"Seaaannn ... Seaaaaannn!" Seorang gadis berteriak dari kejauhan memanggil nama seseorang kala itu.
Sean yang mendengar namanya dipanggil, seketika membalikkan badan kebelakang dan mendapati Yoona melambaikan kedua tangannya sambil melompat-lompat. Gadis berambut panjang itu terlihat kegirangan, saat pandangan Sean berhasil menemukan dirinya yang berada di tengah kerumunan siswa yang akan meninggalkan sekolah. Dia segera berlari menghampiri Sean yang sedang berdiri menunggu diluar gerbang.
"Se-an ... hosh ... hosh ... hosh." Yoona membungkukkan badannya yang kelelahan.
"Ck! Kamu gak capek setiap hari ngikutin aku?" Sean berdecak melihat tingkah Yoona yang selalu mengikutinya setiap hari.
"Aku gak akan berhenti mengejar, sampai kamu mau mengajariku matematika." Yoona memasang wajah imutnya dan bertingkah manja layaknya anak kecil.
Sean hanya melirik gadis itu, dan tak memberikan jawaban apapun. Sama seperti sebelumnya. Melihat penolakan tak langsung yang sering dilakukan Sean, Yoona cukup hafal dan langsung melancarkan aksi yang sudah dipikirkannya sejak kemarin.
"Sean! Mentang-mentang kamu siswa jenius di sekolah, kamu gak mau membantu teman kamu sendiri. Kamu takut posisimu sebagai siswa jenius direbut olehku? Dasar kamu pel...." Sifat jail Yoona mendadak muncul. Dia mengatakannya pada Sean sambil berteriak sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian oleh siswa lain. Dan ucapannya terhenti ketika Sean menyela kata-kataya.
"Oke! aku mau," jawab Sean dengan wajah datarnya.
"Oooowww, Sean. hahaha.... Yes, berhasil." Yoona kegirangan mendengar Sean bersedia mengajarinya. Kedua tangannya secara refleks ingin memeluk Sean, namun laki-laki itu berhasil menghindar.
"Berisik!" umpat Sean.
"Oops, maaf." Yoona tertawa kecil, dan menyembunyikan rasa malunya.
Melihat tingkah Yoona, Sean tak menggubris. Pemuda itu langsung berjalan dan seketika Yoona pun ikut membuntutinya. Mereka berdua menuju Reading Room Cafe yang terletak di dekat lokasi sekolah. Keduanya pun memulai belajar bersama untuk pertama kalinya disana.
Tuk ... tuk ...
Suara pensil Sean berkali-kali terdengar mengetuk kepala Yoona yang tak kunjung paham akan penjelasannya.
"Aw, Seeeee-aaannnn ...." Yoona berkata dengan nada kesal, lalu menarik nafas dalam-dalam, namun tetap dalam mode menahan kesabarannya.
"Perhatikan soal baik baik, Diketahui nilai x lebih besar sama dengan - 4 dan lebih kecil sama dengan 4, dan y sama dengan nilai mutlak dari 3x dikurangi 6. Jadi nilai x yang dimaksud adalah -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4. Kemudian masukkan nilai x pada rumus nilai y yaitu nilai mutlak dari 3x dukurangi 6. kita hitung berurut mulai dari nilai x yang pertama yaitu -4. nilai mutlak dari 3 dikali -4 dikurangi 6. hasinya adalah nilai mutlak -18. yang harus kamu ingat berdasarkan definisi, nilai mutlak akan menjadi negatif jika angkanya nya lebih kecil dari pada nol. Karena hasil nilai mutlak -18, artinya dia lebih kecil dari 0, maka hasilnya adalah negatif dari -18 yaitu 18. jadi titik koordinat pertama adalah -4 dan 18. Setelah itu kerjakan mencari nilai y dengan menggunakan nilai x lainnya yang sudah ditentukan tadi. Setelah semua titik koordinatnya ditemukan, barulah kamu bisa menggambar grafiknya. Kamu paham Yoona?" Ia melirik tajam ke arah gadis itu yang tampak sangat memperhatikan gerakan tangan Sean pada bukunya.
"Eh, hehehe" Yoona menggeleng cengengesan.
Tuk ...
Sebuah ketukan pensil kembali mendarat di kepala Yoona. "Otak Batu," cetus Sean.
"Aw... Seaaaannnnn!" Yoona geram dan menjerit pelan.
