Ku lempar tas ku ke sembarang arah dan beralih ke arah cermin di depanku.
Aku menatapnya datar.
Mendekatinya dan menemukan wajahku yang kian memucat akibat rasa sakit yang aku derita. Setelah menjalani materi di Kelas, Bu Fika selaku Wali Kelasku menyuruhku untuk membawa beberapa buku di Perpustakaan, aku menurutinya dan menata rapi buku itu. Seharian penuh harus melakukan berbagai kegiatan kian membuat rasa nyeri di perutku semakin terasa.
Ku pandangi cermin yang ada di depanku, aku memiringkan kepalaku ke kiri lalu berkata. " Kamu itu, cantik. Cantik banget malah. " Aku berkata sendiri, memainkan bibirku lalu membasahinya. " Tapi, kenapa dia tak menyukaimu? Mereka bilang kalo aku itu jelek. "
Aku menunduk, lalu detik berikutnya ku angkat kepalaku dengan senyuman tipis di bibirku. Aku mulai berbicara.
" Aku lagi suka sama cowok. "
"Suka sama cowok? siapa? " Aku yang di cermin bertanya membuat diriku mengerutkan kening heran, namun aku menjawabnya.
"Dekha! Namanya Dekha! " Aku berseru senang ketika menyebut namanya. Mengingat bagaimana dia menolongku di kantin kemarin oh ralat! Maksud aku, saat pertama kali aku melihatnya ketika aku masih jadi siswi baru di Sekolah, cowok bernama Dekha itu kakak kelasku.
Aku senyum-senyum sendiri, aku yang ada di cermin mengangguk paham seolah mengerti apa yang aku bicarakan.
"Memangnya, apa yang bikin kamu suka sama dia? apa dia tampan? " Aku menggigit bibir bawahku seolah berfikir.
"Hm, Dekha itu baik, dia juga ramah sama semua orang. T-tadi pas di kantin aku gak sengaja nabrak dia, a-aku takut, soalnya minuman yang dia bawa tumpah ngena'in Seragam dia. " Aku mulai curhat. Tidak ada salahnya jika harus membagi cerita pada diri sendiri kan?
Aku yang ada di cermin mulai mendengarkan. " Tapi dugaanku salah, ternyata dia maafin aku terus ngomong kalo jalan hati-hati, aku seneng banget. "
"Seneng ya? Syukur deh. " Aku yang ada di cermin ikut nimbrung. " Setidaknya, ada yang mau ngomong sama kamu meskipun cuma satu orang. "
Merasa tersinggung atas ucapannya, lantas aku mengangkat daguku ke atas dan menatapnya tajam.
"Aku punya banyak temen! kamu jangan sok tahu! " Dia tertawa meremehkan, membuat dadaku kian meradang.
Aku yang ada di cermin tersenyum keji. " Heh? Emangnya siapa yang mau temenan sama cewek kek kamu? kamu itu cuma sampah kan? "
"Aku punya temen! " Aku mencoba membela diri.
"Cuma satu kan? " Aku yang lainnya tersenyum guyon, seolah mentertawakan perkataanku yang menurutnya lucu. " Ya tapi mau gimana lagi, mungkin temen kamu cuma kasihan sama kamu. " Mendengar itu, lantas membuat dadaku kian sesak, aku menanggalkan semua Seragamku hingga meninggalkan diriku yang telanjang, aku menatapnya berang.
"Aku bukan sampah, aku punya banyak teman, bahkan tadi kak Dekha mau ngomong sama aku. " Aku mulai meracau tidak jelas, mengabaikan aku yang lainnya tersenyum keji di balik cermin. " Aku seneng banget, meskipun cuma ngomong selama 1 detik, aku ngerasa itu udah sangat lama. " Tangisku mulai terdengar.
Mengapa?
Mengapa mereka selalu menyakiti dirinya? Mengkhianatinya bahkan meninggalkannya di saat dia merasa terpuruk. Hatiku sakit, sakit karena aku dulu pernah peduli pada mereka yang menyakitiku.
Di saat aku sudah mencapai titik kesadaranku, mereka mulai menjauhiku. Meninggalkanku dengan luka yang amat dalam. Mereka dekat denganku hanya untuk merampas harta yang aku punya.
