"Silvi nanti ke kost-an aku ya pulang sekolah?!" Kak Tia tiba-tiba mencegat langkahku ketika aku menuju kantin.
"Ada sesuatu yang akan kuberikan sama kamu", katanya sambil tersenyum.
Kak Tia adalah kakak kelasku. Dia satu tingkat diatasku.
"Apa itu Kak?" tanyaku penasaran.
"Ada deh... nanti datang aja ya?!" Kak Tia mengedipkan matanya.
Aish, ... bikin penasaran aja.
***
Sepulang sekolah aku mampir dulu di jongko baksonya Mang Rambo. Aku nggak tahu kenapa ia terkenal dengan nama Mang Rambo, soalnya menurutku dia nggak ada mirip-miripnya dengan Rambo yang aku tonton di TV.
Di jongko Mang Rambo, aku membungkus dua porsi bakso dan dua botol minuman dingin.
Kemudian aku melangkahkan kakiku menuju kost-an Kak Tia. Kost-an nya dekat dengan sekolah. Katanya, Kak Tia itu berasal dari Pangalengan. Sedang sekolah kami berada di daerah Cimahi. Jarak Cimahi - Pangalengan itu lebih dari 50 km. Makanya dia memutuskan untuk kost saja, karena jarak rumahnya yang jauh dari sekolah.
"Assalamualaikum", sepi ... nggak ada jawaban.
"Assalamualaikum", aku mengucap salam sekali lagi. Tetap tak ada jawaban, mungkin dia belum pulang. Kemudian aku memutuskan untuk duduk saja didepan kost-annya.
"Hai... Silvi ... kamu sudah lama menunggu?" Kak Tia datang, ia tersenyum padaku.
"Nggak Kak, baru saja aku tiba".
Kak Tia membuka kunci pintu kost-annya, "Ayo masuk Sil".
"Assalamualaikum", kataku sambil melangkah masuk.
"Wa'alaikumsalaam", jawab Kak Tia, ia meletakkan tasnya di atas meja belajarnya.
"Mau minum Silvi?"
"Oh, Kak aku bawa bakso nih... kita makan bareng ya", aku mengeluarkan bungkusan bakso dan botol minumannya.
"Kamu kok repot-repot bawain makanan!"
"Nggak... nggak repot kok... Kak aku pinjam mangkok ya?!"
"Tuh ada disitu Sil", Kak Tia menunjuk ke sudut kamarnya. Aku mengambil dua mangkok dan dua sendok, lalu membuka bungkusan bakso dan menuangkannya kedalam mangkok.
"Ayo Kak kita makan dulu sebelum dingin".
"Silvi harusnya juga aku yang nyuguhin kamu, kan kamu itu tamunya aku", Kak Tia tertawa.
"Kan itu kalau tinggal di rumah sendiri, Kak Tia kan anak kost... "
"Kak... tadi katanya ada yang mau diberikan padaku... apa maksudnya Kak?", aku bertanya sambil menyantap bakso.
"Itu ada yang nitip kado buatmu plus titip salam", Kak Tia mengambil sesuatu berbentuk kotak yang dibungkus kertas kado.
"Apa ini Kak?"
"Katanya hadiah ulang tahun untuk kamu.. kemarin kan ulang tahun kamu ya?"
"Siapa dia Kak?... Kok dia tahu kalau kemarin ulang tahunku?"
"Danang... aku tidak tahu dari mana dia tahu ulang tahun kamu, aku saja tidak tahu ulang tahun kamu".
"Kenapa nggak dia sendiri aja yang ngasih kado itu padaku secara langsung?" aku merasa heran.
"Malu katanya".
Aku menghabiskan baksoku sekarang sedang menikmati minuman dinginku.
"Kak Tia, aku tinggal dulu disini sebentar ya? aku kekenyangan nih..", kataku sambil tertawa.
"Iya boleh dong... udah sholat belum?"
"Udah Kak, tadi di musholla sekolah".
"Kak Tia, Kak Danang itu yang mana ya?"
"Itu lho yang suka bareng aja sama Jaji".
Kalau Kak Jaji aku tahu, soalnya dia itu ketua OSIS.
"Oh... orangnya yang putih... yang rambutnya diponi kayak aktor Korea?"
"Nah... bener yang itu... cakep kan?"
"Iya cakep Kak... tapi sayang ... ngasihin kado sendiri aja dia nggak berani", aku tersenyum lebar.
"Kak Tia aku pamit dulu ya... maaf mangkoknya nggak aku cuciin... hehehe",
"Eh... itu kadonya bawa dong".
"Kalau orangnya yang ngasih secara langsung kepadaku... nanti aku terima", kataku sambil tersenyum.
"Aku menggendong ranselku... Yuk Kak Tia... aku pulang ya... Assalamualaikum".
"Wa'alaikumsalaam", Kak Tia menjawab salamku
***
Hari selanjutnya, aku jadi sering memperhatikan Kak Danang. Kadang kami berpapasan saat sedang ganti kelas. Kadang kami berpapasan saat jam istirahat. Ia tidak pernah menyapaku, hanya tersenyum saja.
Menurutku ... Kak Danang itu cukup tampan, berperawakan sedang, dia hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan denganku, pakaiannya selalu rapi, tipe anak baik.
Tapi sayang ... Kak Danang terlalu pemalu, menurutku ia tidak bersikap jantan... masa ngasih kado aja sampai dititip-titipin segala...
Kalau saja... Kak Danang memberikan kado itu secara langsung kepadaku, tentu saja aku dengan senang hati akan menerimanya.
***
Aku sedang menikmati jus jambu kesukaanku di bangku kantin, tiba-tiba Kak Tia datang dan duduk disampingku.
"Silvi kata si Danang, kenapa kadonya belum diambil-ambil?" setengah berbisik di telingaku.
"Kak Tia, aku mau menerima kado itu, kalau Kak Danang sendiri yang memberikannya padaku", kataku sambil tersenyum pada Kak Tia.
"Lagian... kenapa Kak Danang kok nyuruh-nyuruh Kak Tia terus, aku kan jadi nggak enak sama Kak Tia... maaf ya Kak", kataku sambil memeluk bahu Kak Tia.
"Ya udah ... nanti aku sampaikan apa yang kamu mau sama Danang".
***
Sudah seminggu berlalu sejak obrolan terakhirku dengan Kak Tia, namun Danang belum juga menemuiku secara langsung.
"Silvi... kadonya diambil lagi sama si Danang", Kak Tia berbisik di telingaku ketika tak sengaja berpapasan di kantin sekolah.
Ada rasa kecewa dihatiku, tapi mulutku berkata lain, "Ya nggak apa-apa Kak... kan itu barang masih punyanya dia". Aku tersenyum pada Kak Tia.
"Memang kamu nggak penasaran sama isi kadonya?"
"Penasaran sih... hehehe... tapi... dari awal aku bilang aku ingin Kak Danang sendiri yang memberikan kado itu padaku. Aku ingin Kak Danang bersikap jantan, jangan jadi pengecut".
**************************************************
terima kasih sudah membaca cerpen ini, mohon beri dukungan author dengan hati, comment n like ya 😘😘😘
**************************************************