Melihat ekspresi Yoona yang kesal, Sean berusaha menahan senyum yang sangat jelas di wajahnya. Tak terima dirinya menjadi lelucon, Yoona menggelitiki Sean dan Sean membalas perbuatan Yoona. Mereka berdua tertawa lepas, dan menjadi sangat akrab sejak saat itu.
Hari-hari indah sebagai remaja mereka lewati dengan penuh keceriaan. Yoona selalu menempel pada Sean bak benalu menempel pada inangnya. Kemanapun Sean pergi Yoona selalu ada di samping pemuda itu. Mereka tak melewatkan waktu belajar bersama. Lebih tepatnya Sean yang mengajari Yoona, si Otak Batu.
~~
Ujian akhir semester satu, tersisa beberapa hari saja. Semua siswa tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari-hari yang akan sangat melelahkan bagi otak mereka. Begitupun dengan Sean dan Yoona, setiap hari sejak 4 bulan lalu saat Sean mengiyakan permintaannya, mereka selalu belajar bersama sepulang sekolah. Tak ada hari bagi keduanya untuk libur belajar, sama seperti yang mereka lakukan di taman saat ini.
"Sean, kamu jangan menyesal karna sudah mengajariku matematika. Kamu tau kan nilai matematikaku semakin baik. Bahkan ulangan terakhir aku hampir mengalahkanmu. Haha," ucap Yoona dengan nada angkuh yang dibuat-buat.
"Jika kau sudah menguasai pelajaran yang menurutmu menyebalkan itu, apa kau juga akan berhenti menempeliku?0" Sean bertanya namun tetap fokus pada buku bacaannya.
"Tidak! karna sampai lulus nanti, aku akan tetap menempelimu." Yoona terkekeh seraya mencubit kedua belah pipi Sean.
Melihat tingkahnya yang selalu kekanakan, Sean hanya bisa ikut tersenyum tipis, dan menatap Yoona dengan tatapan yang seakan menerawang jauh kedalam sana.
"Apa sekarang kau masih membenci pelajaran itu?" tanya Sean sembari terus memandangi Yoona yang juga memandangnya.
"Tidak, justru sekarang aku sangat-sangat menyukai pelajaran mematikan. Hihihi" Yoona tertawa kecil mendengar kata-katanya sendiri.
"Apa kau hanya suka pada pelajarannya saja?" kali ini tatapan Sean melemahkan pandangan Yoona.
"A-apa maksudmu Sean? karna aku sekarang menyukai matematika, apa aku juga harus menyukai Pak Andre karna dia mengajar matematika. Ha ... ha ... haha." Yoona tak ingin terlalu cepat menyimpulkan kata-kata yang diucapkan Sean. Walau sebenarnya ia juga sangat berharap.
"Bukan Pak Guru Andre, tapi aku." Sean tak memalingkan pandangannya dari gadis itu sedikitpun. "Apa kau tidak menyukaiku Yoona?" ucap Sean memperjelas maksudnya.
"Sean," Yoona terkejut dan matanya membulat seketika.
Melihat ekspresi Yoona yang terkejut dan tak memberikan respon, Sean langsung memalingkan wajahnya dan berkata "Maaf,"
"Apa begitu cara seorang laki-laki menyatakan cintanya? Sangat tak meyakinkan. Huuh." Seketika Yoona membalikkan badan dan membelakangi Sean. Ia sengaja memancing respon pemuda itu.
Sean memetik setangkai bunga yang ada di taman tempat mereka berada sekarang dan memberanikan diri untuk menyatakan perasaanya pada Yoona.
"Yoona, Setelah aku mengenalmu, aku rasa aku telah menyukaimu. Kau memang sangat manja, berisik dan sperti anak kecil. Tapi sifatmu yang seperti ini yang menurutku unik. Dan jika ada dirimu suasana akan menjadi lebih hidup. Bagaimana aku tidak luluh, kau selalu saja tersenyum manis dihadapanku. Jika kau menerimaku untuk menjadi kekasihmu, ambil bunga ini. Jika tidak, kau boleh membuangnya," ucap Sean sambil menyerahkan setangkai bunga pada Yoona.
"Maaf Sean, aku tidak bisa menerima bunga itu," Yoona mengatakannya dengan wajah tertunduk. "Kecuali jika kau memasangkan bunganya di telingaku." Yoona kemudian tersenyum sambil menatap Sean yang tadinya terlihat kecewa.
