Namanya lengkapnya Dodi Alfian. Teman-teman sekolahnya memanggilnya Dodi. Hari itu seperti biasa, Dodi tertinggal lagi bus sekolahnya. Jika anak lain akan sedih atau panik, tidak dengan Dodi. Dia akan merasa senang jika bus sekolah meninggalkannya, karena itu artinya ada kemungkinan dia tidak perlu ke sekolah. Dodi adalah anak yang malas belajar. Bahkan mungkin tidak ada satupun siswa di sekolah yang dapat mengalahkan kemalasannya. Ibu Anita guru sekolahnya, hampir setiap hari menegurnya. Mungkin juga menghukumnya. Tidak hanya malas, Dodi juga terkenal suka mengganggu teman-temannya. Di saat Bu Anita sedang mengajar. Dodi sibuk membuat keributan. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar jadi terganggu. Orang tuanya juga sudah sering juga datang ke sekolah, tetapi Dodi tetap tidak berubah. Teman-temannya pun juga sering menasihatinya dan memberikan semangat, tetapi Dodi tetaplah Dodi. Dia tidak memedulikan semuanya itu. Dia merasa nilainya tidak akan berubah, meskipun dia sudah belajar. Kenyataanya, Dodi tidak pernah sungguh- sungguh saat belajar. Satu minggu yang lalu Bu Anita memberi peringatan kepadanya agar lebih rajin lagi saat belajar, karena kenaikan kelas tinggal beberapa bulan lagi. Suatu hari Wahyu menghampirinya. Wahyu adalah teman akrab Dodi sejak lama. Wahyu tergolong anak yang pandai di sekolahnya. Beberapa kali dia terpilih mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, dan dia memenangkannya. Hari itu, Wahyu mengajaknya pulang bersama. Sepanjang perjalanan, Wahyu bercerita tentang beberapa hal yang mungkin Dodi tidak tahu. Sudah dua tahun ini, Pak Pak Fajar ayahnya sakit. Pak Fajar hanya terbaring di rumah dan tidak dapat melakukan aktivitas sendiri. Karena penyakitnya, Pak Fajar harus duduk di kursi roda. Wahyu bercerita, bahwa setiap hari dia mengurus ayahnya. Sebelum berangkat sekolah, Wahyu mengganti baju ayahnya, dan menyiapkan makanan, sedangkan ibu membantu adiknya siap-siap ke sekolah. Sore harinya, Wahyu harus membersihkan rumah dan menjaga adiknya. Bu Tini tetangganya, hanya membantu sampai Wahyu pulang sekolah. Dodi diam terheran. Nampak di wajahnya kaget mendengar cerita tersebut. harus membantu ibunya "Mengapa nilaimu masih bagus, Wahyu?. Kapan kamu belajar? Apakah kamu tidak merasa lelah?" Wahyu hanya tersenyum. Sesampainya di rumah Wahyu, Dodi bertemu dengan Rian, adik Wahyu yang sedang bermain di teras rumah. Sementara Pak Fajar ada di ruang tamu sedang duduk di kursi rodanya. Setelah menyapa, Dodi kembali ke teras untuk ikut bermain dengan Rian. Lima belas menit kemudian Wahyu bergabung dengan mereka. Wahyu baru saja menyuapi ayahnya, dan mengantar ayahnya ke kamar. Dodi kembali menanyakan pertanyaan yang sama. "Mengapa prestasi belajarmu masih baik, Wahyu?" tanyanya dengan serius, "Apakah kamu tidak merasa Lelah? Apakah kamu punya kekuatan super?". Wahyu tertawa mendengar pertanyaan itu. "Tentu aku Lelah, Dodi. Aku harus bangun lebih pagi. Waktu istirahat dan bermainku mungkin juga berkurang. Tapi aku merasa itu sudah menjadi tanggungjawabku."Ah, kamu pasti bohong. Aku belajar satu jam saja seperti mau pingsan. Padahal aku bidak pernah membantu ibu melakukan pekerjaan." sahut Dodi. Wahyu kembali tertawa, bahkan mungkin lebih keras suaranya. "lya, benar kan tebakanku. Kamu punya kekuatan super. Ceritakan kepadaku rahasianya. Aku juga mau sepertimu, Wahyu." kata Dodi. "Baiklah, aku akan menceritakan rahasianya. Tapi kamu harus berjanji menuruti perintahku." jawab Wahyu, Dodi pun mengangguk dengan sermangat. Wahyu masuk ke dalam rumah. Dia mengambil sebuah buku. Buku itu berisi kisah Hellen Keller. Tokoh yang cukup terkenal dan memberikan semangat bagi banyak orang. Wahyu memberikan buku tersebut kepada Dodi. Dodi Nampak kebingungan. "Apa maksudmu, Wahyu? Mengapa kamu malah memintaku belajar?" Wahyu lalu menceritakan alasan mengapa dia tertarik dengan buku tersebut. Dia tertarik dengan sosok Hellen Keller. Hellen keller memiliki keterbatasan. Dia buta dan tuli. Meskipun begitu, Hellen Keller tetap semangat belajar. Dengan bantuan guru yang setia mendampinginya. Dia belajar huruf demi huruf lewat