit itu, tepatnya saat tengah malam aku tidur ditemani Mamaku karena entah kenapa aku merasa takut sendiri malam itu jadi Mama tidur bersamaku, saat tengah malam aku terbangun aku melihat di sekeliling sangat sepi dan sunyi dan tiba-tiba kasur tempat aku tidur bergoyang sangat kencang aku pikir saat itu kepalaku lagi pusing makanya kasurnya terasa goyang.
"Ma ... mama?'' ucapku membangunkannya.
"Kenapa? Mau ke kamar mandi?" tanya Mama.
"Enggak, sepertinya kepalaku pusing, tadi kasurnya seperti goyang," ucapku menjelaskan.
"Hm ... mungkin kamu mimpi, Mama enggak ngerasain apa-apa kok," jawab Mama menenangkanku.
Mama memintaku memejamkan mata kembali dan memegangi kepalaku agar aku tidak merasa pusing, tapi saat aku mulai memejamkan kembali mataku lagi-lagi aku merasa kasurnya goyang aku membuka kembali mataku dan benar dugaanku kasurnya goyang, seperti ada yang sedang menggoyang-goyangkannya dengan kencang. Karena takut aku langsung membangunkan Mama ku lagi.
"Mama ... ma .... bangun kasurnya goyang lagi Ma," ucapku.
"Enggak nak, enggak ada yang goyang, Mama enggak ngerasain apa-apa kok, mungkin kamu mimpi," jawab Mama kembali.
"Enggak Ma.. tadi aku buka mata dan bangunin Mama tadi goyang kasurnya," ucapku dengan keras kepala.
"Enggak nak, enggak ada apa-apa," ucap Mama.
"Ma? Aku takut," rengekku dengan tubuh yang gemetaran.
"Enggak ada apa-apa engak usah takut, ayo tidur lagi Mama peluk," ucap Mama.
Entah kenapa hanya aku yang ngerasa kalo kasur itu bergerak kenapa Mamaku berkali-kali aku bangunin enggak ngerasain sama sekali kejadian itu.
Aku memeluk Mama dengan erat dan memejam kan mataku kembali, tapi sialnya karena aku sudah terlanjur takut jadi aku tidak bisa tidur meski sudah memejamkan mata saat itu, aku mempererat pelukan ku dan Mama mengelus ujung kepalaku.
Sedikit aku membuka mataku sebelah dan melihat ke arah pintu aku melihat samar-samar sesuatu berwarna merah, dan saat aku membuka kedua mataku sudah terbuka semuanya dan melihat dengan jelas, aku kembali menatap ke arah pintu, terlihat seorang pria bertubuh tinggi mengenakan kostum cheongsam dan celana berwarna merah (seperti baju cina gitu lah) sedang berdiri dan menatapku, sontak karena sangat takut aku langsung memejamkan mataku kembali dan berbisik kepada Mamaku.
"Ma? aku sangat takut," bisikku di serta memper erat pelukanku kepadanya.
Aku memper erat pelukanku begitu juga dengan mama, kami saling memeluk sampai akhirnya aku tertidur.
Skip......
Sebenarnya itu bukan kali pertama aku mengalami hal semacam itu, sebelum itu aku juga pernah ngalami hal yang sama hanya saja kenjadian ini sangat membekas di dalam hidupku.
Bahkan sampai sekarang kadang aku masih sering takut kalau sedang sendiri di rumah dan menatap ke arah pintu, tapi syukur semenjak aku bertambah umur dan semakin dewasa aku, aku sudah tidak lagi mengalami hal-hal semacam itu lagi.
.
.
.
Terimakasih udah mampir😊
Dan mohon maaf kalo ceritanya enggak bagus☺🙏🙏