Seperti efek kupu-kupu...
Satu kesalahan kecil, bisa menimbulkan bencana yang besar.
***
Naskah by: [Dewi Tyasari]
Di sore hari menjelang malam. Adit dan teman-temannya masih saja berlarian untuk sekedar bermain petak umpet. Dan seperti biasanya, anak lelaki itu selalu memilih tempat persembunyian yang jauh di banding teman-temannya.
"1, 2, 3, 4, 5...." temannya Firhan yang kena giliran berjaga sudah mulai berhitung. Mendengar hal itu, Adit segera mempercepat larinya menuju hutan.
"Pssst! Dit!" Ical temannya yang sudah bersembunyi mencoba mengingatkan Adit, agar tidak masuk ke hutan. Namun Adit terus saja berlari, seolah tidak mendengar teguran Ical.
Hingga akhirnya Adit berhenti di sebuah tempat yang menurutnya pas untuk bersembunyi. Dia berjongkok di antara pohon-pohon kecil yang rapat.
Matahari mulai menghilang di ufuk barat. Kegelapan pun mulai mendominasi. Adit masih setia bersembunyi di hutan.
Panggilan alam sepertinya mengganggu ketenangan Adit. Kepalanya celingak-celingukan untuk mencari tempat yang tepat untuk buang air kecil.
Saat itu perhatiannya langsung tertuju pada sumur yang berada di belakangnya. Tanpa pikir panjang, Adit pun segera mengencingi lubang sumur yang tampak tua itu.
"Hii! Serem! pulang aja ah!" Adit mulai bergidik ngeri ketika melihat sumur tua yang penuh dengan akar pohon dan sarang laba-laba. Dia pun segera berbalik badan untuk segera kembali pulang.
"Hihihi....." langkah kaki Adit terhenti, saat mendengar suara wanita yang cekikikan dari belakangnya.
"Hihihi....." suara itu terdengar semakin mendekat. Bulu kuduk Adit mulai meremang, dia pun mencoba melangkahkan kakinya untuk segera berlari.
Tiba-tiba saja muncul dua tangan yang berkuku runcing mencengkeram kedua bahu Adit dari belakang. Kedua tangan itu seolah berusaha mencegah kepergian Adit. Mata anak lelaki itu langsung membola. Tubuhnya juga ikut mematung, karena merasa sangat ketakutan. Perlahan tangan itu mencoba menutup kedua mata Adit.
"Aaaaarrkhh!!!" Adit memekik dengan keras, meskipun penglihatannya semakin samar dan menggelap.
Perlahan Adit membuka matanya. Namun ketakutan langsung menyelimutinya lagi, ketika melihat wanita tua yang sangat mengerikan berdiri membelakanginya. Wanita itu tampak sibuk dengan barang-barang yang ada di mejanya.
***
Naskah by: [Ma Jiaqi]
Adit pun memundurkan tubuhnya berniat ingin lari saat wanita tua itu sedang membereskan barang-barang, "Kamu mau kemana nak? Kau tak akan bisa keluar dari tempat ini!" Adit pun langsung menghentikan niatannya dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Ne-nenek si-siapa?" Tanya-nya pada wanita tua yang terlihat lusuh dan berwajah menyeramkan.
"Nenek, adalah orang yang akan merawatmu ditempat ini. Hahaha.." wanita tua yang di sebut Wewe Gombel itu tertawa terbahak-bahak seakan menampilkan suara serak menyeramkan yang membuat Adit langsung menangis ketakutan.
"Hiks.. Aku mau pulang. Aku gak mau disini. Ayah.. hiks.. Ibu, tolong Adit..." Rengek Adit saat suara tawa Wewe Gombel mengekak kan sudut ruang sumur tua itu. Adit yang masih umur 7 tahun itu tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Dia hanya bisa berharap ayah dan ibunya dapat segera menjemputnya.
....
18 tahun kemudian...
"Lepaskan aku!! Aku tidak mau tinggal di sumur yang berlumut ini selamanya! Lepas!!" Teriak Adit saat dirinya telah terikat oleh tali yang mengikat kedua tangannya.
"Nenek, sudah bilang. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini!" sang Wewe Gombel pun mencekik leher Adit dan mencengkramnya hingga lehernya memerah.
