Namaku Marina Iskania, apa kalian tahu ini adalah nama pemberian mendiang ibuku?Nama ini mengingatkan ibuku dulu yang selalu menuruti semua kemauan kecilku saat aku masih amat dini.
Aku hidup bersama ayahku dan di temani oleh pamanku . Hidup kami serba kekurangan . Akhir - akhir ini ayahku mengalami sakit jantung kronis . Aku tidak memiliki adik karena setelah ibu meninggal ,ayah tidak menikah lagi .
Saat ini ayahku sedang sakit keras , banyak biaya yang aku butuhkan . Pekerjaan ku sebagai pembantu di rumah tetanggaku tentu tidak akan cukup untuk membantu pengobatan ayahku.
Suatu hari , pamanku yang bekerja sebagai tukang bersih - bersih di rotan menawariku pekerjaan disana.
"Gajinya lumayan Rin kalau kamu mencoba nya . Disini biar bibimu yang merawat ayahmu.Ikutlah paman kekota , kebetulan sekarang sedang dibutuhkan tenaga bersih - bersih untuk wanita", jelas paman padaku
Aku yang ragu segera menghampiri ayahku dan meminta ijin darinya
" Ayah mengijinkanmu Nak , jaga dirimu baik - baik", ayahku memberikanku nasehatnya.
"Tentu Ayah, aku akan menjaga diriku dengan baik .Ada paman juga ayah disana .Beliau pasti bisa menjagaku dengan baik ", kataku menenangkan ayahku
Keesokan harinya , aku mempacking baju - baju lusuhku . Aku memasukkannya di dalam tasku yang sudah usang karena sudah lama tak ku gunakan.
Kini tiba saatnya , aku berangkat ke kota seperti ajakan paman padaku .Ini adalah pertama kalinya kali nya aku menginjakkan di ibukota, aku begitu takjub melihatnya .Banyak gedung - gedung besar dan bangunan - bangunan indah menjulang tinggi. Pemandangan di sini tentu sangat berbeda dengan di kampungku.
Sesampainya , paman mengajakku turun dari angkutan yang kami tumpangi . Aku melihat di sana ada kantor polisi .Paman pernah mengatakan kalau beliau bekerja di kantor polisi sebagai tukang bersih - bersih . Mungkin ini kantor polisi yang sering di ceritakan oleh pamanku
" Rina, tadi paman sudah mendaftarkan kamu bekerja di sini . Nanti paman sendirilah yang akan mengajarimu . Istirahatlah, besok kita bangun pagi - pagi ", ucap pamanku setelah kami sampai di mess milik pamanku. Paman memang menyewa mess yang terletak di belakang kantor polisi sehingga jarak antara tempat bekerja dan mess kami lumayan dekat.
Aku merebahkan tubuhku di kasur kecil milik paman , sedangkan pamanku lebih memilih tidur diatas tikar kecil yang dibawa paman tadi dari desa.
Saat pagi mulai menyingsing, paman membangunkanku untuk sholat jamaah denganku dan beliau membuatkan kami sarapan . Setelah sarapan , paman mengajakku berangkat ke kantor polisi untuk bekerja.
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja disini. Aku lihat mereka menyapa paman dengan ramah , mungkin karena paman telah bekerja disini sangat lama bahkan dari ceritanya kalau tidak salah paman bekerja sudah lebih dari tiga puluh tiga tahun.
Setelah mengajariku membuat teh yang enak , paman menyuruhku meletakkan satu persatu teh kepada masing - masing polisi tersebut .Paman mulai mengenalkan diriku kepada mereka satu persatu .
Dulu , dalam pikiranku polisi itu menakutkan. Tapi setelah mengenal mereka satu persatu , mereka ternyata baik dan sopan. Buktinya, mereka sangat menghargai pelayan - pelayan yang ada di sini termasuk aku dan juga pamanku
Setelah bekerja beberapa bulan , aku mulai terbiasa dengan pekerjaanku .Apalagi di kantor polisi ini ada seorang polisi yang masih single dan kabarnya belum punya pacar namanya Radit.
Karena sering bertemu , diam - diam aku mulai menyukai polisi tampan ini. Aku menyebut idolaku ini dengan sebutan Pak Kapten di hatiku .Hari- hariku yang biasanya terasa kosong menjadi berwarna karena pak kapten ini.Aku mulai merasakan getaran - getaran aneh yang belakangan aku tahu ini namanya Cinta.
Aku merasa sedih dan senang karena perasaan ini. Sedih , karena menurutku ini tidak mungkin dan senang karena ini yang pertama untukku.