"Kamu inget gak? gimana mereka nyakitin kamu waktu itu? " Aku menangis sesenggukan, mencoba menutup kedua telingaku ketika suara itu lagi-lagi menyeruak di telingaku. " Kamu di buang, di tinggalkan, di sakiti bahkan di khianati. Apa kamu gak inget itu semua? "
Jelas aku mengingatnya, karena aku tak akan pernah melupakan hal itu.
Bayang-bayang di mana mereka mencaci maki bahkan menyakitiku di depan temanku sendiri, yang aku harap temanku akan membantuku. Nyatanya semua yang aku harapkan tidak sesuai yang aku kira. Dia ikut menyakitiku, menyakiti hati dan juga perasaanku, semua itu aku tidak pernah melupakannya.
"Setelah apa yang mereka perbuat ke kamu, dan sekarang kamu akan buka hati kamu ke cowok itu? ck! ck! Eza-Eza,, Semuanya itu sama! Cowok maupun cewek itu gak ada bedanya, mereka semua pernah nyakitin kamu. "
Kepalaku pening, mataku mulai berembun lagi.
Halusinasi ini selalu mengganguku. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa, selain menangis dan berteriak sekencang mungkin.
"Mereka itu jahat, mereka semua selalu jahatin aku. " Suaraku serak akibat tangisanku yang begitu pecah. Mengabaikan tubuhku yang telanjang kini terduduk lemas di lantai, aku menatap pantulan diriku di kaca yang besar, aku yang lain menyorotku tajam.
"Hm, mereka pernah nyakitin kamu, dan yang nyakitin kamu itu adalah orang jahat. Gak seharusnya kamu diam aja kan? Kamu gak lemah Eza! " Suara itu memekik dan menyakiti gendang telingaku, aku menutup kedua telingaku rapat-rapat. Tangisku pecah di iringi oleh gelak tawa yang ada di dalam cermin.
"Aku selama ini menderita, menderita karena aku punya wajah cantik. " Ku pandangi wajahku yang pucat itu, tersenyum miris. " Memangnya apa yang salah dengan wajahku? Kalo aku cantik kenapa mereka harus nyakitin aku sampe segininya? "
Aku mengusap kasar wajahku, menghela nafas panjang lalu bangkit berdiri. Aku yang ada di cermin tersenyum puas.
"Mereka itu gak ada apa-apanya di bandingin aku, aku punya segalanya. Kejahatan yang mereka buat harus aku balas dengan impas kan? " Aku mengerutkan keningku seolah tengah berfikir. " Kira-kira, apa ya hukuman yang pantas buat mereka? "
Aku tetsenyum tipis dan mengerjapkan mataku beberapa kali, menampilkan wajah polos seraya berkata.
"Coba aja mereka gak macem-macem, terus nyakitin aku, mungkin aku bisa memaafkannya. "
"Hm, tapi mereka udah gak pantes untuk di maafin. Udah cukup kamu di sakitin, dan kamu gak boleh lemah. Mereka itu harus di musnahkan. "
Aku mengangguk mantap. " Iya! Mereka itu memang harus di musnahkan. Manusia jahat memang harus di bunuh! " Aku mendesis dan menutup mulutku, takut jika mamaku mendengar perkataanku." Sstt, pelan-pelan ngomongnya, nanti mama bisa denger. "
" Tapi, aku gak bisa ngelakuin itu. " Ucapku terdengar lirih. Menunduk dalam dan membiarkab rambutku yang tergerai menghalau wajahku yang pucat.
"Hei Eza! Kamu itu bisa! Kamu pasti bisa, kalo kamu diam aja mungkin suatu saat nanti mereka bisa saja nyakitin kamu lebih dari ini. Kamu harus ingat ketika mereka dulu ngehina kamu, kamu gak seharusnya diam aja. "
Ya, aku tidak bisa begini terus.
Aku mengangkat lagi wajahku lalu tersenyum miring, mengambil pisau yang ada di meja rias, aku menyeringai lebar.
"Kali ini, permainan apa yang cocok buat mereka?? "