Cengkraman tangan itu sukses membuat Adit hampir kehilangan deru nafasnya. Wewe Gombel pun langsung menghempaskan Adit ke dinding sumur hingga membuat laki-laki berusia 25 tahun itu jatuh tersungkur, "Kenapa tidak kau bunuh saja aku, BUNUH AKU!!!" teriak Adit dengan memegangi bahunya.
Wewe Gombel itu mengarahkan tangan kanannya yang sudah menampilkan kuku panjangnya, dan segera mengarahkannya pada Adit, "Aarrrrgh!!" pekiknya, saat wanita tua itu berhasil menggoreskan kuku-kuku panjangnya ke pipi Adit.
***
Naskah by: [Sin Cera]
Adit merasakan darah mengalir di pipinya hingga melewati bibirnya. “Kau bilang akan membiarkanku pulang jika aku menuruti semua perkataanmu!” Adit merasakan darah di mulutnya. Rasanya seperti besi yang menjijikan.
Wewe Gombel mengusap pipi Adit pelan dengan ujung kuku-kuku panjangnya. Ia lalu menjilat perlahan darah Adit yang menempel di kukunya. Wewe Gombel tertawa nyaring seolah-olah perkataanya merupakan lelucon paling lucu di alam semesta ini.
“Sejak kamu berusaha kabur 8 tahun lalu, aku memutuskan untuk tidak akan melepaskanmu. Kamu sendiri yang melanggar perjanjian kita dengan berusaha kabur. Padahal dulu kamu berjanji untuk selalu tunduk kepadaku”
....
Hari sudah semakin gelap. Adit dapat melihatnya dari bawah lubang sumur. Wewe Gombel menghampirinya dari lorong gelap di hadapannya. Sebenarnya dasar sumur itu terhubung dengan sebuah lorong gelap menuju tempat tinggal Wewe Gombel.
Wewe Gombel memutuskan ikatan di tangan Adit dan langsung mengenggam kedua tangannya hanya dengan satu tangan. Adit memberontak. Wewe Gombel pun menusuk perut Adit dengan kuku panjangnya dan sekaligus menendang kakinya. Hal itu membuat Adit jatuh berlutut.
Adit yang masih merasa kesakitan, langsung di seret oleh Wewe Gombel memasuki lorong yang gelap dan lembab. Dinding dindingnya dipenuhi dengan lumut dan lendir. Rambut Wewe Gombel yang berwarna putih kusam dan kusut tak terawat, menyapu lantai lorong yang penuh dengan lumpur yang berbau air seni.
Wewe Gombel menghempaskan Adit ke pojok ruangan yang membuatnya merintih kesakitan. Ia lalu, menjatuhkan setumpuk buah-buahan di hadapan Adit. Adit yang kelaparan segera memakan buah-buahan tersebut dengan rakus.
Sambil mengunyah apel, Adit mendongak ke arah Wewe Gombel dan bertanya “Mengapa kau memberikanku makanan yang lebih banyak dari biasanya?”
Wewe Gombel tertawa nyaring dan berkata “Karena ini adalah hari yang baik untuk menjadikanmu tumbal”
Adit menjatuhkan apel di tangannya.
***
Nashkah by: [Whidie Arista🦋]
Seketika wajah Adit berubah pucat, apel yang ia makan tidak terasa manis lagi. Adit berusaha menelan sisa apel yang masuk ke mulutnya dengan susah payah.
Makhluk yang di sebut Wewe Gombel itu menyeringai menampakan giginya yang hitam berkarat, rambut nya terjuntai menyentuh tanah. Pun dengan bagian depan tubuh nya, tangannya yang kurus kering berusaha meraih pergelangan kaki Adit.
"Kau sudah siap.... Anak tampan...," seringai nya. "Kau akan menjadi tumbal untuk menambah ilmu ku....Hihihi...sudah lama aku tidak merasakan, darah manusia...," Hahaha, Wewe Gombel itu terbahak seolah apa yang di katakanya adalah sebuah lelucon yang lucu.
"Kemarilah....," Grep....Wewe Gombel menangkap kaki Adit dan mencengkramnya. Adit meronta dan menendang-nendangkan kakinya berusaha melepaskan cengkraman tangan yang hampir membusuk itu.
Bugh...Adit menendang tangan Si Wewe itu hingga kaki nya berhasil lepas.
"Beraninya...kau Anak manusia... ," geramnya. Dia menerjang tubuh Adit secepat kilat, Ah...Adit gelagapan, karena wewe gombel itu mencekiknya secara tiba-tiba.