Tak lama setelah aku mengetahui perasaanku , aku mencoba untuk mendekati pujaan hatiku . Aku menunjukkan simpatiku kepadanya lebih dari pria yang lain . Aku selalu mengajaknya ngobrol meskipun sering dia tidak menanggapiku.
Semua orang yang ada di kantor polisi tahu melalui gelagatku aku memendam rasa pada Pak Kapten.
Suatu hari , saat aku berada di ruangannya, Pak Kapten yang baru datang hendak pergi karena tahu aku ada disana . Mungkin dia juga mengetahui perasaanku . Dan sekarang , mungkin Pak Kapten berusaha menghindar dariku
Aku sangat sedih dengan sikapnya akhir - akhir ini. Dia seperti jijik melihatku . Padahal , aku belum mengatakan apa apa padanya.
Dua bulan setelahnya pun , Pak Kapten semakin menjauh dariku . Dia tidak membiarkan sama sekali diriku berdekatan dengannya. Aku bingung sendiri .
Suatu hari , paman menyuruhku mengantarkan makanan kecil untuk Pak Kapten . Dia memilih minta tolong pamanku karena sekarang dia sedang menjauhiku. Aku sebenarnya ingin menolak permintaan paman karena tahu Pak Kapten yang tak ingin bertemu denganku , namun aku sungkan pada pamanku .
Akhirnya aku memutuskan untuk menerima permintaan pamanku . Kulangkah kan kakiku dengan ragu ke ruangan orang yang selama ini aku rindukan .
Tok ...tok ...tok
" Masuk " , teriaknya dari dalam
Kubuka knop pintu itu perlahan - lahan dan benar saja , saat aku menyerahkan bungkusan makanan kecil yang di pesannya dia marah besar padaku . Dia berteriak dan membuang makanan tadi hingga berceceran di lantai
" Kenapa mesti kamu yang kesini ? Bukankah tadi aku minta pamanmu yang kesini? " , teriaknya padaku
" Dari teman - temanku , aku mendengar kalau kamu cinta sama aku , benarkah itu? Kalau itu benar , segera lupakan aku karena aku hanya akan menikah dengan wanita pilihan ibuku . Ibuku sudah menentukan pilihannya, dan aku minta kamu jangan pernah menemuiku lagi . "
Setelah berkata seperti itu Pak Kapten membanting pintu ruangannya dan meninggalkan diriku yang sudah mematung tak berdaya. Aku menguatkan tubuhku yang lemas , berjalan dari ruangan Pak Kapten dan menemui pamanku . Aku meminta izin pada paman dengan alasan tubuhku yang tidak sehat .
Dengan sisa tenaga yang ku punya, aku berjalan menuju mess dan menangis sepuasnya.
Hari - hari yang kulewati selanjutnya semakin kejam karena setelah tiga hari sejak kejadian itu ,Aku mendengar kabar bahwa Pak Kapten akan menikah dengan putri atasan Pak Kapten.
Suatu hari saat aku berbelanja untuk membeli kebutuhan pokok , aku melihat ada tabrakan disana. Mataku tercengang saat aku melihat tubuh Pak Kapten yang bersimbah darah . Aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit . Selama di rumah sakit selama tiga hari aku merawatnya. Aku juga mendonorkan darahku kepadanya. Meskipun dia membenciku, tapi aku ingin menolong nya dengan tulus . Aku juga merawatnya penuh dengan kasih sayang.
Saat keadaannya mulai membaik , aku meminta dokter dan perawat menjaganya .Aku juga meminta mereka menyembunyikan indentitasku sebagai penolongnya. Bagiku , menolongnya saja sudah menjadi anugerah yang luar biasa untukku.
Setelah beberapa hari ini , akhirnya Pak Kapten masuk seperti biasa. Aku tak berani menyapa atau mendekatinya lagi . Aku lebih sering menghindarinya dari pada membuatnya marah lagi .
