[Biarlah waktu yang akan menjawabnya]
Kupandangi pesan di gawai. Memahami maksud dari pesan yang dikirimkan pacarku. Segera kutelepon tapi tak aktif.
[Apa maksudmu?] Kukirim balasan pesannya. Tapi tak kunjung ada balasan apapun. Berkali-kali kutelepon pun hanya jawaban tak aktif. Dalam pikiranku berkecamuk berbagai macam hal. Berhubung hari sudah malam sehingga aku tak bisa mendatangi ke kantor ataupun rumah kontrakan pacarku.
Keesokan paginya aku segera ke kantor pacarku. Dan lagi-lagi aku tak bisa bertemu dengannya karena dia dikirim keluar kota pelatihan. Telepon pun tak aktif. Beratus-ratus pesan yang kukirimkan, tak satu pun dijawabnya. Aku harus bersabar menunggunya setelah pulang dari tugas luar kotanya.
Dua minggu berlalu. Aku tak sabar ingin menemui pacarku meminta kejelasannya. Apa maksud pesannya itu setelah melamarku didepan kedua orangtuaku? Apakah dia menyesal telah melamarku? Aku tak meminta apapun padanya. Aku hanya ingin kejelasannya. Ke kantornya pun percuma. Hanya kesia-siaan yang kudapatkan. Aku tak dapat menemuinya. Alasan sibuk pun kudapat dari rekan kantornya. Bahkan aku rela menunggu di depan teras rumah kontrakannya. Hingga larut malam pun dia tak kunjung datang.
Beberapa hari ini aku terus datang kekantornya. Dan mendapat jawaban tak enak dari rekan sekantornya. "Maaf, Rasyid tak ingin bertemu kamu sementara ini. Jangan hubungi dia dulu. Biarkan dia sementara ini". Aku bagaikan terhempas. Letih hati dan badan. Rasanya hati ini sakit.
Melamarku terus menghempaskan tanpa memberikan jawaban. Aku menangis. Bagaimana aku harus memberikan jawaban kepada kedua orangtua dan keluarga besarku yang telah mengetahui lamaran ini? Penjelasan apa yang harus kuberikan? Aku tahu pasti mama akan marah besar dan menyalahkanku. Karena bagi mama, Rasyid itu pacar sekaligus calon menantu idaman. Saat Rasyid melamar, mama yang paling bahagia. Dan kebahagiaan mama akan hancur ketika kujelaskan
Tanpa terasa enam bulan berlalu. Tanpa kabar dari Rasyid. Dan aku menyibukkan dengan kerjaan. Kuanggap itu masa lalu yang harus dilupakan selamanya. Masih ada teman-teman yang bisa menghiburku. Aku pun masih muda dan masih bisa mendapatkan pengganti dirinya.
Dan hari ini tepat didepan meja kerjaku, berdiri Rasyid dengan seragam kantornya. Tersenyum manis seakan-akan tak terjadi apapun. Menyapa teman-teman sekantorku yang juga mengenalnya. "Hai, Na!" Sapanya ramah dengan senyuman lebar. "Apa kabarmu?" Tanyanya lagi. Aku berdiri dan memutari meja. Berdiri dihadapannya. Dengan tatapan dingin aku menjawab "Seperti yang kamu lihat keadaanku baik-baik aja".
Rasyid mengelus rambutku dan menyengir. "Syukurlah kamu baik-baik aja. Aku tau kamu kuat".
"Apa maksudmu aku kuat?" Tanyaku dingin dan menepis tangannya dirambutku.