'Aku tidak boleh mati di sini, aku harus bebas,' tekad Adit dalam hati.
Kuku tajam makhluk itu terasa menembus leher Adit, membuat Adit mengernyit menahan sakit. Bugh...Adit menonjok wajah buruk makhluk menjijikan itu.
Arghhh....makhluk tersebut mundur beberapa langkah ke belakang. Adit, terengah mengatur napasnya yang hampir habis sambil bersandar di dinding tanah yang lembab.
Sebelum Adit sempat berdiri makhluk itu kembali menerjangnya, mencakar wajah Adit dengan kuku runcing yang ia miliki. Ah...Jeritan Adit terdengar menggema di ruangan pengap ini.
"Lepaskan aku...Aku ingin pergi dari sini..." Adit meronta tak karuan. Bugh...Wewe itu menghempaskan tubuh Adit hingga membentur dinding tanah tersebut. Adit meringis merasai, tubuh nya yang terasa remuk, Adit menggengam sejumput tanah dan ketika Wewe itu menghampirinya Adit melemparkan tepat ke mata nya.
"Sialan kau....Anak manusia...," Adit berlari sekencang mungkin menuju ruangan yang lebih terang.
'Aku harus memanjat dinding sumur ini, agar bisa keluar.'
"Kau....mau kemana hah...," Wewe gombel itu kembali membuat Adit ketakutan, deru napasnya sudah tak beraturan.
Adit mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan dan. Bugh....batu itu tepat sasaran mengenai wajah si Wewe itu.
Arghhh.... Jeritan melengkingnya menggema hingga menyakiti gendang telinga Adit.
***
Naskah by: [🍒 Ma Wati 🍒]
Adit yang sudah ketakutan pun segera mencari jalan agar dirinya dapat keluar dari tempat terkutuk itu. Selang beberapa saat, Adit pun menemukan jalan keluarnya.
"Itu. Itu jalan keluarnya. Aku harus segera keluar!" Adit pun langsung memanjat dengan memegang ranting-ranting yang melilit di sumur tua itu. "Mau kemana kau, manusia?!" Suara melengking itu membuat Adit menolehkan kepalanya pada mahluk yang di sebut Wewe Gombel.
...
Adit segera mempercepat jalannya dengan terus menarik ranting-ranting yang Ia genggam.
BUGH... "Arrrghh." Adit meringis kesakitan saat si Wewe Gombel itu menarik ranting-ranting pohon hingga terlepas dan membuat Adit terjatuh kebawah, "Kesini kau!!" Wewe Gombel itu menarik Adit dengan kuku tangannya yang sudah tertancap di bagian tangan Adit.
Adit pun terseret kesakitan.. "Lepaskan aku!! Aku tidak ingin menjadi tumbal tak berguna mu!" Teriak Adit, sang Wewe pun yang menarik Adit ke lorong dengan bau yang menyengat, dan menghentikan langkahnya.
"Seharusnya, kau berterimakasih karena aku telah merawatmu hingga sebesar ini!" Wanita tua itu membalikkan tubuhnya dan menghampiri Adit.
"Cuiiih. Aku tidak Sudi dirawat oleh mahkluk menyeramkan tak berguna sepertimu!" Umpat Adit, dengan menatap makhluk itu dengan jijik.
"Manusia biadab, MATI lah kau!" Kemarahan Wewe Gombel membuat Adit membulatkan matanya, dan memundurkan tubuhnya kebelakang makhluk itu meraih kedua tangan Adit dan.. Kratak... kratak..
"Arrrrgh." teriak Adit, karena dalam sekejap makhluk itu mematahkan kedua tangannya dengan sekali potek. Darah pun mengalir memenuhi tubuh Adit. Wewe Gombel itu tidak berhenti di sana. Dia langsung memporak bagian dada Adit sehingga jeritan seorang Adit terdengar kembali.
"Arrrghh."
"Hahhahahaha." Suara tawa Wewe Gombel memenuhi sudut lorong itu, menarik sebagian isi organ Adit dan di makannya. Adit yang sudah tak berdaya, memejamkan kedua matanya. "Apakah aku akan berakhir?" Lirihnya.
***
Naskah by: [Coklat_enak🍁]
Adit pun mulai tak sadarkan diri, karena tidak kuat menahan rasa sakit yang dibuat oleh sang Wewe.
