Meski badanku babak belur, aku tidak akan menyerah! Karena aku memiliki sesuatu untuk dilindungi —Leyna
🌸🌸🌸
Kedua orang tua Leyna tengah sibuk memasak makanan bersama, di dapur. Tiba-tiba, terdengar suara jeritan dan teriakan warga dari luar. Karena penasaran, kedua orang tua Leyna memutuskan untuk melihat, apa yang sebenarnya terjadi.
Dari kejauhan, terlihat ada sekumpulan orang berjubah hitam sedang mengobrak-abrik rumah para warga.
“Di mana mereka?!" tanya salah satu dari orang berjubah hitam itu, dengan nada marah.
Deg!
Kedua orang tua Leyna terkejut saat melihat sekelompok orang itu.
'Kenapa Kelompok Naga Hitam bisa tah kalau aku ada di sini?' gumam Chrish, ayah Leyna.
“Bukankah, itu mereka?!" Anggota kelompok yang lainnya, mengacungkan jari telunjuknya ke arah orang tua Leyna.
Seluruh kelompok Naga Hitam itu, langsung menatap kedua orang tua Leyna dengan tatapan sinis. Rasa panik mulai muncul di hati orang tua Leyna.
“Benar, mereka adalah orang yang kita cari. Semuanya, tangkap mereka!" perintah sang ketua kelompok.
Kedua orang tua Leyna pun, bergegas untuk berlari. Kini, Leyna tengah digendong oleh ibunya. Karena masih bayi, Leyna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah cukup lama berlari, kedua orang tua Leyna berhasil memperpanjang jarak. Ibu Leyna tampak sangat kelelahan, begitu juga dengan Ayah Leyna.
Mereka mencari cara agar bisa terhindar dari kejaran kelompok tadi, tanpa harus berlarian. Ayah dan Ibu Leyna memandangi lingkungan sekitar. Sekarang mereka sedang berada di hutan.
“Suamiku, kita harus kemana? Aku lelah berlarian!" keluh Alice, ibu Leyna.
Crish yang adalah ayah Leyna, sedang menengok ke segala arah. Dia ingin mencari tempat persembunyian. Atensi Crish berhenti kepada sebuah gubuk tua.
“Nah. Istriku, kita bisa bersembunyi di sana! Ayo!" ajak Crish seraya menarik tangan Alice.
Tepat saat mereka masuk ke dalam gubuk, orang-orang berjubah hitam tadi tiba.
“Haahh... Sialan, kita kehilangan jejak mereka!" Sang ketua geram karena tidak tahu, kemana arah perginya keluarga Leyna.
Sementara itu, di dalam gubuk.
“Kita tidak bisa terus bersembunyi. Cepat atau lambat, kita pasti akan ketahuan," bisik Chrish.
“Lalu, kita harus bagaimana, suamiku?" tanya Alice lirih.
Chrish berpikir sambil melihat sebuah kalung berwarna merah cerah, yang sedari tadi dipegang olehnya.
“Tidak ada pilihan lain. Kita harus meninggalkan kalung ini bersama Leyna di sini. Kemudian, kita akan berlari untuk menjauhkan kelompok berjubah hitam itu dari tempat ini."
Alice menatap Leyna yang masih digendongnya. Kemudian, Alice menatap wajah Chrish.
“Baiklah." Alice menganggukkan kepala, menyetujui rencana Chrish.
Namun, sebelum pergi, Alice menulis sesuatu di secarik kertas. Alice menaruh surat, Leyna, dan kalung merah itu di sebuah keranjang.
“Tumbuhlah menjadi gadis yang cantik dan kuat. Kami percaya padamu!" ucap Alice. Lalu, Chrish dan Alice berlari keluar dari gubuk.
Salah satu anggota kelompok berjubah hitam, melihat mereka.
“Itu mereka!" seru anggota kelompok yang tadi melihatnya.
Semua menoleh ke arah Chrish dan Alice.
“Kejar mereka!" titah ketua kelompok.
Akhirnya, terjadi aksi kejar-kejaran antara kedua orang tua Leyna dan kelompok orang berjubah hitam.
“Berhenti!" teriak salah satu orang berjubah hitam, memerintahkan Chrish dan Alice untuk berhenti berlari.
“Ayo cepat!" Chrish menyuruh Alice untuk berlari lebih cepat.
Namun tiba-tiba, Alice tersandung batu dan akhirnya jatuh tersungkur.
Braakkk!!
“Awwh... Sakit!" Alice merintih kesakitan seraya memegang pergelangan kakinya. Tampaknya kaki Alice terkilir.
“Istriku!" Chrish berhenti berlari dan menghampiri Alice.