Kini kekecewaannya berubah menjadi senyum bahagia. Sean mencubit pipi Yoona dengan lembut. Dia merasa dunianya kini lebih berwarna dengan kehadiran seorang gadis manis yang sangat ceria seperti Yoona. Dan mulai saat ini, mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
~~
Hampir 3 tahun mereka menjalin hubungan, semuanya berjalan baik-baik saja. Tak ada pertengkaran hebat yang dapat memancing keduanya untuk mengucap kata putus. Bahkan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih benar-benar merupakan hubungan cinta antara remaja yang terjalin begitu tulus tanpa menuntut apapun.
Tidak ada ciuman atau pelukan hangat, mereka melewatinya dengan kebersamaan, mendukung satu sama lain, dan saling percaya. Sungguh hubungan yang sangat polos. Bahkan semakin hari perasaan keduanya semakin tulus satu sama lain.
"Sean, mampir kerumahku dulu yuk. Nanti aku kenalin sama orangtuaku," ucap Yoona seraya menarik tangan Sean memasuki rumah mewahnya.
"Yoona, tunggu aku sukses baru kau bisa mengenalkanku pada orang tuamu." Seperti biasa, Sean menolaknya dengan jawaban yang sama.
"Okelah, Sean aku akan tetap berdiri di sini, menunggumu datang untuk melamarku suatu hari nanti." Yoona berjalan kedalam rumahnya, melambaikan tangan kearah Sean yang sedang tersenyum di luar pagar.
Sean melangkah meninggalkan kediaman Yoona. Dalam hatinya dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa wanita yang akan selalu dicintainya hanyalah kekasihnya, Yoona.
Saat Sean hampir tiba di sekitar tempat tinggalnya, langkahnya terhenti ketika ia menyaksikan dari jauh, ada seorang wanita dan dua pria berbadan besar keluar dari dalam rumahnya. Dia berusaha mengejar namun mobil itu sudah melaju kencang. Perasaan khawatir Sean akan keadaan Ibunya membuatnya segera memasuki rumah dengan langkah cepat.
Sean mendapati sang ibu menangis dengan kondisi barang rumah yang berantakan. Dengan cepat sang ibu meraih dan memeluk erat tubuh putra tunggalnya, yang mematung melihat kekacauan tersebut. Sean mendekapkan tangannya, memeluk tubuh ibunya yang bergetar.
#keesokan harinya
"Sean nanti kita belajar dimana?" tanya Yonna sambil menggandeng tangan Sean.
"Hari ini aku ada urusan Yoona, maaf." Sean pergi begitu saja meninggalkan Yoona.
#5hari berikutnya
"Sean, ke kantin yuk," ajak Yoona.
"Aku udah makan," Sean menjawabnya singkat dan tak berkata apapun lagi.
#1 bulan kemudian
"Sean, kamu mau daftar di Universitas mana?" Tanya Yoona sembari memberikan beberapa lembar brosur pada Sean.
"Belum kepikiran." Sean menjawab dengan ketus.
"Ooh." Yoona berkata dengan lemah. Hatinya sakit karna terus-menerus diabaikan. Bahkan batinnya pun lelah. Tapi dia tak ingin melepaskan Sean dari genggamannya. Karna dia sangat mencintai pemuda itu.
Hari-hari Yoona kini dipenuhi tanda tanya besar akan perubahan sikap Sean pada dirinya. Laki-laki itu menjadi sangat dingin dan tertutup. Wajah tampannya tampak selalu murung, bahkan terlihat menakutkan.
Terlebih saat mereka mulai berada di Universitas yang berbeda, Yoona juga mulai merasakan sikap kekasihnya yang semakin hari semakin menjauh. Hal itu membuat Yoona tak se-ceria dulu. Bahkan ia berubah menjadi sosok yang lebih pendiam.
Tapi dia tak begitu saja mengambil kesimpulan atas sikap Sean. Yoona berusaha mendapatkan penjelasan dari sang kekasih, namun pemuda itu selalu menghindar. Bahkan Sean tak segan untuk meminta Yoona menjauh darinya, namun gadis itu tetap tak menghiraukan. Yoona bertekat menemui Sean di Kampusnya untuk meminta kejelasan.