Terlihat gerhana bulan tepat berada di atas. Dibaluti oleh cahaya kuning dari obor di sekitar, menandakan ritual persembahan akan segera dimulai.
Tubuh Adit terbaring kaku di dalam sesuatu, yang nampak terlihat seperti penjara bagi tubuhnya.
"Ke-kenapa tubuhku ada disini?" gumam Adit bertanya-tanya. Tiba-tiba ada Makhluk aneh yang mendekatinya. Makhluk itu bertubuh jangkung dan memiliki dua tanduk di kepalanya.
"Keluarlah dari tubuhmu, aku kesini di utus untuk membawa tubuhmu ke hotel milikku. Lalu akanku beri salah satu kamar yang melambangkan namamu," bisik makhluk bertanduk itu yang sudah berada di samping Adit.
"Ha? Tidak, aku belum mati!" seru Adit tak percaya.
Setelah itu, Wewe Gombel datang mendekatinya.
"Adit, sepertinya kau tau apa yang akan kulakukan pada tubuhmu ....... Iya tumbal! .... Aku akan menumbalkan tubuhmu. Agar arwahmu bisa terus bersamaku selamanya. Hahahaha...!" tawa Wewe Gombel yang terdengar sangat mengerikan.
"Ti-tidak! Aku ingin kembali pada tubuhku!" seru Adit.
"Anggap saja, ini sebagai hukumanmu. Karena kau sudah kencing sembarangan ditempatku! Dan ya, aku sangat suka menculik anak kecil sepertimu. Merawatnya hingga dewasa, dan selamanya akan bersamaku untuk menjadi budakku hahahaha...!" tawa Wewe Gombel kembali, dengan raut wajah yang menakutkan.
Terlihat Wewe Gombel komat-kamit membaca mantra untuk persembahan tumbal. Setelahnya, terlihat ia mengeluarkan gergaji mesin yang tidak tau asalnya darimana.
"Tu-tunggu! Apa yang akan kau lakukan pada tubuhku?" tanya Adit mulai marah.
"Mula-mula, aku akan membelah tubuhmu terlebih dahulu, akanku cincang habis tubuhmu hingga menyisakan kepalamu. Lalu Makhluk bertanduk itu, akan ku suruh mengantar tubuhmu ke rumahmu, agar segera di kuburkan oleh kedua orang tuamu hahahaha...," tawa Wewe Gombel lepas, seraya langsung membelah tubuhnya dan menyincangnya. Kemudian, arwah Adit dibuat tak sadarkan diri olehnya.
"Hah... Hah... Hah...!! Dimana aku?" gumam Adit.
"Tenanglah, kita akan melihat tubuhmu berangkat ke hotelku!" bisik Makhluk bertanduk itu secara tiba-tiba.
"Hei, kenapa kita di dalam sangkar?" protes Adit.
"Ini adalah mobilku! Kau jangan mengoloknya! Kalau kau tak terima keluarlah sekarang!" seringai makhluk itu.
Tanpa basa-basi lagi, Adit langsung keluar dari tempat yang dipikirnya sangkar itu. Betapa kagetnya dia ketika sudah keluar.
"Keranda! Kuburan? Tunggu, apa tubuhku yang ada didalam?" gumam Adit tak mengerti.
"Selamat datang di hotel milikku, Adit! Aku memberi kesempatan untuk melihat tubuhmu memasuki kamar milikmu, yang melambangkan namamu sendiri. Yaitu lambang di kotak putih itu!" seru makhluk itu.
Adit langsung tersentak kaget dan merasa sedih, ketika ia melihat kepala yang berada dalam keranda itu adalah dirinya. Dan seketika ia percaya, kalau dia sudah mati.
"Kau sudah melihatnya. Sekarang ikut denganku, untuk menemui Wewe, agar kau bisa segera menjadi budaknya!" seru Makhluk itu lagi.
Lalu, terlihat Makhluk itu menusukkan kukunya pada mata milik Adit. Seketika, Makhluk itu menghilang dengan membawa paksa arwah Adit.
~TAMAT~
[TIM BLACK SHADOWS]
1. Dewi Tyasari
2. Whidie Arista 🦋
3. 🍒 Ma Wati 🍒
4. Coklat_enak🍁
5. Sin Cera
6. Ma Jiaqi