Rasyid berbalik dan keluar dari kantorku. Menuju parkiran. Tak lama dia kembali. Membawa sesuatu. "Ini buatmu". Diserahkannya sebuah undangan perkawinan. Aku terkejut dan hampir terjatuh jika tak segera berpegangan pada meja kerja. Kuterima undangan itu. Kupandangi dia yang selama dua tahun ini menemaniku. Hatiku sakit. Ingin menangis. Tapi aku tahan dan tak ingin terlihat lemah. Seperti katanya aku ini kuat. "Terima kasih undangannya. Semoga aku bisa hadir dipernikahanmu". Kutundukkan pandangan ke arah kakiku yang mengenakan sepatu high heel. Dan langsung kuinjakkan ke sepatunya kuat-kuat sampai terdengar dia menjerit perlahan. Aku menjauh darinya dan keluar ruangan. Dia mengejarku. Aku segera bersembunyi darinya. Aku tak ingin lagi bertemu. Airmata yang dari tadi kutahan jatuh berderai. Biarlah hari ini aku menangis sepuasnya agar aku bisa melepasnya dengan ikhlas. Kulempar undangan perkawinan Rasyid entah kemana. Aku tak ingin melihat.
Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengan Rasyid. Aku menghindarinya. Ku unfriend dia di medsos. Bahkan kublokir semua telepon dan pesannya.. Setiap dia datang mencariku, tak akan ditemuinya sosokku. Cukup menyakitkan. Hingga kudengar kabar dia dipindah tugaskan keluar kota. Itulah terakhir kabar yang kudengar tentang dirinya.
Sepuluh tahun kemudian.
Aku melihat-lihat pajangan lemari di suatu supermarket di sebuah mall. "Ma ... ma ... lihat ... yang ini cantik". Tunjuk putriku yang berusia 5 tahun pada sebuah cermin yang pinggirannya berwarna pink. Di pojok ruangan itu tampak berdiri seorang lelaki yang tersenyum manis melihat kami berdua. "Ma, om itu dari tadi ngeliatin kita". Tunjuk putriku. Aku melihat ke arah yang ditunjuk.
Aku mengenalinya. Walau telah lewat bertahun-tahun karena luka yang pernah ditorehkannya. "Anakmu cantik ya? Persis seperti kamu". Katanya seraya mendekati. "Apa kabarmu? Sehat selalu, kan?" Lanjutnya basa basi.
"Seperti yang kamu lihat. Aku sehat dan kuat". Jawabku. Dia mendesah panjang. Kemudian berjongkok dan berbicara dengan putriku. Setelah puas, dia berdiri dan menatapku dengan tatapan penuh kasih. Tatapan yang dulu hanya milikku sebelum dicampakkan olehnya. "Kalau dulu kita menikah pasti anak kita sudah SD". Dia tersenyum pahit. Aku tahu dalam sepuluh tahun pernikahannya belum ada dikarunia seorang anak. Teman SMPku yang kebetulan sekantor dengannya menceritakan kehidupan pernikahannya. Dia pun sering bertanya soal diriku. "Mungkin ini karma karena aku meninggalkanmu. Kalau saja waktu itu aku memilihmu maka tak akan seperti ini. Hampa". Lanjutnya sedih.
"Mungkin kita tak berjodoh. Jangan jadikan penyesalan. Soal anak pun mungkin Allah belum waktunya memberimu. Bersabarlah". Kataku. "Kenapa saat itu kamu meninggalkanku? Aku ingin tahu alasannya".
"Kulihat kamu tidak siap menikah saat itu. Saat aku pelatihan keluar kota ada teman kerjaku seorang wanita yang siap untuk berumah tangga. Aku berpikir dan akhirnya aku memilih wanita itu. Maaf jika aku melukaimu". Rasyid menatapku dengan tatapan yang sama saat pacaran dulu.
"Aku sudah ikhlas. Jodoh, rejeki dan maut hanya Allah yang menentukan. Aku sekarang bahagia dengan pernikahanku. Kamu yang memilih maka kamu harus jalani dengan baik. Aku pamit ya. Salam buat istrimu". Aku tersenyum. Bergegas aku pergi dengan putriku. Tak lagi kulihat kebelakang. Masa lalu itu memang menyakitkan tapi kuhadapi dengan kuat dan sabar.