Yoona turun dari taksi dan mencari Sean. Baru beberapa langkah memasuki kampus tempat Sean berada, Yoona mendapati sebuah adegan romantis yang seharusnya hanya akan menjadi miliknya. Bahkan sampai 3 tahun menjalin kasih, Sean tak pernah mencium atau bahkan memberinya pelukan hangat. Sekarang Yoona menyaksikan sendiri di depan matanya, Sean memberikan kecupan mesra pada seorang gadis yang tengah memeluk tubuhnya saat ini.
Mereka terlihat sangat bahagia dan mesra. Kecupan pertama yang seharusnya diberikan pada Yoona, kini Sean malah menghadiahinya untuk gadis lain.
Yona merasa seakan ada ribuan belati yang sedang menusuk hatinya kala itu. Tubuhnya oleng, kedua lututnya terasa begitu lemah. Ia tak dapat lagi membendung air matanya. Perlahan Yoona mendekati Sean yang sedang berpisah dengan gadis yang baru saja diciumnya.
Plakk ...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sean. Yoona seketika berlari keluar kampus, ia mengerahkan semua energi yang tersisa untuk bisa menjauh dari hadapan Sean kala itu.
Sean khawatir, dan mengejar Yoona yang sudah berlari menjauh dari hadapannya. Ia berhasil merain tangan Yoona dan segera memeluknya dari belakang. Gadis malang itu meronta dan berusaha melepaskan pelukan Sean yang begitu erat.
"Sean jahat! Jahat! kamu kejam Sean, kamu kejam!" Yoona menangis dan terus memukul dada Sean. Namun Sean tak berusaha menepisnya, raut wajahnya menampakkan penyesalan yang sangat mendalam.
"Aku Cinta sama kamu, aku tulus, tapi kamu? Apa kamu ragu Sean? Apa aku yang terlalu bodoh karna selama ini sudah menganggapmu sebagai laki-laki yang baik, yang tulus, yang setia, hah? Jawab Sean, jawab!" Yoona menggoncang-goncangkan tubuh Sean yang tetap diam seribu bahasa.
"Ooh, Oke. Sepertinya kamu tak ingin memberi penjelasan apapun. Sepertinya kamu memang benar-benar sadar akan tindakannmu selama in!" Yoona menghapus air matanya yang terus mengucur deras, "Sean, mulai hari ini aku menyerah, dan tak ingin bertemu denganmu lagi!" Yoona membalikkan badan dan berlari sampai sejauh mungkin dari hadapan Sean. Ia tak bisa menahan air matanya, hatinya terlampau sakit, bahkan ia tersakiti oleh ucapannya sendiri bahwa ia tidak ingin bertemu dengan Sean lagi.
~~
4 tahun berlalu, Yoona masih merasakan sakit saat mengingat kejadian pada hari itu. Perasaan yang semula indah kini menjadi racun dalam hidupannya. Tak terasa bulir-bulir air mata mengalir begitu saja di pipi Yoona.
Ia menatap pantulan dirinya didepan sebuah cermin besar. Begitu cantik dan mempesona. Hampir tak ada kekurangan apapun dalam fisiknya. Ia duduk di atas kasur bertabur ribuan serpihan kelopak mawar merah. Setiap sudut ruang dipenuhi dengan rangkaian bunga dan beberapa lilin yang menyala di meja kecil.
Ia terkejut dan lamunannya seketika buyar ketika pintu kamarnya terbuka. Dari balik pintu, muncul seorang lelaki tampan dengan setelan jas putih, menghampiri sang mempelai yang tengah menunggunya. Lelaki itu mendekati Yoona dan mengecup keningnya dengan sangat lama.
Yoona memejamkan kedua matanya. Untuk sesaat ia ingin membayangkan bahwa yang ada di hadapannya sekarang adalah Sean.
~~
7 tahun kemudian.
"Momy ... lihat! Anak perempuan itu menangis," ucap bocah laki-laki imut itu sembari menunjuk seorang anak perempuan, yang berdiri seorang diri dan sedang menangis di taman bermain.
"Mana, Sayang?" Yoona bertanya pada buah hatinya.
"Disana, Mom!" anak laki-laki itu kembali menunjuk bocah perempuan yang dilihatnya.
Karena tak sabar, putra Yoona melepaskan genggaman tangannya dan berlari kencang.
"Leon ...." Yoona mengejar putranya yang tiba-tiba berlari menghampiri gadis kecil yang sedang menangis tadi. "Jangan lari seperti itu sayang, bahaya," ucap Yoona lalu berjongkok memeluk putranya dan menenangkan anak perempuan itu.