Kelompok orang berjubah hitam, telah tiba. Chrish dan Alice tidak bisa menghindar lagi.
“Hahaha kalian tak akan bisa lari lagi!" ujar ketua kelompok seraya tertawa khas penjahat.
“Apa yang kau mau dari kami, Kale?!" tanya Chrish geram.
“Oh tidak banyak. Kami hanya menginginkan kalung merahmu itu. Maka dari itu, serahkan sekarang juga atau kau akan merasakan akibatnya!" ancam Kale, sang ketua kelompok Naga Hitam.
Chrish menunduk seraya tersenyum tipis.
“Jangan Mimpi, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menyerahkan kalung itu!" ujar Chrish.
“Hmm baiklah kalau begitu. Semuanya, serang dia!" Perintah Kale seraya menunjuk ke arah Chrish.
Semua anggota kelompok Naga Hitam, bersiap dengan pedangnya. Kemudian, mereka maju dan menyerang Chrish.
Namun bukannya takut, Chrish malah berdiri dan mengeluarkan katananya. Chrish melesat maju dan menghabisi puluhan anggota Kelompok Naga Hitam.
Warna merah darah para anggota Kelompok Naga Hitam, mewarnai ujung katana Chrish.
“Cih, para anggota Kelompok Naga Hitam memang lemah. Terpaksa, aku harus turun tangan dalam masalah ini," ucap Kale sambil mengeluarkan semacam aura hitam dari tangan kanannya.
“Kau pikir aku akan takut dengan aura hitam bodohmu itu? Rasakan ini!" Chrish berlari ke arah Kale.
“Pukulan Harimau Api!" Chrish melepaskan sebuah pukulan ke arah Kale, sehingga membuat Kale terdorong ke belakang.
“Boleh juga. Tapi, apakah hanya segini kemampuan pukulan harimau apimu? Dasar lemah!" Kale mengejek kemampuan pukulan harimau Chrish yang tidak berhasil menumbangkan dirinya.
“Tidak mungkin! Bagaimana bisa dia menahan pukulan harimau apiku?!" ucap Chrish dalam batin.
“Sekarang giliranku!" kata Kale.
“Rasakan ini, Jurus Naga Hitam!" imbuh Kale sambil melakukan beberapa gerakan di udara.
Kemudian, muncul seekor naga berwarna hitam dan bermata merah dari belakang Kale. Naga Hitam itu lalu meluncur ke arah Chrish.
Alhasil, sang Naga Hitam menembus tubuh Chrish. Pandangan Chrish mulai kabur, darah mengalir deras layaknya sungai. Chrish tergeletak dan tewas seketika.
“Suamiku!" teriak Alice.
“Haahhh Kale, kau akan mendapatkan balasannya. Putriku pasti akan menghabisimu suatu saat nanti!" ancam Alice.
“Cih, jangan banyak omong. Rasakan ini!" Kale kembali mengarahkan naga hitamnya ke arah Alice.
Akhirnya, Alice bernasib sama dengan sang suami. Alice harus meregang nyawa.
“Huh, orang-orang lemah ini ternyata memiliki tekad yang kuat. Lalu, dimana aku harus mencari kalung itu? Tunggu dulu. Tadi dia bilang kalau putrinya akan membalasku, itu artinya kalung itu pasti ada di bayinya tadi. Aku harus segera menemukan dan membunuhnya!" ucap Kale dalam hati.
Kale lalu menghilang begitu saja. Sementara itu di gubuk tadi. Seorang nenek tua sedang berjalan tertatih-tatih sambil memegang tongkat kayu.
Kemudian, sang nenek duduk sejenak untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba dia mendengar suara rengekan bayi. Nenek yang kira-kira berusia 50 tahun itu pun, mencari-cari sumber suara rengekan bayi ini.
“Astaga, bayi siapa ini?!" Nenek tua tersebut terkejut saat melihat Leyna kecil sedang menangis.
Nenek tua itu menggendong Leyna, berusaha untuk menenangkan.
“Tenanglah anak cantik. Jangan menangis!" Nenek tua itu menenangkan Leyna.
Entah ada kekuatan magis atau tidak, Leyna mendadak berhenti menangis. Saat hendak menidurkan Leyna, atensi sang nenek tertarik kepada sebuah kalung berwarna merah cerah dan secarik kertas. Sang nenek melihat kalung merah itu dengan serius.
Setelah itu, sang nenek membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
“Tolong jaga Leyna, putri kami. Tolong rawat dia sepenuh hati," bunyi surat yang ditulis oleh Alice tadi.
“Leyna? Jadi namanya adalah Leyna?" tanya sang nenek tua sambil menatap Leyna.
Sang nenek memutuskan untuk menyimpan kalung merah itu dan merawat Leyna.