tangan, berbticara dengan mengikuti gerakan mulut. Luar biasanya adalah saat dia dewasa, dia menjadi orang tuna netra dan tuna rungu pertama yang lulus dari universitas. Tidak hanya itu, dia juga menjadi pengajar dan penulis beberapa buku. Saat Perang Dunia, Hellen Keller berkeliling Eropa untuk mengunjungi beberapa tentara. Dodi mendengarkan cerita itu dengan serius. Dia terdiam sejenak saat akhirnya Wahyu selesai membacakan cerita itu. "Itulah sumber kekuatan superku, Dodi." ucap Wahyu sambal tertawa. "Apa hubungannya dengan kisahmu, Wahyu?" tanya Dodi dengan serius. "Hellen Keller dengan keterbatasannya masih tetap semangat belajar dan sekolah. Kita diberikan Tuhan anggota tubuh yang sehat dan sempurna, kita jangan sampai kalah, Dodi." jawab Wahyu. "aku memang terkadang lelah, harus membantu ibu dan merawat ayah tapi bukan berarti aku harus menyerah. Aku bahkan masih bisa bermain, Dodi. Jadi semuanya tergantung pada diri kita. Apakah kita mau benar-benar melakukannya atau tidak." "Wah, mengagumkan sekali kata-katamu, Wahyu." ucap Dodi. "aku jadi malu lanjutnya dengan tersipu. "aku merasa belajar itu membosankan dan melelahkan, jadi aku pilih untuk tidak belajar saja." lanjutnya. "Lalu, bagaimana denganmu, Dodi? Apakah kamu tidak ingin semangat lagi di dalam belajar? Aku dengar Bu Anita sudah memberi peringatan?" tanya Wahyu. "Aku sudah malas, Wahyu. Biarkan saja aku tidak naik kelas. Aku merasa tidak mungkin untuk aku mengejar ketertinggalanku. Kenaikan kelas tinggal beberapa bulan lagi. Nanti saja aku berubahnya. Saat tahun ajaran baru tiba." jawabnya. "Tidak ada yang terlambat. Kamu tidak perlu menunggu nanti. Beberapa bulan itu masih lama, daripada kamu tidak berusaha sama sekali." kata Wahyu.Wahyu kemudian melanjutkan ceritanya. Dia ingin suatu hari nanti dia bisa menjadi dokter. Dapat membantu orang-orang yang seperti ayahnya. Dia sedih melihat ayahnya hanya duduk di kursi roda dan terbaring di tempat tidur saja. Meskipun saat ini ayahnya sedang dalam perawatan dan pengobatan, tetapi belum mengembalikan kesehatan ayahnya. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Wahyu Nampak bersedih saat mengakhiri cerntanya. Hari sudah sore, Dodi pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan dia memikirkan kata- kata Wahyu. Dia pulang dengan wajah sedih. Sesampainya di rumah, dia meminta maaf kepada ibunya. Dia meminta maaf karena tidak pernah mendengar nasihat ayah dan ibunya. Ibu terdiam untuk beberapa saat. Dia berpikir Dodi sedang berpura-pura. Karena Dodi pernah melakukan hal yang sama beberapa waktu yang lalu. Tetapi saat melihat wajahnya yang serius ibu tahu bahwa kali ini Dodi benar-benar mengakui kesalahannya. Keesokan hariny, Dodi pergi ke sekolah dengan semangat yang berbeda. Sampai di sekolah dia menyapa Bu Anita dan teman-temannya. Tak lupa dia menghampiri Wahyu dan mengucapkan terima kasih padanya. Bu Anita nampak kebingungan melihat hal tersebut. Di akhir kegiatan renungan pagi, Dodi menyampaikan permintaan maaf pada Bu Anita dengan sopan. Dia juga menyampaikan permintaan maafnya kepada teman-temannya. Waktu berlalu, Dodi yang sekarang jauh berbeda. Dia lebih rajin lagi di dalam belajar. Di waktu luangnya dia pergi ke rumah Wahyu untuk membantunya merapikan rumah. Setelah selesai, Dodi dan Wahyu belajar bersama. Dodi sangat bersemangat, karena WWahyu banyak membantunya. Pelajaran yang dia tidak mengerti dia minta Wahyu untuk menjelaskannya kembali. Saat kenaikan kelas pun tiba. Semua sudah tahu siapa yang menjadi juara kelas lima. Wahyu tentunya. Dodi yang sedikit khawatir di saat berangkat ke sekolah dengan ibunya, akhirnya bisa bernafas lega karena dia naik kelas. Nilainya memang tidak memuaskan, tetapi sudah memenuhi ketentuan kenaikan kelas. Dari Dodi kita belajar, tidak boleh mudah menyerah. Kita harus sungguh-sungguh di dalam mengejar sesuatu. Harus bisa bangkit dan semangat lagi di dalam belajar. Karena tidak ada yang tidak mungkin. Dari Wahyu kita belajar meskipun banyak masalah, tetapi itu bukan menjadi penghalang. Tugas dan tanggungjawab harus tetap dikerjakan. Semuanya dapat dilakukan jika dikerjakan dengan kesungguhan.