Hari ini adalah hari ulang tahun kantor polisi ini .Banyak orang yang datang merayakannya, termasuk disana juga ada Pak Kapten dan calon istrinya serta kedua orang tua Pak Kapten dan calon mertua Pak Kapten . Di tengah - tengah mereka ternyata ada dokter yang dulu merawat Pak Kapten . Lagi - lagi aku di tugaskan untuk melayani keluarga Pak Kapten karena mereka adalah tamu kehormatan disini . Saat aku ke sana , tiba - tiba Meisya, calon istri Pak Kapten menyiram ku dengan segelas air dan berteriak memarahiku
" Dasar pelayan genit , berani sekali kamu menggoda calon suamiku ", teriaknya padaku
" Anda salah nona , saya di suruh kesini untuk melayani keluarga Anda", jawabku memberi penjelasan
Pak Kapten melerai perdebatan kami dengan menenangkan calon istrinya. Saat orang tua Pak Kapten hendak menamparku tiba - tiba pak dokter berteriak
" Tunggu kak ini salah paham kayaknya .Dia adalah wanita baik - baik . Dia yang telah menolong anakmu kemarin . Dia juga yang mendonorkan darah untuk Radit kemarin padahal kakak tahu kan kalau darah Radit sangat langka. Aku melihatnya selama tiga hari tiga malam dia juga yang merawat anakmu .Aku tidak memberi tahu kakak karena aku ingin memastikan ada hubungan apa antara Radit dan gadis ini . Setelah tiga hari dia menitipkan Radit
yang telah membaik padaku dan perawat serta meminta kami menyembunyikan identitasnya "
Saat mendengar itu kedua orang tua Radit tidak jadi menamparku . Mereka terkejut dengan cerita Pak Doker dan benar- benar merasa bersalah.
Pamanku yang baru datang segera menghampiriku dan memelukku dan membawaku pergi dari sana. Saat itu juga paman mengajukan resign untuk kami berdua dan mengajakku pulang saat itu juga .
Pak Kapten dan keluarganya menemui kami di mess. Tapi paman memintaku untuk tidak menemui Pak Kapten . Aku mendengar dari dalam mereka memohon paman memaafkan mereka tapi paman tak bergeming .Saat Pak Kapten setengah memaksa ingin bertemu denganku , Paman menyeretku keluar dan segera memasuki mobil butut yang telah di sewanya. Pak Kapten meneriaki namaku berusaha untuk menemuiku sebentar tapi dengan cepat paman meninggalkan Pak Kapten dan keluarganya disana .
Di perjalanan pulang , kami hanya diam di jalan .Aku tidak berani bertanya apapun pada paman karena sekarang keadaannya sedang tidak baik .
Sesampainya dirumah , aku mulai bekerja di tempatku dulu sebagai buruh cuci dan setrika lagi sementara paman menjadi Satpam di dekat pabrik
Seminggu kemudian aku melihat Pak Kapten sudah menungguku di depan tempat kerjaku .Ku raba - raba tangan dan juga wajah nya .Aku takut ini hanyalah mimpi untukku . Kemudian ku cubit tanganku sendiri .Dan ini adalah nyata . Aku benar - benar tidak bermimpi
Pak Kapten memelukku dengan erat dan kemudian dia bersujud padaku
" Maaf...maaaf...maaf...", ucapnya sambil mengucapkan maaf beberapa kali
" Pak Kapten berdirilah . Aku sudah memaafkanmu . Bahkan tanpa memintapun aku telah memaafkanmu . Berdiri dan pulanglah " , ucapku sambil tersenyum
" Aku ingin berbicara denganmu ", pintanya padaku
Aku pun menyetujuinya dan mengajak nya ke taman desa . Disana ada kursi panjang yang cukup untuk kami berdua
" Silahkan duduk Pak Kapten "
" Pak Kapten ?", tanyanya heran karena dia tidak merasa punya gelar kapten
" Pak Radit maksudku . Maaf pak , saya ingin pulang . Segeralah berbicara , saya tidak ingin di tuduh sebagai perebut calon suami orang"
Pak Kapten masih diam tak bergeming
Karena melihatnya hanya diam dan menatapku , aku merasa bingung
" Pak Kapten eh Pak Radit maksudku aku sudah memaafkan Anda. Sekarang pulanglah karena hari akan semakin malam.", ucapku sopan padanya
Tapi tanpa sepengetahuanku di belakangku sudah ada paman , bibi,ayah dan juga kedua orang tua Pak Kapten .
" Rina anak tante sangat mencintaimu . Bahkan sebelum kamu mencintainya, dia sudah memiliki rasa itu padamu .Lihatlah ini ( mamanya Pak Kapten memberikan aku foto - fotoku dari dalam tasnya yang diambilnya secara diam-diam) .Foto ini ia ambil saat awal - awal kalian bertemu lihatlah di belakang foto itu ada tanggalnya. Tante memang telah egois karena telah memaksanya menikah dengan orang yang tidak di cintainya",jelas mamanya Pak Kapten
Aku pun segera berlari ke arah Pak Kapten . Seketika kami berpelukan dan aku berani mengatakan ," Pak Kapten , I love you so much...."
Pak Kapten pun membalasnya dengan menyibakkan rambutku dengan lembut .
" Aku sangat mencintaimu Sayang ...Menikahlah denganku ! " , ucapnya penuh harap yang aku angguki dengan cepat . Sujud syukur aku panjatkan pada Tuhan karena cinta yang terbalas ini .