"Yoona sayang ... huhhhh. Akhirnya papa nemuin kamu, jangan lari sendirian lagi ya," ucap pria itu seraya memeluk tubuh anak perempuan yang menangis tadi, yang tak lain adalah putrinya.
Yoona seketika bangkit dari posisinya, ia terkejut melihat laki-laki ber-jas hitam yang ada di hadapannya sekarang. Dialah Sean, orang tua dari gadis kecil itu.
Penampilan Sean terlihat berbeda dari yang dia kenal. Kini Sean sudah menjadi pengusaha sukses. Melihat laki-laki yang pernah bahkan masih dicintainya berada di hadapannya sekarang, jantung Yoona berdegup dengan sangat kencang saat mendengar namanya disebut, walau itu bukan ditujukan untuknya.
Yoona tak habis pikir Sean menggunakan namanya untuk menamai putrinya. Untuk sesaat ia tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah pria yang selalu dirindukan itu. Yoona merasakan sakit hanya dengan mendengar suara Sean. Dia merasa luka lama yang tak kunjung sembuh kini kembali terbuka dan berdarah.
"Nona terima kasih." Sean beranjak dari posisinya yang sedang memeluk putrinya saat itu. Ia belum mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya sekarang adalah sang mantan kekasih.
Ucapannya tiba-tiba terputus kala melihat Yoona yang terpaku dengan tatapan benci namun sendu. Keduanya saling menatap dan tak bisa berkata apa-apa.
"Sayang, ayo kita pergi sekarang. Ucapkan selamat tinggal pada teman yang baru kau temui," ucap Yoona lembut pada buah hatinya, ia seakan mengabaikan Sean.
"Selamat tinggal gadis kecil. Paman jangan tinggalkan dia lagi," ucap bocah laki-laki itu sambil melambaikan tangan ke arah Sean dan putrinya.
Yoona berbalik dan melangkah dengan cepat, ia menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir dari pelupuk matanya. Jujur ia tak sanggup untuk berjumpa lagi dengan Sean.
Sementara itu Air mata Sean juga mengalir begitu saja. Ia hanya bisa terdiam dan menatap Yoona melangkah dengan cepat, meninggalkannya setelah sekian lama mereka bertemu lagi. Hatinya sakit melihat seseorang yang sangat dicintainya kini justru membeci dirinya. Sean terlalu rapuh karna dia menyimpan segala kenyataannya sendiri, hanya untuk kebaikan Yoona.
'Yoona, Andai saja hari itu Ibumu tidak datang kerumahku hanya untuk mengancam ibuku, bahwa dia akan melenyapkanku jika tidak menjauh darimu, ini semua tidak akan terjadi. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau. Tapi ibumu tak rela jika kau bersanding dengan orang biasa sepertiku waktu itu. Aku rela mengorbankan nyawaku demi dirimu, tapi apa jadinya jika aku tiada, ibuku hanya seorang diri di dunia ini. Yoona, saat kau menangkap basah aku dengan perempuan itu, dia hanyalah suruhanku bukan kekasihku. Semua itu hanya alasan yang ku buat, supaya kau meninggalkanku dengan sendirinya, karena aku tak bisa menyakitimu dengan meminta secara langsung padamu untuk menyudahi hubungan kita. Bahkan aku tidak pernah menciumnya seperti dugaanmu waktu itu, aku sengaja melakukannya. Aku memelukmu erat saat kau berlari menjauh, karna aku ingin merasakan perasaan tenang memeluk gadis yang sangat ku cintai. Aku bahkan tak pernah memiliki kekasih lain setelah kita berpisah. Aku bahkan tetap berniat melamarmu saat aku sukses, seperti janjiku waktu itu. Tapi aku mendapati kenyatan bahwa kau telah bersuami. Saat itulah aku sadar kau sudah melupakanku, dan barulah aku bisa melanjutkan hidup dengan menikahi wanita lain yang kini menjadi istriku. Maafkan aku Yoona, maafkan aku terlambat menepati janji untuk datang melamarmu. Seandainya kamu mengetahui kenyataan dibalik semua ini, kau akan mengerti. Yoona, Aku merindukanmu. Setidaknya perasaanku tak pernah berubah untukmu walau aku tak bisa membuktikannya lagi. Aku selalu mencintaimu Yoona itu janjiku. Meskipun cinta kita sudah berbeda, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa hatiku tak pernah beranjak dari masa lalu akan dirimu.'
-TAMAT-